about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Selasa, 15 Januari 2013

OST film 5 cm.

ditanggal 12 bulan 12 tahun 2012, dunia perfilman Indonesia kedatangan film baru, judulnya 5 cm. film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama hasil karya Dony Dirgantoro. Film ini mengisahkan 5 orang sahabat, yaitu Genta, Zafran, Arial, Ian, dan juga Riani. 4 cowok dan satu cewek. mereka sudah lama bersahabat. dan pada suatu hari, mereka memutuskan untuk tidak berhubungan satu dengan yang lainnya selama tiga bulan. setelah tiga bulan berlalu, Genta sang leader mengajak teman - temannya untuk pergi ke gunung semeru untuk merayakan pertemuan mereka. saat pertemuan mereka, Arial membawa sang adik perempuan, yang disukai oleh Zafran, namanya Dinda. Genta mengajak teman - temannya untuk menaiki puncak gunung tertinggi di pulau jawa, yaitu mahameru. petualangan mereka dimulai. Di film 5 cm ini, penonton disuguhkan pemandangan alam yang sungguh indah. Jujur gue sangat takjum dengan pemandangan alamnya, indah banget. selain jalan cerita, dan juga setting tempat yang sangat indah, original soundtrack dari film ini menambah kehebatan film ini. OST 5 cm diisi oleh band papan atas Indonesia, yaitu Nidji. Nidji mencinptakan beberapa lagu untuk mengisi soundtrack di film ini, yaitu di atas awan, rahasia hati, dan juga tak akan pernah mati. di bawah ini, lirik lagu dari masing - masing lagu:

Di Atas Awan

Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan

Reff: Kita menantang impian
        di atas awan kita kan menang
        Kita penakluk dunia
        di atas awan kita kan menang, menang

Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama

Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
            mencari tempat kita di masa depan
            berjanji kita tak akan putus asa
            walaupun semua tak akan pudar
back to Reff

Rahasia Hati

Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
     I wanna love you like the huricane
     I wanna love you like the mountain rain
     So wild so pure
     So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
    Berdoa dan beranikan diri
     sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you

Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku

Tak akan pernah Mati

Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama

Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
        Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
        Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati



Jumat, 04 Januari 2013

chicken roll with cheese

akhir - akhir ini gue lagi iseng mencoba resep baru. dan tadi siang, gue membuat chicken roll with cheese. dada ayam yang di fillet, lalu diisi keju, trus digulung, dipanggang, ditaburi tepung lalu digoreng. dilengkapi dengan nasi gulung telur, chicken roll with cheese ini semakin lezat. silahkan dicoba resepnya:
Bahan:
  • dada ayam fillet
  • kraft quick melt
  • merica secukupnya
  • garam secukupnya
  • tepung secukupnya
  • satu butir telur
  • selada
  • nasi
  • margarin
  • minyak goreng
  • mayonese
  • saus sambal
Cara membuat:
Chicken Roll with Cheese
  • gepengkan dada ayam yang telah difillet
  • taburi garam dan merica secukupnya
  • iris kraft quick melt dan taruh di atas dada ayam lalu gulung
  • panggang dada ayam yang telah digulung kedalam microwave selama 2 menit
  • celupkan chicken roll kedalam telur yang telah dikocok
  • gulingkan chichken roll ke dalam tepung terigu 
  • goreng chicken roll hingga warnanya coklat keemasan 
Nasi Gulung Telur
  • dadar telur di atas teflon
  • pipihkan nasi yang telah dicampur dengan margarin
  • lalu gulung dan potong menjadi dua bagian
Cara penyajian:
  • iris daun selada yang sudah dicuci
  • taruh diatas piring saji
  • letakkan chicken roll with cheese yang telah dipotong dua
  • siram dengan mayonese dan saus sambal
  • hidangkan bersama dengan nasi gulung telur
  • Chicken roll with cheese siap untuk disantap.








