about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Kamis, 31 Mei 2012

new comer

Hai hai!!
Beberapa minggu yang lalu gue dapet kejutan dari orangtua gue, padahal gue nggak ulang tahun haha.
Waktu itu kejadiannya hari minggu, habis pulang dari Gereja gue dan temen - temen gue mau main bareng tapi orangtua gue nggak ngijinin, karena gue anak yang patuh sama orangtua makanya gue tetep di rumah dan nggak jadi main sama temen - temen gue.
Sore harinya orangtua gue pergi belanja, yang gue tahu sih mereka cuma beli karet double pan gitu, tapi betapa terkejut dan senangnya gue karena ibu gue bawa notebook dan sebuah kamera SLR!!
Aduuh gue seneeengg banget.... karena gue udah lama minta kamera SLR dan sebenernya gue udah nabung buat beli kamera itu, tapi God is good! Dia punya rencana yang indah buat gue, bukan hanya kamera yang ibu gue beli tapi juga notebook - padahal gue nggak terlalu ngebet banget punya notebook tapi gue tetep bersyukur - Acer baloon and limited adition WAAWW.... keren bangeet....
Gue bener - bener beruntung banget hari itu, dan hari itu juga gue mendadak rajin, hahaha.
Oya sebelum gue tahu kalo ibu gue mau beli kamera dan notebook, gue sempet update di twitter
" camera or notebook? "
and God is good!! Dia kasih dua - duanya buat gue... Thanks God...
Mulai hari itu gue punya tekad untuk bisa ngebanggain orangtua gue, dan nggak mau buat mereka kecewa.
dan didalam kamar gue iseng - iseng foto bersama new comer ini - my notebook and camera. Check this out!!

 waaw... balloon

 get ready
 Cheese...

