about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Jumat, 11 Oktober 2013

Workshop Blogging (dari hobby jadi profesi)

Hari ini Sosma STP Sahid bekerjasama dengan ABC program mengadakan workshop blogging. Acara ini diadakan di Gedung Auditorium STP Sahid Pondok Cabe, yang dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi STP Sahid.

 Pembicara dalam workshop ini adalah seorang blogger, Ani Berta , yang telah lama terjun didalam dunia blogging. Ia telah banyak menulis artikel di dalam blognya, contoh blognya adalah: http://www.duniaspasi.blogspot.com/

Di dalam workshop ini, kita dapat belajar mengembangkan hobi blogging kita. Dari sekedar menulis, sampai mendapatkan penghasilan yang cukup menguntungkan. Teh Ani Berta, biasa pembicara workshop ini dipanggil, memulai workshop ini dengan menjelaskan dari awal pengertian blog, hingga membuat blog.

Banyak hal yang menarik dan tentunya bermanfaat saat menghadiri workshop ini. Kesan dan pesannya saat menghadiri workshop ini adalah, nggak rugi datang ke workshop ini, karena disini saya belajar untuk mengembangkan hobi saya dari hanya menulis di blog sampai saya dapat mendapatkan penghasilan dari saya menulis di blog.

Selasa, 15 Januari 2013

OST film 5 cm.

ditanggal 12 bulan 12 tahun 2012, dunia perfilman Indonesia kedatangan film baru, judulnya 5 cm. film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama hasil karya Dony Dirgantoro. Film ini mengisahkan 5 orang sahabat, yaitu Genta, Zafran, Arial, Ian, dan juga Riani. 4 cowok dan satu cewek. mereka sudah lama bersahabat. dan pada suatu hari, mereka memutuskan untuk tidak berhubungan satu dengan yang lainnya selama tiga bulan. setelah tiga bulan berlalu, Genta sang leader mengajak teman - temannya untuk pergi ke gunung semeru untuk merayakan pertemuan mereka. saat pertemuan mereka, Arial membawa sang adik perempuan, yang disukai oleh Zafran, namanya Dinda. Genta mengajak teman - temannya untuk menaiki puncak gunung tertinggi di pulau jawa, yaitu mahameru. petualangan mereka dimulai. Di film 5 cm ini, penonton disuguhkan pemandangan alam yang sungguh indah. Jujur gue sangat takjum dengan pemandangan alamnya, indah banget. selain jalan cerita, dan juga setting tempat yang sangat indah, original soundtrack dari film ini menambah kehebatan film ini. OST 5 cm diisi oleh band papan atas Indonesia, yaitu Nidji. Nidji mencinptakan beberapa lagu untuk mengisi soundtrack di film ini, yaitu di atas awan, rahasia hati, dan juga tak akan pernah mati. di bawah ini, lirik lagu dari masing - masing lagu:

Di Atas Awan

Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan

Reff: Kita menantang impian
        di atas awan kita kan menang
        Kita penakluk dunia
        di atas awan kita kan menang, menang

Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama

Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
            mencari tempat kita di masa depan
            berjanji kita tak akan putus asa
            walaupun semua tak akan pudar
back to Reff

Rahasia Hati

Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
     I wanna love you like the huricane
     I wanna love you like the mountain rain
     So wild so pure
     So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
    Berdoa dan beranikan diri
     sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you

Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku

Tak akan pernah Mati

Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama

Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
        Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
        Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati



Jumat, 04 Januari 2013

chicken roll with cheese

akhir - akhir ini gue lagi iseng mencoba resep baru. dan tadi siang, gue membuat chicken roll with cheese. dada ayam yang di fillet, lalu diisi keju, trus digulung, dipanggang, ditaburi tepung lalu digoreng. dilengkapi dengan nasi gulung telur, chicken roll with cheese ini semakin lezat. silahkan dicoba resepnya:
Bahan:
  • dada ayam fillet
  • kraft quick melt
  • merica secukupnya
  • garam secukupnya
  • tepung secukupnya
  • satu butir telur
  • selada
  • nasi
  • margarin
  • minyak goreng
  • mayonese
  • saus sambal
Cara membuat:
Chicken Roll with Cheese
  • gepengkan dada ayam yang telah difillet
  • taburi garam dan merica secukupnya
  • iris kraft quick melt dan taruh di atas dada ayam lalu gulung
  • panggang dada ayam yang telah digulung kedalam microwave selama 2 menit
  • celupkan chicken roll kedalam telur yang telah dikocok
  • gulingkan chichken roll ke dalam tepung terigu 
  • goreng chicken roll hingga warnanya coklat keemasan 
Nasi Gulung Telur
  • dadar telur di atas teflon
  • pipihkan nasi yang telah dicampur dengan margarin
  • lalu gulung dan potong menjadi dua bagian
Cara penyajian:
  • iris daun selada yang sudah dicuci
  • taruh diatas piring saji
  • letakkan chicken roll with cheese yang telah dipotong dua
  • siram dengan mayonese dan saus sambal
  • hidangkan bersama dengan nasi gulung telur
  • Chicken roll with cheese siap untuk disantap.








 

Memori Maura



Saat pikiran ini penat dengan berbagai pekerjaan yang begitu menumpuk, Maura sejenak melepaskan kepenatannya dengan membuka sebuah buku yang telah usang tertutup debu. ‘Sudah begitu lama’, pikir Maura. Sudah lima tahun buku ini tidak pernah dibuka lagi sejak Maura memutuskan untuk melupakan setiap kenangannya di SMA. Kali ini, entah mengapa, Maura ingin sekali membuka buku kenangan yang sekarang telah berada di pangkuannya. Ada sesuatu hal yang memaksanya dengan halus untuk membuka buku kenangan itu. Sambil duduk termenung di atas sofa yang yang berada di ruang tamu rumahnya, Maura mulai meniup debu yang begitu tebal menutupi sampul buku kenangan itu.

          Pada halaman pertama tampak foto gedung sekolah Maura yang dulu. ‘sudah lama Aku tidak mengunjungi bangunan tua ini...’ kenang Maura dalam hati. Memasuki halaman kedua, tampak foto serta sedikit pidato dari Bapak Kepala SMA Rafles mengenai kesan dan pesannya kepada angkatan 20, yaitu angkatan Maura. Halaman demi halaman terbuka, setiap halaman kembali mengingatkan Maura kepada masa – masa SMAnya dulu yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat halaman  demi halaman terbuka tanpa beban, namun saat memasuki halaman yang memuat profil kelas dua belas ipa tiga, sejenak Maura diam dalam kesunyian. Bayang – bayang masa lalu itu kembali muncul di benak Maura. Setiap kejadian itu seperti terekam ulang di pikiran Maura, apalagi saat Maura menatap lurus ke arah sebuah foto laki – laki yang bernama Maxi Ferdinand. Kenangan itu kembali muncul, kenangan Maura saat pertama kali bertemu Maxi.

***

          Seluruh peserta MOS sekarang berhamburan di tengah lapangan. Sekarang mereka sedang sibuk meminta tanda tangan para anggota OSIS. Banyak hal yang harus peserta MOS lakukan agar dapat mendapatkan tanda tangan dari para anggota OSIS. Salah satunya adalah dengan berjoget di tengah lapangan. Jika ada yang bersedia untuk berjoget di tengah lapangan, maka peserta tersebut bisa mendapatkan tanda tangan seluruh anggota OSIS. Setelah cukup lama menunggu peserta yang bersedia, akhirnya sesosok cowok bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang menyembul dari antara kerumunan peserta MOS. Dengan begitu semangat cowok itu langsung maju ke tengah lapangan.

          “ya sekarang sudah ada yang bersedia nih. Siapa nama kamu?” tanya seorang anggota OSIS

          “nama saya Maxi Ferdinand kak!..”jawab Maxi penuh semangat.

     “okey! Sekarang kamu tunjuk teman kamu untuk temenin kamu joget di tengah lapangan..”

          Sambil menggaruk – garuk kepalanya, Maxi mencoba untuk berpikir kira – kira siapa yang akan diajaknya untuk berjoget bersamanya, sambil terus berpikir Maxi menyapukan pandangannya kesekeliling. Saat sedang asyik mencari, tiba – tiba saja matanya tertuju kepada sosok cewek bertubuh sedang berkulit kuning langsat yang sedari tadi terus memainkan rambutnya yang terkepang dua itu.

          “saya pilih dia kak!” sahut Maxi sambil menunjuk ke arah Maura Aurelia, cewek yang sudah merebut pandangan Maxi.

          Maura terlihat kaget saat dirinya yang ditunjuk Maxi untuk berjoget bersamanya di tengah lapangan. Dengan mulut yang masih ternganga, Maura di ajak untuk maju ke tengah lapangan. Sudah tidak ada pilihan, pikir Maura dalam hati. Dengan sangat terpaksa Maura menuruti perintah salah satu anggota OSIS untuk berjoget bersama Maxi. Untuk menahan rasa malunya, Maura terus menerus menunduk saat berjoget bersama Maxi, namun disela – sela ‘penampilan’ mereka, Maxi berbisik kepada Maura

          “udah bawa enjoy aja lagi... nggak usah malu kayak gitu..”

          Mendengar sepenggal kalimat dari Maxi itu, Maura menjadi lebih tenang menghadapi para penonton yang terus menerus menyoraki mereka. Ada sedikit perasaan lega saat Maxi berbicara seperti itu, padahal Maura tidak mengenal Maxi. Ya walaupun mereka berdua tidak saling kenal, namun ada sesuatu rasa yang nyaman yang dirasakan Maura saat bersama dengan Maxi.

          Hampir lima menit sudah Maxi dan Maura berjoget bersama di tengah lapangan, dan ditonton oleh begitu banyak orang. Setelah lagu pengiring telah selesai di putar, akhirnya mereka berdua berhenti berjoget. Semua orang yang menonton ‘penampilan’ Maxi dan Maura begitu terkesan dan segera memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Karena kerelaan mereka untuk berjoget di tengah lapangan, akhirnya mereka mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS. 

          “eh, kita belum kenalan ya?... kenalin nama gue Maxi Ferdinand.. panggil aja Maxi.. kalau nama lo siapa?” tanya Maxi setelah mereka selesai mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS

          “nama Aku Maura Aurelia, panggil aja Maura..” sahut Maura sambil menjabat tangan Maxi yang tadi terarah padanya.

          Dari kejadian itulah, Maura dan Maxi pertama kali berkenalan, dan dari kejadian itu pula, hubungan mereka terus berlanjut menjadi sebuah hubungan persahabatan. Walau sikap dan sifat Maura dan Maxi sangat berbeda namun perbedaan itu tidak menjadikan jarak bagi mereka berdua untuk menjalin persahabatan.  Sikap Maura yang begitu lembut, pendiam, dan juga sabar sangat bertolak belakang dengan sikap Maxi yang begitu berantakan, jahil, ramai, dan juga tidak sabaran.

***

          “Ayo Maura... kejar gue kalo lo bisa!! Hahaha...” seru Maxi dengan semangatnya sambil terus mengayuh pedal sepedanya. 

          “Tungguin Aku dong Maxi!.... capek nih..” sahut Maura yang berusaha mengayuh sepedanya, namun Maura tertinggal jauh oleh Maxi yang sudah jauh berjalan di depannya. Mendengar seruan dari sahabatnya itu, terlihat dari kejauhan Maxi memutar sepedanya dan mengayuh sepedanya, berjalan menuju Maura yang sedari tadi telah terhenti karena begitu kelelahan setelah memutarin hutan kota sebanyak lima kali putaran.

          “haduuh.. lo kok lemah banget sih?...” goda Maxi sambil mengacak – acak rambut Maura

          “Max?... kamu kenapa?” tiba – tiba rawut wajah Maura berubaha menjadi begitu sedih

          “gue nggak kenapa – kenapa kok...” 

          “tapi itu....” Maura segera mengarahkan jari telunjuknya ke arah hidung Maxi yang mengeluarkan darah. Maxi tersentak, dan segera menyeka tetesan darah yang keluar dari hidungnya.

          “oh ini.. nggak apa – apa kok ini. Udah biasa hehe..” Maxi berusaha menenangkan Maura yang begitu panik melihat darah yang menetes dari hidung Maxi. Sudah dua tahun Maura mengenal dan begitu dekat dengan Maxi, namun ini pertama kalinya Maura melihat Maxi mimisan, dan yang ada dipikiran Maura adalah kalau Maxi sedang sakit, namun Maura tidak mengetahui penyakit apa yang diderita Maxi.

          “kamu sakit apa Maxi?” tanya Maura khawatir

          “Gue nggak sakit apa – apa kok Maura... tenang aja yah, nggak usah khawatir gitu...”

          Di kedalaman hati Maxi, ia bergumam di dalam hatinya,‘maaf ya Maura, gue nggak bisa kasih tahu lo tentang kondisi gue saat ini. Gue sayang banget sama lo... gue nggak mau lo kecewa sama gue karena kondisi gue... maaf banget ya ra. Pasti cepat atau lambat lo bakalan tau kok kondisi gue yang sebenarnya...’.

