about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Minggu, 11 November 2012

Ketiga kalinya, namun ini yang Pertama

Ingatan ini masih jelas sekali terngiang - ngiang di benakku. Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan apa yang orang - orang rasakan. Jantung yang berdebar - debar, perasaan gugup, senang tiba - tiba dan sedih tiba - tiba. Ya perasaan di atas dapat diwakilkan oleh satu kata yaitu Cinta. Mungkin aku pertama kali merasakan cinta pada saat kelas 6 SD. Menurutku, mencintai seseorang disaat kelas 6 SD itu terlalu cepat, jadi bisa dibilang aku mulai Menyukai bukan Mencintai seseorang saat diriku duduk di kelas 6 SD. Namun saat aku menyukai dirinya yang begitu menawan, tidak membuatku segera mendekatinya, karena aku tahu siapa diriku, dan siapa dirinya. Pada saat itu aku hanya minder dengan rupaku. Jadi aku hanya bisa menyukainya diam - diam, dan perasaan yang dulu itu tetap ada, namun sekarang aku bisa mengatakannya sebagai rasa kagum, kagum melihat rupanya yang begitu menawan. Setelah bertahun - tahun ku lalui tanpa pernah memikirkan seorang pria. Pada saat aku beranjak ke kelas 3 SMP, rasa itu mulai tumbuh kembali. Diri ini juga tidak menyangka kalau aku menyukai sosok pria yang satu kelas denganku itu. Pria yang kali ini telah menawan hatiku tidak mempunyai rupa semenawan pria yang pertama kali aku sukai. Hanya sekedar melihat tingkah lakunya yang sedikit unikdi dalam kelas dapat membuatku jatuh cinta. Untuk kedua kalinya aku tidak mau berusaha mendekatinya, alasan kali ini berbeda. Aku tidak ingin mendekatinya karena ia berbeda keyakinan denganku. Aku tahu sampai kapan pun keyakinanku dan dirinya tidak akan pernah menyatu. Sudah berapa pria yang ku sukai namun belum pernah ada seorang pria yang ku sukai  yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Sampai suatu hari  aku berdoa agar Tuhan mengijinkanku untuk mencintai seorang pria yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Entah berapa lama waktu telah berjalan, sampai akhirnya Tuhan menjawab doaku.
Kali ini, aku menyukai seseorang bukan karena parasnya, bukan juga karena aku sering bertemu dengannya tapi karena aku Mendengar kisah hidupnya. Ya pada awalnya temanku yang menyukai dirinya, namun karena aku penasaran dengan sosok pria itu, jadi aku berusaha mencari tahu seperti apa kepribadian dan sifat dari pria tersebut. Setelah mendengar cerita tentang pria tersebut, aku baru sadar kalau dia layak untuk dicintai, namun waktu terus berjalan, dan membuatku tiba - tiba lupa kalau aku menyukainya, jadi belum sempat aku berusaha untuk mendekat, dirinya telah bersama seorang gadis. Pria tersebut sangat mencintai kekasihnya, namun sang kekasih tidak pernah mencintai pria tersebut. Sedih rasanya melihat hubungan mereka yang terus menerus diselimuti keterpaksaan. Waktu telah menyadarkan dirinya kalau aku menyukai dirinya, namun aku tahu dirinya sengaja menghindariku. Walau terus tersiksa dengan perasaan cinta ini, namun aku ingin tetap berusaha sampai pada akhirnya aku tidak punya daya lagi untuk berusaha. Karena aku tahu ini yang pertama kalinya, dan apa salahnya jika aku memperjuangkannya..

Rabu, 07 November 2012

Bukan Dia tapi Aku




          Zaman sekarang melihat seorang cowok yang bisa memainkan alat musik tradisional itu adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak, hampir semua anak muda di Indonesia rata – rata lebih tertarik memainkan alat musik modern nan canggih ketimbang harus memainkan alat musik tradisional yang mereka anggap kuno itu. Jadi bisa dipastikan kalau ada seorang anak muda yang bisa memainkan alat musik tradisional sekaligus bisa memainkan alat musik modern itu keren dan ajaib. Karena alasan diatas, seorang cewek SMA kelas sepuluh semester dua yang bernama Renaya Sabila, sangat mengagumi dan menyukai kakak kelasnya yang bernama Radhitya Hermawan.

          Menurut Naya, nama panggilan Renaya, sosok Radhit itu sangat unik dan istimewa. Bagaimana tidak, perawakan Radhit yang tinggi, berkulit kuning langsat, berwajah tampan, dan sangat mahir bermain piano sekaligus alat – alat musik tradisional seperti gendang, angklung, dan bonang itu bisa membuat hampir murid perempuan di SMA Bhineka jatuh cinta kepadanya. Di tengah banyaknya pesaing untuk bisa mendapatkan hati Radhit, dan juga sikap Radhit yang begitu dingin dan cuek kepada setiap cewek yang mendekatinya, Naya tetap optimis untuk bisa mendapatkan hati Radhit.

          Berbagai usaha Naya lakukan agar dapat memikat hati Radhit. Mulai dari sekedar memberikan senyuman termanis, hingga memberikan bekal terenak kepada Radhit - yang setiap hari pasti membawa bekal ke sekolah. Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa ada perkembangan yang signifikan dari sikap Radhit kepada Naya. Naya tahu kalau Radhit sangat susah untuk dekat dengan seorang cewek, karena sampai sekarang yang ada di hati Radhit hanya ada mantan pacarnya – yang sudah mengubah sosok Radhit yang kasar menjadi sosok Radhit yang lembut dan ramah kepada setiap orang. Namun karena kepergian mantan pacarnya yang tiba – tiba, membuat Radhit kembali lagi menjadi sosok Radhit yang dahulu, yang sangat kasar, dingin, dan cuek terutama kepada seorang cewek. Walaupun begitu Naya tetap saja optimis mendekati Radhit, yang sudah jelas – jelas selalu menghindar dan cuek kepadanya.

          “kak.. kira – kira gue harus gimana lagi ya biar kak Radhit suka sama gue?” tanya Naya kepada sahabatnya Radhit yang bernama Banyu

          “aduuh.. lo masih aja ya ngedeketin Radhit? Padahal jelas – jelas dia selalu nyuekin lo” cetus Banyu sedikit kesal. 