Dua



Bel pulang berbunyi itu tandanya pelajaran hari ini telah selesai, aku mulai membereskan buku – buku ku yang berserakkan di meja. Hari ini aku sangat beruntung mulai dari bermimpi menjadi vokalis the extraordinary, dapat tumpangan dari kak Satrio, mendapat nilai ulangan biologi dan bahasa inggris tertinggi di kelas, dan satu lagi aku mendapat traktiran dari teman sekelasku yang sedang berulang tahun hari ini. Sungguh lengkap kebahagiaanku hari ini, aku berharap semoga besok dan seterusnya menjadi hari keberuntungan untukku.
Setelah semuanya beres aku bergegas berpamitan dengan Selin karena aku sudah di tunggu oleh teman – teman anggota rampak gendang di ruang musik. Sesampainya di ruang musik aku melihat kak Satrio dan Rafka sedang asyik memainkan gendang, tampaknya mereka sedang beradu kemampuan. Terlihat Rafka sangat serius saat memukul gendang – gendang yang ada di depannya, berbeda dengan kak Satrio yang sangat menikmati permainan gendangnya dengan menggoyangkan badannya. Watak mereka berdua sangatlah berbeda yang satu – Rafka – sangat cuek, dingin, sombong, dan sedikit aneh, yang satu lagi – kak Satrio – sangat ramah, baik, pintar, dan lucu, walaupun mereka mempunyai karakter yang hampir bertolak belakang tetapi mereka adalah pasangan sahabat yang awet.
Sedikit cerita tentang mereka. Rafka dan kak Satrio adalah sepasang sahabat, mereka mulai bersahabat sejak mereka SD karena rumah mereka yang saling berdekatan. Mulai dari SMP sampai SMA mereka satu sekolah dan sama – sama ikut ekstrakulikuler yang sama yaitu rampak gendang, dan mereka tergabung dalam sebuah group band yang bernama the extraordinary, Rafka sebagai bassis dan kak Satrio sebagai gitaris.
Sedari tadi aku berdiri di depan pintu masuk ruang musik sambil terus memerhatikan Rafka dan kak Satrio yang sedang asyik duel bermain gendang. Mendengar suara pukulan gendang yang sangat indah membuatku tidak sadar kalau sedari tadi pak Anton berdiri di sampingku.
          “ sudah puas lihat duelnya Ruby? “ sahut pak Anton membuyarkan lamunanku.
          “ eh iya pak. Hehehe maaf ya pak. “ jawabku terbata – bata.
Teman – teman ku yang sudah ada di dalam hanya bisa memandangi ku dengan ekspresi menahan tawa karena tingkah lakuku. Aku merasa sangat malu karena sedari tadi aku terus melamun memerhatikan Rafka dan kak Satrio bermain gendang dan tidak sadar pak Anton – pembina ekstrakulikuler rampak gendang – berdiri di sampingku sambil meniru ekspresi wajahku saat melihat Rafka dan kak Satrio. Wajahku mulai memerah saat Rafka dan kak Satrio melihat ke arahku. ‘ aduh apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengoperasi wajahku sehingga tidak ada yang bisa mengenaliku lagi? Oh my....’ keluhku dalam hati.
          “ ayo anak – anak jangan ngeliatin Ruby lagi, kalian tidak lihat wajahnya mulai memerah? “ seru pak Anton meledekku.
Aku hanya bisa tertunduk malu dan berjalan masuk kedalam ruang musik. Setelah mengehela nafas dalam – dalam, aku baru bisa mendongakkan kepalaku, aku harus bisa menahan rasa malu ini ya aku harus.
Selama latihan rampak gendang, pak Anton terus menjadikanku sasaran keisengannya. Apa – apa pasti aku, mulai dari yang baik – baik sampai yang jelek – jelek yang dibawa adalah namaku. Itulah pak Anton, walaupun wajahnya terlihat galak dan seram tetapi sifatnya sangat baik, dan tentu saja sangat iseng kepada murid – muridnya, contohnya saja sekarang
          “ ayo nak, coba lihat teman kamu Ruby. lihat dia sangat bersemangat memukul gendangnya, kalian harus mencontohnya ya... “
