about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Jumat, 29 Juni 2012

Mopd pun dimulai



Jam lima tepat jam weker gue bunyi, dan berita bagusnya gue udah lebih dulu bangun daripada jam weker gue. semua atribut yang mau gue pakai sudah berjejer rapih di atas meja belajar gue, dan gue rasa Ibu lagi sibuk di dapur karena gue terbangun karena suara berisik dari arah dapur. Mata gue belum sepenuhnya sadar, tapi gue bisa ngeliat kalo Ibu lagi nyiapin bekel buat gue. Ibu memang ibu paling telaten yang pernah gue temuin, Ibu rela bangun pagi – pagi masak buat keluaganya, tapi setelah selesai masak Ibu tidur lagi – kebiasaan Ibu yang belum hilang – hilang. Setelah menonton kesibukkan Ibu di dapur gue kembali ke kamar gue dan segera mengambil handuk dan mandi. Waktu gue nggak banyak untuk menyiapkan semuanya, jadi gue harus bisa serba cepat, mandi cepat, beres – beres cepat, makan cepat, dan juga jalan cepat. Setelah semua atribut selesai di pakai, gue memberanikan diri untuk berkaca di depan cermin, gue melihat diri gue sangat aneh denga begitu banyak atribut dibadan gue membuat gue seperti orang gila. Malu rasanya berjalan keluar rumah sampai ke depan sekolah, tapi apa boleh buat. Beruntung jarak rumah gue dan sekolah baru gue nggak jauh karena rumah gue hanya berjarak dua cluster dari sekolah. cepat – cepat gue berlari menuju sekolah, gue bisa melihat di depan gerbang sekolah sudah ada dua orang cowok OSIS yang lagi asyik berdiri sambil ngeliatin anak – anak baru dengan memakai atribut yang sangat konyol masuk ke dalam sekolah. Gue bisa tebak dibalik rawut wajah mereka yang sangar dan jutek sebenernya mereka menyimpan kepuasan batin saat melihat adek kelas mereka di kerjain kayak gini. Mungkin MOPD ini salah satu cara mereka untuk ‘membalas dendam’kepada adek – adek kelas mereka yang baru karena dulu mereka juga diperlakukan kayak gini.

Tepat pukul setengah tujuh gue udah ada di sekolah, saat itu juga bel sekolah berbunyi dan kakak pembimbing di kelas gue – yang sampai sekarang gue nggak tahu nama mereka – langsung menyuruh gue dan anak – anak yang lain segera berkumpul di lapangan. Hari ini akan diadakan upacara pembukaan MOPD tahun ajaran 2012 – 2013. Upacara kali ini agak sedikit berbeda karena nggak dibarengi dengan upacara pengibaran bendera, cuma ada kata sambutan dari kepala sekolah sama guru pembimbing OSIS. Setelah mendengar ceramah yang lumayan panjang dari Bapak guru pembimbing OSIS, gue dan anak – anak dari suku dayak kembali ke dalam kelas. Saat ini kakak – kakak OSIS, yang gue nggak tahu namanya, lagi memeriksa kelengkapan atribut yang kami – gue dan temen – temen baru gue – pakai. Untung semua hasil kerja keras gue begadang untuk membuat name tag, kacamata, kalung, dan lambang sekolah nggak sia – sia, gue pun lolos dari omelan sang kakak OSIS cewek yang gue nggak tahu namanya. Sekarang saatnya pembekalan materi wiyata mandala oleh seorang guru. Menurut gue, penyampaian materinya agak sedikit membosankan alhasil sepanjang ibu guru itu menerangkan gue terus – terusan menguap. Nggak disangka baru aja gue mau tidur eh materinya udah selesai, jadinya tidur gue tertunda deh. Kakak – kakak OSIS kembali masuk ke dalam kelas saat Ibu guru – yang gue nggak tahu namanya – keluar dari dalam kelas.

“sekarang, keluarkan selembar kertas dan satu buah pulpen!” seru kakak pembimbing yang cewek. Karena gue nggak tahu nama ketiga kakak pembimbing OSIS di kelas gue, akhirnya gue membuat nama sendiri untuk mereka beriga. Pertama buat kakak OSIS ceweknya gue kasih nama dia B3, kenapa B3? Karena dia itu punya semua kriteria anak gaul yaitu belah tengah, blackberry, dan juga bahel. Nah untuk yang kedua gue kasih nama PuKe, cupu tapi keren, kenapa? Karena kakak satu ini kelihatan cupu banget dengan kacamata kotak gede yang hampir nutupin  semua mukanya, dan juga kerah bajunya yang dikancing sampai ke atas, pokoknya pakaiannya itu rapih banget tapi walaupun begitu mukanya yang ganteng nggak bisa ditutupin dari penampilannya yang sedikit cupu. Dan yang terakhir buat cowok yang ngga sengaja jatuh karena tersandung kaki gue, gue kasih dia nama Ipodman, kenapa? Karena selama gue ketemu dia pasti dia selalu membawa Ipod touchnya, jadi nggak heran kalau gue sebut dia dengan nama Ipodman.

Sebenarnya dari hari sabtu kemarin kak B3 yang nyuruh kita – gue dan temen2 baru gue – untuk bawa alat – alat tulis, tapi karena gue selalu siap sedia makanya di dalam tas karung goni gue udah siapin satu buku tebal dan satu kotak pensil yang isinya sebenernya pulpen semua. Saat mendengar perintah dari kak B3, gue pun langsung ngeluarin buku dan pulpennya, tapi gue rasa cuma gue yang ngeluarin buku dan pulpen.

“kenapa kalian nggak ngeluarin buku dan pulpen?” tanya kak B3
“kan kemarin lusa kakak nggak suruh kita untuk bawa alat – alat tulis, jadinya kita nggak ada yang bawa...” jawab seorang cowok yang duduk paling pojok belakang kelas
“tapi walaupun saya nggak nyuruh buktinya ada satu orang yang bawa buku dan pulpen. Seharusnya walaupun kalian nggak disuruh untuk bawa alat – alat tulis, tapi kalian harus tetap bawa karena kalian akan perlu itu semua. Ngerti semua?!” jelas kak B3
“yaudah sekarang kamu! Bagi kertas kamu ke temen – temen kamu yang lain, satu lembar kertas di bagi empat aja...”lanjut kak B3 sambil menunjuk gue. untung aja buku yang gue bawa tebal, jadi kertasnya masih sisa banyak. Akhirnya gue jadi pembagi – bagi kertas ke satu ruangang kelas, bukan Cuma kertas tapi pulpen gue pun juga ikut gue pinjemin buat temen – temen baru gue.
“okey, sekarang kalian tulis nama, tempat tanggal lahir, alamat, asal sekolah, hobi, cita – cita kalian dan juga alasan kenapa kalian sekolah di sini!!” seru kak Ipodman

Okey gue nulis biodata gue kayak gini:

Nama: Renata Ayu Wijaya
TTL: Jakarta, 22 Agustus 1997
Alamat: Citra Grand Heels, cluster Jasmine blok B no. 8
Asal sekolah: SMP Bina Harapan
Hobi: berenang, baca, dengerin lagu, main piano, masak, dan nonton.
Cita2: jadi guru bahasa inggris atau musisi
Alasan sekolah disini: karena dapet beasiswa, dan deket dari rumah

Setelah anak – anak mengumpulkan semua biodatanya, kemudian secara acak kak Ipodman membaca biodata kami. Rasa khawatir pun mulai muncul di otak gue, ‘kalo dia baca biodata gue gimana? Kalo gue diledekin gimana? Apa jangan2 dia mau balas dendam ke gue?’

“yang namanya Aldino Rizki coba maju ke depan!” seru kak Ipodman. Kemudian majulah seorang cowok bertubuh tinggi besar, berkulit kecoklatan, mata yang agak besar ke depan kelas.

“coba kamu perkenalkan diri kamu di depan teman – teman kamu...”
“halo, nama saya Aldin Rizki, saya lahir di Palembang 17 Desember 1996, saya tinggal di jalan asri nomor 76, hobi saya bermain games online dan bersepeda, cita – cita saya ingin menjadi astronot, alasan saya sekolah di sini karena disuruh oleh orangtua.” Jelas Aldin agak sedikit terbata – bata

“jadi kamu sekolah disini karena terpaksa?” seru kak Ipodman
“nggak kok kak, saya juga mau sekolah disini tapi awalnya saya pesimis kak bisa lolos tes masuk tapi ternyata saya masuk.” Gue rasa Aldin itu anak yang pintar tapi sayangnya dia adalah orang yang mudah menyerah dan pesimistis.
“okey sekarang coba kamu contohin gimana gaya seorang astronot saat di bulan. Kamu kan mau jadi astronot seharusnya kamu bisa dong meniru gaya astronot.” Sahut kak PuKe, akhirnya kak PuKe ngomong juga, dari tadi yang ngomong kak B3 sama kak Ipodman aja sih, dan ternyata sekalinya ngomong malah nyuruh yang aneh – aneh, kak PuKe... Kak PuKe

Mendengar perintah dari kak PuKe, gue rasa Aldin mati kutu saat ingin meniru gaya astronot yang lagi ada di bulan. Gue tahu gaya astronot itu susah banget apalagi kalau lagi ada di bulan, ya ampun gue kasihan banget ngeliat mukanya yang udah lemes nggak berdaya. Hampir sepuluh menit Aldin Cuma berdiri gugup, mungkin dia lagi ngumpulin keberanian kali ya untuk meniru gaya astronot.

“ayo dong cepetan! Masa niru gaya astronot aja nggak bisa sih, katanya mau jadi astronot!” seru kak PuKe, ternyata kak PuKe kejam juga ya, masa dia nggak bisa ngeliat si Aldin udah gemetaran dari tadi
“udah – udah, ganti yang lain aja. kamu boleh duduk sekarang!” sahut kak Ipodman, segera kak Ipodman ngambil secarik kertas dan membacakan nama dari kertas tersebut
“Renata Ayu Wijaya! Coba maju ke depan!”

Ya ampun nama gue yang dipanggil, astagaa.... aduh jantung gue langsung deg – degan, tangan gue langsung dingin, kaki gue gemeteran. Dengan hati – hati gue maju ke depan. Kak Ipodman langsung kaget saat melihat gue maju ke depan, ‘aduh gimana kalo gue dikerjain sama kak Ipodman, aduuh gawat niiih...’

“sekarang kamu perkenalin diri kamu!” seru kak Ipodman
“halo, nama saya renata ayu wijaya, kalian bisa panggil saya rena. Saya tinggal di citra grand heels cluster Jasmine blok b nomor 8. Saya lahir di jakarta tanggal 22 bulan agustus tahun 1997. Saya hobi berenang, baca buku, main piano, nonton tv, masak dan juga dengerin lagu. Cita – cita saya ingin menjadi seorang guru bahasa inggri atau jadi musisi profesional. Alasan saya sekolah disini karena saya diminta sekolah disini, dan juga saya dapat beasiswa sekolah di sini...” gue berusaha untuk berkata dengan lancar. Syukur gue bisa ngomong di depan lancar walaupun agak sedikit grogi.

“oh jadi kamu yang dapet nilai tes tertinggi...”sahut kak Ipodman
“kasih selamet dong!...” seru kak PuKe
“selamet yaaa...” sahut seluruh anak – anak di kelas
“makasih ya..” jawab gue sambil melebarkan senyum
“okey, tadi kata kamu, kamu mau jadi guru bahasa inggris. Sekarang coba kamu bergaya lagi ngajar bahasa inggris!” perintah kak PuKe
‘aduuh gimana nih, gue harus ngomong apaan? Apa yang harus gue ajarin?’
“hhmmm... hai! Good morning class! How are you today?! Now let’s begin our class today. I want you to listen me, then you will repeat my words okey?!” gue mencoba berlagak seperti guru bahasa inggris
“okeeeyy...”sahut seluruh anak - anak
“today, i woke up at five o’clock!”
“today, i woke up at five o’clock!”sahut anak – anak mengulangi kata – kata gue, ‘yaampun gue udah berasa jadi guru nih hehehe’
“and then I prepared for my first day at school!”
“and then I prepared for my first day at school!”
“now...”
“ya bagus – bagus, kamu boleh duduk sekarang” baru gue mau ngelanjutin kuliah gue, eh udah dipotong aja sama kak Ipodman. Gue lega banget karena nggak dikerjain sama kak Ipodman. Setelah gue maju ternyata masih ada lima anak lagi yang maju memperkenalkan diri. Ketika semuanya sudah memperkenalkan diri, kak B3 menyuruh kami untuk mengaransemen lagu mars SMA Pelita Harapan dan juga membuat yel - yel, kami diberi waktu selama satu jam untuk mengaransemen lagu dan membuat yel – yel.

Gue mencoba untuk memutar – mutar otak gimana caranya mengaransemen lagu marsnya Peha – nama bekennya SMA Pelita Harapan. Sudah lima belas menit satupun dari kami nggak ada yang berbicara, semuanya terlihat sedang berpikir dengan keras apalagi Aldin, keringatnya sampair ngucur – udah kayak mandi keringat! Iyuuh.

“hhmmm.... gimana marsnya diaransemen kayak gini....” seru gue tiba – tiba mendapat ilham.
“hhmmm... kedengerennya bagus juga tuh!! Gue setuju, kalo kalian gimana?” sahut Tania – cewek yang duduk di samping gue, dan baru aja gue kenalan sama dia sesudah gue memperkenalkan diri di depan kelas.

Teman – teman yang lain akhirnya setuju dengan aransemen yang gue buat, nah sekarang tinggal membuat yel – yel deh.
“ya gimana?! Kalian udah mengaransemen mars sekolah?” tanya kak B3 saat bel istirahat berbunyi
“sudah kaaak!!...” seru kami semua dengan kompak
“oke bagus bagus, nah kalo yel – yelnya juga udah?”
“sudah dong kaak!!” saru kami lagi dengan bangga
“hebat – hebat!! Sekarang kalian makan siang dulu, setelah itu baru kita akan denger aransemen dan yel – yel yang kalian buat ya!!.”
“Okey sekarang semua keluarkan bekalnya masing – masing!”perintah kak Ipodman. Dengan segera kak B3 dan kak PuKe berjalan menghampiri setiap anak dan memeriksa apakah yang mereka bawa itu benar atau nggak. Saat kak PuKe mendekati meja gue, gue pun mulai dag dig dugan, gue takut kalau makanan yang gue bawa salah. Melihat ekspresi dari kak PuKe saat melihat isi bekal gue, membuat gue tambah ketakutan, kak PuKe pun mendekatkan wajahnya ke muka gue

“kamu yakin makanan yang kamu bawa itu bener?”
“eeh... hmmm... ii... iiyaa kak...” jawab gue dengan gugup
“yakiin??...” kak PuKe mencoba menggoda gue, rawut wajahnya yang lucu dan super aneh membuat gue tambah gugup
“iii... iiyaa kak...” jawab gue lagi, kali ini gue nggak berani natap mukanya, karena wajahnya kak PuKe tambah aneh aja. sejenak kak PuKe ngeliatin gue terus dari deket, eh tiba – tiba aja tawanya meledak dan membuat satu ruangna kaget karena ketawanya.
“HAHAHAHAHAHA!!!.... mukanya tegang banget!! Biasa aja kali.... tenang aja, makanan yang kamu bawa bener kok, nggak usah gugup gitu dong!! Hahahaha”
‘iiiihhh... sebel sebel sebel!! Kak PuKe tega banget ngetawain gue. iiiihh.... jahat jahat jahat!! Bete deh!!....’

Rawut wajah gue berubah jadi bete setelah diketawain sama kak PuKe yang cakep tapi jahat! Tega banget ya dia ngetawain gue! mood makan gue pun berubah, gue sudah nggak nafsu makan lagi karena perlakuannya kak PuKe. Walaupun gue berusaha untuk mogok makan, tapi kak Ipodman alias kak Mario terus nyuruh gue ngabisin makanan gue. dengan sangat terpaksa akhirnya gue bisa menghabiskan makanan gue.

“sekarang saatnya kita lihat aransemen mars peha dan yel – yel dari kalian! Ayo maju – maju...”seru kak B3

Kami pun langsung maju ke depan kelas, walaupun kami baru menemukan nadanya dan baru satu kali latihan bareng tapi kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik di depan kak B3, kak Mario, dan juga kak PuKe. Awalnya memang nggak kompak, tapi setelah menyesuaikan diri akhirnya kami pun bisa menyanyikan mars dan yel – yelnya denga cukup lancar walaupun masih banyak kata – kata yang kami lupa. Melihat hasil kerja kami, kak B3, kak Mario dan kak PuKe memberi applause kepada kami semua. Seneng banget ngeliat kakak – kakak OSIS yang tadinya jutek tiba – tiba bisa tersenyum lebar kepada kami semua, rasanya hati gue lega banget melihat mereka tersenyum lebar kayak sekarang.

Enam



Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Aku telah terbangun dari tidurku setelah mendengar alarm yang kupasang pada jam bekerku. Aku mengintip dari jendela kamar, melihat suasana diluar begitu gelap dan sunyi, matahari belum nampak menyinari bumi, dan tetesan embun di dedaunan jatuh perlahan – lahan membasahi tanah. Aku membuka jendela kamarku dan menghirup nafas panjang – panjang dan menghembuskannya perlahan – lahan, sungguh udara di luar begitu sejuk, membuatku bersemangat memulai aktivitas hari ini.

Saat aku asyik menikmati pemandangan taman lewat jendela kamarku, aku teringat untuk membuatkan bekal untuk Rafka. Aku pun langsung bergegas menuju dapur, mengambil apron yang diletakkan di salah satu laci kicthen set, menyiapkan alat – alat yang diperlukan dan sambil berpikir makanan apa yang akan aku berikan kepada Rafka. Setelah semua persiapan beres, aku mulai menyiapkan bahan – bahan untuk membuat omelet, menurutku semua orang pasti suka omelet, jadi apa salahnya aku membuatkan Rafka sebuah omelet, ibu, ayah, dan abangku berkata kalau masakanku itu lezat apalagi omelet buatanku, pasti ketagihan.

Aku mulai memecahkan beberapa telur ke dalam mangkuk, lalu mengocoknya dengan sendok, aku menaruh sedikit garam, merica, irisan daun bawang, dan sedikit sambal. Aku berharap omelet buatanku disukai oleh Rafka. Setelah telurnya dikocok, aku menaruh pan ke atas kompor, menyalakan api kompor, menunggu sampai pannya panas, lalu aku masukkan kocokkan telur tadi dan menunggu hingga omeletnya matang sempurna. Sedang aku mengemasi kotak bekal untuk Rafka, ibuku tiba – tiba datang menghampiriku,

          “ ini bekal untuk siapa? “ tanya ibu
          “ hmmm, ini.... ini buat aku bu..” jawabku gugup
          “ oh ya? Tumben kamu mau bawa bekal ke sekolah? “
          “ eh iya nih bu... “
Di sela omongan kami, mas Adrian muncul lalu mengomentariku
          “ ah dia bohong tuh bu, pasti bekalnya itu untuk pacarnya. Iya kan? Ngaku aja deh... “
          “ ih apaan sih mas, ini buat aku tahu... “ jawabku sewot
          “ ah bohong kamu... “ mas Adrian tetap mencoba memojokkanku di depan ibu, sampai – sampai omongan mas Adrian terdengar oleh ayah
          “ ada apa ini ribut – ribut? “ tanya ayah bingung
          “ ini yah, anak ayah satu ini nggak mau ngaku kalau dia buat bekal untuk pacarnya... “ jawab mas Adrian
          “ ih mas Adri, bekal ini untuk aku tahu, aku kan nggak punya pacar... “ jawabku lagi – lagi sewot
          “ sudah – sudah. Ruby mau buat bekal untuk siapa kenapa kamu yang repot sih dri, sudah – sudah sekarang kalian siap – siap berangkat sekolah.... “ seru ayah

Dari dulu mas Adrian memang seperti itu, suka sekali menjahili dan memojokkanku di depan ayah dan ibu. Aku tahu maksudnya hanya bercanda tetapi terkadang saat moodku sedang buruk pasti aku langsung menanggapinya dengan serius. Pernah suatu ketika aku pulang dari sekolah diantar oleh teman sekelasku, waktu itu hari sudah sore dan mas Adrian sudah pulang kuliah, saat dia melihatku diantar oleh seorang cowok, dia langsung berkata 

          “ wah ada yang habis dianter sama pacarnya nih... “

Karena saat itu aku sedang ada masalah di kelas, dan nilai fisika ku jelek maka moodku pun langsung berubah jadi buruk, mendengar celotehan mas Adrian membuatku tambah kesal, dan aku pun langsung memarahi mas Adrian. Tetapi mas Adrian tetap saja berceloteh, dia tidak tahu kalau aku benar – benar sedang marah, alhasil selama tiga hari aku tidak bertegur sapa ataupun berbicara dengan mas Adrian. Walaupun dia menyapaku atau mengajakku untuk berangkat bersama aku tetap mengacuhkannya, karena aku masih kesal dengan sifatnya yang tidak pernah berubah.