 

Memori Maura



Saat pikiran ini penat dengan berbagai pekerjaan yang begitu menumpuk, Maura sejenak melepaskan kepenatannya dengan membuka sebuah buku yang telah usang tertutup debu. ‘Sudah begitu lama’, pikir Maura. Sudah lima tahun buku ini tidak pernah dibuka lagi sejak Maura memutuskan untuk melupakan setiap kenangannya di SMA. Kali ini, entah mengapa, Maura ingin sekali membuka buku kenangan yang sekarang telah berada di pangkuannya. Ada sesuatu hal yang memaksanya dengan halus untuk membuka buku kenangan itu. Sambil duduk termenung di atas sofa yang yang berada di ruang tamu rumahnya, Maura mulai meniup debu yang begitu tebal menutupi sampul buku kenangan itu.

          Pada halaman pertama tampak foto gedung sekolah Maura yang dulu. ‘sudah lama Aku tidak mengunjungi bangunan tua ini...’ kenang Maura dalam hati. Memasuki halaman kedua, tampak foto serta sedikit pidato dari Bapak Kepala SMA Rafles mengenai kesan dan pesannya kepada angkatan 20, yaitu angkatan Maura. Halaman demi halaman terbuka, setiap halaman kembali mengingatkan Maura kepada masa – masa SMAnya dulu yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat halaman  demi halaman terbuka tanpa beban, namun saat memasuki halaman yang memuat profil kelas dua belas ipa tiga, sejenak Maura diam dalam kesunyian. Bayang – bayang masa lalu itu kembali muncul di benak Maura. Setiap kejadian itu seperti terekam ulang di pikiran Maura, apalagi saat Maura menatap lurus ke arah sebuah foto laki – laki yang bernama Maxi Ferdinand. Kenangan itu kembali muncul, kenangan Maura saat pertama kali bertemu Maxi.

***

          Seluruh peserta MOS sekarang berhamburan di tengah lapangan. Sekarang mereka sedang sibuk meminta tanda tangan para anggota OSIS. Banyak hal yang harus peserta MOS lakukan agar dapat mendapatkan tanda tangan dari para anggota OSIS. Salah satunya adalah dengan berjoget di tengah lapangan. Jika ada yang bersedia untuk berjoget di tengah lapangan, maka peserta tersebut bisa mendapatkan tanda tangan seluruh anggota OSIS. Setelah cukup lama menunggu peserta yang bersedia, akhirnya sesosok cowok bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang menyembul dari antara kerumunan peserta MOS. Dengan begitu semangat cowok itu langsung maju ke tengah lapangan.

          “ya sekarang sudah ada yang bersedia nih. Siapa nama kamu?” tanya seorang anggota OSIS

          “nama saya Maxi Ferdinand kak!..”jawab Maxi penuh semangat.

     “okey! Sekarang kamu tunjuk teman kamu untuk temenin kamu joget di tengah lapangan..”

          Sambil menggaruk – garuk kepalanya, Maxi mencoba untuk berpikir kira – kira siapa yang akan diajaknya untuk berjoget bersamanya, sambil terus berpikir Maxi menyapukan pandangannya kesekeliling. Saat sedang asyik mencari, tiba – tiba saja matanya tertuju kepada sosok cewek bertubuh sedang berkulit kuning langsat yang sedari tadi terus memainkan rambutnya yang terkepang dua itu.

          “saya pilih dia kak!” sahut Maxi sambil menunjuk ke arah Maura Aurelia, cewek yang sudah merebut pandangan Maxi.

          Maura terlihat kaget saat dirinya yang ditunjuk Maxi untuk berjoget bersamanya di tengah lapangan. Dengan mulut yang masih ternganga, Maura di ajak untuk maju ke tengah lapangan. Sudah tidak ada pilihan, pikir Maura dalam hati. Dengan sangat terpaksa Maura menuruti perintah salah satu anggota OSIS untuk berjoget bersama Maxi. Untuk menahan rasa malunya, Maura terus menerus menunduk saat berjoget bersama Maxi, namun disela – sela ‘penampilan’ mereka, Maxi berbisik kepada Maura

          “udah bawa enjoy aja lagi... nggak usah malu kayak gitu..”

          Mendengar sepenggal kalimat dari Maxi itu, Maura menjadi lebih tenang menghadapi para penonton yang terus menerus menyoraki mereka. Ada sedikit perasaan lega saat Maxi berbicara seperti itu, padahal Maura tidak mengenal Maxi. Ya walaupun mereka berdua tidak saling kenal, namun ada sesuatu rasa yang nyaman yang dirasakan Maura saat bersama dengan Maxi.

          Hampir lima menit sudah Maxi dan Maura berjoget bersama di tengah lapangan, dan ditonton oleh begitu banyak orang. Setelah lagu pengiring telah selesai di putar, akhirnya mereka berdua berhenti berjoget. Semua orang yang menonton ‘penampilan’ Maxi dan Maura begitu terkesan dan segera memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Karena kerelaan mereka untuk berjoget di tengah lapangan, akhirnya mereka mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS. 

          “eh, kita belum kenalan ya?... kenalin nama gue Maxi Ferdinand.. panggil aja Maxi.. kalau nama lo siapa?” tanya Maxi setelah mereka selesai mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS

          “nama Aku Maura Aurelia, panggil aja Maura..” sahut Maura sambil menjabat tangan Maxi yang tadi terarah padanya.

          Dari kejadian itulah, Maura dan Maxi pertama kali berkenalan, dan dari kejadian itu pula, hubungan mereka terus berlanjut menjadi sebuah hubungan persahabatan. Walau sikap dan sifat Maura dan Maxi sangat berbeda namun perbedaan itu tidak menjadikan jarak bagi mereka berdua untuk menjalin persahabatan.  Sikap Maura yang begitu lembut, pendiam, dan juga sabar sangat bertolak belakang dengan sikap Maxi yang begitu berantakan, jahil, ramai, dan juga tidak sabaran.

***

          “Ayo Maura... kejar gue kalo lo bisa!! Hahaha...” seru Maxi dengan semangatnya sambil terus mengayuh pedal sepedanya. 

          “Tungguin Aku dong Maxi!.... capek nih..” sahut Maura yang berusaha mengayuh sepedanya, namun Maura tertinggal jauh oleh Maxi yang sudah jauh berjalan di depannya. Mendengar seruan dari sahabatnya itu, terlihat dari kejauhan Maxi memutar sepedanya dan mengayuh sepedanya, berjalan menuju Maura yang sedari tadi telah terhenti karena begitu kelelahan setelah memutarin hutan kota sebanyak lima kali putaran.

          “haduuh.. lo kok lemah banget sih?...” goda Maxi sambil mengacak – acak rambut Maura

          “Max?... kamu kenapa?” tiba – tiba rawut wajah Maura berubaha menjadi begitu sedih

          “gue nggak kenapa – kenapa kok...” 

          “tapi itu....” Maura segera mengarahkan jari telunjuknya ke arah hidung Maxi yang mengeluarkan darah. Maxi tersentak, dan segera menyeka tetesan darah yang keluar dari hidungnya.

          “oh ini.. nggak apa – apa kok ini. Udah biasa hehe..” Maxi berusaha menenangkan Maura yang begitu panik melihat darah yang menetes dari hidung Maxi. Sudah dua tahun Maura mengenal dan begitu dekat dengan Maxi, namun ini pertama kalinya Maura melihat Maxi mimisan, dan yang ada dipikiran Maura adalah kalau Maxi sedang sakit, namun Maura tidak mengetahui penyakit apa yang diderita Maxi.

          “kamu sakit apa Maxi?” tanya Maura khawatir

          “Gue nggak sakit apa – apa kok Maura... tenang aja yah, nggak usah khawatir gitu...”

          Di kedalaman hati Maxi, ia bergumam di dalam hatinya,‘maaf ya Maura, gue nggak bisa kasih tahu lo tentang kondisi gue saat ini. Gue sayang banget sama lo... gue nggak mau lo kecewa sama gue karena kondisi gue... maaf banget ya ra. Pasti cepat atau lambat lo bakalan tau kok kondisi gue yang sebenarnya...’.

***

          Hampir dua tahun Maxi menyimpan perasaan istimewa kepada Maura, namun sampai saat ini Maxi tidak berani untuk mengungkapkannya kepada Maura karena Maxi menyadari kondisinya yang lemah. Dalam pikiran Maxi, ia ingin sekali membahagiakan Maura selama sisa hidupnya. Dan hal itu dilakukannya setiap hari. Perasaan yang begitu istimewa ini semakin hari semakin mendalam. Ingin rasanya Maxi mengungkapkan perasaannya, namun Maxi belum siap. Ia takut kalau nanti Maura menolaknya karena Maura sudah menganggap Maxi sebagai sahabatnya. Sampai suatu hari Maxi mencoba bertanya kepada Maura

          “Maura... seandainya ada seseorang yang deket sama lo terus dia suka sama lo gimana?” 

          “hhhmm... gimana ya? emangnya siapa yang suka sama Aku Max?”

          “eh.. ada deh rahasia hehehe..”

          “yah Maxi kok main rahasiaan sih sama Aku?”

          “suatu saat lo bakalan tahu kok Ra..”

          “ooh yaudah deh.. menurut Aku sih kalau cowoknya itu baik ya Akunya nggak masalah” 

          Sejenak Maxi terdiam dalam kebisuan. Pikirannya melayang – layang membayangkan bagaimana kalau dirinya menyatakan perasaannya kepada Maura. 

          “Maura, sekarang ini lo lagi suka sama seseorang nggak?” tanya Maxi lagi dengan wajah yang sangat serius. Mendengar pertanyaan Maxi, Maura sejenak terdiam dan mulai berpikir.

          “hhmm.. kayaknya ada deh Max”

          “boleh gue tahu siapa orangnya?”

          “duuh ini tuh rahasia! Nggak boleh ada yang tahu termasuk kamu Max...” 

          Max terkesiap saat mendengar pernyataan Maura, ‘kira – kira siapa yang ya disuaki Maura, apa mungkin itu gue? ah nggak.. nggak mungkin, plis Max jangan kepedean dulu...’ gumam Maxi dalam hati. Perasaan Maxi semakin hari semakin kalut, Ia bingung harus berbuat apa, apa Ia harus menyatakan perasaannya atau terus memendamnya.

          Hari terus berganti hari, dan minggu pun berganti minggu. Kondisi lemah Maxi semakin hari semakin terlihat oleh banyak orang tidak terkecuali Maura. Suatu hari saat pelajaran olahraga, semua murid – murid berhamburan di tengah lapangan. Kali ini mereka diharuskan untuk bermain voli, namun sebelumnya mereka harus mengelilingi sekolah sebanyak dua kali putaran. Di tengah teriknya matahari, Maxi berusaha mempertahankan kondisi fisiknya yang mulai melemah. Sesekali ia berhenti hanya untuk menenangkan kepalanya yang sangat pusing, dan kemudian kembali berlari dan bergabung bersama teman – temannya yang sudah berlari jauh di depannya. 

          Setelah semua murid berkumpul, permainan voli pun dimulai. Namun baru saja Maxi ingin menyervis bola, tiba – tiba saja ia kehilangan keseimbangan, kepalanya yang sedari tadi begitu pusing kini bertambah pusing dan menyakitkan, pandangannya pun menjadi kabur, dan Maxi terjatuh dan terkapar di tengah lapangan. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi panik. Murid – murid yang berada di lapangan segera berlari dan mendekati tubuh Maxi yang kini terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Segera teman – teman Maxi menggotong Maxi ke ruang UKS,  sedangkan Pak Bagus segera mencarikan taksi untuk membawa Maxi ke rumah sakit. 

          Selama seminggu Maxi dirawat di rumah sakit. Setiap harinya teman – teman Maxi silih berganti datang untuk menjenguknya, tidak terkecuali Maura. Setiap hari Maura terus pergi menjenguk Maxi setelah pulang sekolah, dan biasanya Maura selalu membawakan buah kepada Maxi atau tidak sebuah majalah untuk sekedar menemani Maxi.

          “Max.. sebenarnya kamu sakit apa sih?” tanya Maura di sela – sela kunjungannya yang keempat kalinya

          “gue cuma kecapean kok Ra.. nggak usah khawatir lagi yah”

          “Aku pasti khawatir sama kamu, kamu kan sahabat Aku Max... lain kali kamu nggak boleh capek – capek lagi ya!...”