***

          Hampir dua tahun Maxi menyimpan perasaan istimewa kepada Maura, namun sampai saat ini Maxi tidak berani untuk mengungkapkannya kepada Maura karena Maxi menyadari kondisinya yang lemah. Dalam pikiran Maxi, ia ingin sekali membahagiakan Maura selama sisa hidupnya. Dan hal itu dilakukannya setiap hari. Perasaan yang begitu istimewa ini semakin hari semakin mendalam. Ingin rasanya Maxi mengungkapkan perasaannya, namun Maxi belum siap. Ia takut kalau nanti Maura menolaknya karena Maura sudah menganggap Maxi sebagai sahabatnya. Sampai suatu hari Maxi mencoba bertanya kepada Maura

          “Maura... seandainya ada seseorang yang deket sama lo terus dia suka sama lo gimana?” 

          “hhhmm... gimana ya? emangnya siapa yang suka sama Aku Max?”

          “eh.. ada deh rahasia hehehe..”

          “yah Maxi kok main rahasiaan sih sama Aku?”

          “suatu saat lo bakalan tahu kok Ra..”

          “ooh yaudah deh.. menurut Aku sih kalau cowoknya itu baik ya Akunya nggak masalah” 

          Sejenak Maxi terdiam dalam kebisuan. Pikirannya melayang – layang membayangkan bagaimana kalau dirinya menyatakan perasaannya kepada Maura. 

          “Maura, sekarang ini lo lagi suka sama seseorang nggak?” tanya Maxi lagi dengan wajah yang sangat serius. Mendengar pertanyaan Maxi, Maura sejenak terdiam dan mulai berpikir.

          “hhmm.. kayaknya ada deh Max”

          “boleh gue tahu siapa orangnya?”

          “duuh ini tuh rahasia! Nggak boleh ada yang tahu termasuk kamu Max...” 

          Max terkesiap saat mendengar pernyataan Maura, ‘kira – kira siapa yang ya disuaki Maura, apa mungkin itu gue? ah nggak.. nggak mungkin, plis Max jangan kepedean dulu...’ gumam Maxi dalam hati. Perasaan Maxi semakin hari semakin kalut, Ia bingung harus berbuat apa, apa Ia harus menyatakan perasaannya atau terus memendamnya.

          Hari terus berganti hari, dan minggu pun berganti minggu. Kondisi lemah Maxi semakin hari semakin terlihat oleh banyak orang tidak terkecuali Maura. Suatu hari saat pelajaran olahraga, semua murid – murid berhamburan di tengah lapangan. Kali ini mereka diharuskan untuk bermain voli, namun sebelumnya mereka harus mengelilingi sekolah sebanyak dua kali putaran. Di tengah teriknya matahari, Maxi berusaha mempertahankan kondisi fisiknya yang mulai melemah. Sesekali ia berhenti hanya untuk menenangkan kepalanya yang sangat pusing, dan kemudian kembali berlari dan bergabung bersama teman – temannya yang sudah berlari jauh di depannya. 

          Setelah semua murid berkumpul, permainan voli pun dimulai. Namun baru saja Maxi ingin menyervis bola, tiba – tiba saja ia kehilangan keseimbangan, kepalanya yang sedari tadi begitu pusing kini bertambah pusing dan menyakitkan, pandangannya pun menjadi kabur, dan Maxi terjatuh dan terkapar di tengah lapangan. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi panik. Murid – murid yang berada di lapangan segera berlari dan mendekati tubuh Maxi yang kini terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Segera teman – teman Maxi menggotong Maxi ke ruang UKS,  sedangkan Pak Bagus segera mencarikan taksi untuk membawa Maxi ke rumah sakit. 

          Selama seminggu Maxi dirawat di rumah sakit. Setiap harinya teman – teman Maxi silih berganti datang untuk menjenguknya, tidak terkecuali Maura. Setiap hari Maura terus pergi menjenguk Maxi setelah pulang sekolah, dan biasanya Maura selalu membawakan buah kepada Maxi atau tidak sebuah majalah untuk sekedar menemani Maxi.

          “Max.. sebenarnya kamu sakit apa sih?” tanya Maura di sela – sela kunjungannya yang keempat kalinya

          “gue cuma kecapean kok Ra.. nggak usah khawatir lagi yah”

          “Aku pasti khawatir sama kamu, kamu kan sahabat Aku Max... lain kali kamu nggak boleh capek – capek lagi ya!...”

          “oke deh! Siap bos Maura.. hahaha”

          Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Maxi akhirnya dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun ada beberapa hal yang tidak biasa yang dilakukan Maxi yaitu, mengulang kenangan – kenangan indah bersama Maura. Kenangan pertama Maxi adalah saat pertama kali ia bertemu dengan Maura. 

          Suatu hari saat pelajaran kosong, Maxi mengajak Maura untuk keluar kelas. Sedang di lapangan telah berhamburan begitu banyak murid – murid. 

          “Max.. kita mau ngapain sih?” tanya Maura kebingungan

          “lo masih inget nggak pertama kali kita ketemu?”

          Maura hanya mengangguk, lalu Maxi mengajak Maura turun ke lapangan. Setelah berada di tengah lapangan, Maxi memohon kepada Maura untuk mengulangi adegan disaat – saat mereka berjoget bersama. Kebingungan Maura semakin bertambah, sekarang ia benar – benar tidak mengerti mengapa ia harus di tengah lapangan ini, dan berjoget bersama Maxi seperti saat pertama kali mereka bertemu.

          “plis Ra... gue mohon banget sama lo. Gue kangen masa – masa kita baru pertama kali ketemu... plis ya Ra...” pinta Maxi dengan wajah memelas. Dengan berat hati Maura menuruti keinginan Maxi yang agak ‘gila’ itu. Sama seperti dulu, Maxi kembali membisikkan kata – kata yang sama saat Maura gugup. 

          Kenangan – kenangan indah yang dulu, kembali diulang Maxi. Ia ingin sekali menikmati akhir hidupnya bersama seseorang yang sangat ia cintai walau Maura tidak pernah tahu betapa Maxi sangat mencintainya. Beberapa tempat yang telah menyimpan banyak memori sudah dikunjungi satu persatu, mulai dari kota tua, taman bunga, danau, dan juga pantai. Tempat – tempat itu telah mengukir banyak kenangan manis Maxi bersama Maura.

          Setelah sekian lama waktu terus berjalan, penyakit yang di derita Maxi semakin parah. Di dalam hatinya, Maxi ingin sekali segera mengungkapkan setiap perasaannya. Namun belum sempat Maxi mengungkapkan perasaannya, Maura lebih dahulu mengungkapkan perasaannya. Suatu saat di sebuah taman kota, Maura memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.

          “Max.. Aku mau cerita sesuatu sama kamu”

          “cerita apa?”

          “sebenernya, udah dari dulu, Aku suka sama seseorang, tapi sampai sekarang Aku nggak berani nyatain perasaan Aku ke dia, Aku takut..”

          “emangnya siapa cowok yang lo suka Ra?”

          “hhmm.. tapi kamu jangan marah ya Max.. Aku suka sama kak Willy”

          Jantung Maxi seperti berhenti sejenak, rasanya tiba – tiba ada sebilah pisau yang menghujam jantungnya, sakit, sakit sekali. Mendengar pernyataan Maura, Maxi tidak dapat berkata – kata lagi. Maxi benar – benar tidak percaya kalau Maura menyukai kakaknya sendiri. Maxi ingin sekali menangis, namun Ia tidak ingin menangis di depan Maura. Maxi berusaha menahan setiap perasaan sakit hatinya.

          “Max.. kamu nggak masalah kan kalau Aku suka sama kakak kamu?”

         “eh.. hmm.. nggak apa – apa kok.” hanya kata – kata itu yang dapat keluar dari mulut Maxi melalui sisa – sisa kekuatannya.

          Tiga hari setelah pertemuan di taman kota itu, Maxi tidak terlihat lagi di sekolah. Maura panik sekaligus cemas karena sahabtnya itu tidak terlihat di sekolah dan juga tidak bisa dihubungi. Sampai suatu ketika Maura mencoba menghubungi Willy, kakak Maxi.

          “Maxi diopname di rumah sakit..” tutur Willy dari ujung telepon

          “sebenernya Maxi sakit apa sih kak?”

      “Sejak kecil, Maxi menderita kanker otak Ra. Dan sekarang kondisinya tambah kritis..
          Maura tersentak, dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak menyangka kalau selama ini Maxi menderita kanker otak. Dibalik senyuma kegembiraannya ternyata Maxi menyimpan penyakit yang mematikan. Tetes air mata perlahan mengalir keluar dari kedua mata Maura. Dengan segera Maura pergi ke rumah sakit tempat Maxi di rawat.

          “kak....” sahut Maxi lirih

          “iya.. lo kenapa Max?” Willy tersentak kaget saat Maxi memanggilnya

         “tolong jaga Maura ya... dia cinta sama lo...”. Willy sejenak terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Maxi. ‘menjaga Maura? Maura cinta sama gue?’ tanya itu muncul di pikiran Willy. Walau masih tidak mengerti akan permintaan adiknya itu, namun Willy mengiyakan permintaan terakhir Maxi. 

          Sesaat setelah itu, Maura tiba di rumah sakit. Di sana, telah terbaring dengan ketidakberdayaan. Berbagai alat terpasang di tubuh Maxi. Melihat kondisi Maxi yang begitu kritis, Maura kembali meneteskan air mata. Dengan langkah gontai Maura berjalan mendekati Maxi.

          “Maxi.. maafin Aku... maafin Aku karna nggak pernah bisa ngerti kondisi kamu yang sebenernya.. maafin Aku....” bisik Maura lirih

      Maxi yang terbaring lemah berusaha menyadarkan dirinya kembali. Di akhir hidupnya ini, Ia ingin menungkapkan setiap perasaannya 

          “makasih banyak ya Maura.... buat semua..... yang udah lo kasih..... ke gue..... maafin gue..... kalau gue.... nggak bisa... jadi sahabat.... yang baik... buat lo..... Tapi... satu hal.... yang perlu... lo tau... kalau gue.... sayang banget..... sama lo..... gue cinta banget..... sama lo... lebih dari sekedar sahabat... perasaan ini... udah jatuh terlalu dalam... makasih.... buat segala kenangan indah..... yang udah kita lalui.. “ dengan sisa – sisa kekuatan Maxi berusaha mengungkap setiap perasaannya

Maxi kemudian merengkuh tangan Maura dan Willy, Maxi kembali mengutarakan perasaannya dengan sisa nafasnya, “Ra.. Aku... sayang... sayang... banget.. sama... kamu... I.. love.... you... so much.... titip.... Maura... ya kak....”

          Setelah detik itu berlalu, tidak ada lagi helaan nafas. Semua sunyi. Mata yang redup itu kini telah terpejam. Terpejam untuk selamanya. Kesunyian itu akhirnya terpecah oleh suara tangisan. Tetesan air mata terus mengalir dari banyak mata di ruangan itu. Semua yang ada disana menangisi kepergian seorang anak, adik, cucu, dan juga sahabat tercinta mereka. Sosok yang begitu periang kini telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi senyum kebahagiaan yang dipancarkannya. Tidak ada lagi senda gurau, tidak ada lagi tingkah konyolnya. Kebahagiaan itu telah pergi. Walau raga itu telah membeku, dan nafas itu telah berhenti, namun setiap kenangan yang ditorehkannya masih terbekas dan akan selalu terkenang di hati setiap orang.

***

          Air mata itu kembali menetes. Rasa sesal itu kembali membayangi Maura. Ia menyesal karena Ia tidak pernah bisa peka terhadap setiap perhatian Maxi kepadanya. Ia menyesal karena tidak pernah tahu kondisi Maxi yang sebenarnya. Maura sungguh menyesal. Namun segala penyesalan tidak akan pernah terbayar karena Maxi telah pergi untuk selamanya.

          “Maaf Max... maafin Aku...” sepenggal kalimat itu terucap dari mulut Maura yang sedari tadi hanya membisu.

Dan sekarang sudah enam tahun sejak kepergian Maxi. Walau cukup lama rentang waktu itu, namun Maura masih teringat jelas dengan setiap kenangan yang pernah ia lewati bersama Maxi. Karena setiap kejadian yang dijadikan kenangan itu akan selalu ada dan terekam di dalam memori Maura.






TAMAT...