          Semenjak awal Naya menyukai Radhit, Naya langsung menceritakannya kepada Banyu yang merupakan sahabatnya Radhit. Naya selalu menanyakan apa yang harus ia lakukan agar Radhit dapat menyukai dirinya. Pada awalnya Banyu dengan senang hati membantu Naya, namun lama kelamaan Banyu mulai bosan membantu Naya karena sikap Radhit yang selalu cuek terhadap perhatian yang diberikan Naya kepadanya.

          “gue cuma mau kasih tau ke lo, kalau setiap usaha lo itu bakalan sia – sia.. karena Radhit masih sayang banget sama mantannya...” kalimat yang sebenarnya sangat menusuk itu sudah berkali – kali disampaikan oleh Banyu kepada Naya, namun karena dasarnya Naya adalah orang yang keras kepala, jadi apapun yang dikatakan Banyu kepadanya, Naya tidak mau perduli. Terkadang karena sifat Naya yang keras kepala membuat Banyu kesal. 

          “tapi kak... gue suka banget sama kak Radhit... apapun yang terjadi, gue harus bisa memperjuangkan perasaan gue kak!...” seru Naya optimis

          ‘seandainya aja lo tau... kalo ada cowok yang bener – bener tulus suka sama lo.. dan itu gue nay..’ keluh Banyu dalam hatinya. 

          Setiap kali Naya bercerita tentang Radhit kepada Banyu, hati Banyu terasa sakit karena mengetahui kalau cewek yang ia sayangi malah menyayangi sahabatnya sendiri, dan jelas – jelas sahabatnya tidak pernah menyukai Naya. Banyu sebenarnya kasihan setiap melihat perlakuan Radhit kepada Naya, sampai suatu hari Banyu benar – benar tidak bisa memendung perasaan kasihannya kepada Naya

          “Dhit.. gue minta tolong sama lo..”

          “minta tolong apaan?”

          “gue minta tolong lo buka hati buat Naya..” berat rasanya Banyu mengatakan hal ini, tapi dia harus. Banyu tidak tahan lagi melihat Naya menangis karena sikap dingin Radhit. Walaupun Banyu sangat ingin memiliki Naya, tetapi yang lebih Banyu inginkan adalah bisa melihat Naya  bahagia bersama cowok yang ia sayangi. Memang terkadang Naya terlihat optimis dengan setiap perjuangannya, namun Naya juga seorang perempuan yang bisa meraskan kelelahan saat harus terus berjuang tanpa hasil.

          “gue nggak bisa. Kenapa harus gue yang buka hati? Kenapa nggak dia aja yang buka hati buat lo?”

          “nggak mungkin Dhit! Dia cuma suka sama lo. Dan gue tau, susah buat dia untuk buka hati buat orang lain.. jadi please Dhit, buka hati lo buat Naya..” 

          “demi lo, gue akan coba..”

          Karena permintaan sahabatnya, Radhit akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Naya. Sekarang setiap perhatian Naya mulai ditanggapi oleh Radhit. Hari demi hari, minggu demi minggu, akhirnya Radhit mulai merasa nyaman dengan setiap perhatian yang diberikan Naya untuknya.  Sampai suatu hari, perjuangan Naya untuk mendapatkan Radhit tidak sia – sia. 

          Di suatu malam, Radhit mengajak Naya jalan – jalan ke sebuah pasar malam yang letaknya tidak jauh dari rumah Naya

          “Nay.. kita naik bianglala itu yuk..” ajak Radhit setelah cukup lama mereka mengelilingi pasar malam yang ramai itu

          “sekarang gue mau ngomong jujur sama lo...” ucap Radhit saat ia dan Naya sedang berada di atas bianglala

          “jujur soal apa?”

          “jujur awalnya emang gue nutup diri dari lo, tapi gue berusaha membuka hati gue buat lo. Dan ternyata lo itu baik banget, jauh banget dari yang gue kira... sekarang gue sadar kalo lo itu adalah anugrah yang paling indah di hidup gue.. so would you be mine?”

          Penjelasan yang begitu jujur dari Radhit membuat Naya tersontak kaget. Naya tidak menyangka kalau perjuangannya selama ini tidak sia – sia. Pada akhirnya saat – saat yang diimpikan Naya tiba. Dengan senang hati Naya mengiyakan pertanyaan Radhit

          “makasih ya... tambah sayang deh sama kamu hehehe” seru Radhit bahagia

          Malam itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Radhit dan Naya, kecuali Banyu. Pagi – pagi saat Banyu baru saja tiba di sekolah, ia melihat Radhit berboncengan dengan Naya. Hati Banyu begitu miris melihat cewek yang ia suka akhirnya menjadi pacar sahabatnya.

          ‘selamat ya Nay.. selamat juga buat lo Dhit, lo beruntung banget bisa dapetin Naya, gue iri sama lo, tapi gue doain yang terbaik buat kalian berdua...’ ucap Banyu dalam hati. Walaupun sakit namun Banyu harus merelakan Naya demi kebahagiaan Naya. 

          “hai kak Banyu...” sapa Naya dengan wajah gembiranya yang jelas – jelas terlihat dari pancaran sinar matanya

          “eh Banyu...liat dong gue gandeng siapa?... hahahaha...”  
     
          “eh hehe.. cie selamet ya yang udah jadian.. PJ bisa kali.. hahaha..” Banyu berusaha menutupi rasa sedihnya dengan mengembangkan senyuman yang sangat dipaksa

          “oke deh sip! Tunggu aja pas istirahat hahaha...” sahut Radhit tidak kalah gembira dengan Naya

          ‘miris melihat mereka bahagia... tapi ini udah jadi keputusan gue, dan gue harus bisa terima kenyataan..’ gumam Banyu dalam hati.

***

          Seiring berjalannya waktu, sifat – sifat asli Radhit mulai terlihat. Setelah sembilan bulan berpacaran, Naya baru tahu kalau sebenarnya Radhit adalah seorang perokok. Karena Naya tidak suka dengan cowok perokok, Naya ingin mengingatkan Radhit untuk tidak merokok lagi, namun Radhit tetap tidak mau berubah. Setelah sembilan bulan juga, Naya baru tahu kalau Radhit sudah salah bergaul, ternyata Radhit selama ini berteman dengan orang – orang yang memakai obat – obatan terlarang dan juga yang suka minum minuman keras. Saat Naya tahu hal seperti itu, Naya langsung tidak mengijinkan Radhit untuk berteman dengan mereka, namun lagi – lagi Radhit tetap tidak mau berubah. Naya sempat putus asa menghadapi Radhit yang begitu keras kepala. Sampai suatu ketika Radhit dan Naya mengalami pertengkaran yang cukup hebat

          “Dhit Aku mau kamu berubah.. “

          “Aku nggak bisa... bisa nggak sih kamu terima Aku apa adanya?”

