Hari ini Sosma STP Sahid bekerjasama dengan ABC program mengadakan workshop blogging. Acara ini diadakan di Gedung Auditorium STP Sahid Pondok Cabe, yang dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi STP Sahid.
Pembicara dalam workshop ini adalah seorang blogger, Ani Berta , yang telah lama terjun didalam dunia blogging. Ia telah banyak menulis artikel di dalam blognya, contoh blognya adalah: http://www.duniaspasi.blogspot.com/
Di dalam workshop ini, kita dapat belajar mengembangkan hobi blogging kita. Dari sekedar menulis, sampai mendapatkan penghasilan yang cukup menguntungkan. Teh Ani Berta, biasa pembicara workshop ini dipanggil, memulai workshop ini dengan menjelaskan dari awal pengertian blog, hingga membuat blog.
Banyak hal yang menarik dan tentunya bermanfaat saat menghadiri workshop ini. Kesan dan pesannya saat menghadiri workshop ini adalah, nggak rugi datang ke workshop ini, karena disini saya belajar untuk mengembangkan hobi saya dari hanya menulis di blog sampai saya dapat mendapatkan penghasilan dari saya menulis di blog.
about me
- wonderful life
- Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!
Jumat, 11 Oktober 2013
Selasa, 15 Januari 2013
OST film 5 cm.
ditanggal 12 bulan 12 tahun 2012, dunia perfilman Indonesia kedatangan film baru, judulnya 5 cm. film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama hasil karya Dony Dirgantoro. Film ini mengisahkan 5 orang sahabat, yaitu Genta, Zafran, Arial, Ian, dan juga Riani. 4 cowok dan satu cewek. mereka sudah lama bersahabat. dan pada suatu hari, mereka memutuskan untuk tidak berhubungan satu dengan yang lainnya selama tiga bulan. setelah tiga bulan berlalu, Genta sang leader mengajak teman - temannya untuk pergi ke gunung semeru untuk merayakan pertemuan mereka. saat pertemuan mereka, Arial membawa sang adik perempuan, yang disukai oleh Zafran, namanya Dinda. Genta mengajak teman - temannya untuk menaiki puncak gunung tertinggi di pulau jawa, yaitu mahameru. petualangan mereka dimulai. Di film 5 cm ini, penonton disuguhkan pemandangan alam yang sungguh indah. Jujur gue sangat takjum dengan pemandangan alamnya, indah banget. selain jalan cerita, dan juga setting tempat yang sangat indah, original soundtrack dari film ini menambah kehebatan film ini. OST 5 cm diisi oleh band papan atas Indonesia, yaitu Nidji. Nidji mencinptakan beberapa lagu untuk mengisi soundtrack di film ini, yaitu di atas awan, rahasia hati, dan juga tak akan pernah mati. di bawah ini, lirik lagu dari masing - masing lagu:
Di Atas Awan
Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan
Reff: Kita menantang impian
di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama
Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
mencari tempat kita di masa depan
berjanji kita tak akan putus asa
walaupun semua tak akan pudar
back to Reff
Rahasia Hati
Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Berdoa dan beranikan diri
sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Tak akan pernah Mati
Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati
Di Atas Awan
Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan
Reff: Kita menantang impian
di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama
Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
mencari tempat kita di masa depan
berjanji kita tak akan putus asa
walaupun semua tak akan pudar
back to Reff
Rahasia Hati
Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Berdoa dan beranikan diri
sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Tak akan pernah Mati
Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati
Jumat, 04 Januari 2013
chicken roll with cheese
Bahan:
- dada ayam fillet
- kraft quick melt
- merica secukupnya
- garam secukupnya
- tepung secukupnya
- satu butir telur
- selada
- nasi
- margarin
- minyak goreng
- mayonese
- saus sambal
Chicken Roll with Cheese
- gepengkan dada ayam yang telah difillet
- taburi garam dan merica secukupnya
- iris kraft quick melt dan taruh di atas dada ayam lalu gulung
- panggang dada ayam yang telah digulung kedalam microwave selama 2 menit
- celupkan chicken roll kedalam telur yang telah dikocok
- gulingkan chichken roll ke dalam tepung terigu
- goreng chicken roll hingga warnanya coklat keemasan
- dadar telur di atas teflon
- pipihkan nasi yang telah dicampur dengan margarin
- lalu gulung dan potong menjadi dua bagian
- iris daun selada yang sudah dicuci
- taruh diatas piring saji
- letakkan chicken roll with cheese yang telah dipotong dua
- siram dengan mayonese dan saus sambal
- hidangkan bersama dengan nasi gulung telur
- Chicken roll with cheese siap untuk disantap.
