Masa Lalu yang Merubah segalanya
Renata Ayu Safira, nama gadis berumur 16 tahun yang sekarang dudu di kelas 2 SMA. Secara fisik mungkin orang – orang tidak pernah memandangnya berharga, tetapi di mata keluarganya Renata adalah sosok anak yang sangat berharga. Renata gadis bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut hitam panjang yang selalu dikuncir kuda, bermata sipit hitam kecoklatan ini sangat pendiam. Tetapi didalam keluarganya Renata adalah gadis yang cerewet, hanya di tempat – tempat asing saja Renata jarang sekali bersuara. Dibalik fisiknya yang sangat sederhana, dan sifatnya yang pendiam tidak membuat Renata menjadi anak yang bodoh di sekolah. Renata selalu mendapatkan rangking dikelasnya. Selain pintar dibidang akedemis, Renata juga mahir dalam bermain alat musik terutama piano. Kepintaran yang dimiliki Renata tidak jarang dimanfaatkan oleh teman – temannya untuk menjadi pusat contekan di kelasnya, Renata tidak masalah dengan hal itu tetapi terkadang saat nilai Renata jelek semua teman – temannya menjauhinya tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Memang sedih kehidupan gadis belia ini. Banyak hal di kehidupan Renata yang membuat Renata berubah, berubah menjadi gadis yang lebih pemurung. Kisahnya dimulai saat Renata duduk di kelas 2 SMP.
Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau teman dekat sekaligus teman sebangku Renata yang bernama Lia akan pindah ke Jogja, padahal belum satu bulan dikelas barunya Renata sudah merasa kesepian. Teman – teman sekelas Renata kebanyakan adalah anak orang kaya, dan mereka membuat sebuah ‘geng’ di kalangan anak – anak yang mereka anggap ‘keren’ dan ‘gaul’ dan teman – teman sekelasnya sudah terkenal dengan kebandelannya. Tingkah laku temannya yang suka membuat kelompok membuat Renata semakin menjauh dari teman – teman sekelasnya. Renata lebih baik menyendiri sambil membaca buku pelajaran, atau novel kesukaannya. Sudah dua minggu lebih Renata duduk sendiri, dan kali ini Renata pasti akan gembira karena di kelasnya akan ada murid baru. Renata terus berdoa dalam hatinya, ia berharap agar murid baru yang masuk ke dalam kelasnya adalah seorang perempuan, dan murid baru itu dapat berteman baik dengannya. Harapan Renata pun terwujud, betapa senang hatinya saat mengetahui murid baru itu adalah seorang perempuan. Dengan sikap malu – malu, Renata langsung mengajak murid baru itu berkenalan”
“ hai, gue Renata, salam kenal... “ sahut Renata sambil menyodorkan tangannya
“ hai, salam kenal juga... “ sambut murid baru itu sambil meraih tangan Renata
Renata berpikir kalau teman barunya ini sangat baik, ramah, dan mungkin bisa menjadi sahabatnya. Seperti biasa murid malu pasti malu – malu pada awalnya, karena itu Renata menceritakan seluk beluk tentang sekolahnya, dan juga mengajaknya ke kantin saat istirahat. Murid baru itu bernama Lady, gadis berwajah manis dan berkacamata ini pindahan dari luar kota sebagai anak dari seoarang polisi wajar jika tempat tinggal terus berpindah – pindah. Tampak sekali Lady menyambut dengan hangat perkenalannya dengan Renata.
Waktu terus berlalu, karena sikap Lady yang terbuka dengan teman – temannya di kelas membuat Renata mempunyai lebih banyak teman. Sekarang Renata sudah punya teman bermain di kelas, lumayan banyak jumlahnya kira – kira ada delapan orang termasuk Renata dan Lady. Kemana – kemana mereka selalu pergi bersama, mereka tampak kompak sekali. Renata tentu sangat senang dengan teman – teman barunya, bersama dengan teman – temannya Renata bisa menjadi dirinya sendiri.
Banyak waktu dihabiskan Renata bersama teman – temannya, mungkin sekarang Renata bisa menganggap mereka sebagai sahabatnya. Tetapi Renata tidak pernah tahu anggapan teman – temannya itu tentang dirinya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, sampai pada saatnya kenaikan kelas tiga. Di saat – saat menjelang ujian kenaikan kelas Renata dan teman – temannya sangat rajin sekali mengadakan acara belajar bersama, setiap hari mereka terus bergilir ke rumah masing – masing, namun disaat – saat itu teman – teman Renata mulai bersikap aneh kepadanya. Renata adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, ibunya sangat protektif maka dari itu saat Cita – salah satu teman Renata – mengajak belajar bersama dirumahnya, Renata tidak bisa ikut karena jarak antara rumah Renata dan Cita sangat jauh, ibu Renata takut kalau sesuatu terjadi kepada anak bungsunya. Mungkin Cita merasa marah karena Renata tidak pergi ke rumahnya, maka dari itu sikapnya mulai berubah kepada Renata. Sikap aneh dari teman – teman Renata terus muncul, sikap itu semakin terlihat jelas saat ujian kenaikan kelas tiba. Saat itu pelajaran matematika, teman – teman Renata tahu kalau Renata pintar dalam soal matematika karena hal itu teman – temannya meminta contekan kepada Renata, namun Renata tidak memberikannya. Dari kejadian itu orang – orang yang dianggap Renata sebagai sahabat ternyata bukanlah sahabatnya. Terlebih lagi setelah ujian kenaikan kelas selesai Renata jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit selama satu minggu. Selama terbaring di rumah sakit, Renata sangat mengharapkan kedatangan teman – temannya, namun harapannya itu terbuang sia – sia. Tidak satu orang pun dari temannya yang menjenguknya, Renata sangat sedih dan kecewa melihat sikap sahabatnya seperti itu.