Kata – kata pak Anton sangat meledekku, sudah tahu aku bermain gendangnya sangat jelek, dan tidak bersemangat, bagaimana tidak sedari tadi beliau mengungkit – ungkit namaku terus ya jadilah moodku langsung mendadak buruk, buruk sekali. Aku berharap agar latihan hari ini cepat berakhir, dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan itu tandanya bahwa latihan hari ini telah berakhir. Hatiku sangat lega saat pak Anton membubarkan latihan hari ini, aku pun tersenyum lega saat pak Anton keluar ruangan.
Saat aku sedang merayakan kesenanganku karena pak Anton telah keluar ruangan lagi – lagi kak Satrio mengejutkanku dengan muncul tiba – tiba di depanku dengan memasang ekspresi yang sangat lucu. Aku pun tersentak kaget dan dengan tidak sengaja melayangkan tanganku ke pipi kak Satrio. Karena tamparan yang aku berikan sepertinya kak Satrio merasa sangat kesakitan, mau apa lagi karena sudah mengagetkanku aku pun bertindak dengan spontan menamparnya.
          “ aduh maaf kak sat, aku nggak sengaja. Kak sat sih ngagetin aku, makanya kak jangan suka ngagetin orang, itu balesannya... “ sahutku sambil memegang tangannya yang menempel di pipinya.
          “ huh... lo gitu aja udah nampar orang, apalagi kalo lo dikerjain sama orang pasti lo udah ngebunuh tuh orang... sadis nih.” Jawabnya sewot sambil terus memegang pipinya.
          “ ya ampun kak sat lebay deh, nggak gitu juga kali... udah ah kayak anak kecil aja nih “
Aku pun langsung berlalu keluar dari ruang musik. Aku membiarkan kak Satrio yang masih kesakitan dengan tamparanku tadi. Walaupun aku merasa sedikit tidak enak padanya, tetapi sekarang sudah sore dan aku harus cepar – cepat pulang. Ketika aku berjalan menuruni tangga, terdengar kak Satrio memanggilku
          “ Ruby tunggu!!... “
Aku langsung berhenti dan menoleh kebelakang. Kak satrio dengan tergesa – gesa menghampiriku,
          “ heh, lo mau pulang bareng gue lagi nggak? “ tanyanya
Aku merasa aneh dengan kak Satrio, tadi di ruang musik dia ngambek kepadaku tetapi sekarang dia berubah jadi baik lagi. Sebenarnya apa maunya dia? Dengan memasang ekspresi bingung aku bertanya kepada kak Satrio,
          “ Kak sat baik – baik aja kan? Apa karena tamparan aku tadi kak sat jadi hilang ingatan ya? Aduh maaf ya kak sat aku nggak bermaksud apa – apa kok, bener deh... “
Sekarang kak Satrio yang memasang ekspresi bingung, dia melihat wajahku sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti orang kebingungan
          “ hey, seharusnya gue yang nanya ke lo, lo baik – baik aja kan? Gue nggak segitu  rapuhnya sampai tamparan aja bisa buat gue hilang ingatan. Jadi lo mau nggak pulang bareng gue? “ sahutnya
          “ hmmm... okey – okey. Kalau kakak nggak repot sih aku mau – mau aja hehe. “ jawabku sambil tersenyum
Akhirnya aku pulang diantar oleh kak Satrio, lumayan aku bisa menghemat ongkos hehe. Saat di perjalanan pulang aku teringat dengan Rafka, aku berpikir kenapa aku tidak bertanya tentang Rafka kepada kak Satrio mungkin aku bisa mendapat banyak informasi penting tentang Rafka. Baru saja aku ingin berbicara kak Satrio sudah berbicara terlebih dahulu
          “ eh tadi lo kok seneng banget ngeliatin gue sama Rafka? Lo suka ya sama gue? “ tanya kak Satrio
Aku tersentak kaget saat mendengar pertanyaannya. Aku bertanya – tanya kenapa kak Satrio begitu percaya dirinya sampai menyebutkan kalau aku menyukainya, dengan spontan aku menjawab pertanyaannya
          “ ya bukanlah. Aku kan sukanya sama kak Rafka.... “
‘Ups aku salah menjawab, bagaimana ini? Pasti kak Satrio akan ngecengin aku habis – habisan. Ruby ruby kenapa sih kamu bisa keceplosan seperti itu’