Minggu, 11 November 2012

Ketiga kalinya, namun ini yang Pertama

Ingatan ini masih jelas sekali terngiang - ngiang di benakku. Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan apa yang orang - orang rasakan. Jantung yang berdebar - debar, perasaan gugup, senang tiba - tiba dan sedih tiba - tiba. Ya perasaan di atas dapat diwakilkan oleh satu kata yaitu Cinta. Mungkin aku pertama kali merasakan cinta pada saat kelas 6 SD. Menurutku, mencintai seseorang disaat kelas 6 SD itu terlalu cepat, jadi bisa dibilang aku mulai Menyukai bukan Mencintai seseorang saat diriku duduk di kelas 6 SD. Namun saat aku menyukai dirinya yang begitu menawan, tidak membuatku segera mendekatinya, karena aku tahu siapa diriku, dan siapa dirinya. Pada saat itu aku hanya minder dengan rupaku. Jadi aku hanya bisa menyukainya diam - diam, dan perasaan yang dulu itu tetap ada, namun sekarang aku bisa mengatakannya sebagai rasa kagum, kagum melihat rupanya yang begitu menawan. Setelah bertahun - tahun ku lalui tanpa pernah memikirkan seorang pria. Pada saat aku beranjak ke kelas 3 SMP, rasa itu mulai tumbuh kembali. Diri ini juga tidak menyangka kalau aku menyukai sosok pria yang satu kelas denganku itu. Pria yang kali ini telah menawan hatiku tidak mempunyai rupa semenawan pria yang pertama kali aku sukai. Hanya sekedar melihat tingkah lakunya yang sedikit unikdi dalam kelas dapat membuatku jatuh cinta. Untuk kedua kalinya aku tidak mau berusaha mendekatinya, alasan kali ini berbeda. Aku tidak ingin mendekatinya karena ia berbeda keyakinan denganku. Aku tahu sampai kapan pun keyakinanku dan dirinya tidak akan pernah menyatu. Sudah berapa pria yang ku sukai namun belum pernah ada seorang pria yang ku sukai  yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Sampai suatu hari  aku berdoa agar Tuhan mengijinkanku untuk mencintai seorang pria yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Entah berapa lama waktu telah berjalan, sampai akhirnya Tuhan menjawab doaku.
Kali ini, aku menyukai seseorang bukan karena parasnya, bukan juga karena aku sering bertemu dengannya tapi karena aku Mendengar kisah hidupnya. Ya pada awalnya temanku yang menyukai dirinya, namun karena aku penasaran dengan sosok pria itu, jadi aku berusaha mencari tahu seperti apa kepribadian dan sifat dari pria tersebut. Setelah mendengar cerita tentang pria tersebut, aku baru sadar kalau dia layak untuk dicintai, namun waktu terus berjalan, dan membuatku tiba - tiba lupa kalau aku menyukainya, jadi belum sempat aku berusaha untuk mendekat, dirinya telah bersama seorang gadis. Pria tersebut sangat mencintai kekasihnya, namun sang kekasih tidak pernah mencintai pria tersebut. Sedih rasanya melihat hubungan mereka yang terus menerus diselimuti keterpaksaan. Waktu telah menyadarkan dirinya kalau aku menyukai dirinya, namun aku tahu dirinya sengaja menghindariku. Walau terus tersiksa dengan perasaan cinta ini, namun aku ingin tetap berusaha sampai pada akhirnya aku tidak punya daya lagi untuk berusaha. Karena aku tahu ini yang pertama kalinya, dan apa salahnya jika aku memperjuangkannya..

Rabu, 07 November 2012

Bukan Dia tapi Aku




          Zaman sekarang melihat seorang cowok yang bisa memainkan alat musik tradisional itu adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak, hampir semua anak muda di Indonesia rata – rata lebih tertarik memainkan alat musik modern nan canggih ketimbang harus memainkan alat musik tradisional yang mereka anggap kuno itu. Jadi bisa dipastikan kalau ada seorang anak muda yang bisa memainkan alat musik tradisional sekaligus bisa memainkan alat musik modern itu keren dan ajaib. Karena alasan diatas, seorang cewek SMA kelas sepuluh semester dua yang bernama Renaya Sabila, sangat mengagumi dan menyukai kakak kelasnya yang bernama Radhitya Hermawan.

          Menurut Naya, nama panggilan Renaya, sosok Radhit itu sangat unik dan istimewa. Bagaimana tidak, perawakan Radhit yang tinggi, berkulit kuning langsat, berwajah tampan, dan sangat mahir bermain piano sekaligus alat – alat musik tradisional seperti gendang, angklung, dan bonang itu bisa membuat hampir murid perempuan di SMA Bhineka jatuh cinta kepadanya. Di tengah banyaknya pesaing untuk bisa mendapatkan hati Radhit, dan juga sikap Radhit yang begitu dingin dan cuek kepada setiap cewek yang mendekatinya, Naya tetap optimis untuk bisa mendapatkan hati Radhit.

          Berbagai usaha Naya lakukan agar dapat memikat hati Radhit. Mulai dari sekedar memberikan senyuman termanis, hingga memberikan bekal terenak kepada Radhit - yang setiap hari pasti membawa bekal ke sekolah. Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa ada perkembangan yang signifikan dari sikap Radhit kepada Naya. Naya tahu kalau Radhit sangat susah untuk dekat dengan seorang cewek, karena sampai sekarang yang ada di hati Radhit hanya ada mantan pacarnya – yang sudah mengubah sosok Radhit yang kasar menjadi sosok Radhit yang lembut dan ramah kepada setiap orang. Namun karena kepergian mantan pacarnya yang tiba – tiba, membuat Radhit kembali lagi menjadi sosok Radhit yang dahulu, yang sangat kasar, dingin, dan cuek terutama kepada seorang cewek. Walaupun begitu Naya tetap saja optimis mendekati Radhit, yang sudah jelas – jelas selalu menghindar dan cuek kepadanya.

          “kak.. kira – kira gue harus gimana lagi ya biar kak Radhit suka sama gue?” tanya Naya kepada sahabatnya Radhit yang bernama Banyu

          “aduuh.. lo masih aja ya ngedeketin Radhit? Padahal jelas – jelas dia selalu nyuekin lo” cetus Banyu sedikit kesal. 

          Semenjak awal Naya menyukai Radhit, Naya langsung menceritakannya kepada Banyu yang merupakan sahabatnya Radhit. Naya selalu menanyakan apa yang harus ia lakukan agar Radhit dapat menyukai dirinya. Pada awalnya Banyu dengan senang hati membantu Naya, namun lama kelamaan Banyu mulai bosan membantu Naya karena sikap Radhit yang selalu cuek terhadap perhatian yang diberikan Naya kepadanya.

          “gue cuma mau kasih tau ke lo, kalau setiap usaha lo itu bakalan sia – sia.. karena Radhit masih sayang banget sama mantannya...” kalimat yang sebenarnya sangat menusuk itu sudah berkali – kali disampaikan oleh Banyu kepada Naya, namun karena dasarnya Naya adalah orang yang keras kepala, jadi apapun yang dikatakan Banyu kepadanya, Naya tidak mau perduli. Terkadang karena sifat Naya yang keras kepala membuat Banyu kesal. 

          “tapi kak... gue suka banget sama kak Radhit... apapun yang terjadi, gue harus bisa memperjuangkan perasaan gue kak!...” seru Naya optimis

          ‘seandainya aja lo tau... kalo ada cowok yang bener – bener tulus suka sama lo.. dan itu gue nay..’ keluh Banyu dalam hatinya. 

          Setiap kali Naya bercerita tentang Radhit kepada Banyu, hati Banyu terasa sakit karena mengetahui kalau cewek yang ia sayangi malah menyayangi sahabatnya sendiri, dan jelas – jelas sahabatnya tidak pernah menyukai Naya. Banyu sebenarnya kasihan setiap melihat perlakuan Radhit kepada Naya, sampai suatu hari Banyu benar – benar tidak bisa memendung perasaan kasihannya kepada Naya

          “Dhit.. gue minta tolong sama lo..”

          “minta tolong apaan?”

          “gue minta tolong lo buka hati buat Naya..” berat rasanya Banyu mengatakan hal ini, tapi dia harus. Banyu tidak tahan lagi melihat Naya menangis karena sikap dingin Radhit. Walaupun Banyu sangat ingin memiliki Naya, tetapi yang lebih Banyu inginkan adalah bisa melihat Naya  bahagia bersama cowok yang ia sayangi. Memang terkadang Naya terlihat optimis dengan setiap perjuangannya, namun Naya juga seorang perempuan yang bisa meraskan kelelahan saat harus terus berjuang tanpa hasil.

          “gue nggak bisa. Kenapa harus gue yang buka hati? Kenapa nggak dia aja yang buka hati buat lo?”

          “nggak mungkin Dhit! Dia cuma suka sama lo. Dan gue tau, susah buat dia untuk buka hati buat orang lain.. jadi please Dhit, buka hati lo buat Naya..” 

          “demi lo, gue akan coba..”

          Karena permintaan sahabatnya, Radhit akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Naya. Sekarang setiap perhatian Naya mulai ditanggapi oleh Radhit. Hari demi hari, minggu demi minggu, akhirnya Radhit mulai merasa nyaman dengan setiap perhatian yang diberikan Naya untuknya.  Sampai suatu hari, perjuangan Naya untuk mendapatkan Radhit tidak sia – sia. 

          Di suatu malam, Radhit mengajak Naya jalan – jalan ke sebuah pasar malam yang letaknya tidak jauh dari rumah Naya

          “Nay.. kita naik bianglala itu yuk..” ajak Radhit setelah cukup lama mereka mengelilingi pasar malam yang ramai itu

          “sekarang gue mau ngomong jujur sama lo...” ucap Radhit saat ia dan Naya sedang berada di atas bianglala

          “jujur soal apa?”

          “jujur awalnya emang gue nutup diri dari lo, tapi gue berusaha membuka hati gue buat lo. Dan ternyata lo itu baik banget, jauh banget dari yang gue kira... sekarang gue sadar kalo lo itu adalah anugrah yang paling indah di hidup gue.. so would you be mine?”

          Penjelasan yang begitu jujur dari Radhit membuat Naya tersontak kaget. Naya tidak menyangka kalau perjuangannya selama ini tidak sia – sia. Pada akhirnya saat – saat yang diimpikan Naya tiba. Dengan senang hati Naya mengiyakan pertanyaan Radhit

          “makasih ya... tambah sayang deh sama kamu hehehe” seru Radhit bahagia

          Malam itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Radhit dan Naya, kecuali Banyu. Pagi – pagi saat Banyu baru saja tiba di sekolah, ia melihat Radhit berboncengan dengan Naya. Hati Banyu begitu miris melihat cewek yang ia suka akhirnya menjadi pacar sahabatnya.

          ‘selamat ya Nay.. selamat juga buat lo Dhit, lo beruntung banget bisa dapetin Naya, gue iri sama lo, tapi gue doain yang terbaik buat kalian berdua...’ ucap Banyu dalam hati. Walaupun sakit namun Banyu harus merelakan Naya demi kebahagiaan Naya. 

          “hai kak Banyu...” sapa Naya dengan wajah gembiranya yang jelas – jelas terlihat dari pancaran sinar matanya

          “eh Banyu...liat dong gue gandeng siapa?... hahahaha...”  
     
          “eh hehe.. cie selamet ya yang udah jadian.. PJ bisa kali.. hahaha..” Banyu berusaha menutupi rasa sedihnya dengan mengembangkan senyuman yang sangat dipaksa

          “oke deh sip! Tunggu aja pas istirahat hahaha...” sahut Radhit tidak kalah gembira dengan Naya

          ‘miris melihat mereka bahagia... tapi ini udah jadi keputusan gue, dan gue harus bisa terima kenyataan..’ gumam Banyu dalam hati.

***

          Seiring berjalannya waktu, sifat – sifat asli Radhit mulai terlihat. Setelah sembilan bulan berpacaran, Naya baru tahu kalau sebenarnya Radhit adalah seorang perokok. Karena Naya tidak suka dengan cowok perokok, Naya ingin mengingatkan Radhit untuk tidak merokok lagi, namun Radhit tetap tidak mau berubah. Setelah sembilan bulan juga, Naya baru tahu kalau Radhit sudah salah bergaul, ternyata Radhit selama ini berteman dengan orang – orang yang memakai obat – obatan terlarang dan juga yang suka minum minuman keras. Saat Naya tahu hal seperti itu, Naya langsung tidak mengijinkan Radhit untuk berteman dengan mereka, namun lagi – lagi Radhit tetap tidak mau berubah. Naya sempat putus asa menghadapi Radhit yang begitu keras kepala. Sampai suatu ketika Radhit dan Naya mengalami pertengkaran yang cukup hebat

          “Dhit Aku mau kamu berubah.. “

          “Aku nggak bisa... bisa nggak sih kamu terima Aku apa adanya?”

          “Aku mau terima kamu apa adanya, tapi Aku mohon kamu untuk berubah, semua ini juga demi kebaikan kamu...”

          “kenapa sih kamu selalu ngatur – ngatur hidup Aku? Awalnya Aku terima, tapi kesini – sini kamu jadi lebay! Aku udah males hadepin kamu!..”

          “tapi ini semua karena Aku sa..”

          “alah! Jangan pake alesan sayang – sayang deh! Males gue!” Bentak Radhit lalu langsung pergi meninggalkan Naya yang sudah berlinang air mata

          Di tengah kejadian itu, Banyu melihat semuanya. sorot mata penuh dengan emosi ditujukannya pada Radhit. Banyu tidak terima kalau Naya diperlakukan seperti itu. Melihat cewek yang ia sayangi mulai menangis, dengan segera Banyu datang menghampiri Naya dan memberikannya sebuah sapu tangan

          “ini buat lo... please jangan nangis, gue nggak tega kalau ngeliat lo nangis Nay..” sahut Banyu sambil memberikan sapu tangannya kepada Naya

          “gue udah nggak kuat kak... kenapa sih dia nggak mau berubah? Itu semua kan demi kebaikannya..” seru Naya sambil terus menangis

          “iya gue tau kok maksud baik lo ke dia... udah ya nggak usah nangis lagi.. kemana nih Naya yang kuat? Ayo jangan nangis lagi ya please...”