          “oke deh! Siap bos Maura.. hahaha”

          Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Maxi akhirnya dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun ada beberapa hal yang tidak biasa yang dilakukan Maxi yaitu, mengulang kenangan – kenangan indah bersama Maura. Kenangan pertama Maxi adalah saat pertama kali ia bertemu dengan Maura. 

          Suatu hari saat pelajaran kosong, Maxi mengajak Maura untuk keluar kelas. Sedang di lapangan telah berhamburan begitu banyak murid – murid. 

          “Max.. kita mau ngapain sih?” tanya Maura kebingungan

          “lo masih inget nggak pertama kali kita ketemu?”

          Maura hanya mengangguk, lalu Maxi mengajak Maura turun ke lapangan. Setelah berada di tengah lapangan, Maxi memohon kepada Maura untuk mengulangi adegan disaat – saat mereka berjoget bersama. Kebingungan Maura semakin bertambah, sekarang ia benar – benar tidak mengerti mengapa ia harus di tengah lapangan ini, dan berjoget bersama Maxi seperti saat pertama kali mereka bertemu.

          “plis Ra... gue mohon banget sama lo. Gue kangen masa – masa kita baru pertama kali ketemu... plis ya Ra...” pinta Maxi dengan wajah memelas. Dengan berat hati Maura menuruti keinginan Maxi yang agak ‘gila’ itu. Sama seperti dulu, Maxi kembali membisikkan kata – kata yang sama saat Maura gugup. 

          Kenangan – kenangan indah yang dulu, kembali diulang Maxi. Ia ingin sekali menikmati akhir hidupnya bersama seseorang yang sangat ia cintai walau Maura tidak pernah tahu betapa Maxi sangat mencintainya. Beberapa tempat yang telah menyimpan banyak memori sudah dikunjungi satu persatu, mulai dari kota tua, taman bunga, danau, dan juga pantai. Tempat – tempat itu telah mengukir banyak kenangan manis Maxi bersama Maura.

          Setelah sekian lama waktu terus berjalan, penyakit yang di derita Maxi semakin parah. Di dalam hatinya, Maxi ingin sekali segera mengungkapkan setiap perasaannya. Namun belum sempat Maxi mengungkapkan perasaannya, Maura lebih dahulu mengungkapkan perasaannya. Suatu saat di sebuah taman kota, Maura memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.

          “Max.. Aku mau cerita sesuatu sama kamu”

          “cerita apa?”

          “sebenernya, udah dari dulu, Aku suka sama seseorang, tapi sampai sekarang Aku nggak berani nyatain perasaan Aku ke dia, Aku takut..”

          “emangnya siapa cowok yang lo suka Ra?”

          “hhmm.. tapi kamu jangan marah ya Max.. Aku suka sama kak Willy”

          Jantung Maxi seperti berhenti sejenak, rasanya tiba – tiba ada sebilah pisau yang menghujam jantungnya, sakit, sakit sekali. Mendengar pernyataan Maura, Maxi tidak dapat berkata – kata lagi. Maxi benar – benar tidak percaya kalau Maura menyukai kakaknya sendiri. Maxi ingin sekali menangis, namun Ia tidak ingin menangis di depan Maura. Maxi berusaha menahan setiap perasaan sakit hatinya.

          “Max.. kamu nggak masalah kan kalau Aku suka sama kakak kamu?”

         “eh.. hmm.. nggak apa – apa kok.” hanya kata – kata itu yang dapat keluar dari mulut Maxi melalui sisa – sisa kekuatannya.

          Tiga hari setelah pertemuan di taman kota itu, Maxi tidak terlihat lagi di sekolah. Maura panik sekaligus cemas karena sahabtnya itu tidak terlihat di sekolah dan juga tidak bisa dihubungi. Sampai suatu ketika Maura mencoba menghubungi Willy, kakak Maxi.

          “Maxi diopname di rumah sakit..” tutur Willy dari ujung telepon

          “sebenernya Maxi sakit apa sih kak?”