          “ haah?! Apaan? Lo suka sama Rafka? Hahahaha “ sahutnya sambil tertawa geli
          “ haduh yang bener aja lo suka sama si Rafka. Kok bisa sih? “
          “ ah kak satrio mah... jangan gitu dong aku kan jadi malu!... “ sahutku
Saat itu langit terlihat mendung dan air hujan pun mulai menetes dari langit. Karena hujan semakin deras aku dan kak Satrio menepi di sebuah halte. Kembali lagi kak Satrio mempertanyakan tentang perasaanku kepada Rafka.
          “ eh tadi pertanyaan gue belum dijawab, lo kenapa bisa suka sama Rafka? “ dengan wajah menunduk aku mencoba menghela nafas dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan – lahan. Aku rasa menceritakan sebuah kejujuran sangat susah di banding dengan mengerjakan lima puluh soal bahasa inggris.
          “ huuufft... okey jadi aku suka sama Rafka karena dia jago bermain saxophone dan alat musik tradisional. Sebenarnya aku menyukai cowok yang bisa bermain alat musik, ya alat musik apa aja. Awalnya dan sampai sekarang aku juga belum ngerti banget kenapa aku bisa suka sama Rafka, padahal sikapnya dia ke aku dingin dan cuek banget. “
          “ hmmm... gitu ya. emang sih selama ini cewek – cewek yang suka sama Rafka pasti bilang hal yang sama kayak lo. Sebenernya gue udah seperti mak comblang bagi Rafka karena setiap cewek yang naksir Rafka pasti curhat ke gue, dan hampir semua cewek patah hati karena sikapnya yang dingin sama cewek terkecuali sama Icha... “
          “ icha itu siapa kak? “
          “ icha itu mantannya Rafka. Awalnya icha yang duluan suka sama Rafka, tapi karena sifatnya Rafka yang cuek dan dingin icha jadi mundur perlahan – lahan untuk ngedeketin Rafka. Karena kepasrahan icha, dan karena sifat icha yang nggak banyak nuntut kayak cewek – cewek lain yang suka sama Rafka, membuat Rafka jadi luluh. Dia mulai ngedeketin icha, dan bener aja akhrinya hatinya takluk karena kebaikan icha. Jadilah mereka pacaran hampir satu tahun dan putus di tengah jalan karena icha harus ikut orang tuanya pindah ke kalimantan. Mereka putus saat akhir semester kelas satu. Mereka termasuk best couple di sekolah, karena kekompakan mereka banyak teman – temannya iri. Dan gue rasa Rafka belum bisa sepenuhnya move on dari icha. “ jelas kak Satrio
Mendengar penjelasan dari kak Satrio, hatiku tersentuh. Sekarang aku tahu Rafka adalah orang yang setia, dan susah untuk jatuh cinta sepertiku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menaklukan hati Rafka. ‘Apa yang harus aku lakukan untuk menarik Rafka dari bayang – bayang masa lalunya?’ pikirku dalam hati.
          “ apa yang bisa aku lakuin untuk menarik Rafka dari masa lalunya kak? Untuk bisa move on dari icha? “
          “ gue nggak tahu bi. Masalahnya perasaan dia susah banget untuk di tebak. Dia bisa aja kelihatan cuek padahal dia lagi menyimpan rasa sama seseorang. “
Pernyataan kak Satrio semakin membuatku bingung harus berbuat apa. Seandainya perasaan Rafka tetap tidak berubah, aku akan berhenti berusaha mendapatkan hatinya. Aku sudah cukup lelah dengan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini.
          “ apa aku coba aja ya buat bekal untuk Rafka, mungkin aja dengan cara itu Rafka bisa luluh? Tapi kak sat jangan kasih tahu kalau aku yang kasih, okey? “
          “ ya itu terserah lo aja. Gue ikut aja apa mau lo... “
Setelah cukup lama kami – aku dan kak Satrio – bercerita akhirnya hujan pun reda. Tampak matahari kembali bersinar, menerangi jalanan yang digenangi oleh air hujan. Kak Satrio mengantarkanku pulang sampai ke rumah. Aku merasa banyak berhutang budi kepada kak Satrio, dia sangat baik kepadaku.