Walau bagaimana pun mas Adrian adalah kakakku, dan kakak terbaik ku. Sering sekali dia membuatku jengkel dan kesal, tetapi tidak jarang dia terus membuatku tersenyum bahkan tertawa dengan tingkah konyolnya. Aku dan mas Adrian mempunyai jarak umur hampir lima tahun, walaupun lumayan jauh tetapi tidak jarang orang – orang menyebutkan kalau aku dan mas Adrian berpacaran jika kami jalan bersama. Mas Adrian adalah kaka yang baik, dia selalu perhatian kepadaku, sedikit memanjakanku tetapi tetap mendidikku untuk menjadi seorang cewek yang mandiri. Saat aku kesulitan dalam mata pelajaran fisika ataupun kimia mas Adrian dengan senang hati mengajariku. Sungguh aku sangat beruntung mempunyai kakak seperti mas Adrian.

Setelah selesai membereskan bekal, aku pun bergegas mandi dan bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini aku tidak naik bis, tetapi diantar oleh mas Adrian. Entah kenapa pagi ini celotehannya tidak sepanjang hari – hari biasanya, dan tumben sekali mas Adrian dengan senang hati mengantarkanku ke sekolah tanpa harus aku meminta tolong. Saat dalam perjalanan,

          “ mas, kok tumben sih mau nganterin ruby? “ tanyaku
          “ nggak tahu nih, kayaknya mas lagi sakit deh... “
          “ ya ampun, kok mas gitu banget sih... mas jahat nih.. “
          “ hahaha bercanda bi. Hari ini mas lagi mau jadi anak yang baik aja hehe... “

Dasar mas Adrian, pikirannya tidak bisa ditebak sama seperti tingkah lakunya. Terkadang dia sangat baik kepadaku, namun terkadang bisa menjadi musuh bebuyutanku. Walaupun begitu mas Adrian adalah kakak terkeren sedunia. Sedikit cerita tentang mas Adrian. Mas Adrian sekarang kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta, fakultas ilmu sosial dan politik jurusan hubungan internasional semester tiga. Mas Adrian punya group band beraliran jazz, nama group bandnya adalah Nevertheless. Group band mas Adrian ini sudah sering manggung di cafe – cafe, dan sudah cukup terkenal di kalangan anak kuliah dan SMA. Posisi mas Adrian di ‘Nevertheless‘ sebagai gitaris sekaligus vokalis. Tidak dipungkiri kalau banyak cewek – cewek terpesona oleh suaranya yang merdu, wajahnya yang ganteng dan kharismanya saat bermain gitar, tetapi sampai saat ini kakakku belum tertarik dengan fansnya karena belum lama dia putus dari pacarnya dua bulan yanng lalu. Mungkin mas Adrian masih trauma dengan hubungannya bersama mantannya dulu.

          Dua bulan yang lalu aku sempat mengobrol dengan mas Adrian tentang pacaran, saat itu mas Adrian baru saja putus dari ceweknya. Saat itu pukul 8 malam, aku dan mas Adrian sedang duduk di balkon rumah sambil menikmati secangkir capucinno hangat di terangi cahaya bulan dan bintang di langit malam. Hari itu tepat seminggu mas Adrian putus dari ceweknya, aku melihat tidak ada perasaan sedih dan kehilangan saat melihat wajahnya, aku bingung kenapa mas Adrian bisa seperti itu padahal setahuku dia sangat mencintai mantan pacarnya,

          “ mas, mas nggak sedih diputusin sama mba Nisa? “
          “ awalnya pasti sedih, tapi sekarang mas udah nggak sedih lagi... “ jawabnya sambil menatap lurus ke depan
          “ kok bisa sih? Gimana caranya? “
          “ saat mas diputusin sama Nisa, mas mikir, mas merenung apa yang selama ini mas udah buat sama dia sampai – sampai dia tega mutusin mas, tapi sekarang mas tahu kalau semuanya itu sudah ada yang ngatur. Sekarang mas sadar kalau selama ini mas udah terlalu percaya dan terlalu sabar sama dia sampai – sampai dia menyalahgunakan kepercayaan dan kesabaran mas. Setiap orang punya batas kesabaran, dan saat batas kesabaran mas udah mau habis mungkin dia sadar dan dia langsung mutusin mas, mas tahu kenapa dia yang mutusin mas... “jelas mas Adrian dengan sedikit senyum dibibirnya
          “ emangnya kenapa mas? “ tanyaku sambil menyeruput sedikit demi sedikit capicinno yang ada di cangkirku
          “ karena dia gengsi kalau aku yang mutusin dia. Mas tahu sebenarnya dia hanya ingin memanfaatkan mas aja. Dia mau membuktikan kalau dia bisa mendapatkan cowok kayak mas... “
          “ ternyata mba Nisa itu jahat ya... “ sahutku kesal
          “ hahaha mungkin.... “ mas Adrian pun akhirnya tertawa
          “ oya ingat pesan mas ya, kamu harus hati – hati dengan cowok. Apalagi sama cowok yang awalnya nggak pernah menyapa kamu malah sampai menjauhi kamu tiba – tiba dia mendekati kamu, kamu harus hati – hati karena bisa aja mereka cuma mau jadiin kamu sebagai peralihan mereka bahkan jadi bahan taruhan mereka. “sambung mas Adrian
          “ kok mas bisa ngomong kayak gitu sih? Mas tahu dari mana? “ tanyaku bingung
          “ mas tahu dari teman – teman mas. Mereka pernah cerita ke mas kalau mereka cuma mau ngedeketin cewek karena sudah taruhan, atau sekedar sebagai pelampiasan karena habis diputusin pacarnya. Mas nggak mau kalau kamu diperlakukan kayak gitu sama cowok – cowok, makanya kamu harus hati – hati ya... “ tuturnya sambil tersenyum padaku dan mengusap – usap rambutku

