Jam
lima tepat jam weker gue bunyi, dan berita bagusnya gue udah lebih dulu bangun
daripada jam weker gue. semua atribut yang mau gue pakai sudah berjejer rapih
di atas meja belajar gue, dan gue rasa Ibu lagi sibuk di dapur karena gue
terbangun karena suara berisik dari arah dapur. Mata gue belum sepenuhnya
sadar, tapi gue bisa ngeliat kalo Ibu lagi nyiapin bekel buat gue. Ibu memang
ibu paling telaten yang pernah gue temuin, Ibu rela bangun pagi – pagi masak
buat keluaganya, tapi setelah selesai masak Ibu tidur lagi – kebiasaan Ibu yang
belum hilang – hilang. Setelah menonton kesibukkan Ibu di dapur gue kembali ke
kamar gue dan segera mengambil handuk dan mandi. Waktu gue nggak banyak untuk
menyiapkan semuanya, jadi gue harus bisa serba cepat, mandi cepat, beres –
beres cepat, makan cepat, dan juga jalan cepat. Setelah semua atribut selesai
di pakai, gue memberanikan diri untuk berkaca di depan cermin, gue melihat diri
gue sangat aneh denga begitu banyak atribut dibadan gue membuat gue seperti
orang gila. Malu rasanya berjalan keluar rumah sampai ke depan sekolah, tapi
apa boleh buat. Beruntung jarak rumah gue dan sekolah baru gue nggak jauh
karena rumah gue hanya berjarak dua cluster dari sekolah. cepat – cepat gue
berlari menuju sekolah, gue bisa melihat di depan gerbang sekolah sudah ada dua
orang cowok OSIS yang lagi asyik berdiri sambil ngeliatin anak – anak baru
dengan memakai atribut yang sangat konyol masuk ke dalam sekolah. Gue bisa
tebak dibalik rawut wajah mereka yang sangar dan jutek sebenernya mereka
menyimpan kepuasan batin saat melihat adek kelas mereka di kerjain kayak gini.
Mungkin MOPD ini salah satu cara mereka untuk ‘membalas dendam’kepada adek –
adek kelas mereka yang baru karena dulu mereka juga diperlakukan kayak gini.
Tepat
pukul setengah tujuh gue udah ada di sekolah, saat itu juga bel sekolah
berbunyi dan kakak pembimbing di kelas gue – yang sampai sekarang gue nggak
tahu nama mereka – langsung menyuruh gue dan anak – anak yang lain segera
berkumpul di lapangan. Hari ini akan diadakan upacara pembukaan MOPD tahun
ajaran 2012 – 2013. Upacara kali ini agak sedikit berbeda karena nggak
dibarengi dengan upacara pengibaran bendera, cuma ada kata sambutan dari kepala
sekolah sama guru pembimbing OSIS. Setelah mendengar ceramah yang lumayan
panjang dari Bapak guru pembimbing OSIS, gue dan anak – anak dari suku dayak
kembali ke dalam kelas. Saat ini kakak – kakak OSIS, yang gue nggak tahu
namanya, lagi memeriksa kelengkapan atribut yang kami – gue dan temen – temen
baru gue – pakai. Untung semua hasil kerja keras gue begadang untuk membuat
name tag, kacamata, kalung, dan lambang sekolah nggak sia – sia, gue pun lolos
dari omelan sang kakak OSIS cewek yang gue nggak tahu namanya. Sekarang saatnya
pembekalan materi wiyata mandala oleh seorang guru. Menurut gue, penyampaian
materinya agak sedikit membosankan alhasil sepanjang ibu guru itu menerangkan
gue terus – terusan menguap. Nggak disangka baru aja gue mau tidur eh materinya
udah selesai, jadinya tidur gue tertunda deh. Kakak – kakak OSIS kembali masuk
ke dalam kelas saat Ibu guru – yang gue nggak tahu namanya – keluar dari dalam
kelas.
“sekarang,
keluarkan selembar kertas dan satu buah pulpen!” seru kakak pembimbing yang
cewek. Karena gue nggak tahu nama ketiga kakak pembimbing OSIS di kelas gue,
akhirnya gue membuat nama sendiri untuk mereka beriga. Pertama buat kakak OSIS
ceweknya gue kasih nama dia B3, kenapa B3? Karena dia itu punya semua kriteria
anak gaul yaitu belah tengah, blackberry, dan juga bahel. Nah untuk yang kedua
gue kasih nama PuKe, cupu tapi keren, kenapa? Karena kakak satu ini kelihatan
cupu banget dengan kacamata kotak gede yang hampir nutupin semua mukanya, dan juga kerah bajunya yang
dikancing sampai ke atas, pokoknya pakaiannya itu rapih banget tapi walaupun
begitu mukanya yang ganteng nggak bisa ditutupin dari penampilannya yang
sedikit cupu. Dan yang terakhir buat cowok yang ngga sengaja jatuh karena
tersandung kaki gue, gue kasih dia nama Ipodman, kenapa? Karena selama gue
ketemu dia pasti dia selalu membawa Ipod touchnya, jadi nggak heran kalau gue
sebut dia dengan nama Ipodman.
Sebenarnya
dari hari sabtu kemarin kak B3 yang nyuruh kita – gue dan temen2 baru gue –
untuk bawa alat – alat tulis, tapi karena gue selalu siap sedia makanya di dalam
tas karung goni gue udah siapin satu buku tebal dan satu kotak pensil yang
isinya sebenernya pulpen semua. Saat mendengar perintah dari kak B3, gue pun
langsung ngeluarin buku dan pulpennya, tapi gue rasa cuma gue yang ngeluarin
buku dan pulpen.
“kenapa
kalian nggak ngeluarin buku dan pulpen?” tanya kak B3
“kan
kemarin lusa kakak nggak suruh kita untuk bawa alat – alat tulis, jadinya kita
nggak ada yang bawa...” jawab seorang cowok yang duduk paling pojok belakang
kelas
“tapi
walaupun saya nggak nyuruh buktinya ada satu orang yang bawa buku dan pulpen.
Seharusnya walaupun kalian nggak disuruh untuk bawa alat – alat tulis, tapi
kalian harus tetap bawa karena kalian akan perlu itu semua. Ngerti semua?!”
jelas kak B3
“yaudah
sekarang kamu! Bagi kertas kamu ke temen – temen kamu yang lain, satu lembar
kertas di bagi empat aja...”lanjut kak B3 sambil menunjuk gue. untung aja buku
yang gue bawa tebal, jadi kertasnya masih sisa banyak. Akhirnya gue jadi
pembagi – bagi kertas ke satu ruangang kelas, bukan Cuma kertas tapi pulpen gue
pun juga ikut gue pinjemin buat temen – temen baru gue.
“okey,
sekarang kalian tulis nama, tempat tanggal lahir, alamat, asal sekolah, hobi,
cita – cita kalian dan juga alasan kenapa kalian sekolah di sini!!” seru kak
Ipodman
Okey
gue nulis biodata gue kayak gini:
Nama:
Renata Ayu Wijaya
TTL:
Jakarta, 22 Agustus 1997
Alamat:
Citra Grand Heels, cluster Jasmine blok B no. 8
Asal
sekolah: SMP Bina Harapan
Hobi:
berenang, baca, dengerin lagu, main piano, masak, dan nonton.
Cita2:
jadi guru bahasa inggris atau musisi
Alasan
sekolah disini: karena dapet beasiswa, dan deket dari rumah
Setelah
anak – anak mengumpulkan semua biodatanya, kemudian secara acak kak Ipodman
membaca biodata kami. Rasa khawatir pun mulai muncul di otak gue, ‘kalo dia baca
biodata gue gimana? Kalo gue diledekin gimana? Apa jangan2 dia mau balas dendam
ke gue?’
“yang
namanya Aldino Rizki coba maju ke depan!” seru kak Ipodman. Kemudian majulah
seorang cowok bertubuh tinggi besar, berkulit kecoklatan, mata yang agak besar ke
depan kelas.
“coba
kamu perkenalkan diri kamu di depan teman – teman kamu...”
“halo,
nama saya Aldin Rizki, saya lahir di Palembang 17 Desember 1996, saya tinggal
di jalan asri nomor 76, hobi saya bermain games online dan bersepeda, cita –
cita saya ingin menjadi astronot, alasan saya sekolah di sini karena disuruh
oleh orangtua.” Jelas Aldin agak sedikit terbata – bata
“jadi
kamu sekolah disini karena terpaksa?” seru kak Ipodman
“nggak
kok kak, saya juga mau sekolah disini tapi awalnya saya pesimis kak bisa lolos
tes masuk tapi ternyata saya masuk.” Gue rasa Aldin itu anak yang pintar tapi
sayangnya dia adalah orang yang mudah menyerah dan pesimistis.
“okey
sekarang coba kamu contohin gimana gaya seorang astronot saat di bulan. Kamu
kan mau jadi astronot seharusnya kamu bisa dong meniru gaya astronot.” Sahut
kak PuKe, akhirnya kak PuKe ngomong juga, dari tadi yang ngomong kak B3 sama
kak Ipodman aja sih, dan ternyata sekalinya ngomong malah nyuruh yang aneh –
aneh, kak PuKe... Kak PuKe
Mendengar
perintah dari kak PuKe, gue rasa Aldin mati kutu saat ingin meniru gaya
astronot yang lagi ada di bulan. Gue tahu gaya astronot itu susah banget
apalagi kalau lagi ada di bulan, ya ampun gue kasihan banget ngeliat mukanya
yang udah lemes nggak berdaya. Hampir sepuluh menit Aldin Cuma berdiri gugup,
mungkin dia lagi ngumpulin keberanian kali ya untuk meniru gaya astronot.
“ayo
dong cepetan! Masa niru gaya astronot aja nggak bisa sih, katanya mau jadi
astronot!” seru kak PuKe, ternyata kak PuKe kejam juga ya, masa dia nggak bisa
ngeliat si Aldin udah gemetaran dari tadi
“udah
– udah, ganti yang lain aja. kamu boleh duduk sekarang!” sahut kak Ipodman,
segera kak Ipodman ngambil secarik kertas dan membacakan nama dari kertas
tersebut
“Renata
Ayu Wijaya! Coba maju ke depan!”
Ya
ampun nama gue yang dipanggil, astagaa.... aduh jantung gue langsung deg –
degan, tangan gue langsung dingin, kaki gue gemeteran. Dengan hati – hati gue
maju ke depan. Kak Ipodman langsung kaget saat melihat gue maju ke depan, ‘aduh
gimana kalo gue dikerjain sama kak Ipodman, aduuh gawat niiih...’
“sekarang
kamu perkenalin diri kamu!” seru kak Ipodman
“halo,
nama saya renata ayu wijaya, kalian bisa panggil saya rena. Saya tinggal di
citra grand heels cluster Jasmine blok b nomor 8. Saya lahir di jakarta tanggal
22 bulan agustus tahun 1997. Saya hobi berenang, baca buku, main piano, nonton
tv, masak dan juga dengerin lagu. Cita – cita saya ingin menjadi seorang guru
bahasa inggri atau jadi musisi profesional. Alasan saya sekolah disini karena
saya diminta sekolah disini, dan juga saya dapat beasiswa sekolah di sini...”
gue berusaha untuk berkata dengan lancar. Syukur gue bisa ngomong di depan
lancar walaupun agak sedikit grogi.
“oh
jadi kamu yang dapet nilai tes tertinggi...”sahut kak Ipodman
“kasih
selamet dong!...” seru kak PuKe
“selamet
yaaa...” sahut seluruh anak – anak di kelas
“makasih
ya..” jawab gue sambil melebarkan senyum
“okey,
tadi kata kamu, kamu mau jadi guru bahasa inggris. Sekarang coba kamu bergaya
lagi ngajar bahasa inggris!” perintah kak PuKe
‘aduuh
gimana nih, gue harus ngomong apaan? Apa yang harus gue ajarin?’
“hhmmm...
hai! Good morning class! How are you today?! Now let’s begin our class today. I
want you to listen me, then you will repeat my words okey?!” gue mencoba
berlagak seperti guru bahasa inggris
“okeeeyy...”sahut
seluruh anak - anak
“today,
i woke up at five o’clock!”
“today,
i woke up at five o’clock!”sahut anak – anak mengulangi kata – kata gue,
‘yaampun gue udah berasa jadi guru nih hehehe’
“and
then I prepared for my first day at school!”
“and
then I prepared for my first day at school!”
“now...”
“ya
bagus – bagus, kamu boleh duduk sekarang” baru gue mau ngelanjutin kuliah gue,
eh udah dipotong aja sama kak Ipodman. Gue lega banget karena nggak dikerjain
sama kak Ipodman. Setelah gue maju ternyata masih ada lima anak lagi yang maju
memperkenalkan diri. Ketika semuanya sudah memperkenalkan diri, kak B3 menyuruh
kami untuk mengaransemen lagu mars SMA Pelita Harapan dan juga membuat yel -
yel, kami diberi waktu selama satu jam untuk mengaransemen lagu dan membuat yel
– yel.
