Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Aku telah
terbangun dari tidurku setelah mendengar alarm yang kupasang pada jam bekerku.
Aku mengintip dari jendela kamar, melihat suasana diluar begitu gelap dan
sunyi, matahari belum nampak menyinari bumi, dan tetesan embun di dedaunan
jatuh perlahan – lahan membasahi tanah. Aku membuka jendela kamarku dan
menghirup nafas panjang – panjang dan menghembuskannya perlahan – lahan,
sungguh udara di luar begitu sejuk, membuatku bersemangat memulai aktivitas
hari ini.
Saat aku asyik menikmati pemandangan taman lewat jendela
kamarku, aku teringat untuk membuatkan bekal untuk Rafka. Aku pun langsung
bergegas menuju dapur, mengambil apron yang diletakkan di salah satu laci
kicthen set, menyiapkan alat – alat yang diperlukan dan sambil berpikir makanan
apa yang akan aku berikan kepada Rafka. Setelah semua persiapan beres, aku
mulai menyiapkan bahan – bahan untuk membuat omelet, menurutku semua orang
pasti suka omelet, jadi apa salahnya aku membuatkan Rafka sebuah omelet, ibu,
ayah, dan abangku berkata kalau masakanku itu lezat apalagi omelet buatanku,
pasti ketagihan.
Aku mulai memecahkan beberapa telur ke dalam mangkuk, lalu
mengocoknya dengan sendok, aku menaruh sedikit garam, merica, irisan daun
bawang, dan sedikit sambal. Aku berharap omelet buatanku disukai oleh Rafka.
Setelah telurnya dikocok, aku menaruh pan ke atas kompor, menyalakan api
kompor, menunggu sampai pannya panas, lalu aku masukkan kocokkan telur tadi dan
menunggu hingga omeletnya matang sempurna. Sedang aku mengemasi kotak bekal
untuk Rafka, ibuku tiba – tiba datang menghampiriku,
“ ini bekal
untuk siapa? “ tanya ibu
“ hmmm, ini....
ini buat aku bu..” jawabku gugup
“ oh ya? Tumben
kamu mau bawa bekal ke sekolah? “
“ eh iya nih
bu... “
Di sela omongan kami, mas Adrian muncul lalu mengomentariku
“ ah dia bohong
tuh bu, pasti bekalnya itu untuk pacarnya. Iya kan? Ngaku aja deh... “
“ ih apaan sih
mas, ini buat aku tahu... “ jawabku sewot
“ ah bohong
kamu... “ mas Adrian tetap mencoba memojokkanku di depan ibu, sampai – sampai
omongan mas Adrian terdengar oleh ayah
“ ada apa ini
ribut – ribut? “ tanya ayah bingung
“ ini yah, anak
ayah satu ini nggak mau ngaku kalau dia buat bekal untuk pacarnya... “ jawab
mas Adrian
“ ih mas Adri,
bekal ini untuk aku tahu, aku kan nggak punya pacar... “ jawabku lagi – lagi
sewot
“ sudah –
sudah. Ruby mau buat bekal untuk siapa kenapa kamu yang repot sih dri, sudah –
sudah sekarang kalian siap – siap berangkat sekolah.... “ seru ayah
Dari dulu mas Adrian memang seperti itu, suka sekali menjahili
dan memojokkanku di depan ayah dan ibu. Aku tahu maksudnya hanya bercanda
tetapi terkadang saat moodku sedang buruk pasti aku langsung menanggapinya
dengan serius. Pernah suatu ketika aku pulang dari sekolah diantar oleh teman
sekelasku, waktu itu hari sudah sore dan mas Adrian sudah pulang kuliah, saat
dia melihatku diantar oleh seorang cowok, dia langsung berkata
“ wah ada yang
habis dianter sama pacarnya nih... “
Karena saat itu aku sedang ada masalah di kelas, dan nilai
fisika ku jelek maka moodku pun langsung berubah jadi buruk, mendengar
celotehan mas Adrian membuatku tambah kesal, dan aku pun langsung memarahi mas
Adrian. Tetapi mas Adrian tetap saja berceloteh, dia tidak tahu kalau aku benar
– benar sedang marah, alhasil selama tiga hari aku tidak bertegur sapa ataupun
berbicara dengan mas Adrian. Walaupun dia menyapaku atau mengajakku untuk
berangkat bersama aku tetap mengacuhkannya, karena aku masih kesal dengan
sifatnya yang tidak pernah berubah.
Walau bagaimana pun mas Adrian adalah kakakku, dan kakak
terbaik ku. Sering sekali dia membuatku jengkel dan kesal, tetapi tidak jarang
dia terus membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan tingkah konyolnya. Aku dan
mas Adrian mempunyai jarak umur hampir lima tahun, walaupun lumayan jauh tetapi
tidak jarang orang – orang menyebutkan kalau aku dan mas Adrian berpacaran jika
kami jalan bersama. Mas Adrian adalah kaka yang baik, dia selalu perhatian
kepadaku, sedikit memanjakanku tetapi tetap mendidikku untuk menjadi seorang
cewek yang mandiri. Saat aku kesulitan dalam mata pelajaran fisika ataupun
kimia mas Adrian dengan senang hati mengajariku. Sungguh aku sangat beruntung
mempunyai kakak seperti mas Adrian.
Setelah selesai membereskan bekal, aku pun bergegas mandi dan
bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini aku tidak naik bis, tetapi
diantar oleh mas Adrian. Entah kenapa pagi ini celotehannya tidak sepanjang
hari – hari biasanya, dan tumben sekali mas Adrian dengan senang hati
mengantarkanku ke sekolah tanpa harus aku meminta tolong. Saat dalam perjalanan,
“ mas, kok
tumben sih mau nganterin ruby? “ tanyaku
“ nggak tahu
nih, kayaknya mas lagi sakit deh... “
“ ya ampun, kok
mas gitu banget sih... mas jahat nih.. “
“ hahaha
bercanda bi. Hari ini mas lagi mau jadi anak yang baik aja hehe... “
Dasar mas Adrian, pikirannya tidak bisa ditebak sama seperti
tingkah lakunya. Terkadang dia sangat baik kepadaku, namun terkadang bisa
menjadi musuh bebuyutanku. Walaupun begitu mas Adrian adalah kakak terkeren
sedunia. Sedikit cerita tentang mas Adrian. Mas Adrian sekarang kuliah di salah
satu universitas ternama di Jakarta, fakultas ilmu sosial dan politik jurusan
hubungan internasional semester tiga. Mas Adrian punya group band beraliran
jazz, nama group bandnya adalah Nevertheless. Group band mas Adrian ini sudah
sering manggung di cafe – cafe, dan sudah cukup terkenal di kalangan anak
kuliah dan SMA. Posisi mas Adrian di ‘Nevertheless‘ sebagai gitaris sekaligus
vokalis. Tidak dipungkiri kalau banyak cewek – cewek terpesona oleh suaranya
yang merdu, wajahnya yang ganteng dan kharismanya saat bermain gitar, tetapi
sampai saat ini kakakku belum tertarik dengan fansnya karena belum lama dia
putus dari pacarnya dua bulan yanng lalu. Mungkin mas Adrian masih trauma
dengan hubungannya bersama mantannya dulu.
Dua bulan yang
lalu aku sempat mengobrol dengan mas Adrian tentang pacaran, saat itu mas
Adrian baru saja putus dari ceweknya. Saat itu pukul 8 malam, aku dan mas
Adrian sedang duduk di balkon rumah sambil menikmati secangkir capucinno hangat
di terangi cahaya bulan dan bintang di langit malam. Hari itu tepat seminggu
mas Adrian putus dari ceweknya, aku melihat tidak ada perasaan sedih dan
kehilangan saat melihat wajahnya, aku bingung kenapa mas Adrian bisa seperti
itu padahal setahuku dia sangat mencintai mantan pacarnya,
“ mas, mas
nggak sedih diputusin sama mba Nisa? “
“ awalnya pasti
sedih, tapi sekarang mas udah nggak sedih lagi... “ jawabnya sambil menatap
lurus ke depan
“ kok bisa sih?