          “Aku mau terima kamu apa adanya, tapi Aku mohon kamu untuk berubah, semua ini juga demi kebaikan kamu...”

          “kenapa sih kamu selalu ngatur – ngatur hidup Aku? Awalnya Aku terima, tapi kesini – sini kamu jadi lebay! Aku udah males hadepin kamu!..”

          “tapi ini semua karena Aku sa..”

          “alah! Jangan pake alesan sayang – sayang deh! Males gue!” Bentak Radhit lalu langsung pergi meninggalkan Naya yang sudah berlinang air mata

          Di tengah kejadian itu, Banyu melihat semuanya. sorot mata penuh dengan emosi ditujukannya pada Radhit. Banyu tidak terima kalau Naya diperlakukan seperti itu. Melihat cewek yang ia sayangi mulai menangis, dengan segera Banyu datang menghampiri Naya dan memberikannya sebuah sapu tangan

          “ini buat lo... please jangan nangis, gue nggak tega kalau ngeliat lo nangis Nay..” sahut Banyu sambil memberikan sapu tangannya kepada Naya

          “gue udah nggak kuat kak... kenapa sih dia nggak mau berubah? Itu semua kan demi kebaikannya..” seru Naya sambil terus menangis

          “iya gue tau kok maksud baik lo ke dia... udah ya nggak usah nangis lagi.. kemana nih Naya yang kuat? Ayo jangan nangis lagi ya please...”

          Naya mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak menetes lebih banyak lagi. Entah apa yang terjadi, namun Naya merasakan kenyamanan saat berada di dekat Banyu, tidak seperti saat Naya bersama dengan Radhit. Setelah melihat kondisi Naya yang lebih tenang, Banyu mengajak Naya pergi ke sebuah danau yang ada di hutan kota. Sesampainya di hutan kota, Banyu mengajak Naya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan tinggi. Suasana yang begitu menenangkan membuat hati Naya juga ikut tenang.

          “udah tenang?” tanya Banyu sambil menoleh sebentar ke araha Naya

          “udah.. makasih ya kak..” 

          “sip.. kalau lo udah bener – bener nggak kuat hadapin dia mending lo putus aja, daripada lo tersiksa terus..” dengan entengnya Banyu mengungkapkan isi hatinya. Mendengar perkataan Banyu, Naya yang sedari tadi menikmati suasana hutan kota tiba – tiba saja terusik. Naya memberhentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Banyu  

          “maksud lo apaan kak?” tanya Naya bingung

          “ah? Ng.. ya iya kalo lo udah nyerah sama Radhit ya putusin aja, emang ada yang salah?”

          “salah lah.. dulu lo dukung gue banget, tapi kenapa tiba – tiba lo langsung saranin gue buat putus sama Radhit?”

          “aduh lo nggak tau apa? gue tuh capek ngeliatin lo disakitin terus sama Radhit.. karena gue tuh sa..” hampir saja Banyu mengatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Naya

          “sa apa kak?”

          “eh nggak apa – apa.. udah nggak usah dibahas lagi ya..”

          Walau Naya melihat ada yang aneh dari Banyu, namun Naya tidak mau memikirkannya. Sekarang yang hanya Naya pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membua Radhit kembali seperti dulu. Satu bulan berlalu dan selama satu bulan itu, Naya sengaja tidak pernah menghubungi Radhit, agar Radhit bisa sadar atas setiap kesalahannya. Satu bulan lamanya Naya acuh kepada Radhit, namun Radhit belum sadar juga. Hingga tepat seminggu sebelum Naya dan Radhit merayakan tahun pertama mereka berpacaran, barulah Radhit sadar kalau dia membutuhkan Naya untuk mengontrolnya.

          Saat malam hari tiba, Radhit mengajak Naya pergi ke sebuah pantai. Radhit mengajak Naya untuk melihat matahari terbenam di ufuk barat. Awal pertemuan mereka kembali terasa begitu kaku, karena hampir dua bulan mereka tidak bertegur sapa. Ditemani matahari yang mulai beranjak turun dari peraduannya, Naya dan Radhit duduk di tepi pantai, sambil memandangi langit biru yang mulai berubah oranye.  
   
          “Nay... sebelumnya Aku minta maaf banget sama kamu...” sepenggal kalimat itu akhirnya terucap dari mulut Radhit. Naya sejenak menoleh dan menatap mata Radhit dalam – dalam, namun Naya tidak mau menjawab

          “maafin Aku karena Aku selama ini udah sia – siain kamu. Maafin Aku karena selama ini Aku nggak mau denger nasehat kamu. Maafin Aku Nay.... sekarang Aku sadar kalau setiap perkataan kamu itu benar. Sekarang Aku udah ninggalin semua temen – temen Aku, sekarang Aku hanya perlu kamu di hidup Aku. Aku butuh kamu lagi... apa kamu mau balikan sama Aku?”  Pinta Radhit sambil menatap mata Naya dalam – dalam

          “dari awal Aku udah maafin kamu kok... kita kan nggak pernah putus, jadi kenapa harus balikan?” pertanyaan Naya itu hanya dibalas dengan pelukan lembut dari Radhit

          “makasih banyak Nay.. kamu memang anugrah terindah dan teristimewa di hidup Aku.. Aku sayang kamu lebih dari apapun..” bisik Radhit halus

          “makasih juga kamu udah mau berubah.. Aku juga sayang sama kamu lebiiih lagi...”
          Ketegangan dan kedinginan yang sempat terjadi diantara Naya dan Radhit kini telah hilang. Semua amarah dan benci kini hilang lenyap dan digantikan oleh cinta yang kembali berbunga – bunga. Namun kesenangan itu harus berhenti saat takdir memaksakan mereka untuk berpisah.

          Suatu malam, Radhit ingin mengajak Naya merayakan tahun pertama mereka berpacaran di sebuah cafe

          “ayo kita berangkat!..” sahut Radhit sambil memberikan helmnya kepada Naya
         “loh helm kamu kemana Dhit?” tanya Naya bingung. Biasanya Radhit selalu membawa dua helm, untuk dirinya dan juga Naya, namun kali ini Radhit lupa untuk membawa satu helm lagi.