      “Sejak kecil, Maxi menderita kanker otak Ra. Dan sekarang kondisinya tambah kritis..
          Maura tersentak, dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak menyangka kalau selama ini Maxi menderita kanker otak. Dibalik senyuma kegembiraannya ternyata Maxi menyimpan penyakit yang mematikan. Tetes air mata perlahan mengalir keluar dari kedua mata Maura. Dengan segera Maura pergi ke rumah sakit tempat Maxi di rawat.

          “kak....” sahut Maxi lirih

          “iya.. lo kenapa Max?” Willy tersentak kaget saat Maxi memanggilnya

         “tolong jaga Maura ya... dia cinta sama lo...”. Willy sejenak terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Maxi. ‘menjaga Maura? Maura cinta sama gue?’ tanya itu muncul di pikiran Willy. Walau masih tidak mengerti akan permintaan adiknya itu, namun Willy mengiyakan permintaan terakhir Maxi. 

          Sesaat setelah itu, Maura tiba di rumah sakit. Di sana, telah terbaring dengan ketidakberdayaan. Berbagai alat terpasang di tubuh Maxi. Melihat kondisi Maxi yang begitu kritis, Maura kembali meneteskan air mata. Dengan langkah gontai Maura berjalan mendekati Maxi.

          “Maxi.. maafin Aku... maafin Aku karna nggak pernah bisa ngerti kondisi kamu yang sebenernya.. maafin Aku....” bisik Maura lirih

      Maxi yang terbaring lemah berusaha menyadarkan dirinya kembali. Di akhir hidupnya ini, Ia ingin menungkapkan setiap perasaannya 

          “makasih banyak ya Maura.... buat semua..... yang udah lo kasih..... ke gue..... maafin gue..... kalau gue.... nggak bisa... jadi sahabat.... yang baik... buat lo..... Tapi... satu hal.... yang perlu... lo tau... kalau gue.... sayang banget..... sama lo..... gue cinta banget..... sama lo... lebih dari sekedar sahabat... perasaan ini... udah jatuh terlalu dalam... makasih.... buat segala kenangan indah..... yang udah kita lalui.. “ dengan sisa – sisa kekuatan Maxi berusaha mengungkap setiap perasaannya

Maxi kemudian merengkuh tangan Maura dan Willy, Maxi kembali mengutarakan perasaannya dengan sisa nafasnya, “Ra.. Aku... sayang... sayang... banget.. sama... kamu... I.. love.... you... so much.... titip.... Maura... ya kak....”

          Setelah detik itu berlalu, tidak ada lagi helaan nafas. Semua sunyi. Mata yang redup itu kini telah terpejam. Terpejam untuk selamanya. Kesunyian itu akhirnya terpecah oleh suara tangisan. Tetesan air mata terus mengalir dari banyak mata di ruangan itu. Semua yang ada disana menangisi kepergian seorang anak, adik, cucu, dan juga sahabat tercinta mereka. Sosok yang begitu periang kini telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi senyum kebahagiaan yang dipancarkannya. Tidak ada lagi senda gurau, tidak ada lagi tingkah konyolnya. Kebahagiaan itu telah pergi. Walau raga itu telah membeku, dan nafas itu telah berhenti, namun setiap kenangan yang ditorehkannya masih terbekas dan akan selalu terkenang di hati setiap orang.

***

          Air mata itu kembali menetes. Rasa sesal itu kembali membayangi Maura. Ia menyesal karena Ia tidak pernah bisa peka terhadap setiap perhatian Maxi kepadanya. Ia menyesal karena tidak pernah tahu kondisi Maxi yang sebenarnya. Maura sungguh menyesal. Namun segala penyesalan tidak akan pernah terbayar karena Maxi telah pergi untuk selamanya.

          “Maaf Max... maafin Aku...” sepenggal kalimat itu terucap dari mulut Maura yang sedari tadi hanya membisu.

Dan sekarang sudah enam tahun sejak kepergian Maxi. Walau cukup lama rentang waktu itu, namun Maura masih teringat jelas dengan setiap kenangan yang pernah ia lewati bersama Maxi. Karena setiap kejadian yang dijadikan kenangan itu akan selalu ada dan terekam di dalam memori Maura.






TAMAT...