Gue
mencoba untuk memutar – mutar otak gimana caranya mengaransemen lagu marsnya
Peha – nama bekennya SMA Pelita Harapan. Sudah lima belas menit satupun dari
kami nggak ada yang berbicara, semuanya terlihat sedang berpikir dengan keras
apalagi Aldin, keringatnya sampair ngucur – udah kayak mandi keringat! Iyuuh.
“hhmmm....
gimana marsnya diaransemen kayak gini....” seru gue tiba – tiba mendapat ilham.
“hhmmm...
kedengerennya bagus juga tuh!! Gue setuju, kalo kalian gimana?” sahut Tania –
cewek yang duduk di samping gue, dan baru aja gue kenalan sama dia sesudah gue
memperkenalkan diri di depan kelas.
Teman
– teman yang lain akhirnya setuju dengan aransemen yang gue buat, nah sekarang
tinggal membuat yel – yel deh.
“ya
gimana?! Kalian udah mengaransemen mars sekolah?” tanya kak B3 saat bel
istirahat berbunyi
“sudah
kaaak!!...” seru kami semua dengan kompak
“oke
bagus bagus, nah kalo yel – yelnya juga udah?”
“sudah
dong kaak!!” saru kami lagi dengan bangga
“hebat
– hebat!! Sekarang kalian makan siang dulu, setelah itu baru kita akan denger
aransemen dan yel – yel yang kalian buat ya!!.”
“Okey
sekarang semua keluarkan bekalnya masing – masing!”perintah kak Ipodman. Dengan
segera kak B3 dan kak PuKe berjalan menghampiri setiap anak dan memeriksa
apakah yang mereka bawa itu benar atau nggak. Saat kak PuKe mendekati meja gue,
gue pun mulai dag dig dugan, gue takut kalau makanan yang gue bawa salah.
Melihat ekspresi dari kak PuKe saat melihat isi bekal gue, membuat gue tambah
ketakutan, kak PuKe pun mendekatkan wajahnya ke muka gue
“kamu
yakin makanan yang kamu bawa itu bener?”
“eeh...
hmmm... ii... iiyaa kak...” jawab gue dengan gugup
“yakiin??...”
kak PuKe mencoba menggoda gue, rawut wajahnya yang lucu dan super aneh membuat
gue tambah gugup
“iii...
iiyaa kak...” jawab gue lagi, kali ini gue nggak berani natap mukanya, karena
wajahnya kak PuKe tambah aneh aja. sejenak kak PuKe ngeliatin gue terus dari
deket, eh tiba – tiba aja tawanya meledak dan membuat satu ruangna kaget karena
ketawanya.
“HAHAHAHAHAHA!!!....
mukanya tegang banget!! Biasa aja kali.... tenang aja, makanan yang kamu bawa
bener kok, nggak usah gugup gitu dong!! Hahahaha”
‘iiiihhh...
sebel sebel sebel!! Kak PuKe tega banget ngetawain gue. iiiihh.... jahat jahat
jahat!! Bete deh!!....’
Rawut
wajah gue berubah jadi bete setelah diketawain sama kak PuKe yang cakep tapi
jahat! Tega banget ya dia ngetawain gue! mood makan gue pun berubah, gue sudah
nggak nafsu makan lagi karena perlakuannya kak PuKe. Walaupun gue berusaha
untuk mogok makan, tapi kak Ipodman alias kak Mario terus nyuruh gue ngabisin
makanan gue. dengan sangat terpaksa akhirnya gue bisa menghabiskan makanan gue.
“sekarang
saatnya kita lihat aransemen mars peha dan yel – yel dari kalian! Ayo maju –
maju...”seru kak B3
Kami
pun langsung maju ke depan kelas, walaupun kami baru menemukan nadanya dan baru
satu kali latihan bareng tapi kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik di
depan kak B3, kak Mario, dan juga kak PuKe. Awalnya memang nggak kompak, tapi
setelah menyesuaikan diri akhirnya kami pun bisa menyanyikan mars dan yel –
yelnya denga cukup lancar walaupun masih banyak kata – kata yang kami lupa.
Melihat hasil kerja kami, kak B3, kak Mario dan kak PuKe memberi applause
kepada kami semua. Seneng banget ngeliat kakak – kakak OSIS yang tadinya jutek
tiba – tiba bisa tersenyum lebar kepada kami semua, rasanya hati gue lega
banget melihat mereka tersenyum lebar kayak sekarang.
