Memori Maura
Saat pikiran ini penat
dengan berbagai pekerjaan yang begitu menumpuk, Maura sejenak melepaskan kepenatannya
dengan membuka sebuah buku yang telah usang tertutup debu. ‘Sudah begitu lama’,
pikir Maura. Sudah lima tahun buku ini tidak pernah dibuka lagi sejak Maura
memutuskan untuk melupakan setiap kenangannya di SMA. Kali ini, entah mengapa,
Maura ingin sekali membuka buku kenangan yang sekarang telah berada di pangkuannya.
Ada sesuatu hal yang memaksanya dengan halus untuk membuka buku kenangan itu.
Sambil duduk termenung di atas sofa yang yang berada di ruang tamu rumahnya,
Maura mulai meniup debu yang begitu tebal menutupi sampul buku kenangan itu.
Pada halaman pertama tampak foto gedung sekolah Maura yang dulu.
‘sudah lama Aku tidak mengunjungi bangunan tua ini...’ kenang Maura dalam hati.
Memasuki halaman kedua, tampak foto serta sedikit pidato dari Bapak Kepala SMA
Rafles mengenai kesan dan pesannya kepada angkatan 20, yaitu angkatan Maura.
Halaman demi halaman terbuka, setiap halaman kembali mengingatkan Maura kepada
masa – masa SMAnya dulu yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat halaman demi halaman terbuka tanpa beban, namun saat
memasuki halaman yang memuat profil kelas dua belas ipa tiga, sejenak Maura
diam dalam kesunyian. Bayang – bayang masa lalu itu kembali muncul di benak
Maura. Setiap kejadian itu seperti terekam ulang di pikiran Maura, apalagi saat
Maura menatap lurus ke arah sebuah foto laki – laki yang bernama Maxi
Ferdinand. Kenangan itu kembali muncul, kenangan Maura saat pertama kali
bertemu Maxi.
***
Seluruh peserta MOS sekarang berhamburan di tengah
lapangan. Sekarang mereka sedang sibuk meminta tanda tangan para anggota OSIS.
Banyak hal yang harus peserta MOS lakukan agar dapat mendapatkan tanda tangan
dari para anggota OSIS. Salah satunya adalah dengan berjoget di tengah
lapangan. Jika ada yang bersedia untuk berjoget di tengah lapangan, maka
peserta tersebut bisa mendapatkan tanda tangan seluruh anggota OSIS. Setelah
cukup lama menunggu peserta yang bersedia, akhirnya sesosok cowok bertubuh
tinggi dan berkulit sawo matang menyembul dari antara kerumunan peserta MOS.
Dengan begitu semangat cowok itu langsung maju ke tengah lapangan.
“ya sekarang sudah ada yang bersedia nih. Siapa nama kamu?”
tanya seorang anggota OSIS
“nama saya Maxi Ferdinand kak!..”jawab Maxi penuh semangat.
“okey! Sekarang kamu tunjuk teman kamu untuk temenin kamu
joget di tengah lapangan..”
Sambil menggaruk – garuk kepalanya, Maxi mencoba untuk
berpikir kira – kira siapa yang akan diajaknya untuk berjoget bersamanya,
sambil terus berpikir Maxi menyapukan pandangannya kesekeliling. Saat sedang
asyik mencari, tiba – tiba saja matanya tertuju kepada sosok cewek bertubuh
sedang berkulit kuning langsat yang sedari tadi terus memainkan rambutnya yang
terkepang dua itu.
“saya pilih dia kak!” sahut Maxi sambil menunjuk ke arah
Maura Aurelia, cewek yang sudah merebut pandangan Maxi.
Maura terlihat kaget saat dirinya yang ditunjuk Maxi untuk
berjoget bersamanya di tengah lapangan. Dengan mulut yang masih ternganga,
Maura di ajak untuk maju ke tengah lapangan. Sudah tidak ada pilihan, pikir
Maura dalam hati. Dengan sangat terpaksa Maura menuruti perintah salah satu
anggota OSIS untuk berjoget bersama Maxi. Untuk menahan rasa malunya, Maura
terus menerus menunduk saat berjoget bersama Maxi, namun disela – sela ‘penampilan’
mereka, Maxi berbisik kepada Maura
“udah bawa enjoy aja lagi... nggak usah malu kayak gitu..”
Mendengar sepenggal kalimat dari Maxi itu, Maura menjadi lebih
tenang menghadapi para penonton yang terus menerus menyoraki mereka. Ada
sedikit perasaan lega saat Maxi berbicara seperti itu, padahal Maura tidak
mengenal Maxi. Ya walaupun mereka berdua tidak saling kenal, namun ada sesuatu
rasa yang nyaman yang dirasakan Maura saat bersama dengan Maxi.
Hampir lima menit sudah Maxi dan Maura berjoget bersama di
tengah lapangan, dan ditonton oleh begitu banyak orang. Setelah lagu pengiring
telah selesai di putar, akhirnya mereka berdua berhenti berjoget. Semua orang
yang menonton ‘penampilan’ Maxi dan Maura begitu terkesan dan segera memberikan
tepuk tangan yang begitu meriah. Karena kerelaan mereka untuk berjoget di
tengah lapangan, akhirnya mereka mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota
OSIS.
“eh, kita belum kenalan ya?... kenalin nama gue Maxi
Ferdinand.. panggil aja Maxi.. kalau nama lo siapa?” tanya Maxi setelah mereka
selesai mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS
“nama Aku Maura Aurelia, panggil aja Maura..” sahut Maura
sambil menjabat tangan Maxi yang tadi terarah padanya.
Dari kejadian itulah, Maura dan Maxi pertama kali
berkenalan, dan dari kejadian itu pula, hubungan mereka terus berlanjut menjadi
sebuah hubungan persahabatan. Walau sikap dan sifat Maura dan Maxi sangat
berbeda namun perbedaan itu tidak menjadikan jarak bagi mereka berdua untuk
menjalin persahabatan. Sikap Maura yang
begitu lembut, pendiam, dan juga sabar sangat bertolak belakang dengan sikap
Maxi yang begitu berantakan, jahil, ramai, dan juga tidak sabaran.
***
“Ayo Maura... kejar gue kalo lo bisa!! Hahaha...” seru Maxi
dengan semangatnya sambil terus mengayuh pedal sepedanya.
“Tungguin Aku dong Maxi!.... capek nih..” sahut Maura yang
berusaha mengayuh sepedanya, namun Maura tertinggal jauh oleh Maxi yang sudah
jauh berjalan di depannya. Mendengar seruan dari sahabatnya itu, terlihat dari
kejauhan Maxi memutar sepedanya dan mengayuh sepedanya, berjalan menuju Maura
yang sedari tadi telah terhenti karena begitu kelelahan setelah memutarin hutan
kota sebanyak lima kali putaran.
“haduuh.. lo kok lemah banget sih?...” goda Maxi sambil
mengacak – acak rambut Maura
“Max?... kamu kenapa?” tiba – tiba rawut wajah Maura
berubaha menjadi begitu sedih
“gue nggak kenapa – kenapa kok...”
“tapi itu....” Maura segera mengarahkan jari telunjuknya ke
arah hidung Maxi yang mengeluarkan darah. Maxi tersentak, dan segera menyeka
tetesan darah yang keluar dari hidungnya.
“oh ini.. nggak apa – apa kok ini. Udah biasa hehe..” Maxi
berusaha menenangkan Maura yang begitu panik melihat darah yang menetes dari
hidung Maxi. Sudah dua tahun Maura mengenal dan begitu dekat dengan Maxi, namun
ini pertama kalinya Maura melihat Maxi mimisan, dan yang ada dipikiran Maura
adalah kalau Maxi sedang sakit, namun Maura tidak mengetahui penyakit apa yang
diderita Maxi.
“kamu sakit apa Maxi?” tanya Maura khawatir
“Gue nggak sakit apa – apa kok Maura... tenang aja yah,
nggak usah khawatir gitu...”
Di kedalaman hati Maxi, ia bergumam di dalam hatinya,‘maaf
ya Maura, gue nggak bisa kasih tahu lo tentang kondisi gue saat ini. Gue sayang
banget sama lo... gue nggak mau lo kecewa sama gue karena kondisi gue... maaf
banget ya ra. Pasti cepat atau lambat lo bakalan tau kok kondisi gue yang
sebenarnya...’.