Rasa sedih dan sakit hatinya terus bertambah saat Renata kembali masuk sekolah, saat itu di sekolah sedang mengadakan class meeting. Karena hatinya yang sedang sedih membuat Renata hanya duduk di salah satu meja baca di perpustakaan sekolah, hanya buku – buku yang berjejer rapih di rak yang menemaninya selama class meeting berlangsung. Sesekali air matanya menetes dari mata hitamnya, wajahnya yang putih berubah menjadi merah karena kesedihannya. Di kesendiriannya Renata terus termenung berpikir apa yang salah darinya, apa kesalahan yang telah ia lakukan sehingga teman – temannya menjauhinya. Di dalam hatinya ia berteriak, di dalam hatinya ia terus bertanya
‘ apa yang salah dari diriku? Kenapa semuanya begitu cepat meninggalkanku? Saat aku baru menikmati mempunyai seorang sahabat, mereka tiba – tiba pergi meninggalkanku tanpa ada alasan yang jelas. Apa yang salah dari diriku?! ‘
Setiap hari selama class meeting berlangsung, perpustakaanlah menjadi tempat favorit Renata. Tetapi tempat favoritnya itu menjadi tempat yang sangat menyedihkan saat Renata bertemu teman – temannya. Saat itu mereka sedang berkumpul di depan sebuah rak buku, dan Renata sedang mencari buku untuk ia baca, namun saat Renata berjalan lebih dekat ke arah mereka dengan segera mereka menjauh dan pindah ke tempat lain. Sikap teman – temannya membuat hatinya semakin sedih dan hancur. Melihat sikap teman – temannya itu membuat Renata tidak kuat untuk menahan tangis, air matanya mulai menetes melewati pipinya. Renata ingin sekali tahu alasan kenapa teman – temannya tiba – tiba mengacuhkannya, namun semua itu tidak pernah terjadi, setiap Renata mendekat pasti mereka menjauhinya.
Tekanan yang Renata alami membuatnya tidak sanggup lagi untuk bersekolah di tempat itu. Renata ingin sekali pindah ke sekolah yang lain,
“ ma, aku mau pindah sekolah... “ kata Renata kepada ibu yang sedang duduk diruang tamu
“ kenapa kamu mau pindah sekolah? “ tanya ibunya kaget
Sambil menahan tangis Renata menceritakan semua perasaan yang ia alami selama ini.
“ aku bingung ma, kenapa nggak ada satu orang pun yang mau berteman sam Rena, memangnya apa sih salah Rena ma? “ sahutnya dengan terisak –isak, perasaan sedihnya sudah tidak bisa terbendung lagi
“ teman – teman kamu yang sudah sakitin kamu, maafkanlah mereka. Kalau kamu pindah sekolah apa kamu yakin kamu akan cepat beradaptasi dengan lingkungan kamu yang baru? “
Renata hany bisa diam dan terus menangis mendengar perkataan ibunya.
“ mama yakin, pasti ada orang baik yang mau berteman dengan kamu. Kamu itu anak yang baik, hanya orang bodoh yang nggak mau berteman dengan anak mama. Mereka semua nggak tahu cara membedakan teman yang sejati dan mana teman yang hanya butuh saat senang... “
Kata – kata dari ibunya membuat hati Renata menjadi lebih tenang. Namun semua sikap acuh, selalu memandang rendah dirinya, memanfaatkan dirinya untuk kepentingan pribadi yang dilakukan oleh teman – temannya dan orang – orang disekitarnya merubah pola pikir dan sikap Renata.
Renata yang sekarang bukanlah Renata yang dahulu. Renata yang mudah percaya dengan orang lain, yang mudah baik kepada orang lain, yang mudah ramah kepada orang lain, dan yang selau tersenyum kepada orang lain, semuanya itu sudah dibuang jauh – jauh dari dirinya. Renata yang sekarang adalah Renata yang cuek, yang tidak mau percaya kepada orang lain, yang tidak mau tersenyum kepada orang lain, dan yang sikapnya dingin kepada teman – teman lamanya.
Dengan sifatnya sekarang membuat Renata lebih susah untuk mendapatkan teman. Namun seorang gadis bertubuh mungil dengan senang hati menjadikannya teman sebangkunya. Awalnya Renata bersikap dingin kepada teman sebangkunya itu, tetapi karena keramahan dan sikapnya yang apa adanya membuat hati Renata melunak. Hati Renata bisa melunak hanya karena sikap yang tulus dari seseorang yang benar – benar ingin menjadikannya seorang teman, bukan dengan iming – iming apapun untuk berteman dengannya.
Hati dan sikap Renata bisa menjadi ceria ketika bersama dengan teman sebangnya – Chila. Sikap Chilla yang lugu dan apa adanya membuat Renata terus tersenyum. Keceriaan Renata semakin bertambah saat melihat tingak laku murid – murid cowok di kelasnya yang sangat unik, salah satu dari cowok – cowok itu adalah Delvin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar