Hari ini Sosma STP Sahid bekerjasama dengan ABC program mengadakan workshop blogging. Acara ini diadakan di Gedung Auditorium STP Sahid Pondok Cabe, yang dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi STP Sahid.
Pembicara dalam workshop ini adalah seorang blogger, Ani Berta , yang telah lama terjun didalam dunia blogging. Ia telah banyak menulis artikel di dalam blognya, contoh blognya adalah: http://www.duniaspasi.blogspot.com/
Di dalam workshop ini, kita dapat belajar mengembangkan hobi blogging kita. Dari sekedar menulis, sampai mendapatkan penghasilan yang cukup menguntungkan. Teh Ani Berta, biasa pembicara workshop ini dipanggil, memulai workshop ini dengan menjelaskan dari awal pengertian blog, hingga membuat blog.
Banyak hal yang menarik dan tentunya bermanfaat saat menghadiri workshop ini. Kesan dan pesannya saat menghadiri workshop ini adalah, nggak rugi datang ke workshop ini, karena disini saya belajar untuk mengembangkan hobi saya dari hanya menulis di blog sampai saya dapat mendapatkan penghasilan dari saya menulis di blog.
Wonderful Dreamer
about me
- wonderful life
- Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!
Jumat, 11 Oktober 2013
Selasa, 15 Januari 2013
OST film 5 cm.
ditanggal 12 bulan 12 tahun 2012, dunia perfilman Indonesia kedatangan film baru, judulnya 5 cm. film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama hasil karya Dony Dirgantoro. Film ini mengisahkan 5 orang sahabat, yaitu Genta, Zafran, Arial, Ian, dan juga Riani. 4 cowok dan satu cewek. mereka sudah lama bersahabat. dan pada suatu hari, mereka memutuskan untuk tidak berhubungan satu dengan yang lainnya selama tiga bulan. setelah tiga bulan berlalu, Genta sang leader mengajak teman - temannya untuk pergi ke gunung semeru untuk merayakan pertemuan mereka. saat pertemuan mereka, Arial membawa sang adik perempuan, yang disukai oleh Zafran, namanya Dinda. Genta mengajak teman - temannya untuk menaiki puncak gunung tertinggi di pulau jawa, yaitu mahameru. petualangan mereka dimulai. Di film 5 cm ini, penonton disuguhkan pemandangan alam yang sungguh indah. Jujur gue sangat takjum dengan pemandangan alamnya, indah banget. selain jalan cerita, dan juga setting tempat yang sangat indah, original soundtrack dari film ini menambah kehebatan film ini. OST 5 cm diisi oleh band papan atas Indonesia, yaitu Nidji. Nidji mencinptakan beberapa lagu untuk mengisi soundtrack di film ini, yaitu di atas awan, rahasia hati, dan juga tak akan pernah mati. di bawah ini, lirik lagu dari masing - masing lagu:
Di Atas Awan
Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan
Reff: Kita menantang impian
di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama
Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
mencari tempat kita di masa depan
berjanji kita tak akan putus asa
walaupun semua tak akan pudar
back to Reff
Rahasia Hati
Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Berdoa dan beranikan diri
sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Tak akan pernah Mati
Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati
Di Atas Awan
Cinta satukan hati, kuatkan jiwa, menghadapi dunia
Segala, cinta dan luka, kuatkan semua persahabatan
Reff: Kita menantang impian
di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sepi
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku selalu bersama
Bridge: melangkah, dibawah mentari yang sama
mencari tempat kita di masa depan
berjanji kita tak akan putus asa
walaupun semua tak akan pudar
back to Reff
Rahasia Hati
Ku coba merangkai kata cinta
walaupun ku bukan pujangga
yang bisa tuliskan kata - kata yang indah
nyatanya tad ada nyali untuk ungkapkan
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Berdoa dan beranikan diri
sebelum semua ini terlambat terjadi
I wanna love you like the huricane
I wanna love you like the mountain rain
So wild so pure
So strong and crazy for you
Andai matamu melihat aku
Terunkap semua isi hatiku
Alam sadarku alam mimpiku
Semua milikmu andai kau tahu
Andai kau tahu rahasia cintaku
Tak akan pernah Mati
Hidupi hidupmu denganku sampai tua nanti
Dengamu ku slalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat dijalan kemenangan
walaupun sulit tapi ku tahu kau slalu disisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Reff: Setiap kenanganku dan kemenangku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah cintamu yang akan aku
Dengamu seperti hidupku tak akan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi
Detik berhenti
Sperti hidupku tak akan pernah mati
Jumat, 04 Januari 2013
chicken roll with cheese
Bahan:
- dada ayam fillet
- kraft quick melt
- merica secukupnya
- garam secukupnya
- tepung secukupnya
- satu butir telur
- selada
- nasi
- margarin
- minyak goreng
- mayonese
- saus sambal
Chicken Roll with Cheese
- gepengkan dada ayam yang telah difillet
- taburi garam dan merica secukupnya
- iris kraft quick melt dan taruh di atas dada ayam lalu gulung
- panggang dada ayam yang telah digulung kedalam microwave selama 2 menit
- celupkan chicken roll kedalam telur yang telah dikocok
- gulingkan chichken roll ke dalam tepung terigu
- goreng chicken roll hingga warnanya coklat keemasan
- dadar telur di atas teflon
- pipihkan nasi yang telah dicampur dengan margarin
- lalu gulung dan potong menjadi dua bagian
- iris daun selada yang sudah dicuci
- taruh diatas piring saji
- letakkan chicken roll with cheese yang telah dipotong dua
- siram dengan mayonese dan saus sambal
- hidangkan bersama dengan nasi gulung telur
- Chicken roll with cheese siap untuk disantap.
Memori Maura
Saat pikiran ini penat
dengan berbagai pekerjaan yang begitu menumpuk, Maura sejenak melepaskan kepenatannya
dengan membuka sebuah buku yang telah usang tertutup debu. ‘Sudah begitu lama’,
pikir Maura. Sudah lima tahun buku ini tidak pernah dibuka lagi sejak Maura
memutuskan untuk melupakan setiap kenangannya di SMA. Kali ini, entah mengapa,
Maura ingin sekali membuka buku kenangan yang sekarang telah berada di pangkuannya.
Ada sesuatu hal yang memaksanya dengan halus untuk membuka buku kenangan itu.
Sambil duduk termenung di atas sofa yang yang berada di ruang tamu rumahnya,
Maura mulai meniup debu yang begitu tebal menutupi sampul buku kenangan itu.
Pada halaman pertama tampak foto gedung sekolah Maura yang dulu.
‘sudah lama Aku tidak mengunjungi bangunan tua ini...’ kenang Maura dalam hati.
Memasuki halaman kedua, tampak foto serta sedikit pidato dari Bapak Kepala SMA
Rafles mengenai kesan dan pesannya kepada angkatan 20, yaitu angkatan Maura.