Selasa, 22 Mei 2012

barbeque spagethi

hari ini mencoba untuk nggak makan nasi, dan makanan pengganti nasi hari ini adalah spagethi rasa barbeque. bahan - bahan yg diperlukan adalah:
  • spagethi
  • saus spagethi rasa barbeque
  • keju
  • kentang




  • rebus kentang


  • rebus spagethi

  • kentang yg telah direbus diberi garam dan merica
  •  setelah diberi bumbu kentang di goreng dengan sedikit minyak zaitun dan mentega
  •  setelah direbus taruh spagethi di atas piring
  •  lalu tumis bumbu spagethie, taruh di atas spagethie dan jangan lupa beri keju yg telah di parut
  •  tadaaa!!... spagethi siap dihidangkan.... :D

Senin, 21 Mei 2012

Satu


Sekarang aku sedang berada di tengah – tengah panggung bersama dengan Rafka, kak Satrio, kak Fakran, dan kak Damar. Aku benar – benar merasa tegang berdiri di panggung ini ditonton oleh banyak orang. Sambil memegang mike yang ada di depanku, aku pun mulai bersuara
    “ hai semuanya... kami dari extraordinary ingin mebawakan sebuah lagu yang berjudul ‘kembalilah’, yang tahu lagunya boleh ikut nyanyi yaa... “ seruku mencoba ramah.
Lirik lagu yang aku nyanyikan bisa aku tulis seperti ini:
    Oh pujaan hatiku...
     Dimanakah engkau? Aku disini merindukanmu
    Telah lama kau pergi meninggalkan aku sendiri
    Janjimu, engkau kembali. Menemani aku...
    Katamu, kau mencintaiku dan tak akan pernah meninggalkan aku...
    Sedih rasanya, kau jauh dariku, separuh jiwaku pergi...
    Kembalilah kasih, kurindu padamu...
    Jangan pergi tinggalkan diriku...
    Ku tak mau jauh darimu, karena hatiku hanyalah untukmu
    Oohh Kembalilah kasih, kembali padaku...
    Jangan tinggalkan aku sendiri...
    Ku tak bisa hidup tanpamu, ku tak bisa hidup tanpamu...
    Aku berjanji tak akan menyia – nyiakanmu lagi
    Karena saat engkau pergi, barulah aku tahu betapa ku mencintaimu...
Lagu ini ditulis sendiri oleh Rafka. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya, dan saat orang tersebut pergi barulah ia sadar bahwa ia sangat mencintainya dan ia ingin membujuk agar orang yang ia cintai dapat kembali lagi kepadanya. 
Aku berpikir kalau lagu yang diciptakan oleh Rafka adalah sebuah curahan hatinya sendiri saat dia putus dari pacarnya. Di dalam hatiku tersimpan rasa cemburu, sedih, saat menyanyikan lagu ini karena aku sangat menyukai Rafka, tetapi aku rasa dia masih menyimpan rasa untuk mantan pacarnya.
Saat aku sedang bernyanyi di atas panggung tiba – tiba ibuku naik ke atas panggung dan mengomeliku,
    “ Ruby, ayo cepat bangun! Sudah jam setengah enam! Ayo cepat bangun! “
Mendengar omelan ibuku, akupun tersadar bahwa semua yang aku lakukan tadi hanyalah mimpi belaka. Kesal rasanya saat aku tahu semua itu hanyalah mimpi, aku berharap mimpiku tadi menjadi kenyataan. Bisa satu panggung bersama Rafka adalah keinginanku, dan aku berharap semoga keinginanku itu bisa menjadi kenyataan.
Sambil menguap lebar – lebar dan menggosok – gosok mata, aku mulai beranjak dari tempat tidurku, dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya persis di pojok kamar. Aku membuka keran washtafel, mengambil sedikit  air di tanganku, dan menaruhnya di wajahku, sungguh terasa sangat segar. Setelah selesai mencuci muka, dan menggosok gigi, aku langsung membuka keran shower dan mulai mandi. Semua terasa lebih segar saat aku selasai mandi dan berpakain rapih seragam sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan aku masih berada di depan halte yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sedari tadi aku menunggu bis yang menuju sekolahku tetapi tidak ada yang datang. Aku mencoba menahan rasa kesalku dengan mendengarkan lagu di hpku. Saat aku sedang asyik mendengarkan lagu, tiba – tiba saja kak Satrio muncul dan berdiri di depanku. Aku pun langsung tersentak kaget saat melihatnya beridiri tepat di depanku.
    “ Oooi! Jangan bengong dong. Dari tadi dipanggil – panggil nggak nyaut – nyaut. Lepasin dong earphonenya!!” serunya dengan kesal.
    “ Eh maaf kak sat, aku lagi asyik dengerin lagu tadi. Soalnya dari tadi nggak ada bis yang ke sekolah, makanya aku dengerin lagu aja deh hehehe, maaf ya.” Kataku sambil membuka earphone yang ada di telingaku dan menaruhnya kedalam tas.
    “ Dari pada nunggu bis kelamaan, mending bareng gue aja... ayo cepet naik!” serunya sambil naik ke atas motornya.
    “ tapi kak...”
    “ ah udahlah, ayo cepet naik, nanti telat loh” sanggahnya cepat
Aku pun tidak punya pilihan lain, lumayan lah bisa mengirit ongkos pikirku.  Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit dan aku sudah tiba di sekolah, aku bersyukur karena tidak telat sampai ke sekolah, semua ini berkat kak Satrio.