***
Hampir dua tahun Maxi menyimpan perasaan istimewa kepada
Maura, namun sampai saat ini Maxi tidak berani untuk mengungkapkannya kepada
Maura karena Maxi menyadari kondisinya yang lemah. Dalam pikiran Maxi, ia ingin
sekali membahagiakan Maura selama sisa hidupnya. Dan hal itu dilakukannya
setiap hari. Perasaan yang begitu istimewa ini semakin hari semakin mendalam.
Ingin rasanya Maxi mengungkapkan perasaannya, namun Maxi belum siap. Ia takut
kalau nanti Maura menolaknya karena Maura sudah menganggap Maxi sebagai
sahabatnya. Sampai suatu hari Maxi mencoba bertanya kepada Maura
“Maura... seandainya ada seseorang yang deket sama lo terus
dia suka sama lo gimana?”
“hhhmm... gimana ya? emangnya siapa yang suka sama Aku
Max?”
“eh.. ada deh rahasia hehehe..”
“yah Maxi kok main rahasiaan sih sama Aku?”
“suatu saat lo bakalan tahu kok Ra..”
“ooh yaudah deh.. menurut Aku sih kalau cowoknya itu baik
ya Akunya nggak masalah”
Sejenak Maxi terdiam dalam kebisuan. Pikirannya melayang –
layang membayangkan bagaimana kalau dirinya menyatakan perasaannya kepada
Maura.
“Maura, sekarang ini lo lagi suka sama seseorang nggak?”
tanya Maxi lagi dengan wajah yang sangat serius. Mendengar pertanyaan Maxi,
Maura sejenak terdiam dan mulai berpikir.
“hhmm.. kayaknya ada deh Max”
“boleh gue tahu siapa orangnya?”
“duuh ini tuh rahasia! Nggak boleh ada yang tahu termasuk
kamu Max...”
Max terkesiap saat mendengar pernyataan Maura, ‘kira – kira
siapa yang ya disuaki Maura, apa mungkin itu gue? ah nggak.. nggak mungkin,
plis Max jangan kepedean dulu...’ gumam Maxi dalam hati. Perasaan Maxi semakin
hari semakin kalut, Ia bingung harus berbuat apa, apa Ia harus menyatakan
perasaannya atau terus memendamnya.
Hari terus berganti hari, dan minggu pun berganti minggu.
Kondisi lemah Maxi semakin hari semakin terlihat oleh banyak orang tidak
terkecuali Maura. Suatu hari saat pelajaran olahraga, semua murid – murid
berhamburan di tengah lapangan. Kali ini mereka diharuskan untuk bermain voli,
namun sebelumnya mereka harus mengelilingi sekolah sebanyak dua kali putaran.
Di tengah teriknya matahari, Maxi berusaha mempertahankan kondisi fisiknya yang
mulai melemah. Sesekali ia berhenti hanya untuk menenangkan kepalanya yang
sangat pusing, dan kemudian kembali berlari dan bergabung bersama teman –
temannya yang sudah berlari jauh di depannya.
Setelah semua murid berkumpul, permainan voli pun dimulai.
Namun baru saja Maxi ingin menyervis bola, tiba – tiba saja ia kehilangan
keseimbangan, kepalanya yang sedari tadi begitu pusing kini bertambah pusing
dan menyakitkan, pandangannya pun menjadi kabur, dan Maxi terjatuh dan terkapar
di tengah lapangan. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi panik.
Murid – murid yang berada di lapangan segera berlari dan mendekati tubuh Maxi
yang kini terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Segera
teman – teman Maxi menggotong Maxi ke ruang UKS, sedangkan Pak Bagus segera mencarikan taksi
untuk membawa Maxi ke rumah sakit.
Selama seminggu Maxi dirawat di rumah sakit. Setiap harinya
teman – teman Maxi silih berganti datang untuk menjenguknya, tidak terkecuali
Maura. Setiap hari Maura terus pergi menjenguk Maxi setelah pulang sekolah, dan
biasanya Maura selalu membawakan buah kepada Maxi atau tidak sebuah majalah
untuk sekedar menemani Maxi.
“Max.. sebenarnya kamu sakit apa sih?” tanya Maura di sela
– sela kunjungannya yang keempat kalinya
“gue cuma kecapean kok Ra.. nggak usah khawatir lagi yah”
“Aku pasti khawatir sama kamu, kamu kan sahabat Aku Max...
lain kali kamu nggak boleh capek – capek lagi ya!...”
“oke deh! Siap bos Maura.. hahaha”
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Maxi akhirnya
dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun ada beberapa hal yang tidak
biasa yang dilakukan Maxi yaitu, mengulang kenangan – kenangan indah bersama
Maura. Kenangan pertama Maxi adalah saat pertama kali ia bertemu dengan Maura.
Suatu hari saat pelajaran kosong, Maxi mengajak Maura untuk
keluar kelas. Sedang di lapangan telah berhamburan begitu banyak murid – murid.
“Max.. kita mau ngapain sih?” tanya Maura kebingungan
“lo masih inget nggak pertama kali kita ketemu?”
Maura hanya mengangguk, lalu Maxi mengajak Maura turun ke
lapangan. Setelah berada di tengah lapangan, Maxi memohon kepada Maura untuk
mengulangi adegan disaat – saat mereka berjoget bersama. Kebingungan Maura
semakin bertambah, sekarang ia benar – benar tidak mengerti mengapa ia harus di
tengah lapangan ini, dan berjoget bersama Maxi seperti saat pertama kali mereka
bertemu.
“plis Ra... gue mohon banget sama lo. Gue kangen masa –
masa kita baru pertama kali ketemu... plis ya Ra...” pinta Maxi dengan wajah
memelas. Dengan berat hati Maura menuruti keinginan Maxi yang agak ‘gila’ itu.
Sama seperti dulu, Maxi kembali membisikkan kata – kata yang sama saat Maura
gugup.
Kenangan – kenangan indah yang dulu, kembali diulang Maxi.
Ia ingin sekali menikmati akhir hidupnya bersama seseorang yang sangat ia
cintai walau Maura tidak pernah tahu betapa Maxi sangat mencintainya. Beberapa
tempat yang telah menyimpan banyak memori sudah dikunjungi satu persatu, mulai
dari kota tua, taman bunga, danau, dan juga pantai. Tempat – tempat itu telah
mengukir banyak kenangan manis Maxi bersama Maura.
Setelah sekian lama waktu terus berjalan, penyakit yang di
derita Maxi semakin parah. Di dalam hatinya, Maxi ingin sekali segera
mengungkapkan setiap perasaannya. Namun belum sempat Maxi mengungkapkan
perasaannya, Maura lebih dahulu mengungkapkan perasaannya. Suatu saat di sebuah
taman kota, Maura memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Max.. Aku mau cerita sesuatu sama kamu”
“cerita apa?”
“sebenernya, udah dari dulu, Aku suka sama seseorang, tapi
sampai sekarang Aku nggak berani nyatain perasaan Aku ke dia, Aku takut..”
“emangnya siapa cowok yang lo suka Ra?”
“hhmm.. tapi kamu jangan marah ya Max.. Aku suka sama kak
Willy”
Jantung Maxi seperti berhenti sejenak, rasanya tiba – tiba
ada sebilah pisau yang menghujam jantungnya, sakit, sakit sekali. Mendengar
pernyataan Maura, Maxi tidak dapat berkata – kata lagi. Maxi benar – benar
tidak percaya kalau Maura menyukai kakaknya sendiri. Maxi ingin sekali
menangis, namun Ia tidak ingin menangis di depan Maura. Maxi berusaha menahan
setiap perasaan sakit hatinya.
“Max.. kamu nggak masalah kan kalau Aku suka sama kakak
kamu?”
“eh.. hmm.. nggak apa – apa kok.” hanya kata – kata itu
yang dapat keluar dari mulut Maxi melalui sisa – sisa kekuatannya.
Tiga hari setelah pertemuan di taman kota itu, Maxi tidak
terlihat lagi di sekolah. Maura panik sekaligus cemas karena sahabtnya itu
tidak terlihat di sekolah dan juga tidak bisa dihubungi. Sampai suatu ketika
Maura mencoba menghubungi Willy, kakak Maxi.
“Maxi diopname di rumah sakit..” tutur Willy dari ujung
telepon
“sebenernya Maxi sakit apa sih kak?”
“Sejak kecil, Maxi menderita kanker otak Ra. Dan sekarang
kondisinya tambah kritis..
”
Maura tersentak, dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak
menyangka kalau selama ini Maxi menderita kanker otak. Dibalik senyuma
kegembiraannya ternyata Maxi menyimpan penyakit yang mematikan. Tetes air mata
perlahan mengalir keluar dari kedua mata Maura. Dengan segera Maura pergi ke
rumah sakit tempat Maxi di rawat.
“kak....” sahut Maxi lirih
“iya.. lo kenapa Max?” Willy tersentak kaget saat Maxi
memanggilnya
“tolong jaga Maura ya... dia cinta sama lo...”. Willy
sejenak terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Maxi. ‘menjaga Maura? Maura
cinta sama gue?’ tanya itu muncul di pikiran Willy. Walau masih tidak mengerti
akan permintaan adiknya itu, namun Willy mengiyakan permintaan terakhir Maxi.
Sesaat setelah itu, Maura tiba di rumah sakit. Di sana,
telah terbaring dengan ketidakberdayaan. Berbagai alat terpasang di tubuh Maxi.
Melihat kondisi Maxi yang begitu kritis, Maura kembali meneteskan air mata.
Dengan langkah gontai Maura berjalan mendekati Maxi.
“Maxi.. maafin Aku... maafin Aku karna nggak pernah bisa
ngerti kondisi kamu yang sebenernya.. maafin Aku....” bisik Maura lirih
Maxi yang terbaring lemah berusaha menyadarkan dirinya
kembali. Di akhir hidupnya ini, Ia ingin menungkapkan setiap perasaannya
“makasih banyak ya Maura.... buat semua..... yang udah lo
kasih..... ke gue..... maafin gue..... kalau gue.... nggak bisa... jadi sahabat....
yang baik... buat lo..... Tapi... satu hal.... yang perlu... lo tau... kalau
gue.... sayang banget..... sama lo..... gue cinta banget..... sama lo... lebih
dari sekedar sahabat... perasaan ini... udah jatuh terlalu dalam... makasih....
buat segala kenangan indah..... yang udah kita lalui.. “ dengan sisa – sisa
kekuatan Maxi berusaha mengungkap setiap perasaannya
Maxi
kemudian merengkuh tangan Maura dan Willy, Maxi kembali mengutarakan
perasaannya dengan sisa nafasnya, “Ra.. Aku... sayang... sayang... banget..
sama... kamu... I.. love.... you... so much.... titip.... Maura... ya kak....”
Setelah detik itu berlalu, tidak ada lagi helaan nafas.
Semua sunyi. Mata yang redup itu kini telah terpejam. Terpejam untuk selamanya.
Kesunyian itu akhirnya terpecah oleh suara tangisan. Tetesan air mata terus
mengalir dari banyak mata di ruangan itu. Semua yang ada disana menangisi
kepergian seorang anak, adik, cucu, dan juga sahabat tercinta mereka. Sosok
yang begitu periang kini telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi senyum
kebahagiaan yang dipancarkannya. Tidak ada lagi senda gurau, tidak ada lagi
tingkah konyolnya. Kebahagiaan itu telah pergi. Walau raga itu telah membeku,
dan nafas itu telah berhenti, namun setiap kenangan yang ditorehkannya masih
terbekas dan akan selalu terkenang di hati setiap orang.
***
Air mata itu kembali menetes. Rasa sesal itu kembali
membayangi Maura. Ia menyesal karena Ia tidak pernah bisa peka terhadap setiap
perhatian Maxi kepadanya. Ia menyesal karena tidak pernah tahu kondisi Maxi
yang sebenarnya. Maura sungguh menyesal. Namun segala penyesalan tidak akan
pernah terbayar karena Maxi telah pergi untuk selamanya.
“Maaf Max... maafin Aku...” sepenggal kalimat itu terucap
dari mulut Maura yang sedari tadi hanya membisu.
Dan
sekarang sudah enam tahun sejak kepergian Maxi. Walau cukup lama rentang waktu
itu, namun Maura masih teringat jelas dengan setiap kenangan yang pernah ia
lewati bersama Maxi. Karena setiap kejadian yang dijadikan kenangan itu akan
selalu ada dan terekam di dalam memori Maura.
Langganan:
Komentar (Atom)