Halaman demi halaman terbuka, setiap halaman kembali mengingatkan Maura kepada
masa – masa SMAnya dulu yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat halaman demi halaman terbuka tanpa beban, namun saat
memasuki halaman yang memuat profil kelas dua belas ipa tiga, sejenak Maura
diam dalam kesunyian. Bayang – bayang masa lalu itu kembali muncul di benak
Maura. Setiap kejadian itu seperti terekam ulang di pikiran Maura, apalagi saat
Maura menatap lurus ke arah sebuah foto laki – laki yang bernama Maxi
Ferdinand. Kenangan itu kembali muncul, kenangan Maura saat pertama kali
bertemu Maxi.
***
Seluruh peserta MOS sekarang berhamburan di tengah
lapangan. Sekarang mereka sedang sibuk meminta tanda tangan para anggota OSIS.
Banyak hal yang harus peserta MOS lakukan agar dapat mendapatkan tanda tangan
dari para anggota OSIS. Salah satunya adalah dengan berjoget di tengah
lapangan. Jika ada yang bersedia untuk berjoget di tengah lapangan, maka
peserta tersebut bisa mendapatkan tanda tangan seluruh anggota OSIS. Setelah
cukup lama menunggu peserta yang bersedia, akhirnya sesosok cowok bertubuh
tinggi dan berkulit sawo matang menyembul dari antara kerumunan peserta MOS.
Dengan begitu semangat cowok itu langsung maju ke tengah lapangan.
“ya sekarang sudah ada yang bersedia nih. Siapa nama kamu?”
tanya seorang anggota OSIS
“nama saya Maxi Ferdinand kak!..”jawab Maxi penuh semangat.
“okey! Sekarang kamu tunjuk teman kamu untuk temenin kamu
joget di tengah lapangan..”
Sambil menggaruk – garuk kepalanya, Maxi mencoba untuk
berpikir kira – kira siapa yang akan diajaknya untuk berjoget bersamanya,
sambil terus berpikir Maxi menyapukan pandangannya kesekeliling. Saat sedang
asyik mencari, tiba – tiba saja matanya tertuju kepada sosok cewek bertubuh
sedang berkulit kuning langsat yang sedari tadi terus memainkan rambutnya yang
terkepang dua itu.
“saya pilih dia kak!” sahut Maxi sambil menunjuk ke arah
Maura Aurelia, cewek yang sudah merebut pandangan Maxi.
Maura terlihat kaget saat dirinya yang ditunjuk Maxi untuk
berjoget bersamanya di tengah lapangan. Dengan mulut yang masih ternganga,
Maura di ajak untuk maju ke tengah lapangan. Sudah tidak ada pilihan, pikir
Maura dalam hati. Dengan sangat terpaksa Maura menuruti perintah salah satu
anggota OSIS untuk berjoget bersama Maxi. Untuk menahan rasa malunya, Maura
terus menerus menunduk saat berjoget bersama Maxi, namun disela – sela ‘penampilan’
mereka, Maxi berbisik kepada Maura
“udah bawa enjoy aja lagi... nggak usah malu kayak gitu..”
Mendengar sepenggal kalimat dari Maxi itu, Maura menjadi lebih
tenang menghadapi para penonton yang terus menerus menyoraki mereka. Ada
sedikit perasaan lega saat Maxi berbicara seperti itu, padahal Maura tidak
mengenal Maxi. Ya walaupun mereka berdua tidak saling kenal, namun ada sesuatu
rasa yang nyaman yang dirasakan Maura saat bersama dengan Maxi.
Hampir lima menit sudah Maxi dan Maura berjoget bersama di
tengah lapangan, dan ditonton oleh begitu banyak orang. Setelah lagu pengiring
telah selesai di putar, akhirnya mereka berdua berhenti berjoget. Semua orang
yang menonton ‘penampilan’ Maxi dan Maura begitu terkesan dan segera memberikan
tepuk tangan yang begitu meriah. Karena kerelaan mereka untuk berjoget di
tengah lapangan, akhirnya mereka mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota
OSIS.
“eh, kita belum kenalan ya?... kenalin nama gue Maxi
Ferdinand.. panggil aja Maxi.. kalau nama lo siapa?” tanya Maxi setelah mereka
selesai mendapatkan tanda tangan dari seluruh anggota OSIS
“nama Aku Maura Aurelia, panggil aja Maura..” sahut Maura
sambil menjabat tangan Maxi yang tadi terarah padanya.
Dari kejadian itulah, Maura dan Maxi pertama kali
berkenalan, dan dari kejadian itu pula, hubungan mereka terus berlanjut menjadi
sebuah hubungan persahabatan. Walau sikap dan sifat Maura dan Maxi sangat
berbeda namun perbedaan itu tidak menjadikan jarak bagi mereka berdua untuk
menjalin persahabatan. Sikap Maura yang
begitu lembut, pendiam, dan juga sabar sangat bertolak belakang dengan sikap
Maxi yang begitu berantakan, jahil, ramai, dan juga tidak sabaran.
***
“Ayo Maura... kejar gue kalo lo bisa!! Hahaha...” seru Maxi
dengan semangatnya sambil terus mengayuh pedal sepedanya.
“Tungguin Aku dong Maxi!.... capek nih..” sahut Maura yang
berusaha mengayuh sepedanya, namun Maura tertinggal jauh oleh Maxi yang sudah
jauh berjalan di depannya. Mendengar seruan dari sahabatnya itu, terlihat dari
kejauhan Maxi memutar sepedanya dan mengayuh sepedanya, berjalan menuju Maura
yang sedari tadi telah terhenti karena begitu kelelahan setelah memutarin hutan
kota sebanyak lima kali putaran.
“haduuh.. lo kok lemah banget sih?...” goda Maxi sambil
mengacak – acak rambut Maura
“Max?... kamu kenapa?” tiba – tiba rawut wajah Maura
berubaha menjadi begitu sedih
“gue nggak kenapa – kenapa kok...”
“tapi itu....” Maura segera mengarahkan jari telunjuknya ke
arah hidung Maxi yang mengeluarkan darah. Maxi tersentak, dan segera menyeka
tetesan darah yang keluar dari hidungnya.
“oh ini.. nggak apa – apa kok ini. Udah biasa hehe..” Maxi
berusaha menenangkan Maura yang begitu panik melihat darah yang menetes dari
hidung Maxi. Sudah dua tahun Maura mengenal dan begitu dekat dengan Maxi, namun
ini pertama kalinya Maura melihat Maxi mimisan, dan yang ada dipikiran Maura
adalah kalau Maxi sedang sakit, namun Maura tidak mengetahui penyakit apa yang
diderita Maxi.
“kamu sakit apa Maxi?” tanya Maura khawatir
“Gue nggak sakit apa – apa kok Maura... tenang aja yah,
nggak usah khawatir gitu...”
Di kedalaman hati Maxi, ia bergumam di dalam hatinya,‘maaf
ya Maura, gue nggak bisa kasih tahu lo tentang kondisi gue saat ini. Gue sayang
banget sama lo... gue nggak mau lo kecewa sama gue karena kondisi gue... maaf
banget ya ra. Pasti cepat atau lambat lo bakalan tau kok kondisi gue yang
sebenarnya...’.
***
Hampir dua tahun Maxi menyimpan perasaan istimewa kepada
Maura, namun sampai saat ini Maxi tidak berani untuk mengungkapkannya kepada
Maura karena Maxi menyadari kondisinya yang lemah. Dalam pikiran Maxi, ia ingin
sekali membahagiakan Maura selama sisa hidupnya. Dan hal itu dilakukannya
setiap hari. Perasaan yang begitu istimewa ini semakin hari semakin mendalam.
Ingin rasanya Maxi mengungkapkan perasaannya, namun Maxi belum siap. Ia takut
kalau nanti Maura menolaknya karena Maura sudah menganggap Maxi sebagai
sahabatnya. Sampai suatu hari Maxi mencoba bertanya kepada Maura
“Maura... seandainya ada seseorang yang deket sama lo terus
dia suka sama lo gimana?”
“hhhmm... gimana ya? emangnya siapa yang suka sama Aku
Max?”
“eh.. ada deh rahasia hehehe..”
“yah Maxi kok main rahasiaan sih sama Aku?”
“suatu saat lo bakalan tahu kok Ra..”
“ooh yaudah deh.. menurut Aku sih kalau cowoknya itu baik
ya Akunya nggak masalah”
Sejenak Maxi terdiam dalam kebisuan. Pikirannya melayang –
layang membayangkan bagaimana kalau dirinya menyatakan perasaannya kepada
Maura.
“Maura, sekarang ini lo lagi suka sama seseorang nggak?”
tanya Maxi lagi dengan wajah yang sangat serius. Mendengar pertanyaan Maxi,
Maura sejenak terdiam dan mulai berpikir.
“hhmm.. kayaknya ada deh Max”
“boleh gue tahu siapa orangnya?”
“duuh ini tuh rahasia! Nggak boleh ada yang tahu termasuk
kamu Max...”
Max terkesiap saat mendengar pernyataan Maura, ‘kira – kira
siapa yang ya disuaki Maura, apa mungkin itu gue? ah nggak.. nggak mungkin,
plis Max jangan kepedean dulu...’ gumam Maxi dalam hati. Perasaan Maxi semakin
hari semakin kalut, Ia bingung harus berbuat apa, apa Ia harus menyatakan
perasaannya atau terus memendamnya.
Hari terus berganti hari, dan minggu pun berganti minggu.
Kondisi lemah Maxi semakin hari semakin terlihat oleh banyak orang tidak
terkecuali Maura. Suatu hari saat pelajaran olahraga, semua murid – murid
berhamburan di tengah lapangan. Kali ini mereka diharuskan untuk bermain voli,
namun sebelumnya mereka harus mengelilingi sekolah sebanyak dua kali putaran.
Di tengah teriknya matahari, Maxi berusaha mempertahankan kondisi fisiknya yang
mulai melemah. Sesekali ia berhenti hanya untuk menenangkan kepalanya yang
sangat pusing, dan kemudian kembali berlari dan bergabung bersama teman –
temannya yang sudah berlari jauh di depannya.
Setelah semua murid berkumpul, permainan voli pun dimulai.
Namun baru saja Maxi ingin menyervis bola, tiba – tiba saja ia kehilangan
keseimbangan, kepalanya yang sedari tadi begitu pusing kini bertambah pusing
dan menyakitkan, pandangannya pun menjadi kabur, dan Maxi terjatuh dan terkapar
di tengah lapangan. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi panik.
Murid – murid yang berada di lapangan segera berlari dan mendekati tubuh Maxi
yang kini terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari hidungnya. Segera
teman – teman Maxi menggotong Maxi ke ruang UKS, sedangkan Pak Bagus segera mencarikan taksi
untuk membawa Maxi ke rumah sakit.
Selama seminggu Maxi dirawat di rumah sakit. Setiap harinya
teman – teman Maxi silih berganti datang untuk menjenguknya, tidak terkecuali
Maura. Setiap hari Maura terus pergi menjenguk Maxi setelah pulang sekolah, dan
biasanya Maura selalu membawakan buah kepada Maxi atau tidak sebuah majalah
untuk sekedar menemani Maxi.
“Max.. sebenarnya kamu sakit apa sih?” tanya Maura di sela
– sela kunjungannya yang keempat kalinya
“gue cuma kecapean kok Ra.. nggak usah khawatir lagi yah”
“Aku pasti khawatir sama kamu, kamu kan sahabat Aku Max...
lain kali kamu nggak boleh capek – capek lagi ya!...”
“oke deh! Siap bos Maura.. hahaha”
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Maxi akhirnya
dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun ada beberapa hal yang tidak
biasa yang dilakukan Maxi yaitu, mengulang kenangan – kenangan indah bersama
Maura. Kenangan pertama Maxi adalah saat pertama kali ia bertemu dengan Maura.
Suatu hari saat pelajaran kosong, Maxi mengajak Maura untuk
keluar kelas. Sedang di lapangan telah berhamburan begitu banyak murid – murid.
“Max.. kita mau ngapain sih?” tanya Maura kebingungan
“lo masih inget nggak pertama kali kita ketemu?”
Maura hanya mengangguk, lalu Maxi mengajak Maura turun ke
lapangan. Setelah berada di tengah lapangan, Maxi memohon kepada Maura untuk
mengulangi adegan disaat – saat mereka berjoget bersama. Kebingungan Maura
semakin bertambah, sekarang ia benar – benar tidak mengerti mengapa ia harus di
tengah lapangan ini, dan berjoget bersama Maxi seperti saat pertama kali mereka
bertemu.
“plis Ra... gue mohon banget sama lo. Gue kangen masa –
masa kita baru pertama kali ketemu... plis ya Ra...” pinta Maxi dengan wajah
memelas. Dengan berat hati Maura menuruti keinginan Maxi yang agak ‘gila’ itu.
Sama seperti dulu, Maxi kembali membisikkan kata – kata yang sama saat Maura
gugup.
Kenangan – kenangan indah yang dulu, kembali diulang Maxi.
Ia ingin sekali menikmati akhir hidupnya bersama seseorang yang sangat ia
cintai walau Maura tidak pernah tahu betapa Maxi sangat mencintainya. Beberapa
tempat yang telah menyimpan banyak memori sudah dikunjungi satu persatu, mulai
dari kota tua, taman bunga, danau, dan juga pantai. Tempat – tempat itu telah
mengukir banyak kenangan manis Maxi bersama Maura.
Setelah sekian lama waktu terus berjalan, penyakit yang di
derita Maxi semakin parah. Di dalam hatinya, Maxi ingin sekali segera
mengungkapkan setiap perasaannya. Namun belum sempat Maxi mengungkapkan
perasaannya, Maura lebih dahulu mengungkapkan perasaannya. Suatu saat di sebuah
taman kota, Maura memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Max.. Aku mau cerita sesuatu sama kamu”
“cerita apa?”
“sebenernya, udah dari dulu, Aku suka sama seseorang, tapi
sampai sekarang Aku nggak berani nyatain perasaan Aku ke dia, Aku takut..”
“emangnya siapa cowok yang lo suka Ra?”
“hhmm.. tapi kamu jangan marah ya Max.. Aku suka sama kak
Willy”
Jantung Maxi seperti berhenti sejenak, rasanya tiba – tiba
ada sebilah pisau yang menghujam jantungnya, sakit, sakit sekali. Mendengar
pernyataan Maura, Maxi tidak dapat berkata – kata lagi. Maxi benar – benar
tidak percaya kalau Maura menyukai kakaknya sendiri. Maxi ingin sekali
menangis, namun Ia tidak ingin menangis di depan Maura. Maxi berusaha menahan
setiap perasaan sakit hatinya.
“Max.. kamu nggak masalah kan kalau Aku suka sama kakak
kamu?”
“eh.. hmm.. nggak apa – apa kok.” hanya kata – kata itu
yang dapat keluar dari mulut Maxi melalui sisa – sisa kekuatannya.
Tiga hari setelah pertemuan di taman kota itu, Maxi tidak
terlihat lagi di sekolah. Maura panik sekaligus cemas karena sahabtnya itu
tidak terlihat di sekolah dan juga tidak bisa dihubungi. Sampai suatu ketika
Maura mencoba menghubungi Willy, kakak Maxi.
“Maxi diopname di rumah sakit..” tutur Willy dari ujung
telepon
“sebenernya Maxi sakit apa sih kak?”
“Sejak kecil, Maxi menderita kanker otak Ra. Dan sekarang
kondisinya tambah kritis..
”
Maura tersentak, dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak
menyangka kalau selama ini Maxi menderita kanker otak. Dibalik senyuma
kegembiraannya ternyata Maxi menyimpan penyakit yang mematikan. Tetes air mata
perlahan mengalir keluar dari kedua mata Maura. Dengan segera Maura pergi ke
rumah sakit tempat Maxi di rawat.
“kak....” sahut Maxi lirih
“iya.. lo kenapa Max?” Willy tersentak kaget saat Maxi
memanggilnya
“tolong jaga Maura ya... dia cinta sama lo...”. Willy
sejenak terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Maxi. ‘menjaga Maura? Maura
cinta sama gue?’ tanya itu muncul di pikiran Willy. Walau masih tidak mengerti
akan permintaan adiknya itu, namun Willy mengiyakan permintaan terakhir Maxi.
Sesaat setelah itu, Maura tiba di rumah sakit. Di sana,
telah terbaring dengan ketidakberdayaan. Berbagai alat terpasang di tubuh Maxi.
Melihat kondisi Maxi yang begitu kritis, Maura kembali meneteskan air mata.
Dengan langkah gontai Maura berjalan mendekati Maxi.
“Maxi.. maafin Aku... maafin Aku karna nggak pernah bisa
ngerti kondisi kamu yang sebenernya.. maafin Aku....” bisik Maura lirih
Maxi yang terbaring lemah berusaha menyadarkan dirinya
kembali. Di akhir hidupnya ini, Ia ingin menungkapkan setiap perasaannya
“makasih banyak ya Maura.... buat semua..... yang udah lo
kasih..... ke gue..... maafin gue..... kalau gue.... nggak bisa... jadi sahabat....
yang baik... buat lo..... Tapi... satu hal.... yang perlu... lo tau... kalau
gue.... sayang banget..... sama lo..... gue cinta banget..... sama lo... lebih
dari sekedar sahabat... perasaan ini... udah jatuh terlalu dalam... makasih....
buat segala kenangan indah..... yang udah kita lalui.. “ dengan sisa – sisa
kekuatan Maxi berusaha mengungkap setiap perasaannya
Maxi
kemudian merengkuh tangan Maura dan Willy, Maxi kembali mengutarakan
perasaannya dengan sisa nafasnya, “Ra.. Aku... sayang... sayang... banget..
sama... kamu... I.. love.... you... so much.... titip.... Maura... ya kak....”
Setelah detik itu berlalu, tidak ada lagi helaan nafas.
Semua sunyi. Mata yang redup itu kini telah terpejam. Terpejam untuk selamanya.
Kesunyian itu akhirnya terpecah oleh suara tangisan. Tetesan air mata terus
mengalir dari banyak mata di ruangan itu. Semua yang ada disana menangisi
kepergian seorang anak, adik, cucu, dan juga sahabat tercinta mereka. Sosok
yang begitu periang kini telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi senyum
kebahagiaan yang dipancarkannya. Tidak ada lagi senda gurau, tidak ada lagi
tingkah konyolnya. Kebahagiaan itu telah pergi. Walau raga itu telah membeku,
dan nafas itu telah berhenti, namun setiap kenangan yang ditorehkannya masih
terbekas dan akan selalu terkenang di hati setiap orang.
***
Air mata itu kembali menetes. Rasa sesal itu kembali
membayangi Maura. Ia menyesal karena Ia tidak pernah bisa peka terhadap setiap
perhatian Maxi kepadanya. Ia menyesal karena tidak pernah tahu kondisi Maxi
yang sebenarnya. Maura sungguh menyesal. Namun segala penyesalan tidak akan
pernah terbayar karena Maxi telah pergi untuk selamanya.
“Maaf Max... maafin Aku...” sepenggal kalimat itu terucap
dari mulut Maura yang sedari tadi hanya membisu.
Dan
sekarang sudah enam tahun sejak kepergian Maxi. Walau cukup lama rentang waktu
itu, namun Maura masih teringat jelas dengan setiap kenangan yang pernah ia
lewati bersama Maxi. Karena setiap kejadian yang dijadikan kenangan itu akan
selalu ada dan terekam di dalam memori Maura.
Minggu, 11 November 2012
Ketiga kalinya, namun ini yang Pertama
Ingatan ini masih jelas sekali terngiang - ngiang di benakku. Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan apa yang orang - orang rasakan. Jantung yang berdebar - debar, perasaan gugup, senang tiba - tiba dan sedih tiba - tiba. Ya perasaan di atas dapat diwakilkan oleh satu kata yaitu Cinta. Mungkin aku pertama kali merasakan cinta pada saat kelas 6 SD. Menurutku, mencintai seseorang disaat kelas 6 SD itu terlalu cepat, jadi bisa dibilang aku mulai Menyukai bukan Mencintai seseorang saat diriku duduk di kelas 6 SD. Namun saat aku menyukai dirinya yang begitu menawan, tidak membuatku segera mendekatinya, karena aku tahu siapa diriku, dan siapa dirinya. Pada saat itu aku hanya minder dengan rupaku. Jadi aku hanya bisa menyukainya diam - diam, dan perasaan yang dulu itu tetap ada, namun sekarang aku bisa mengatakannya sebagai rasa kagum, kagum melihat rupanya yang begitu menawan. Setelah bertahun - tahun ku lalui tanpa pernah memikirkan seorang pria. Pada saat aku beranjak ke kelas 3 SMP, rasa itu mulai tumbuh kembali. Diri ini juga tidak menyangka kalau aku menyukai sosok pria yang satu kelas denganku itu. Pria yang kali ini telah menawan hatiku tidak mempunyai rupa semenawan pria yang pertama kali aku sukai. Hanya sekedar melihat tingkah lakunya yang sedikit unikdi dalam kelas dapat membuatku jatuh cinta. Untuk kedua kalinya aku tidak mau berusaha mendekatinya, alasan kali ini berbeda. Aku tidak ingin mendekatinya karena ia berbeda keyakinan denganku. Aku tahu sampai kapan pun keyakinanku dan dirinya tidak akan pernah menyatu. Sudah berapa pria yang ku sukai namun belum pernah ada seorang pria yang ku sukai yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Sampai suatu hari aku berdoa agar Tuhan mengijinkanku untuk mencintai seorang pria yang mempunyai keyakinan yang sama denganku. Entah berapa lama waktu telah berjalan, sampai akhirnya Tuhan menjawab doaku.
Kali ini, aku menyukai seseorang bukan karena parasnya, bukan juga karena aku sering bertemu dengannya tapi karena aku Mendengar kisah hidupnya. Ya pada awalnya temanku yang menyukai dirinya, namun karena aku penasaran dengan sosok pria itu, jadi aku berusaha mencari tahu seperti apa kepribadian dan sifat dari pria tersebut. Setelah mendengar cerita tentang pria tersebut, aku baru sadar kalau dia layak untuk dicintai, namun waktu terus berjalan, dan membuatku tiba - tiba lupa kalau aku menyukainya, jadi belum sempat aku berusaha untuk mendekat, dirinya telah bersama seorang gadis. Pria tersebut sangat mencintai kekasihnya, namun sang kekasih tidak pernah mencintai pria tersebut. Sedih rasanya melihat hubungan mereka yang terus menerus diselimuti keterpaksaan. Waktu telah menyadarkan dirinya kalau aku menyukai dirinya, namun aku tahu dirinya sengaja menghindariku. Walau terus tersiksa dengan perasaan cinta ini, namun aku ingin tetap berusaha sampai pada akhirnya aku tidak punya daya lagi untuk berusaha. Karena aku tahu ini yang pertama kalinya, dan apa salahnya jika aku memperjuangkannya..
Kali ini, aku menyukai seseorang bukan karena parasnya, bukan juga karena aku sering bertemu dengannya tapi karena aku Mendengar kisah hidupnya. Ya pada awalnya temanku yang menyukai dirinya, namun karena aku penasaran dengan sosok pria itu, jadi aku berusaha mencari tahu seperti apa kepribadian dan sifat dari pria tersebut. Setelah mendengar cerita tentang pria tersebut, aku baru sadar kalau dia layak untuk dicintai, namun waktu terus berjalan, dan membuatku tiba - tiba lupa kalau aku menyukainya, jadi belum sempat aku berusaha untuk mendekat, dirinya telah bersama seorang gadis. Pria tersebut sangat mencintai kekasihnya, namun sang kekasih tidak pernah mencintai pria tersebut. Sedih rasanya melihat hubungan mereka yang terus menerus diselimuti keterpaksaan. Waktu telah menyadarkan dirinya kalau aku menyukai dirinya, namun aku tahu dirinya sengaja menghindariku. Walau terus tersiksa dengan perasaan cinta ini, namun aku ingin tetap berusaha sampai pada akhirnya aku tidak punya daya lagi untuk berusaha. Karena aku tahu ini yang pertama kalinya, dan apa salahnya jika aku memperjuangkannya..
Rabu, 07 November 2012
Bukan Dia tapi Aku
Zaman
sekarang melihat seorang cowok yang bisa memainkan alat musik tradisional itu
adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak, hampir semua anak muda di Indonesia
rata – rata lebih tertarik memainkan alat musik modern nan canggih ketimbang
harus memainkan alat musik tradisional yang mereka anggap kuno itu. Jadi bisa
dipastikan kalau ada seorang anak muda yang bisa memainkan alat musik
tradisional sekaligus bisa memainkan alat musik modern itu keren dan ajaib.
Karena alasan diatas, seorang cewek SMA kelas sepuluh semester dua yang bernama
Renaya Sabila, sangat mengagumi dan menyukai kakak kelasnya yang bernama
Radhitya Hermawan.
Menurut
Naya, nama panggilan Renaya, sosok Radhit itu sangat unik dan istimewa.
Bagaimana tidak, perawakan Radhit yang tinggi, berkulit kuning langsat,
berwajah tampan, dan sangat mahir bermain piano sekaligus alat – alat musik
tradisional seperti gendang, angklung, dan bonang itu bisa membuat hampir murid
perempuan di SMA Bhineka jatuh cinta kepadanya. Di tengah banyaknya pesaing
untuk bisa mendapatkan hati Radhit, dan juga sikap Radhit yang begitu dingin
dan cuek kepada setiap cewek yang mendekatinya, Naya tetap optimis untuk bisa
mendapatkan hati Radhit.
Berbagai
usaha Naya lakukan agar dapat memikat hati Radhit. Mulai dari sekedar
memberikan senyuman termanis, hingga memberikan bekal terenak kepada Radhit -
yang setiap hari pasti membawa bekal ke sekolah. Hari demi hari berlalu begitu
saja, tanpa ada perkembangan yang signifikan dari sikap Radhit kepada Naya.
Naya tahu kalau Radhit sangat susah untuk dekat dengan seorang cewek, karena
sampai sekarang yang ada di hati Radhit hanya ada mantan pacarnya – yang sudah
mengubah sosok Radhit yang kasar menjadi sosok Radhit yang lembut dan ramah
kepada setiap orang. Namun karena kepergian mantan pacarnya yang tiba – tiba,
membuat Radhit kembali lagi menjadi sosok Radhit yang dahulu, yang sangat
kasar, dingin, dan cuek terutama kepada seorang cewek. Walaupun begitu Naya
tetap saja optimis mendekati Radhit, yang sudah jelas – jelas selalu menghindar
dan cuek kepadanya.
“kak..
kira – kira gue harus gimana lagi ya biar kak Radhit suka sama gue?” tanya Naya
kepada sahabatnya Radhit yang bernama Banyu
“aduuh..
lo masih aja ya ngedeketin Radhit? Padahal jelas – jelas dia selalu nyuekin lo”
cetus Banyu sedikit kesal.
Semenjak
awal Naya menyukai Radhit, Naya langsung menceritakannya kepada Banyu yang
merupakan sahabatnya Radhit. Naya selalu menanyakan apa yang harus ia lakukan
agar Radhit dapat menyukai dirinya. Pada awalnya Banyu dengan senang hati
membantu Naya, namun lama kelamaan Banyu mulai bosan membantu Naya karena sikap
Radhit yang selalu cuek terhadap perhatian yang diberikan Naya kepadanya.
“gue
cuma mau kasih tau ke lo, kalau setiap usaha lo itu bakalan sia – sia.. karena
Radhit masih sayang banget sama mantannya...” kalimat yang sebenarnya sangat
menusuk itu sudah berkali – kali disampaikan oleh Banyu kepada Naya, namun
karena dasarnya Naya adalah orang yang keras kepala, jadi apapun yang dikatakan
Banyu kepadanya, Naya tidak mau perduli. Terkadang karena sifat Naya yang keras
kepala membuat Banyu kesal.
“tapi
kak... gue suka banget sama kak Radhit... apapun yang terjadi, gue harus bisa
memperjuangkan perasaan gue kak!...” seru Naya optimis
‘seandainya
aja lo tau... kalo ada cowok yang bener – bener tulus suka sama lo.. dan itu
gue nay..’ keluh Banyu dalam hatinya.
Setiap
kali Naya bercerita tentang Radhit kepada Banyu, hati Banyu terasa sakit karena
mengetahui kalau cewek yang ia sayangi malah menyayangi sahabatnya sendiri, dan
jelas – jelas sahabatnya tidak pernah menyukai Naya. Banyu sebenarnya kasihan
setiap melihat perlakuan Radhit kepada Naya, sampai suatu hari Banyu benar –
benar tidak bisa memendung perasaan kasihannya kepada Naya
“Dhit..
gue minta tolong sama lo..”
“minta
tolong apaan?”
“gue
minta tolong lo buka hati buat Naya..” berat rasanya Banyu mengatakan hal ini,
tapi dia harus. Banyu tidak tahan lagi melihat Naya menangis karena sikap
dingin Radhit. Walaupun Banyu sangat ingin memiliki Naya, tetapi yang lebih
Banyu inginkan adalah bisa melihat Naya
bahagia bersama cowok yang ia sayangi. Memang terkadang Naya terlihat
optimis dengan setiap perjuangannya, namun Naya juga seorang perempuan yang
bisa meraskan kelelahan saat harus terus berjuang tanpa hasil.
“gue
nggak bisa. Kenapa harus gue yang buka hati? Kenapa nggak dia aja yang buka
hati buat lo?”
“nggak
mungkin Dhit! Dia cuma suka sama lo. Dan gue tau, susah buat dia untuk buka
hati buat orang lain.. jadi please Dhit, buka hati lo buat Naya..”
“demi
lo, gue akan coba..”
Karena
permintaan sahabatnya, Radhit akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Naya.
Sekarang setiap perhatian Naya mulai ditanggapi oleh Radhit. Hari demi hari,
minggu demi minggu, akhirnya Radhit mulai merasa nyaman dengan setiap perhatian
yang diberikan Naya untuknya. Sampai
suatu hari, perjuangan Naya untuk mendapatkan Radhit tidak sia – sia.
Di
suatu malam, Radhit mengajak Naya jalan – jalan ke sebuah pasar malam yang
letaknya tidak jauh dari rumah Naya
“Nay..
kita naik bianglala itu yuk..” ajak Radhit setelah cukup lama mereka
mengelilingi pasar malam yang ramai itu
“sekarang
gue mau ngomong jujur sama lo...” ucap Radhit saat ia dan Naya sedang berada di
atas bianglala
“jujur
soal apa?”
“jujur
awalnya emang gue nutup diri dari lo, tapi gue berusaha membuka hati gue buat
lo. Dan ternyata lo itu baik banget, jauh banget dari yang gue kira... sekarang
gue sadar kalo lo itu adalah anugrah yang paling indah di hidup gue.. so would
you be mine?”
Penjelasan
yang begitu jujur dari Radhit membuat Naya tersontak kaget. Naya tidak
menyangka kalau perjuangannya selama ini tidak sia – sia. Pada akhirnya saat –
saat yang diimpikan Naya tiba. Dengan senang hati Naya mengiyakan pertanyaan
Radhit
“makasih
ya... tambah sayang deh sama kamu hehehe” seru Radhit bahagia
Malam
itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Radhit dan Naya, kecuali Banyu.
Pagi – pagi saat Banyu baru saja tiba di sekolah, ia melihat Radhit
berboncengan dengan Naya. Hati Banyu begitu miris melihat cewek yang ia suka
akhirnya menjadi pacar sahabatnya.
‘selamat
ya Nay.. selamat juga buat lo Dhit, lo beruntung banget bisa dapetin Naya, gue
iri sama lo, tapi gue doain yang terbaik buat kalian berdua...’ ucap Banyu
dalam hati. Walaupun sakit namun Banyu harus merelakan Naya demi kebahagiaan
Naya.
“hai
kak Banyu...” sapa Naya dengan wajah gembiranya yang jelas – jelas terlihat
dari pancaran sinar matanya
“eh
Banyu...liat dong gue gandeng siapa?... hahahaha...”
“eh
hehe.. cie selamet ya yang udah jadian.. PJ bisa kali.. hahaha..” Banyu berusaha
menutupi rasa sedihnya dengan mengembangkan senyuman yang sangat dipaksa
“oke
deh sip! Tunggu aja pas istirahat hahaha...” sahut Radhit tidak kalah gembira
dengan Naya
‘miris
melihat mereka bahagia... tapi ini udah jadi keputusan gue, dan gue harus bisa
terima kenyataan..’ gumam Banyu dalam hati.
***
Seiring
berjalannya waktu, sifat – sifat asli Radhit mulai terlihat. Setelah sembilan
bulan berpacaran, Naya baru tahu kalau sebenarnya Radhit adalah seorang
perokok. Karena Naya tidak suka dengan cowok perokok, Naya ingin mengingatkan
Radhit untuk tidak merokok lagi, namun Radhit tetap tidak mau berubah. Setelah
sembilan bulan juga, Naya baru tahu kalau Radhit sudah salah bergaul, ternyata
Radhit selama ini berteman dengan orang – orang yang memakai obat – obatan
terlarang dan juga yang suka minum minuman keras. Saat Naya tahu hal seperti
itu, Naya langsung tidak mengijinkan Radhit untuk berteman dengan mereka, namun
lagi – lagi Radhit tetap tidak mau berubah. Naya sempat putus asa menghadapi
Radhit yang begitu keras kepala. Sampai suatu ketika Radhit dan Naya mengalami
pertengkaran yang cukup hebat
“Dhit
Aku mau kamu berubah.. “
“Aku
nggak bisa... bisa nggak sih kamu terima Aku apa adanya?”
“Aku
mau terima kamu apa adanya, tapi Aku mohon kamu untuk berubah, semua ini juga
demi kebaikan kamu...”
“kenapa
sih kamu selalu ngatur – ngatur hidup Aku? Awalnya Aku terima, tapi kesini –
sini kamu jadi lebay! Aku udah males hadepin kamu!..”
“tapi
ini semua karena Aku sa..”
“alah!
Jangan pake alesan sayang – sayang deh! Males gue!” Bentak Radhit lalu langsung
pergi meninggalkan Naya yang sudah berlinang air mata
Di
tengah kejadian itu, Banyu melihat semuanya. sorot mata penuh dengan emosi
ditujukannya pada Radhit. Banyu tidak terima kalau Naya diperlakukan seperti
itu. Melihat cewek yang ia sayangi mulai menangis, dengan segera Banyu datang
menghampiri Naya dan memberikannya sebuah sapu tangan
“ini
buat lo... please jangan nangis, gue nggak tega kalau ngeliat lo nangis Nay..”
sahut Banyu sambil memberikan sapu tangannya kepada Naya
“gue
udah nggak kuat kak... kenapa sih dia nggak mau berubah? Itu semua kan demi
kebaikannya..” seru Naya sambil terus menangis
“iya
gue tau kok maksud baik lo ke dia... udah ya nggak usah nangis lagi.. kemana
nih Naya yang kuat? Ayo jangan nangis lagi ya please...”
Naya
mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak menetes lebih banyak lagi. Entah
apa yang terjadi, namun Naya merasakan kenyamanan saat berada di dekat Banyu,
tidak seperti saat Naya bersama dengan Radhit. Setelah melihat kondisi Naya
yang lebih tenang, Banyu mengajak Naya pergi ke sebuah danau yang ada di hutan
kota. Sesampainya di hutan kota, Banyu mengajak Naya berjalan kaki menyusuri
jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan tinggi. Suasana yang
begitu menenangkan membuat hati Naya juga ikut tenang.
“udah
tenang?” tanya Banyu sambil menoleh sebentar ke araha Naya
“udah..
makasih ya kak..”
“sip..
kalau lo udah bener – bener nggak kuat hadapin dia mending lo putus aja,
daripada lo tersiksa terus..” dengan entengnya Banyu mengungkapkan isi hatinya.
Mendengar perkataan Banyu, Naya yang sedari tadi menikmati suasana hutan kota
tiba – tiba saja terusik. Naya memberhentikan langkahnya kemudian menoleh ke
arah Banyu
“maksud
lo apaan kak?” tanya Naya bingung
“ah?
Ng.. ya iya kalo lo udah nyerah sama Radhit ya putusin aja, emang ada yang
salah?”
“salah
lah.. dulu lo dukung gue banget, tapi kenapa tiba – tiba lo langsung saranin
gue buat putus sama Radhit?”
“aduh
lo nggak tau apa? gue tuh capek ngeliatin lo disakitin terus sama Radhit..
karena gue tuh sa..” hampir saja Banyu mengatakan perasaan yang sesungguhnya
kepada Naya
“sa
apa kak?”
“eh
nggak apa – apa.. udah nggak usah dibahas lagi ya..”
Walau
Naya melihat ada yang aneh dari Banyu, namun Naya tidak mau memikirkannya.
Sekarang yang hanya Naya pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membua Radhit
kembali seperti dulu. Satu bulan berlalu dan selama satu bulan itu, Naya
sengaja tidak pernah menghubungi Radhit, agar Radhit bisa sadar atas setiap
kesalahannya. Satu bulan lamanya Naya acuh kepada Radhit, namun Radhit belum
sadar juga. Hingga tepat seminggu sebelum Naya dan Radhit merayakan tahun
pertama mereka berpacaran, barulah Radhit sadar kalau dia membutuhkan Naya
untuk mengontrolnya.
Saat
malam hari tiba, Radhit mengajak Naya pergi ke sebuah pantai. Radhit mengajak
Naya untuk melihat matahari terbenam di ufuk barat. Awal pertemuan mereka
kembali terasa begitu kaku, karena hampir dua bulan mereka tidak bertegur sapa.
Ditemani matahari yang mulai beranjak turun dari peraduannya, Naya dan Radhit
duduk di tepi pantai, sambil memandangi langit biru yang mulai berubah oranye.
“Nay...
sebelumnya Aku minta maaf banget sama kamu...” sepenggal kalimat itu akhirnya
terucap dari mulut Radhit. Naya sejenak menoleh dan menatap mata Radhit dalam –
dalam, namun Naya tidak mau menjawab
“maafin
Aku karena Aku selama ini udah sia – siain kamu. Maafin Aku karena selama ini
Aku nggak mau denger nasehat kamu. Maafin Aku Nay.... sekarang Aku sadar kalau
setiap perkataan kamu itu benar. Sekarang Aku udah ninggalin semua temen –
temen Aku, sekarang Aku hanya perlu kamu di hidup Aku. Aku butuh kamu lagi...
apa kamu mau balikan sama Aku?” Pinta
Radhit sambil menatap mata Naya dalam – dalam
“dari
awal Aku udah maafin kamu kok... kita kan nggak pernah putus, jadi kenapa harus
balikan?” pertanyaan Naya itu hanya dibalas dengan pelukan lembut dari Radhit
“makasih
banyak Nay.. kamu memang anugrah terindah dan teristimewa di hidup Aku.. Aku
sayang kamu lebih dari apapun..” bisik Radhit halus
“makasih
juga kamu udah mau berubah.. Aku juga sayang sama kamu lebiiih lagi...”
Ketegangan
dan kedinginan yang sempat terjadi diantara Naya dan Radhit kini telah hilang.
Semua amarah dan benci kini hilang lenyap dan digantikan oleh cinta yang
kembali berbunga – bunga. Namun kesenangan itu harus berhenti saat takdir
memaksakan mereka untuk berpisah.
Suatu
malam, Radhit ingin mengajak Naya merayakan tahun pertama mereka berpacaran di
sebuah cafe
“ayo
kita berangkat!..” sahut Radhit sambil memberikan helmnya kepada Naya
“loh
helm kamu kemana Dhit?” tanya Naya bingung. Biasanya Radhit selalu membawa dua
helm, untuk dirinya dan juga Naya, namun kali ini Radhit lupa untuk membawa
satu helm lagi.
“oh
iya? Aku lupa. Di rumah nggak ada helm?”
“nggak
ada.. helmnya lagi dipake sama Papa... terus gimana dong?”
“udah
kamu aja ya yang pake.. biar kamunya nggak apa – apa..”
Dari
awal Radhit menjemput Naya, tiba – tiba saja Naya merasakan hal yang aneh. Saat
dalam perjalanan perasaan yang sangat mengganjal itu semakin menjadi – jadi.
Ketika jalanan kota sedang begitu macet, Radhit dengan gesitnya meliuk – liukan
motornya ke kanan dan ke kiri untuk menyalip kendaraan yang begitu padat. Namun
setelah keluar dari kepadatan kendaraan itu, tiba – tiba saja ada sebuah truk
yang berjalan dengan tidak terkendali dan akhirnya menabrak Radhit. Hantaman
yang begitu keras membuat kepala Radhit pecah, dan nyawa Radhit tidak sempat
untuk diselamatkan, sedangkan Naya yang memakai helm juga mengalami luka yang
cukup parah namun nyawa Naya masih sempat untuk diselamatkan. Sejak tabrakan
itu sampai satu minggu kemudian Naya tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu
tidak sadarkan diri, akhirnya Naya kembali siuman
“Radhit...
Radhit mana?....” sahut Naya lemah sesaat setelah ia baru sadarkan diri.
“Radhit
sudah pergi nak...” jawab Ibunda Naya dengan suara lirih
“Radhit
pergi kemana ma?..” wajah Naya kini berubah cemas dan air mata pun mulai
menggenang di matanya
“Radhit
sudah meninggal ...”
Air
mata itu akhirnya menetes membasahi wajah pucat Naya. Jantungnya terasa begitu
sesak. Naya masih tidak menyangka kalau Radhit telah meninggal. Baru saja Naya
dan Radhit berbaikkan, dan saat hubungan mereka menginjak satu tahun semuanya
harus diakhiri. Semakin lama air mata itu bertambah deras.
“ma...
mama bohong kan kalau Radhit udah meninggal? Mama disuruh Radhit buat bohong
kan? Iya kan ma?” dalam benak Naya, baru saja dirinya dan Radhit ingin pergi
untuk merayakan satu tahun hubungan mereka.
Ibunda
Naya hanya bisa menangis melihat anaknya begitu terpukul karena ditinggalkan
oleh sosok yang ia sayangi selain keluarganya. Dengan penuh kesabaran Ibunda
Naya berusaha meyakinkan Naya kalau Radhit benar – benar meninggal.
“kalo
Radhit benar – benar meninggal, Aku mau lihat makamnya Radhit sekarang!...”
seru Naya sambil terus terisak
“nggak
bisa nak.. kamu masih sangat lemah, kamu belum boleh pergi kemanapun..”
Untuk
pertama kalinya Naya kehilangan salah satu orang yang ia sayangi. Kejadian yang
begitu cepat membuat Naya masih belum mempercayai kalau Radhit telah meninggal.
Selama beberapa hari Naya harus memendam keinginannya untuk melihat makam
Radhit. Melihat kondisi Naya yang sudah mulai kuat, akhirnya Naya boleh pulang
ke rumah. Baru saja Naya pulang dari rumah sakit, ia langsung memaksa kakak
laki – lakinya untuk mengantarkannya ke tempat dimana Radhit dimakamkan.
“Radhit....
kamu kok cepet banget perginya? Kita kan belum sempet ngerayain anniv kita...
Radhit bangun dong... Aku kangen sama kamu.... Radhiiitt....” sambil memegang
batu nisan Radhit, Naya menangis begitu keras. kakak lelaki Naya hanya bisa
memegang pundak adik perempuannya itu dan berusaha menenangkan Naya yang begitu
tidak terima kalau Radhit telah meninggal. Di kejauhan sosok Banyu yang begitu
lemah sedang berdiri melihat cewek yang ia sayangi begitu sedih.
‘Nay...
gue juga sedih kehilangan Radhit... tapi gue lebih sedih lagi ngeliat lo nangis
kayak sekarang...’ hati Banyu terasa sesak melihat Naya yang begitu kehilangan
Radhit.
Melihat
Naya yang tidak berhenti menangis, kakak lelaki Naya pun langsung mengajak Naya
untuk segera pulang, ia tidak mau Naya semakin larut dengan kesedihannya.
Awalnya Naya terus memberontak, namun kondisi Naya yang belum begitu pulih
membuat Naya kehilangan daya, dan akhirnya menuruti kakak lelakinya untuk
segera pulang. Sesaat setelah Naya meninggalkan tempat pemakaman, segera Banyu
menghampiri makam Radhit. Sambil menaruh sebuah karangan bunga diatas makam
Radhit, Banyu pun mengutarakan perasaannya,
“Dhit...
lo tau kan kalau gue dari dulu gue sayang banget sama Naya? Sampai sekarang gue
masih sayang banget sama Naya.. lo tau kan Naya sedih banget kehilangan lo,
tapi gue nggak tahan ngeliat dia nangis terus.. Dhit gue minta ijin sama lo
untuk ngedeketin Naya, gue mau buat dia bahagia, sama kayak lo yang mau
bahagiain dia. Kita sama – sama sayang Naya, jadi gue mohon lo ijinin gue untuk
sayang sama Naya, dan untuk bahagiain Naya.. bantuin gue ya Dhit, gue mohon...”
***
Berbulan
– bulan membiarkan cewek yang ia sayangi terus berduka sebenarnya sangat
menyiksa batin Banyu. Namun hal itu harus ia lakukan karena Banyu tidak mau terlalu
cepat datang kembali ke kehidupan Naya. Setelah Banyu benar – benar menyadari
kalau Radhit sudah mengijinkannya untuk mendekati Naya, barulah Banyu mulai
mendekati Naya kembali. Perhatian yang dulu sering ditujukan kepada Naya secara
diam – diam kini jelas terlihat. Banyu tidak mau menyia – nyiakan kesempatan
untuk bersama Naya lagi. Sudah cukup Banyu mengalah untuk Radhit. Dengan setiap
perhatian tulus Banyu, lama kelamaan membuat hati Naya luluh dan kembali
terbuka.
Sudah
berbulan – bulan pendekatan itu dimulai. Banyu tahu tidak mudah bagi Naya untuk
begitu saja melupakan Radhit didalam hati dan pikirannya karena itu Banyu
dengan sabar menunggu Naya sampai pada akhirnya Naya dapat menerima Banyu apa
adanya tanpa membawa kenangan masa lalunya saat masih bersama Radhit.
Saat
mental benar – benar telah siap, Banyu akhirnya memutuskan untuk menyatakan
perasaannya yang selama ini ia pendam kepada Naya. Di sebuah hutan kota yang
begitu teduh, Banyu mengajak Naya sejenak berjalan kaki mengelilingi hutan kota
yang cukup luas itu. Dikerindangan pohon – pohon itu, Banyu menghentikan
langkahnya dan kemudian berlutut dihadapan Naya. Melihat kejadian itu Naya
tersentak kaget
“Naya...
sekarang gue mau jujur sama lo. Dari dulu, sebelum lo suka sama Radhit, gue
udah sayang banget sama lo. Tapi karena gue tahu kalau lo suka sama Radhit,
jadi gue mencoba berhenti ngedeketin lo, dan membiarkan Radhit yang ngedeketin
lo. Sakit sebenernya, tapi gue harus ikhlas. Dan sekarang, gue nggak mau menyia
– nyiakan kesempatan untuk mendapatkan lo. Gue mau membahagiakan lo dengan
sepenuh hati gue, gue mau jagain lo, gue mau perhatian sama lo.. so would you
be my girlfriend?”
Terkejut
bercampur senang saat mendengar pernyataan dari Banyu. Naya tidak menyangka
kalau dari dulu Banyu sudah menyukainya.
“i
would...” jawab Naya sambil mengembangkan senyumannya. Mendengar jawaban dari
Naya, Banyu langsung mengeluarkan bunga mawar putih dan juga sebuah boneka
teddy bear dari dalam tas ranselnya dan segera memberikannya kepada Naya. Naya
pun menerimanya dengan senang hati.
‘akhirnya
kamu tahu... kalau bukan dia yang ditakdirkan untukmu, melainkan Aku...’ gumam
Banyu dalam hati.
TAMAT....
Langganan:
Komentar (Atom)