    “ kak sat, makasih banyak ya udah mau ajak aku berangkat bareng, untung aja ada kak sat, kalo nggak mungkin aku udah telat sampai di sekolah.” Kataku sesaat setelah tiba di sekolah.
    “ iya – iya, biasa aja kali. Lain kali kita berangkat bareng aja terus, lumayan kan gue ada temennya, dan lo juga bisa hemat ongkos, iya kan? “
    “ hehe kakak tahu aja nih. Oke deh kalo kakak nggak merasa keberatan sih aku oke oke aja...”
Setelah beberapa saat mengobrol dengan kak Satrio, aku langsung pamit pergi ke kelasku. Aku tak sabar menceritakan semua kejadian yang aku alami dari tadi malam sampai pagi ini kepada Selin – sahabatku dan teman sebangkuku.
Sesampainya aku di kelas, guruku langsung masuk ke dalam kelas dan mulai mengajar. Selama tiga jam belajar, aku tidak punya kesempatan untuk menceritakan semua ceritaku kepada Selin. Tetapi akhirnya bel istirahat pun berbunyi, dan waktu isitirahat ini aku pakai dengan semaksimal mungkin untuk menceritakan semuanya kepada Selin.
    “ Selin, you must now about it!! “
    “ kenapa bi? “
    “ gue mimpi jadi vokalis the extraordinary!! “
    “ waaaw.. kok bisa? “
    “ i don’t know, but I’m very happy... terus tadi gue berangkat bareng kak satrio loh... “
    “ I think today is your lucky day... “
    “ yeah, i think so hahaha....”
Kami – aku dan selin – terus mengobrol sambil berjalan menuju kantin. Ketika  aku sedang memesan sepiring batagor di mbak sulis, aku meihat Rafka sedang berjalan menuju kantin. Aku kaget melihat Rafka jajan di kantin, karena setahuku Rafka selalu membawa bekal ke sekolah. Saat melihatnya aku pun jadi salah tingkah, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan saat dia sedang membeli strawberry milkshake di mas jo. Karena aku terus menatapnya, Rafka akhirnya mengetahui kalau aku melihatnya, dia pun langsung menatapku dengan sinis. Aku merasa kesal sekali saat dia membalas tatapanku dengan begitu sinis, ‘kenapa ya dia tidak pernah menghargai seorang perempuan, apalagi perempuan yang menyukainya. Ya aku tahu dia tidak mengetahuinya, tapi paling tidak dia bisa kan membalas tatapan seseorang dengan lebih manusiawi.’
    “ hei ruby! “ sahut seseorang sambil menepuk pundakku. Aku pun langsung tersentak kaget saat aku tahu yang mengagetkanku – lagi -  adalah kak Satrio.
    “ Aduh kak sat, kenapa sih selalu ngagetin aku?! “ sahutku kesal
    “ ya maaf deh, gue kan nggak tahu kalo lo lagi ngelamun... “
Aku hanya bisa menunjukkan rasa kesal ku dengan wajah cemberut. Aku bisa melihat dari kejauhan Rafka menatap kami – aku, dan kak sat – lagi – dengan tatapan yang sinis. Rasa kesalku semakin bertambah saat melihat Rafka.
    “ oya nanti kita ada latihan rampak gendang sehabis pulang sekolah di tempat biasa ya. Jangan lupa okey? “
Aku hanya menjawab pertanyaan kak sat dengan anggukan sambil tetap cemberut. Melihat aku masih kesal, kak sat langsung memegang kepalaku dan mengacak – acak rambutku, dan berkata
    “ aduh jangan ngambek terus dong, gue pergi dulu ya, sampai ketemu nanti siang yaaa... “
Kak sat langsung berjalan berlalu di depanku. Entah kenapa aku merasa kak sat sangat baik kepadaku berbeda sekali dengan Rafka – si cowok lemari es – itu. Coba saja Rafka bisa sebaik dan seperhatian kak sat.
Aku mencoba memahami sifat Rafka yang memang sangat cuek dan dingin kepada orang – orang yang tidak dekat dengannya. Tetapi aku tetap berusaha menjadi cewek yang baik dimatanya, seperti menyapanya, tersenyum padanya, atau mencoba bertanya sesuatu kepadanya, tapi semua itu seperti pekerjaan yang sia – sia karena hatinya yang keras dan dingin tidak akan pernah berubah oleh apapun mungkin jika cupid menghampirinya dan menembakkan panah asmaranya barulah hati dan matanya terbuka untuk seorang perempuan. Walaupun dengan sifat Rafka yang seperti itu, tetap saja cinta ya cinta tidak akan berubah oleh apapun. Yap itulah salah satu sifatku dari sekian banyak sifat yang aku miliki, sedikit pemberitahuan kalau hatiku ini jika sudah terikat oleh satu cinta sulit sekali untuk dihilangkan, sebagai contoh yang nyata saat aku pertama kali menyukai seorang cowok saat aku duduk di kelas enam SD, dan saat aku duduk di kelas tiga SMP aku baru menyukai seorang cowok lagi walaupun tetap saja pikiranku belum sepenuhnya beralih dari ‘my first love’ di kelas enam SD. Terbukti bukan kalau aku ini terbilang cewek yang susah untuk jatuh cinta, tapi entah kenapa aku menyukai seorang cowok saat aku kelas satu SMA? Pikirku mungkin aku sudah bisa melupakan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Ya sudahlah, apapun yang terjadi cinta tetap cinta. Hidup cinta!!...