          “oh iya? Aku lupa. Di rumah nggak ada helm?”

          “nggak ada.. helmnya lagi dipake sama Papa... terus gimana dong?”

          “udah kamu aja ya yang pake.. biar kamunya nggak apa – apa..”

          Dari awal Radhit menjemput Naya, tiba – tiba saja Naya merasakan hal yang aneh. Saat dalam perjalanan perasaan yang sangat mengganjal itu semakin menjadi – jadi. Ketika jalanan kota sedang begitu macet, Radhit dengan gesitnya meliuk – liukan motornya ke kanan dan ke kiri untuk menyalip kendaraan yang begitu padat. Namun setelah keluar dari kepadatan kendaraan itu, tiba – tiba saja ada sebuah truk yang berjalan dengan tidak terkendali dan akhirnya menabrak Radhit. Hantaman yang begitu keras membuat kepala Radhit pecah, dan nyawa Radhit tidak sempat untuk diselamatkan, sedangkan Naya yang memakai helm juga mengalami luka yang cukup parah namun nyawa Naya masih sempat untuk diselamatkan. Sejak tabrakan itu sampai satu minggu kemudian Naya tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu tidak sadarkan diri, akhirnya Naya kembali siuman

          “Radhit... Radhit mana?....” sahut Naya lemah sesaat setelah ia baru sadarkan diri. 

          “Radhit sudah pergi nak...” jawab Ibunda Naya dengan suara lirih

          “Radhit pergi kemana ma?..” wajah Naya kini berubah cemas dan air mata pun mulai menggenang di matanya

          “Radhit sudah meninggal ...” 

          Air mata itu akhirnya menetes membasahi wajah pucat Naya. Jantungnya terasa begitu sesak. Naya masih tidak menyangka kalau Radhit telah meninggal. Baru saja Naya dan Radhit berbaikkan, dan saat hubungan mereka menginjak satu tahun semuanya harus diakhiri. Semakin lama air mata itu bertambah deras.

          “ma... mama bohong kan kalau Radhit udah meninggal? Mama disuruh Radhit buat bohong kan? Iya kan ma?” dalam benak Naya, baru saja dirinya dan Radhit ingin pergi untuk merayakan satu tahun hubungan mereka.

          Ibunda Naya hanya bisa menangis melihat anaknya begitu terpukul karena ditinggalkan oleh sosok yang ia sayangi selain keluarganya. Dengan penuh kesabaran Ibunda Naya berusaha meyakinkan Naya kalau Radhit benar – benar meninggal.

          “kalo Radhit benar – benar meninggal, Aku mau lihat makamnya Radhit sekarang!...” seru Naya sambil terus terisak

          “nggak bisa nak.. kamu masih sangat lemah, kamu belum boleh pergi kemanapun..”

          Untuk pertama kalinya Naya kehilangan salah satu orang yang ia sayangi. Kejadian yang begitu cepat membuat Naya masih belum mempercayai kalau Radhit telah meninggal. Selama beberapa hari Naya harus memendam keinginannya untuk melihat makam Radhit. Melihat kondisi Naya yang sudah mulai kuat, akhirnya Naya boleh pulang ke rumah. Baru saja Naya pulang dari rumah sakit, ia langsung memaksa kakak laki – lakinya untuk mengantarkannya ke tempat dimana Radhit dimakamkan. 

          “Radhit.... kamu kok cepet banget perginya? Kita kan belum sempet ngerayain anniv kita... Radhit bangun dong... Aku kangen sama kamu.... Radhiiitt....” sambil memegang batu nisan Radhit, Naya menangis begitu keras. kakak lelaki Naya hanya bisa memegang pundak adik perempuannya itu dan berusaha menenangkan Naya yang begitu tidak terima kalau Radhit telah meninggal. Di kejauhan sosok Banyu yang begitu lemah sedang berdiri melihat cewek yang ia sayangi begitu sedih.

‘Nay... gue juga sedih kehilangan Radhit... tapi gue lebih sedih lagi ngeliat lo nangis kayak sekarang...’ hati Banyu terasa sesak melihat Naya yang begitu kehilangan Radhit. 

Melihat Naya yang tidak berhenti menangis, kakak lelaki Naya pun langsung mengajak Naya untuk segera pulang, ia tidak mau Naya semakin larut dengan kesedihannya. Awalnya Naya terus memberontak, namun kondisi Naya yang belum begitu pulih membuat Naya kehilangan daya, dan akhirnya menuruti kakak lelakinya untuk segera pulang. Sesaat setelah Naya meninggalkan tempat pemakaman, segera Banyu menghampiri makam Radhit. Sambil menaruh sebuah karangan bunga diatas makam Radhit, Banyu pun mengutarakan perasaannya,

“Dhit... lo tau kan kalau gue dari dulu gue sayang banget sama Naya? Sampai sekarang gue masih sayang banget sama Naya.. lo tau kan Naya sedih banget kehilangan lo, tapi gue nggak tahan ngeliat dia nangis terus.. Dhit gue minta ijin sama lo untuk ngedeketin Naya, gue mau buat dia bahagia, sama kayak lo yang mau bahagiain dia. Kita sama – sama sayang Naya, jadi gue mohon lo ijinin gue untuk sayang sama Naya, dan untuk bahagiain Naya.. bantuin gue ya Dhit, gue mohon...”

***

Berbulan – bulan membiarkan cewek yang ia sayangi terus berduka sebenarnya sangat menyiksa batin Banyu. Namun hal itu harus ia lakukan karena Banyu tidak mau terlalu cepat datang kembali ke kehidupan Naya. Setelah Banyu benar – benar menyadari kalau Radhit sudah mengijinkannya untuk mendekati Naya, barulah Banyu mulai mendekati Naya kembali. Perhatian yang dulu sering ditujukan kepada Naya secara diam – diam kini jelas terlihat. Banyu tidak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk bersama Naya lagi. Sudah cukup Banyu mengalah untuk Radhit. Dengan setiap perhatian tulus Banyu, lama kelamaan membuat hati Naya luluh dan kembali terbuka. 

Sudah berbulan – bulan pendekatan itu dimulai. Banyu tahu tidak mudah bagi Naya untuk begitu saja melupakan Radhit didalam hati dan pikirannya karena itu Banyu dengan sabar menunggu Naya sampai pada akhirnya Naya dapat menerima Banyu apa adanya tanpa membawa kenangan masa lalunya saat masih bersama Radhit.

Saat mental benar – benar telah siap, Banyu akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam kepada Naya. Di sebuah hutan kota yang begitu teduh, Banyu mengajak Naya sejenak berjalan kaki mengelilingi hutan kota yang cukup luas itu. Dikerindangan pohon – pohon itu, Banyu menghentikan langkahnya dan kemudian berlutut dihadapan Naya. Melihat kejadian itu Naya tersentak kaget

“Naya... sekarang gue mau jujur sama lo. Dari dulu, sebelum lo suka sama Radhit, gue udah sayang banget sama lo. Tapi karena gue tahu kalau lo suka sama Radhit, jadi gue mencoba berhenti ngedeketin lo, dan membiarkan Radhit yang ngedeketin lo. Sakit sebenernya, tapi gue harus ikhlas. Dan sekarang, gue nggak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk mendapatkan lo. Gue mau membahagiakan lo dengan sepenuh hati gue, gue mau jagain lo, gue mau perhatian sama lo.. so would you be my girlfriend?”

Terkejut bercampur senang saat mendengar pernyataan dari Banyu. Naya tidak menyangka kalau dari dulu Banyu sudah menyukainya. 

“i would...” jawab Naya sambil mengembangkan senyumannya. Mendengar jawaban dari Naya, Banyu langsung mengeluarkan bunga mawar putih dan juga sebuah boneka teddy bear dari dalam tas ranselnya dan segera memberikannya kepada Naya. Naya pun menerimanya dengan senang hati. 

‘akhirnya kamu tahu... kalau bukan dia yang ditakdirkan untukmu, melainkan Aku...’ gumam Banyu dalam hati.

TAMAT....

Selasa, 06 November 2012

Kotak Musik Melodi



Kotak Musik Melodi
 Karya: Synthia Goldri
 
                ‘Bumi sekarang sedang menangis’, itulah kata – kata yang selalu keluar dari mulut Melodi. Sambil terus memandangi halaman rumahnya yang dibasahi air hujan, Melodi tidak bosan – bosannya memutar kotak musik kesayangannya. Sesekali Melodi memejamkan matanya, menghirup nafas dalam – dalam, dan menghelanya pelan- pelan, hanya sekadar untuk menghayati setiap alunan yang dilantunkan oleh kotak musik itu. Sambil menghirup udara yang ada di sekeliling kamarnya, Melodi dapat merasakan bau tanah yang basah terkena air, dan saat – saat seperti inilah yang sangat disukai Melodi. 

          “heeemm... bau tanah yang basah....” bisik Melodi sambil memejamkan matanya.

          Hujan, udara sejuk, bau tanah yang basah, duduk menghadap ke jendela, sambil mendengar alunan melodi dari kotak musik adalah hal yang paling Melodi sukai. Dikesendiriannya, imajinasi Melodi melayang – layang, terbang setinggi mungkin, melambungkan angan yang tidak bertepi,  dan semua imajinasi dan angan itu hanya tertuju kepada satu sosok, yaitu Kressando.

          Kressando, sosok cowok satu ini sudah memikat hati Melodi sejak satu tahun yang lalu. Saat pertama kali Melodi mendengar kisah hidup Kress, nama panggilan Kressando, hati Melodi menjaddi luluh dan tersentuh. Walau selama ini Melodi hanya mendengar cerita tentang Kress, namun Melodi sudah bisa membayangkan bagaimana istimewanya Kress. Melodi tahu, tidak mudah baginya untuk dapat bertemu dengan Kress, namun untungnya Melodi berteman baik dengan sahabat Kress, yaitu Basstian. Karena Basstianlah, Melodi dapat mengetahui segala sesuatu tentang Kress, termasuk juga bertemu dengan Kress. Dilihat secara fisik, menurut Melodi, Kress bukanlah cowok yang tampan, namun kebaikan yang telah tertanam dalam hati Kress membuat dirinya mempunyai kharisma yang begitu terlihat. Dilihat dari kemampuan materi, Kress bukanlah orang yang berada, namun Kress adalah cowok yang mandiri, yang hidup dengan hasil kerja kerasnya dan bukan bantuan dari keluarganya. Dilihat dari kemampuannya, Kress adalah cowok yang sangat mahir bermain gitar, dan juga bernyanyi, karena bakat itulah, Kress memakainya untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Kehidupannya yang begitu rumit dan keras telah membuat Kress menjadi seorang yang tangguh dan mandiri. Walau sekarang Kress masih menumpang di rumah seorang sahabatnya, namun untuk setiap kebutuhan pribadinya, ia terus berjuang, bekerja keras dengan mengandalkan setiap bakat yang ia punya. Perjalanan hidup Kress itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Melodi menyukai Kress. Alasan lain mengapa Melodi menyukai Kress adalah karena Kress sangat menyayangi oma dan adik perempuannya. Karena Kress tidak mempunyai seorang Ibu dan Ayah, jadi orang  yang paling ia sayangi adalah Oma dan adik perempuannya. Selain itu Kress juga sangat setia kawan dengan para sahabatnya, Kress akan melakukan apapun untuk menjaga dan terus menyayangi para sahabatnya. Karena kesetiakawanan Kresslah yang membuat banyak orang menyukai dirinya.

          ‘seandainya Kress bisa kasih kotak musik teddy bear ke gue....’ harap Melodi dalam hatinya di sela – sela khayalannya. Sudah beberapa bulan kebelakang ini Melodi ingin sekali membeli sebuah kotak musik yang menyerupai snowball yang di dalamnya terdapat boneka teddy bear. Menurut Melodi, kotak musik, snow ball, dan bonek teddy bear adalah benda fovoritnya. Walaupun Melodi mempunyai uang untuk membeli kotak musik yang diinginkannya, namun Meoldi ingin sekali mendapatkannya dari Kress. Entah apa yang ada di pikiran Melodi, namun Melodi begitu yakin suatu saat nanti Kress akan memberikan kotak musik teddy bear kepada dirinya, walau Melodi tidak pernah tahu kapan Kress akan memberikannya.

***
          Hujan kemarin sore sepertinya sangat berkesan bagi Melodi sampai – sampai Melodi tertidur pulas di ranjangnya, dan tidak berkutik sedikitpun saat jam wekernya berbunyi begitu keras. 