Gimana caranya? “
“ saat mas
diputusin sama Nisa, mas mikir, mas merenung apa yang selama ini mas udah buat
sama dia sampai – sampai dia tega mutusin mas, tapi sekarang mas tahu kalau
semuanya itu sudah ada yang ngatur. Sekarang mas sadar kalau selama ini mas
udah terlalu percaya dan terlalu sabar sama dia sampai – sampai dia
menyalahgunakan kepercayaan dan kesabaran mas. Setiap orang punya batas
kesabaran, dan saat batas kesabaran mas udah mau habis mungkin dia sadar dan
dia langsung mutusin mas, mas tahu kenapa dia yang mutusin mas... “jelas mas
Adrian dengan sedikit senyum dibibirnya
“ emangnya
kenapa mas? “ tanyaku sambil menyeruput sedikit demi sedikit capicinno yang ada
di cangkirku
“ karena dia
gengsi kalau aku yang mutusin dia. Mas tahu sebenarnya dia hanya ingin
memanfaatkan mas aja. Dia mau membuktikan kalau dia bisa mendapatkan cowok
kayak mas... “
“ ternyata mba
Nisa itu jahat ya... “ sahutku kesal
“ hahaha
mungkin.... “ mas Adrian pun akhirnya tertawa
“ oya ingat
pesan mas ya, kamu harus hati – hati dengan cowok. Apalagi sama cowok yang
awalnya nggak pernah menyapa kamu malah sampai menjauhi kamu tiba – tiba dia
mendekati kamu, kamu harus hati – hati karena bisa aja mereka cuma mau jadiin
kamu sebagai peralihan mereka bahkan jadi bahan taruhan mereka. “sambung mas
Adrian
“ kok mas bisa
ngomong kayak gitu sih? Mas tahu dari mana? “ tanyaku bingung
“ mas tahu dari
teman – teman mas. Mereka pernah cerita ke mas kalau mereka cuma mau ngedeketin
cewek karena sudah taruhan, atau sekedar sebagai pelampiasan karena habis
diputusin pacarnya. Mas nggak mau kalau kamu diperlakukan kayak gitu sama cowok
– cowok, makanya kamu harus hati – hati ya... “ tuturnya sambil tersenyum
padaku dan mengusap – usap rambutku
Mendengar cerita dari mas Adrian hatiku menjadi sangat tenang
dan bahagia. Saking bahagianya aku sampai memeluk mas Adrian dan menangis di
pundaknya. Mas Adrian bingung kenapa aku menangis tapi dia tetap mendekapku dan
membelai halus rambutku
“ mas Adrian
baik banget. Aku nggak mau pisah dari mas Adrian, mas Adrian akan selalu jagain
aku kan? “ bisikku sambil terus terisak
“ iya sayang...
mas nggak bakal ninggalin kamu kok. Kamu kan adek mas satu – satunya, mas harus
jagain kamu terus dong.. sudah nggak usah nangis lagi ya... “ sahutnya sambil
terus menenangkanku
“ makasih ya
mas sudah jadi kakak terbaik buat aku “
“ iya ruby... “
Saat itu adalah saat – saat paling mengesankan dalam hidupku.
Bersama dengan kakak tercinta sungguh membuatku bahagia dan merasa nyaman
sekali. Berada di dekapnya begitu hangat dan menenangkan sama seperti saat aku
berada di pelukkan ibu dan ayah. Aku sangat bersyukur dikaruniai oleh Tuhan
sebuah keluarga yang sangat menyayangi dan mencintai aku dengan tulus.

jadi kepengen punya kakaaa u,u
BalasHapus