          Naya mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak menetes lebih banyak lagi. Entah apa yang terjadi, namun Naya merasakan kenyamanan saat berada di dekat Banyu, tidak seperti saat Naya bersama dengan Radhit. Setelah melihat kondisi Naya yang lebih tenang, Banyu mengajak Naya pergi ke sebuah danau yang ada di hutan kota. Sesampainya di hutan kota, Banyu mengajak Naya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan tinggi. Suasana yang begitu menenangkan membuat hati Naya juga ikut tenang.

          “udah tenang?” tanya Banyu sambil menoleh sebentar ke araha Naya

          “udah.. makasih ya kak..” 

          “sip.. kalau lo udah bener – bener nggak kuat hadapin dia mending lo putus aja, daripada lo tersiksa terus..” dengan entengnya Banyu mengungkapkan isi hatinya. Mendengar perkataan Banyu, Naya yang sedari tadi menikmati suasana hutan kota tiba – tiba saja terusik. Naya memberhentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Banyu  

          “maksud lo apaan kak?” tanya Naya bingung

          “ah? Ng.. ya iya kalo lo udah nyerah sama Radhit ya putusin aja, emang ada yang salah?”

          “salah lah.. dulu lo dukung gue banget, tapi kenapa tiba – tiba lo langsung saranin gue buat putus sama Radhit?”

          “aduh lo nggak tau apa? gue tuh capek ngeliatin lo disakitin terus sama Radhit.. karena gue tuh sa..” hampir saja Banyu mengatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Naya

          “sa apa kak?”

          “eh nggak apa – apa.. udah nggak usah dibahas lagi ya..”

          Walau Naya melihat ada yang aneh dari Banyu, namun Naya tidak mau memikirkannya. Sekarang yang hanya Naya pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membua Radhit kembali seperti dulu. Satu bulan berlalu dan selama satu bulan itu, Naya sengaja tidak pernah menghubungi Radhit, agar Radhit bisa sadar atas setiap kesalahannya. Satu bulan lamanya Naya acuh kepada Radhit, namun Radhit belum sadar juga. Hingga tepat seminggu sebelum Naya dan Radhit merayakan tahun pertama mereka berpacaran, barulah Radhit sadar kalau dia membutuhkan Naya untuk mengontrolnya.

          Saat malam hari tiba, Radhit mengajak Naya pergi ke sebuah pantai. Radhit mengajak Naya untuk melihat matahari terbenam di ufuk barat. Awal pertemuan mereka kembali terasa begitu kaku, karena hampir dua bulan mereka tidak bertegur sapa. Ditemani matahari yang mulai beranjak turun dari peraduannya, Naya dan Radhit duduk di tepi pantai, sambil memandangi langit biru yang mulai berubah oranye.  
   
          “Nay... sebelumnya Aku minta maaf banget sama kamu...” sepenggal kalimat itu akhirnya terucap dari mulut Radhit. Naya sejenak menoleh dan menatap mata Radhit dalam – dalam, namun Naya tidak mau menjawab

          “maafin Aku karena Aku selama ini udah sia – siain kamu. Maafin Aku karena selama ini Aku nggak mau denger nasehat kamu. Maafin Aku Nay.... sekarang Aku sadar kalau setiap perkataan kamu itu benar. Sekarang Aku udah ninggalin semua temen – temen Aku, sekarang Aku hanya perlu kamu di hidup Aku. Aku butuh kamu lagi... apa kamu mau balikan sama Aku?”  Pinta Radhit sambil menatap mata Naya dalam – dalam

          “dari awal Aku udah maafin kamu kok... kita kan nggak pernah putus, jadi kenapa harus balikan?” pertanyaan Naya itu hanya dibalas dengan pelukan lembut dari Radhit

          “makasih banyak Nay.. kamu memang anugrah terindah dan teristimewa di hidup Aku.. Aku sayang kamu lebih dari apapun..” bisik Radhit halus

          “makasih juga kamu udah mau berubah.. Aku juga sayang sama kamu lebiiih lagi...”
          Ketegangan dan kedinginan yang sempat terjadi diantara Naya dan Radhit kini telah hilang. Semua amarah dan benci kini hilang lenyap dan digantikan oleh cinta yang kembali berbunga – bunga. Namun kesenangan itu harus berhenti saat takdir memaksakan mereka untuk berpisah.

          Suatu malam, Radhit ingin mengajak Naya merayakan tahun pertama mereka berpacaran di sebuah cafe

          “ayo kita berangkat!..” sahut Radhit sambil memberikan helmnya kepada Naya
         “loh helm kamu kemana Dhit?” tanya Naya bingung. Biasanya Radhit selalu membawa dua helm, untuk dirinya dan juga Naya, namun kali ini Radhit lupa untuk membawa satu helm lagi.

          “oh iya? Aku lupa. Di rumah nggak ada helm?”

          “nggak ada.. helmnya lagi dipake sama Papa... terus gimana dong?”

          “udah kamu aja ya yang pake.. biar kamunya nggak apa – apa..”

          Dari awal Radhit menjemput Naya, tiba – tiba saja Naya merasakan hal yang aneh. Saat dalam perjalanan perasaan yang sangat mengganjal itu semakin menjadi – jadi. Ketika jalanan kota sedang begitu macet, Radhit dengan gesitnya meliuk – liukan motornya ke kanan dan ke kiri untuk menyalip kendaraan yang begitu padat. Namun setelah keluar dari kepadatan kendaraan itu, tiba – tiba saja ada sebuah truk yang berjalan dengan tidak terkendali dan akhirnya menabrak Radhit. Hantaman yang begitu keras membuat kepala Radhit pecah, dan nyawa Radhit tidak sempat untuk diselamatkan, sedangkan Naya yang memakai helm juga mengalami luka yang cukup parah namun nyawa Naya masih sempat untuk diselamatkan. Sejak tabrakan itu sampai satu minggu kemudian Naya tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu tidak sadarkan diri, akhirnya Naya kembali siuman

          “Radhit... Radhit mana?....” sahut Naya lemah sesaat setelah ia baru sadarkan diri. 

          “Radhit sudah pergi nak...” jawab Ibunda Naya dengan suara lirih

          “Radhit pergi kemana ma?..” wajah Naya kini berubah cemas dan air mata pun mulai menggenang di matanya

          “Radhit sudah meninggal ...” 

          Air mata itu akhirnya menetes membasahi wajah pucat Naya. Jantungnya terasa begitu sesak. Naya masih tidak menyangka kalau Radhit telah meninggal. Baru saja Naya dan Radhit berbaikkan, dan saat hubungan mereka menginjak satu tahun semuanya harus diakhiri. Semakin lama air mata itu bertambah deras.

          “ma... mama bohong kan kalau Radhit udah meninggal? Mama disuruh Radhit buat bohong kan? Iya kan ma?” dalam benak Naya, baru saja dirinya dan Radhit ingin pergi untuk merayakan satu tahun hubungan mereka.

          Ibunda Naya hanya bisa menangis melihat anaknya begitu terpukul karena ditinggalkan oleh sosok yang ia sayangi selain keluarganya. Dengan penuh kesabaran Ibunda Naya berusaha meyakinkan Naya kalau Radhit benar – benar meninggal.

          “kalo Radhit benar – benar meninggal, Aku mau lihat makamnya Radhit sekarang!...” seru Naya sambil terus terisak

          “nggak bisa nak.. kamu masih sangat lemah, kamu belum boleh pergi kemanapun..”

          Untuk pertama kalinya Naya kehilangan salah satu orang yang ia sayangi. Kejadian yang begitu cepat membuat Naya masih belum mempercayai kalau Radhit telah meninggal. Selama beberapa hari Naya harus memendam keinginannya untuk melihat makam Radhit. Melihat kondisi Naya yang sudah mulai kuat, akhirnya Naya boleh pulang ke rumah. Baru saja Naya pulang dari rumah sakit, ia langsung memaksa kakak laki – lakinya untuk mengantarkannya ke tempat dimana Radhit dimakamkan. 

          “Radhit.... kamu kok cepet banget perginya? Kita kan belum sempet ngerayain anniv kita... Radhit bangun dong... Aku kangen sama kamu.... Radhiiitt....” sambil memegang batu nisan Radhit, Naya menangis begitu keras. kakak lelaki Naya hanya bisa memegang pundak adik perempuannya itu dan berusaha menenangkan Naya yang begitu tidak terima kalau Radhit telah meninggal. Di kejauhan sosok Banyu yang begitu lemah sedang berdiri melihat cewek yang ia sayangi begitu sedih.

‘Nay... gue juga sedih kehilangan Radhit... tapi gue lebih sedih lagi ngeliat lo nangis kayak sekarang...’ hati Banyu terasa sesak melihat Naya yang begitu kehilangan Radhit. 

Melihat Naya yang tidak berhenti menangis, kakak lelaki Naya pun langsung mengajak Naya untuk segera pulang, ia tidak mau Naya semakin larut dengan kesedihannya. Awalnya Naya terus memberontak, namun kondisi Naya yang belum begitu pulih membuat Naya kehilangan daya, dan akhirnya menuruti kakak lelakinya untuk segera pulang. Sesaat setelah Naya meninggalkan tempat pemakaman, segera Banyu menghampiri makam Radhit. Sambil menaruh sebuah karangan bunga diatas makam Radhit, Banyu pun mengutarakan perasaannya,

“Dhit... lo tau kan kalau gue dari dulu gue sayang banget sama Naya? Sampai sekarang gue masih sayang banget sama Naya.. lo tau kan Naya sedih banget kehilangan lo, tapi gue nggak tahan ngeliat dia nangis terus.. Dhit gue minta ijin sama lo untuk ngedeketin Naya, gue mau buat dia bahagia, sama kayak lo yang mau bahagiain dia. Kita sama – sama sayang Naya, jadi gue mohon lo ijinin gue untuk sayang sama Naya, dan untuk bahagiain Naya.. bantuin gue ya Dhit, gue mohon...”

***

Berbulan – bulan membiarkan cewek yang ia sayangi terus berduka sebenarnya sangat menyiksa batin Banyu. Namun hal itu harus ia lakukan karena Banyu tidak mau terlalu cepat datang kembali ke kehidupan Naya. Setelah Banyu benar – benar menyadari kalau Radhit sudah mengijinkannya untuk mendekati Naya, barulah Banyu mulai mendekati Naya kembali. Perhatian yang dulu sering ditujukan kepada Naya secara diam – diam kini jelas terlihat. Banyu tidak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk bersama Naya lagi. Sudah cukup Banyu mengalah untuk Radhit. Dengan setiap perhatian tulus Banyu, lama kelamaan membuat hati Naya luluh dan kembali terbuka. 

Sudah berbulan – bulan pendekatan itu dimulai. Banyu tahu tidak mudah bagi Naya untuk begitu saja melupakan Radhit didalam hati dan pikirannya karena itu Banyu dengan sabar menunggu Naya sampai pada akhirnya Naya dapat menerima Banyu apa adanya tanpa membawa kenangan masa lalunya saat masih bersama Radhit.

Saat mental benar – benar telah siap, Banyu akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam kepada Naya. Di sebuah hutan kota yang begitu teduh, Banyu mengajak Naya sejenak berjalan kaki mengelilingi hutan kota yang cukup luas itu. Dikerindangan pohon – pohon itu, Banyu menghentikan langkahnya dan kemudian berlutut dihadapan Naya. Melihat kejadian itu Naya tersentak kaget

“Naya... sekarang gue mau jujur sama lo. Dari dulu, sebelum lo suka sama Radhit, gue udah sayang banget sama lo. Tapi karena gue tahu kalau lo suka sama Radhit, jadi gue mencoba berhenti ngedeketin lo, dan membiarkan Radhit yang ngedeketin lo. Sakit sebenernya, tapi gue harus ikhlas. Dan sekarang, gue nggak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk mendapatkan lo. Gue mau membahagiakan lo dengan sepenuh hati gue, gue mau jagain lo, gue mau perhatian sama lo.. so would you be my girlfriend?”

Terkejut bercampur senang saat mendengar pernyataan dari Banyu. Naya tidak menyangka kalau dari dulu Banyu sudah menyukainya. 

“i would...” jawab Naya sambil mengembangkan senyumannya. Mendengar jawaban dari Naya, Banyu langsung mengeluarkan bunga mawar putih dan juga sebuah boneka teddy bear dari dalam tas ranselnya dan segera memberikannya kepada Naya. Naya pun menerimanya dengan senang hati. 

‘akhirnya kamu tahu... kalau bukan dia yang ditakdirkan untukmu, melainkan Aku...’ gumam Banyu dalam hati.

TAMAT....