          “melodi.. bangun sayang.. memangnya kamu nggak sekolah?” seru Ibu Melodi berusaha membangunkan anak bungsunya. 

          “hhmmm...” gumam Melodi sambil terus meringkuk di dalam selimutnya. Sang Ibu begitu sabar berusaha membangungkan Melodi, sampai akhirnya dengan sangat berat hati Melodi berusaha bangun dari ranjangnya.

          “ayo bangun sayang... sudah jam setengah enam pagi..” seru Ibunya kembali seraya menarik tangan Melodi

          Dengan setengah sadar, Melodi bangun dari ranjangnya dan langsung beranjak ke kamar mandi yang berada di samping kamarnya. Setelah membersihkan dirinya, Melodi segera bergegas berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Dengan terburu – buru Melodi berjalan menuju jalan raya dan menunggu bis yang menuju sekolahnya.

          Dengan nafas terengah – engah Melodi menaikki anak tangga menuju kelasnya yang berada di lantai dua gedung sebelah Utara sekolah. Sambil mencoba mengatur kembali nafasnya, tiba – tiba saja Viola, teman sekelas sekaligus teman sebangku Melodi, datang menghampiri Melodi yang baru saja duduk di bangkunya.

          “Mel... lo harus tahu satu hal...” seru Viola dengan nada agak sedikit sedih

          “ada apa Vi?” 

          “Kress Mel.. Kress udah jadian..” desah Viola. Seketika itu juga mata Melodi terbelalak, jantungnya seakan – akan di hantam oleh benda yang begitu besar, sakit sekali, dan terasa begitu sesak. Melodi tidak kuat untuk manahan tangisnya, tetesan air matapun keluar dari mata bening Melodi. Melihat temannya begitu sedih, Viola pun langsung memeluk temannya itu, dan mencoba menenangkannya.

          Butuh waktu yang cukup lama untuk Melodi menenangkan hatinya. Setelah cukup tenang, Melodi kemudian mengirimkan sebuah sms kepada Basstian, yang isinya menanyakan kepastian kalau Kress benar – benar telah berpacaran dengan seorang cewek yang selama ini Kress sukai. Namun Basstian tidak kunjung membalas sms Melodi. Melodi hanya bisa pasrah, menerima setiap keadaan yang sekarang terjadi kepadanya. Melodi sadar kalau dirinya untuk saat ini tidak bisa melakukan apa – apa, selain menunggu sampai suatu saat nanti Kress putus  dengan pacarnya. Dalam ketidakberdayaannya, Melodi tetap berharap suatu saat nanti cinta Kress dapat berbalik kepadanya, berharap suatu saat nanti Kress menyadari kalau sedari dulu ada seorang cewek yang mencintainya dengan tulus dan terus bersabar menunggunya. 

          “setiap kerja keras nggak ada yang sia – sia... kalau lo mau sabar nunggu pasti lo bakalan dapet kok...” sepenggal kalimat dari Viola itu membuat Melodi tegar menunggu Kress.

          Satu minggu telah berlalu sejak tangisan itu mereda. Tepat satu minggu, Melodi tidak sengaja bertemu dengan Kress di sebuah cafe. Di cafe itu Melodi melihat Kress yang sedang manggung bersama teman – teman band akustiknya. Mendengar alunan suara merdu Kress yang juga diiringi petikan harmonis dari senar – senar gitarnya membuat hati Melodi menjadi tenang, bukan hanya karena suara Kress dan petikan gitarnya yang membuat hati Melodi tenang, namun juga melihat sosok Kress yang dalam kondisi baik – baik saja juga telah membuat Melodi tenang. Tidak disangka setelah berbulan – bulan tidak pernah bertemu, akhirnya waktu mempertemukan Melodi kembali dengan Kress. Hanya ada perasaan gugup bercampur syukur saat bertemu dengan Kress. 

          “hai Mel!..” sapa Kress sesaat setelah ia turun dari atas panggung. Jantung Melodi yang sedari tadi berdebar – debar, kini bertambah kencang, dan tangannya pun kini menjadi sangat dingin saat Melodi menyadari kalau Kress menyapa dirinya

          “eh.. hai juga Kress..” sahut Melodi sedikit gugup

          “kok sendirian aja disini? Mending gabung sama gue, Basstian, dan temen – temen gue aja?” 

          “hhm iya nih... tapi gue nggak enak sama temen – temen lo..” 

          “nggak apa – apa... santai aja. yuk..” 

          Seruan ajakan Kress benar – benar membuat Melodi tidak dapat berkutik. Melodi hanya mengikuti setiap langkah Kress yang berjalan di depannya. Saat ini jantung Melodi berdebar tidak keruan, tangannya dingin, dan tubuhnya pun lemas. Kegugupan yang dirasakan Melodi berusaha ia tutupi namun usaha itu tidak pernah berhasil. 

          “eh ada Melodi!...” sahut Basstian sesaat Melodi sampai di tempat Basstian dan teman – temannya berkumpul

          “ayo Mel duduk...” seru Kress dengan ramah sambil mempersilahkan Melodi duduk di bangku yang letaknya persis di samping kiri Kress. 

          Setelah sedikit bercengkrama dengan Basstian, Melodi memutuskan untuk memesan makanan. Namun ada sebuah kebetulan yang terjadi, saat Melodi ingin memesan makanan, di saat yang sama Kress juga ikut memesan makanan, dan makanan yang mereka pesan sama. 

          “ciee.. kok bisa samaan gitu sih mesennya?” goda Basstian, dan diikuti oleh teman – teman Basstian yang lain. Godaan dari teman – temannya hanya ditanggapi dengan tawa oleh Kress, sedangkan Melodi hanya diam tanpa ekspresi.

          “Mel.. ekspresi lo kok datar banget sih?” tanya Basstian sambil mencoba menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Melodi yang begitu datar

          “gue emang kayak gini... mau diapain lagi?” jawab Melodi dengan polosnya. Jawabannya yang polos ditambah wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Basstian dan teman – temannya tidak terkecuali Kress tertawa geli.  
 
          Senda gurau yang terjadi diantara mereka, menambah hangat suasana saat ini. Malam yang begitu dingin tidak begitu terasa karena canda dan tawa yang dihadirkan dari Basstian, Kress dan teman – temannya. Kesenangan Melodi malam ini tiba – tiba dibangunkan pada sebuah kenyataan kalau pada saat ini Kress sudah mempunyai seorang pacar, dan Melodi tersadar kalau batas kesenangannya harus dihentikan, karena semakin Melodi senang, maka akan semakin sakit hatinya. Perbincangan hangat itu harus segera diakhiri, dan betapa beruntungnya Melodi saat Kress bersedia mengantarkannya pulang sampai ke rumah. 

          Di dalam perjalanan pulang, Melodi dan Kress terlibat dalam perbincangan yang agak sedikit kaku, karena setiap Melodi di dekat Kress, Melodi pasti tidak dapat berkutik, ia hanya bisa diam tanpa ekspresi. Pada malam itu Kress menyadari bahwa Melodi dan Harfa, nama pacar Kress, mempunyai begitu banyak kesamaan. Dan Kress menyadari hanya satu hal yang membedakan kedua orang cewek tersebut, yaitu kepercayaan. Namun Kress belum menyadari sepenuhnya bahwa ada satu hal lagi yang membedakan Melodi dengan Harfa, yaitu Melodi mencintai Kress dengan tulus, sedangkan Harfa tidak pernah mencintai Kress. 

          Melodi belum tahu kalau Harfa tidak pernah memiliki rasa yang sama dengan Kress. Yang Melodi tahu hanyalah Kress sangat mencintai Harfa, dan Kress selalu berusaha untuk membuat Harfa jatuh cinta kepadanya. Seandainya saja Melodi mengetahui kenyataan yang ada, mungkin hati Melodi akan kembali bersedih. 

***

          Pertemuan malam itu begitu berkesan di hati Melodi. Setiap hari, pikirannya terus diingatkan oleh setiap kenangan yang terjadi pada malam itu. Di dalam hatinya, Melodi terus berharap agar suatu saat nanti, memori itu akan terulang kembali menjadi lebih indah dari yang sebelumnya. 

          Bulan demi bulan telah berlalu. Dengan penuh kesabaran Melodi terus menunggu Kress. Sampai kepada akhirnya segala penantian Melodi berbuah manis. Tepat tiga bulan Kress dan Harfa berpacaran, akhirnya Harfa memutuskan hubungannya dengan Kress. Dengan lapang dada Kress menerima setiap keputusan yang diambil Harfa, walau terasa perih, namun Kress mengerti, cintanya kepada Harfa tidak akan pernah terbalaskan. Kabar ini begitu cepat terdengar, dan akhirnya sampai ke telinga Melodi. Saat Melodi mendengar kabar tersebut, hati Melodi terasa begitu lega dan bahagia. Akhirnya segala air mata dan penantiannya hampir saja berakhir. Namun masih ada banyak tahapan yang harus dijalani Melodi hingga pada akhirnya ia dapat mendapatkan Kress. Melodi harus berusaha sabar kembali untuk membiarkan Kress menyendiri paska putusnya hubungan Kress dengan Harfa. 

Di saat – saat Melodi membiarkan Kress menyendiri, tiba – tiba saja sebuah kecelakaan terjadi. Saat itu Melodi ingin melihat penampilan Kress di sebuah cafe, saat Melodi ingin menyebrang tiba – tiba saja ada sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan yang langsung menabrak Melodi dan mengehempaskan Melodi sejauh sepuluh meter dari tempat tabrakan. Tabrakan hebat itu membuat Melodi tidak sadarkan diri selama hampir dua bulan. Benturan yang cukup parah di bagian kepala Melodi yang menyebabkan Melodi tidak kunjung sadarkan diri. 

Semua teman – teman Melodi turut berduka atas kecelakaan yang dialami Melodi, tidak terkecuali Kress. Sesaat setelah Basstian mengetahui kecelakaan yang dialami oleh Melodi, Basstian segera memberitahukannya kepada Kress.

“Kress... Melodi kena kecelakaan saat dia mau nonton lo manggung..” tutur Basstian sehari setelah Melodi mengalami kecelakaan. 

“ya ampun.. kok bisa? Terus keadaannya gimana?” tanya Kress panik

“ada mobil yang nabrak dia saat dia mau nyebrang ke cafe tempat lo manggung, dan sekarang kondisinya kritis.. dan lo tau sesuatu nggak?”

“sesuatu apa?” tanya Kress bingung

“sebenernya dari dulu mungkin udah satu tahun kebelakang Melodi suka sama lo, tapi saat dia tau kalau lo jadian sama Harfa, dia berhenti ngedeketin lo, tapi dia tetep nungguin lo. Dan lo harus tahu kalau dia tulus banget suka sama lo. Buktinya, dia selalu ngedoain lo, dia selalu tanya kondisi lo ke gue, dia selalu ingetin gue supaya gue ngingetin lo untuk ibadah, walau dia diem setiap ketemu lo, tapi sebenernya dia sering merhatiin lo.”
Kress tampak tersentak kaget setelah mendengar penjelasan dari Basstian. Kress tidak menyangka kalau ada seseorang yang begitu tulus mencintai dan memerhatikannya. Kress hanya tahu kalau Melodi menyukainya, namun Kress tidak pernah berpikir kalau Melodi begitu mencintainya.

“apa lo serius? Apa dia bener – bener nungguin gue? doain gue? dan pehatiin gue? segitunya kah dia?” Kress masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Kress baru pertama kali menemukan seorang cewek yang benar – benar menyukainya seperti Melodi.

“gue serius.. Melodi sendiri yang cerita ke gue. dan lo juga harus tahu, kalau Melodi juga bisa ngerasain sedih saat gue bilang kalau cinta lo nggak dibales sama Harfa..”

Sejak mendengar penjelasan dari Basstian, hati Kress tiba – tiba luluh seketika, bukan karena perasaan kasihan, namun karena ketulusan cinta Melodi untukknya. Ketulusan cinta Melodi akhirnya mengubah sikap Kress yang tadi berusaha untuk terus menghindar dari Melodi menjadi begitu perhatian dengan Melodi. Hampir tiga minggu sekali, Kress pasti menjenguk Melodi yang terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur. Saat awal Kress menjenguk Melodi, air mata Kress tidak terhankan saat melihat wajah Melodi sambil mengingat setiap perhatian Melodi dulu kepadanya. 

