about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Jumat, 29 Juni 2012

Enam



Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Aku telah terbangun dari tidurku setelah mendengar alarm yang kupasang pada jam bekerku. Aku mengintip dari jendela kamar, melihat suasana diluar begitu gelap dan sunyi, matahari belum nampak menyinari bumi, dan tetesan embun di dedaunan jatuh perlahan – lahan membasahi tanah. Aku membuka jendela kamarku dan menghirup nafas panjang – panjang dan menghembuskannya perlahan – lahan, sungguh udara di luar begitu sejuk, membuatku bersemangat memulai aktivitas hari ini.

Saat aku asyik menikmati pemandangan taman lewat jendela kamarku, aku teringat untuk membuatkan bekal untuk Rafka. Aku pun langsung bergegas menuju dapur, mengambil apron yang diletakkan di salah satu laci kicthen set, menyiapkan alat – alat yang diperlukan dan sambil berpikir makanan apa yang akan aku berikan kepada Rafka. Setelah semua persiapan beres, aku mulai menyiapkan bahan – bahan untuk membuat omelet, menurutku semua orang pasti suka omelet, jadi apa salahnya aku membuatkan Rafka sebuah omelet, ibu, ayah, dan abangku berkata kalau masakanku itu lezat apalagi omelet buatanku, pasti ketagihan.

Aku mulai memecahkan beberapa telur ke dalam mangkuk, lalu mengocoknya dengan sendok, aku menaruh sedikit garam, merica, irisan daun bawang, dan sedikit sambal. Aku berharap omelet buatanku disukai oleh Rafka. Setelah telurnya dikocok, aku menaruh pan ke atas kompor, menyalakan api kompor, menunggu sampai pannya panas, lalu aku masukkan kocokkan telur tadi dan menunggu hingga omeletnya matang sempurna. Sedang aku mengemasi kotak bekal untuk Rafka, ibuku tiba – tiba datang menghampiriku,

          “ ini bekal untuk siapa? “ tanya ibu
          “ hmmm, ini.... ini buat aku bu..” jawabku gugup
          “ oh ya? Tumben kamu mau bawa bekal ke sekolah? “
          “ eh iya nih bu... “
Di sela omongan kami, mas Adrian muncul lalu mengomentariku
          “ ah dia bohong tuh bu, pasti bekalnya itu untuk pacarnya. Iya kan? Ngaku aja deh... “
          “ ih apaan sih mas, ini buat aku tahu... “ jawabku sewot
          “ ah bohong kamu... “ mas Adrian tetap mencoba memojokkanku di depan ibu, sampai – sampai omongan mas Adrian terdengar oleh ayah
          “ ada apa ini ribut – ribut? “ tanya ayah bingung
          “ ini yah, anak ayah satu ini nggak mau ngaku kalau dia buat bekal untuk pacarnya... “ jawab mas Adrian
          “ ih mas Adri, bekal ini untuk aku tahu, aku kan nggak punya pacar... “ jawabku lagi – lagi sewot
          “ sudah – sudah. Ruby mau buat bekal untuk siapa kenapa kamu yang repot sih dri, sudah – sudah sekarang kalian siap – siap berangkat sekolah.... “ seru ayah

Dari dulu mas Adrian memang seperti itu, suka sekali menjahili dan memojokkanku di depan ayah dan ibu. Aku tahu maksudnya hanya bercanda tetapi terkadang saat moodku sedang buruk pasti aku langsung menanggapinya dengan serius. Pernah suatu ketika aku pulang dari sekolah diantar oleh teman sekelasku, waktu itu hari sudah sore dan mas Adrian sudah pulang kuliah, saat dia melihatku diantar oleh seorang cowok, dia langsung berkata 

          “ wah ada yang habis dianter sama pacarnya nih... “

Karena saat itu aku sedang ada masalah di kelas, dan nilai fisika ku jelek maka moodku pun langsung berubah jadi buruk, mendengar celotehan mas Adrian membuatku tambah kesal, dan aku pun langsung memarahi mas Adrian. Tetapi mas Adrian tetap saja berceloteh, dia tidak tahu kalau aku benar – benar sedang marah, alhasil selama tiga hari aku tidak bertegur sapa ataupun berbicara dengan mas Adrian. Walaupun dia menyapaku atau mengajakku untuk berangkat bersama aku tetap mengacuhkannya, karena aku masih kesal dengan sifatnya yang tidak pernah berubah.

Walau bagaimana pun mas Adrian adalah kakakku, dan kakak terbaik ku. Sering sekali dia membuatku jengkel dan kesal, tetapi tidak jarang dia terus membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan tingkah konyolnya. Aku dan mas Adrian mempunyai jarak umur hampir lima tahun, walaupun lumayan jauh tetapi tidak jarang orang – orang menyebutkan kalau aku dan mas Adrian berpacaran jika kami jalan bersama. Mas Adrian adalah kaka yang baik, dia selalu perhatian kepadaku, sedikit memanjakanku tetapi tetap mendidikku untuk menjadi seorang cewek yang mandiri. Saat aku kesulitan dalam mata pelajaran fisika ataupun kimia mas Adrian dengan senang hati mengajariku. Sungguh aku sangat beruntung mempunyai kakak seperti mas Adrian.