Mendengar cerita dari mas Adrian hatiku menjadi sangat tenang dan bahagia. Saking bahagianya aku sampai memeluk mas Adrian dan menangis di pundaknya. Mas Adrian bingung kenapa aku menangis tapi dia tetap mendekapku dan membelai halus rambutku  

          “ mas Adrian baik banget. Aku nggak mau pisah dari mas Adrian, mas Adrian akan selalu jagain aku kan? “ bisikku sambil terus terisak
          “ iya sayang... mas nggak bakal ninggalin kamu kok. Kamu kan adek mas satu – satunya, mas harus jagain kamu terus dong.. sudah nggak usah nangis lagi ya... “ sahutnya sambil terus menenangkanku
          “ makasih ya mas sudah jadi kakak terbaik buat aku “
          “ iya ruby... “

Saat itu adalah saat – saat paling mengesankan dalam hidupku. Bersama dengan kakak tercinta sungguh membuatku bahagia dan merasa nyaman sekali. Berada di dekapnya begitu hangat dan menenangkan sama seperti saat aku berada di pelukkan ibu dan ayah. Aku sangat bersyukur dikaruniai oleh Tuhan sebuah keluarga yang sangat menyayangi dan mencintai aku dengan tulus.

I miss u guys!!

Malem - malem kayak gini ditemani nyamuk yang beterbangan disana - sini tiba - tiba gue jadi kangen kepengen ngumpul bareng temen - temen katek gue. Di gereja gue ada yang namanya katekisasi, maksud dari katekisasi itu adalah untuk belajar mendalami alkitab dan iman percaya orang kristiani. Yang bisa ikut katekisasi adalah cewek atau cowok yang umurnya udah 16 tahun, masa belajar di katekisasi kurang lebih satu tahun. selama kurang lebih satu tahun gue belajar bareng temen - temen gue, namanya: angga, ashley, dwi, hendra, melda, nico, shynta, pras, yoli, yohana, dan valdo.Gue merasa mereka adalah temen baik gue, kita semua punya kebiasaan nongkrong di warungnya mba santi makan gorengan sehabis belajar katek. Selama dekat dengan mereka gue punya banyaaak banget kenangan sama mereka, udah ada empat orang yang kita buat surprise ultah nya, nih foto - fotonya
 ini dia foto saat angga (sepupu gue) ulang tahun (24-09-11), hadiahnya kue aja yaa

 ini foto saat nico ultah, kadonya j.co!!, he looks happy, kaos putih yang megang Jco

 nah kalo ini foto ultahnya yoli 29-09-11, hadiahnya lasagna, yang ultah yang pakai baju warna ungu

 ini saat - saat retreat katek bareng anak katek dari gereja yang lain. disini banyak banget kenangan, di sini gue dan temen - temen gue ngadain surprise buat ultahnya hendra, itu tuh yang pake kemeja batik yang duduk paling kanan,
 di tengah - tengah ini adalah koordinator pengajar di katekisasi namanya kak yeyen, she is so kind!!

 nah ini saat - saat mau pulang dari retreat di griya alam ciganjur depok
 saat natal cewek - cewek anak katek diminta nari saat perayaan natal di gereja gue, dari kiri ke kanan, yohana, gue, dan shynta
 kalo yang ini gue bareng sama melda, gue punya julukan buat dia, sweety...
 tepat jam 12 malam gue dan temen - temen gue pergi ke rumahnya dwi dan kasih dia kue, dan alhasil mukanya dicoret - coret deh pake krim kue.. maaf ya mba uwiing...


 foto - foto ini diambil setelah merayakan ultahnya angga di foto studia di Detos


 ini adalah foto saat - saat gue di sidi, maksudnya gue mengaku sendiri iman percaya gue ke Jesus Christ. ya dengan segenap hatiku!! 1-04-12





 dari atas dari kiri ke kanan: melda, gue, dwi, yoli, yohana, shynta, ashley
dari bawah dari kiri ke kanan: nico, angga, valdo, kak yeyen, hendra, dan pras
I will never forget you guys!! thanks for your kindness to me. I will always remeber you guys!!

Lima



LIMA
Seperti biasa pagi ini aku berdiri di depan halte bus menunggu bus yang menuju sekolahku. Saat aku menoleh ke kanan dan kekiri aku melihat kak Satrio dengan motornya berjalan menghampiriku.   
 
          “ ayo bareng lagi! “ serunya

Dengan senang hati aku menerima ajakannya. Di perjalanan mulai timbul pertanyaan di benakku, ‘ kenapa ya akhir – akhir ini kak sat baik kepadaku? Kenapa dia dengan senang hati menawarkan tumpangan kepadaku? Apakah dia tidak punya pacar sehingga dia dengan senang hati pergi ke sekolah bersamaku?’ pertanyaan – pertanyaan ini terus muncu di benakku sampai aku ingin mengeluarkannya. Dengan berani aku mengungkapkan rasa penasaranku,

          “ kak, kalau aku di boncengin sama kakak, nggak ada yang marah apa? “
          “ marah? Siapa yang marah? “
          “ ya pacar kakaklah... “
          “ gue nggak punya pacar. “
          “ oh. Kok kakak jadi baik sih sama aku? Tumben banget? “
          “ emangnya nggak boleh kalau gue baik sama lo? “
          “ ya nggak gitu juga sih, tapi kan aneh aja gitu, kenapa baru sekarang baiknya... “
          “ suka – suka gue dong. “ jawabnya cuek.

‘ aduh kak satrio ini terkadang baik banget tapi terkadang bisa sangat menyebalkan seperti Rafka ‘ keluhku dalam hati. Aku berpikir kalau kak Satrio sensi sekali saat aku berbicara tentang ‘pacaran’, mungkin kak Satrio mempunyai pengalaman yang buruk tentang masa lalunya. Buktinya setelah aku bertanya tentang pacarnya, dia langsung diam tidak seperti biasanya. Sesampainya di sekolahpun dia tidak berkata apa – apa kepadaku, saat aku mengucapkan terimakasih dia hanya membalasnya dengan anggukan kepala, wajahnya pun jadi berubah suram saat aku menatap wajahnyam aku jadi pensaran sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Satrio?...

Setelah bel pulang berbunyi aku berniat untuk mencari kak Satrio, aku ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi dengannya. Aku berjalan menuju kelasnya, dan aku menemukan kak Satrio sedang duduk di bangku yang letaknya persis di depan kelasnya. Aku perhatikan kak Satrio tertunduk lemas, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat membebani hatinya. Aku pun berjalan mendekatinya, mencoba menenangkan hatinya yang mungkin sedang galau.

          “ kak Sat baik – baik aja kan? “

Kak Satrio tetap tertunduk, dia tidak menjawab pertanyaanku, tatapannya kosong saat menunduk. Aku berusaha menanyakan lagi tentang kondisinya saat ini,

          “ kak, kakak nggak apa – apa kan? “ tanyaku sambil memegang bahunya. Seketika itu juga tubuh kak Satrio rebah ke pundakku, kak Satrio tidak sadarkan diri. Aku panik dan segera memanggil teman – temannya untuk membawa kak Satrio ke ruang UKS. 

Tampak sekali wajah kak Satrio pucat, tangannya dingin. Melihat kak Satrio tidak sadarkan diri, aku jadi sangat khawatir padanya. Saat kak Satrio dibaringkan di tempat tidur, Rafka muncul di depan pintu UKS dengan wajah yang sangat khawatir, dia buru – buru masuk dan menanyakan apa yang terjadi terhadap kak Satrio,

          “ ruby, sebenarnya apa yang barusan terjadi? Kenapa Satrio bisa tiba – tiba pingsan? “
          “ aku nggak tau kak. Tadi aku nyamperin kak Satrio, dan aku udah lihat dia sudah lemas, saat aku tanya dia kenapa, dia nggak menjawab apa – apa, aku tanya sampai dua kali tapi nggak ada jawaban, malah kak Satrio langsung tumbang. Kak Rafka tahu kalau kak Satrio punya penyakit apa? “
          “ setahu gue dia nggak punya penyakit apa – apa. Dulu pas dia masih smp dia juga pernah pingsan. Biasanya dia pingsan karena kondisinya yang ngedrop banget dan banyak beban yang dia pikirin. “
          “ emang beban apa yang sampai dia pikirin? “
          “ saat smp ayahnya meniggal dunia, karena dia adalah anak pertama jadi tanggung jawab keluarganya dibebankan ke dia semua. Selama smp dia terus kerja keras untuk membantu ekonomi keluarganya, sampai suatu hari kondisinya benar – benar drop dan harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. “

Mendengar penjelasan dari Rafka membuatku sadar betapa baiknya kak Satrio dan betapa tangguhnya kak Satrio dalam menjalani kehidupannya bersama keluarga tanpa seorang kepala rumah tangga. Aku tidak bisa membayangkan saat seorang anak yang biasa bergantung kepada sang ayah, dan saat sang ayah pergi untuk selamanya dia harus bisa menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Beban yang kak Satrio pikul memang sangat berat, tetapi semua beban itu seperti tidak ada karena keceriaan yang kak Satrio bawa setiap harinya. Pantas saja Rafka sangat panik saat mengetahui sahabatnya itu pingsan, saat itu Rafka sangat berbeda sekali. Aku bertanya kepadanya dan ia menjawabnya dengan sangat lugas, sifat yang selama ini ia tunjukkan tidak kelihatan sama sekali sekarang. 

Walaupun aku telah mendengar penjelasan tentang kak Satrio, ada satu pertanyaan besar, kenapa saat aku bertanya tentang pacarnya kak Satrio langsung diam seribu bahasa, apakah faktor lain ia pingsan karena ia memikirkan mantan pacarnya?

          “ kak, aku boleh nanya sesuatu nggak? “ tanyaku pada Rafka
          “ mau tanya apa? “
          “ tadi aku tanya tentang pacarnya, tapi dia langsung jawab dengan jutek. Memangnya ada apa sih dengan mantan pacarnya kak? “
          “ sebenarnya ini privasinya dia, tapi gue rasa lo cukup aman kalau gue cerita tentang masalah ini. “
          “ tenang kak, aku nggak bakalan ngebocorin cerita ini. “
          “ jadi sebenarnya saat Satrio kelas tiga smp, dia punya pacar namanya Delia. Delia itu adalah anak dari teman bisnis ayahnya Satrio. Saat bisnis ayahnya Satrio berkembang Delia sangat perhatian kepada Satrio, tetapi saat bisnis ayahnya mulai bangkrut Delia mulai meninggalkannya. Setelah di usut, ayahnya Delialah yang menyebabkan perusahaan ayah Satrio bangkrut, dan ternyata Delia yang selama ini sangat dicintai oleh Satrio hanya memanfaatkan keadaan Satrio yang kaya, dan penyebab ayahnya meninggal adalah frustasi karena telah dikhianati oleh rekan bisnisnya selama ini. Karena hal itulah Satrio jadi seperti ini, setiap ditanya tentang pacar, pasti dia lanngsung teringat dengan kejadian satu tahun yang silam.”

Aku hanya bisa terdiam saat mendengar cerita tentang masa lalu kak Satrio. ‘ kenapa ya ada orang yang sekejam itu? Kenapa dia harus memanfaatkan kekayaan keluarga Satrio? Padahal ayahnya juga seorang pebisnis? Aku tidak habis pikir dengan mantannya itu. ‘ pikirku dalam hati.

Setelah menunggu kira – kira selama lima belas menit, akhirnya kak Satrio sadar dari pingsannya. Aku bisa melihat rawut wajahnya yang sangat lelah dan banyak pikiran. Perlahan – lahan ia bangun dari tempat tidurnya, menatap kami – aku dan Rafka – dengan penuh arti, aku bisa mengartikan tatapannya kalau dia ingin berkata kalau kondisinya baik – baik saja dan jangan khawatir dengan kondisinya saat ini. Rafka langsung mendekatinya dan sambil memegang pundak sahabatnya ia berkata,

          “ sat, lo baik – baik aja kan? lokenapa lagi sih? “
          “ gue baik – baik aja kok raf. Gue cuma kecapean aja. Nggak usah dipikirin. “ katanya sambil tersenyum kepada Rafka

“ oya bi, nanti gue nggak bisa ngaterin lo pulang. Gue takut nanti lo kenapa – kenapa lagi. Nanti lo dianter Rafka aja ya...” sambung kak Satrio

          “ sudahlah kak. Nggak usah repot – repot aku bisa ko pulang sendiri. “ jawabku
          “ ia tuh bener... “ sahut Rafka

Kak Satrio pun langsung memegang tangan Rafka dengan sangat kuat, dan tampaknya kak Satrio ingin membisikkan sesuatu kepada Rafka tetapi suaranya terlalu keras untuk membisikkan sesuatu jadi aku dapat mendengar semuanya,

          “ ayolah raf, ini demi gue okey? Lo sahabat gue kan? Please raf, lo nggak mau terjadi apa – apa kan sama lo nanti? “
          “ iya deh iya sat... “ jawab Rafka terpaksa
          “ udah buruan pergi... “ sahut kak Satrio sambil mendorong Rafka
          “ iya sat iya. “

Rafka langsung pergi meninggalkan kak Satrio tanpa mengajakku pergi, sesaat aku hanya bisa terdiam,

          “ eh, jadi gue anterin nggak nih?! “ sahutnya dari parkiran motor

Aku terkaget dan langsung berpamitan kepada kak Satrio. Aku setengah berlari mendekati Rafka, dan aku pun langsung naik ke atas motornya. Perasaan yang kurasakan sungguh tidak keruan, ada perasaan senang, tidak menyangka, ini semua seperti mimpi. Bagaimana tidak, akhirnya aku diboncengi oleh Rafka, dibelakang aku hanya bisa tersenyum – senyum sendiri. Di tengah perjalanan Rafka bertanya kepadaku, 

          “ eh rumah lo dimana sih? “
          “ aku tinggal di jalan mawar no 96 kak. “

Setelah tahu alamat rumahku, Rafka langsung memacu motornya dan mengantarkanku sampai ke depan rumahku. Aku tidak lupa mengucapka terima kasih karena telah diantar pulang, walaupun aku tahu Rafka melakukannya terpaksa karena paksaan dari kak Satrio, ‘tetapi tidak apalah yang penting aku sudah pernah dibonceng oleh Rafka hehehe’ pikirku.