“makasih ya Mel buat setiap doa lo, dan perhatian lo ke gue... maaf banget kalau selama ini gue nggak peka, maaf kalau selama ini gue ngehindar dari lo karena dulu gue masih sayang banget sama Harfa, tapi kalau sekarang perasaan itu udah hilang cepet banget, mungkin karena ada lo.. cepet bangun ya Mel.. gue mau lo perhatiin lagi, gue mau liat wajah lo yang nggak berekspresi lagi, gue mau denger jawaban – jawaban polos lo. Sekarang gue yang gantiin doain lo loh.. gue berdoa semoga lo cepet bangun...” bisik Kress saat satu bulan tepat Melodi koma di rumah sakit. 

Semakin hari, Kress mulai lebih sering menjenguk Melodi. Mulai dari sekedar membawakan bunga, sampai membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu untuk Melodi di setiap kunjungannya, dan berharap Melodi cepat sadar.

“Mel.. gue harus ngapain lagi supaya lo cepet bangun?” tanya Kress sesaat setelah ia menyanyikan lagu Dia dari sammy simorangkir

“lo harus bawain kotak musik...” sahut kakak Melodi yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar perawatan. Kress langsung menoleh ke arah kakak Melodi dengan ekspresi bingung

“kotak musik?” tanya Kress bingung

“iya kotak musik.. kemarin gue baca diarynya, dan dia pernah nulis kalau dia kepengen banget dapet kotak musik teddy bear dari lo...” 

Setelah mendapat saran dari kakak Melodi, Kress segera menghubungi Basstian untuk membantunya mencari kotak musik teddy bear yang diinginkan Melodi. Hari pertama pencarian, Kress belum menemukannya, hari kedua, sampai hari keempat, Kress belum juga menemukannya. Sampai pada hari yang ketujuh, akhirnya kotak musik teddy bear yang diinginkan Melodi dapat ditemukan. Segera Kress membelinya dan langsung membawanya ke hadapan Melodi.

“Mel!.. liat gue bawa apa? liat nih gue bawa kotak musik teddy bear yang lo mau... lo mau yang ngasih kotak musik teddy bear ini gue kan? Nih gue kasih kotak musik teddy bearnya buat lo... lo seneng nggak?” 

Sebuah keajaiban terjadi, Melodi mendengar pertanyaan Kress, dan Melodi akhirnya menandakan sebuah pemulihan, jari tangannya bergerak menanggapi pertanyaan Kress. Saat Kress menyadari hal tersebut, Kress segera memanggil Ibunda Melodi yang sedang duduk di salah satu sofa dekat tempat tidur Melodi

“tante! Jari tangan Melodi bergerak!” sahut Kress senang, mendengar sahutan Kress, Ibunda Melodi pun segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung memanggil dokter yang menangani Melodi

“apa yang terjadi?” tanya dokter yang menangani Melodi sesaat setelah ia sampai di kamar perawatan

“tadi saat saya bilang ke Melodi kalau saya baru saja membeli kotak musik teddy bear yang dia mau, jari tangannya langsung bergerak dok..”

“okey.. coba kamu putar kotak musiknya” perintah sang dokter kepada Kress. Tidak lama setelah kotak musik itu berhenti berbunyi, Melodi kembali memerlihatkan tanda – tanda pemulihannya. Setelah itu dokter menyuruh Kress untuk setiap hari memutarkan kotak musik kepada Melodi.

Hampir dua minggu Kress setiap hari memutarkan kotak musiknya untuk Melodi. Dan setiap harinya Melodi terus menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Sampai suatu hari, kedua mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka.

“Melodi?” seru Kress sesaat setelah ia melihat kedua mata Melodi terbuka. Saat kedua mata itu kembali terbuka, semua orang termasuk Kress merasakan kesenangan yang luar biasa. 

Setelah sadar dari komanya, Melodi menjalankan beberapa terapi untuk pemulihan kondisi tubuhnya. Di setiap terapi pasti Kress selalu menemani Melodi. Pada awalnya Melodi kaget saat melihat Kress yang begitu perhatian kepadanya, namun sekarang semuanya terasa begitu indah. Doa dan perhatian Kress membuat pemulihan Melodi berjalan lebih cepat. 

Saat kondisi Melodi benar – benar pulih, keajaiban cinta pun terjadi, masa penantian Melodi selama ini akhirnya benar – benar telah berakhir. Saat Kress mengajak Melodi untuk menemaninya tampil di sebuah cafe, di sana lah Kress menyatakan cintanya kepada Melodi

“dulu memang tidak pernah Aku sadari kalau ada seorang cewek yang sedang menungguku. Dulu Aku tidak pernah sadar kalau ada cinta yang selalu mendoakan dan memerhatikanku. Tapi sekarang Aku sadar, kalau ada cinta yang tulus sedang menantiku. Makasih banyak untuk setiap doamu, makasih banyak untuk setiap perhatianmu... maafin Aku atas setiap air matamu yang menetes setiap memikirkanku.. Aku janji Aku akan menjadi yang terbaik untukmu.. Melodi Alisya apa kamu mau jadi pacar terbaikku?”

Setiap perkataan yang dituturkan oleh Kress membuat Melodi tidak kuat menahan tangis. Melodi tidak dapat berkata – kata, karena ia terlalu senang. Melodi benar – benar bersyukur karena setiap perjuangannya menunggu Kress tidak sia – sia. Melodi hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda ia mau menjadi pacar Kress. Melihat jawban dari Melodi, Kress segera turun dari panggung dan berjalan mendekati Melodi. Melodi dan Kress berdiri berhadapan, dengan tangan kanannya Kress menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh di pipi Melodi.

“jangan nangsi lagi ya... ini hadiah buat kamu..” Kress mencoba menenangkan Melodi, kemudian memberikan sebuah kotak musik teddy bear kepadanya

“kota musik ini yang buat kamu sadar...” sambung Kress

“karena kamu dan kotak musik ini yang buat Aku sadar.. makasih ya...” Melodi mengambil kotak musik itu dan langsung memeluk Kress dengan eratnya

“kamu adalah yang pertama... dan Aku mau kamu juga yang terakhir buat Aku...” bisik Melodi dengan lirih

“pasti... love you..”

“love you too...”

Akhirnya perjuangan cinta Melodi tidak berakhir sia – sia. Walau terkadang Melodi jatuh bangun untuk tetap sabar dan setia menunggu Kress, namun pada akhirnya setiap kesabaran dan kesetiaan pasti berbuah manis. Karena setiap ketulusan Melodi telah membuat Kress sadar akan arti sebuah ketulusan, pengorbanan, dan perjuangan cinta.






TAMAT....