Setelah selesai membereskan bekal, aku pun bergegas mandi dan bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini aku tidak naik bis, tetapi diantar oleh mas Adrian. Entah kenapa pagi ini celotehannya tidak sepanjang hari – hari biasanya, dan tumben sekali mas Adrian dengan senang hati mengantarkanku ke sekolah tanpa harus aku meminta tolong. Saat dalam perjalanan,

          “ mas, kok tumben sih mau nganterin ruby? “ tanyaku
          “ nggak tahu nih, kayaknya mas lagi sakit deh... “
          “ ya ampun, kok mas gitu banget sih... mas jahat nih.. “
          “ hahaha bercanda bi. Hari ini mas lagi mau jadi anak yang baik aja hehe... “

Dasar mas Adrian, pikirannya tidak bisa ditebak sama seperti tingkah lakunya. Terkadang dia sangat baik kepadaku, namun terkadang bisa menjadi musuh bebuyutanku. Walaupun begitu mas Adrian adalah kakak terkeren sedunia. Sedikit cerita tentang mas Adrian. Mas Adrian sekarang kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta, fakultas ilmu sosial dan politik jurusan hubungan internasional semester tiga. Mas Adrian punya group band beraliran jazz, nama group bandnya adalah Nevertheless. Group band mas Adrian ini sudah sering manggung di cafe – cafe, dan sudah cukup terkenal di kalangan anak kuliah dan SMA. Posisi mas Adrian di ‘Nevertheless‘ sebagai gitaris sekaligus vokalis. Tidak dipungkiri kalau banyak cewek – cewek terpesona oleh suaranya yang merdu, wajahnya yang ganteng dan kharismanya saat bermain gitar, tetapi sampai saat ini kakakku belum tertarik dengan fansnya karena belum lama dia putus dari pacarnya dua bulan yanng lalu. Mungkin mas Adrian masih trauma dengan hubungannya bersama mantannya dulu.

          Dua bulan yang lalu aku sempat mengobrol dengan mas Adrian tentang pacaran, saat itu mas Adrian baru saja putus dari ceweknya. Saat itu pukul 8 malam, aku dan mas Adrian sedang duduk di balkon rumah sambil menikmati secangkir capucinno hangat di terangi cahaya bulan dan bintang di langit malam. Hari itu tepat seminggu mas Adrian putus dari ceweknya, aku melihat tidak ada perasaan sedih dan kehilangan saat melihat wajahnya, aku bingung kenapa mas Adrian bisa seperti itu padahal setahuku dia sangat mencintai mantan pacarnya,

          “ mas, mas nggak sedih diputusin sama mba Nisa? “
          “ awalnya pasti sedih, tapi sekarang mas udah nggak sedih lagi... “ jawabnya sambil menatap lurus ke depan
          “ kok bisa sih? Gimana caranya? “
          “ saat mas diputusin sama Nisa, mas mikir, mas merenung apa yang selama ini mas udah buat sama dia sampai – sampai dia tega mutusin mas, tapi sekarang mas tahu kalau semuanya itu sudah ada yang ngatur. Sekarang mas sadar kalau selama ini mas udah terlalu percaya dan terlalu sabar sama dia sampai – sampai dia menyalahgunakan kepercayaan dan kesabaran mas. Setiap orang punya batas kesabaran, dan saat batas kesabaran mas udah mau habis mungkin dia sadar dan dia langsung mutusin mas, mas tahu kenapa dia yang mutusin mas... “jelas mas Adrian dengan sedikit senyum dibibirnya
          “ emangnya kenapa mas? “ tanyaku sambil menyeruput sedikit demi sedikit capicinno yang ada di cangkirku
          “ karena dia gengsi kalau aku yang mutusin dia. Mas tahu sebenarnya dia hanya ingin memanfaatkan mas aja. Dia mau membuktikan kalau dia bisa mendapatkan cowok kayak mas... “
          “ ternyata mba Nisa itu jahat ya... “ sahutku kesal
          “ hahaha mungkin.... “ mas Adrian pun akhirnya tertawa
          “ oya ingat pesan mas ya, kamu harus hati – hati dengan cowok. Apalagi sama cowok yang awalnya nggak pernah menyapa kamu malah sampai menjauhi kamu tiba – tiba dia mendekati kamu, kamu harus hati – hati karena bisa aja mereka cuma mau jadiin kamu sebagai peralihan mereka bahkan jadi bahan taruhan mereka. “sambung mas Adrian
          “ kok mas bisa ngomong kayak gitu sih? Mas tahu dari mana? “ tanyaku bingung
          “ mas tahu dari teman – teman mas. Mereka pernah cerita ke mas kalau mereka cuma mau ngedeketin cewek karena sudah taruhan, atau sekedar sebagai pelampiasan karena habis diputusin pacarnya. Mas nggak mau kalau kamu diperlakukan kayak gitu sama cowok – cowok, makanya kamu harus hati – hati ya... “ tuturnya sambil tersenyum padaku dan mengusap – usap rambutku

Mendengar cerita dari mas Adrian hatiku menjadi sangat tenang dan bahagia. Saking bahagianya aku sampai memeluk mas Adrian dan menangis di pundaknya. Mas Adrian bingung kenapa aku menangis tapi dia tetap mendekapku dan membelai halus rambutku  

          “ mas Adrian baik banget. Aku nggak mau pisah dari mas Adrian, mas Adrian akan selalu jagain aku kan? “ bisikku sambil terus terisak
          “ iya sayang... mas nggak bakal ninggalin kamu kok. Kamu kan adek mas satu – satunya, mas harus jagain kamu terus dong.. sudah nggak usah nangis lagi ya... “ sahutnya sambil terus menenangkanku
          “ makasih ya mas sudah jadi kakak terbaik buat aku “
          “ iya ruby... “

Saat itu adalah saat – saat paling mengesankan dalam hidupku. Bersama dengan kakak tercinta sungguh membuatku bahagia dan merasa nyaman sekali. Berada di dekapnya begitu hangat dan menenangkan sama seperti saat aku berada di pelukkan ibu dan ayah. Aku sangat bersyukur dikaruniai oleh Tuhan sebuah keluarga yang sangat menyayangi dan mencintai aku dengan tulus.

1 komentar: