about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Selasa, 26 Juni 2012

Lima


Seperti biasa pagi ini aku berdiri di depan halte bus menunggu bus yang menuju sekolahku. Saat aku menoleh ke kanan dan kekiri aku melihat kak Satrio dengan motornya berjalan menghampiriku.    
    “ ayo bareng lagi! “ serunya
Dengan senang hati aku menerima ajakannya. Di perjalanan mulai timbul pertanyaan di benakku, ‘ kenapa ya akhir – akhir ini kak sat baik kepadaku? Kenapa dia dengan senang hati menawarkan tumpangan kepadaku? Apakah dia tidak punya pacar sehingga dia dengan senang hati pergi ke sekolah bersamaku?’ pertanyaan – pertanyaan ini terus muncu di benakku sampai aku ingin mengeluarkannya. Dengan berani aku mengungkapkan rasa penasaranku,
    “ kak, kalau aku di boncengin sama kakak, nggak ada yang marah apa? “
    “ marah? Siapa yang marah? “
    “ ya pacar kakaklah... “
    “ gue nggak punya pacar. “
    “ oh. Kok kakak jadi baik sih sama aku? Tumben banget? “
    “ emangnya nggak boleh kalau gue baik sama lo? “
    “ ya nggak gitu juga sih, tapi kan aneh aja gitu, kenapa baru sekarang baiknya... “
    “ suka – suka gue dong. “ jawabnya cuek.
‘ aduh kak satrio ini terkadang baik banget tapi terkadang bisa sangat menyebalkan seperti Rafka ‘ keluhku dalam hati. Aku berpikir kalau kak Satrio sensi sekali saat aku berbicara tentang ‘pacaran’, mungkin kak Satrio mempunyai pengalaman yang buruk tentang masa lalunya. Buktinya setelah aku bertanya tentang pacarnya, dia langsung diam tidak seperti biasanya. Sesampainya di sekolahpun dia tidak berkata apa – apa kepadaku, saat aku mengucapkan terimakasih dia hanya membalasnya dengan anggukan kepala, wajahnya pun jadi berubah suram saat aku menatap wajahnyam aku jadi pensaran sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Satrio?...
Setelah bel pulang berbunyi aku berniat untuk mencari kak Satrio, aku ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi dengannya. Aku berjalan menuju kelasnya, dan aku menemukan kak Satrio sedang duduk di bangku yang letaknya persis di depan kelasnya. Aku perhatikan kak Satrio tertunduk lemas, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat membebani hatinya. Aku pun berjalan mendekatinya, mencoba menenangkan hatinya yang mungkin sedang galau.
    “ kak Sat baik – baik aja kan? “
Kak Satrio tetap tertunduk, dia tidak menjawab pertanyaanku, tatapannya kosong saat menunduk. Aku berusaha menanyakan lagi tentang kondisinya saat ini,
    “ kak, kakak nggak apa – apa kan? “ tanyaku sambil memegang bahunya. Seketika itu juga tubuh kak Satrio rebah ke pundakku, kak Satrio tidak sadarkan diri. Aku panik dan segera memanggil teman – temannya untuk membawa kak Satrio ke ruang UKS. Tampak sekali wajah kak Satrio pucat, tangannya dingin. Melihat kak Satrio tidak sadarkan diri, aku jadi sangat khawatir padanya. Saat kak Satrio dibaringkan di tempat tidur, Rafka muncul di depan pintu UKS dengan wajah yang sangat khawatir, dia buru – buru masuk dan menanyakan apa yang terjadi terhadap kak Satrio,
    “ ruby, sebenarnya apa yang barusan terjadi? Kenapa Satrio bisa tiba – tiba pingsan? “
    “ aku nggak tau kak. Tadi aku nyamperin kak Satrio, dan aku udah lihat dia sudah lemas, saat aku tanya dia kenapa, dia nggak menjawab apa – apa, aku tanya sampai dua kali tapi nggak ada jawaban, malah kak Satrio langsung tumbang. Kak Rafka tahu kalau kak Satrio punya penyakit apa? “
    “ setahu gue dia nggak punya penyakit apa – apa. Dulu pas dia masih smp dia juga pernah pingsan. Biasanya dia pingsan karena kondisinya yang ngedrop banget dan banyak beban yang dia pikirin. “
    “ emang beban apa yang sampai dia pikirin? “
    “ saat smp ayahnya meniggal dunia, karena dia adalah anak pertama jadi tanggung jawab keluarganya dibebankan ke dia semua. Selama smp dia terus kerja keras untuk membantu ekonomi keluarganya, sampai suatu hari kondisinya benar – benar drop dan harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. “
Mendengar penjelasan dari Rafka membuatku sadar betapa baiknya kak Satrio dan betapa tangguhnya kak Satrio dalam menjalani kehidupannya bersama keluarga tanpa seorang kepala rumah tangga. Aku tidak bisa membayangkan saat seorang anak yang biasa bergantung kepada sang ayah, dan saat sang ayah pergi untuk selamanya dia harus bisa menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Beban yang kak Satrio pikul memang sangat berat, tetapi semua beban itu seperti tidak ada karena keceriaan yang kak Satrio bawa setiap harinya. Pantas saja Rafka sangat panik saat mengetahui sahabatnya itu pingsan, saat itu Rafka sangat berbeda sekali. Aku bertanya kepadanya dan ia menjawabnya dengan sangat lugas, sifat yang selama ini ia tunjukkan tidak kelihatan sama sekali sekarang.
Walaupun aku telah mendengar penjelasan tentang kak Satrio, ada satu pertanyaan besar, kenapa saat aku bertanya tentang pacarnya kak Satrio langsung diam seribu bahasa, apakah faktor lain ia pingsan karena ia memikirkan mantan pacarnya?
    “ kak, aku boleh nanya sesuatu nggak? “ tanyaku pada Rafka
    “ mau tanya apa? “
    “ tadi aku tanya tentang pacarnya, tapi dia langsung jawab dengan jutek. Memangnya ada apa sih dengan mantan pacarnya kak? “
    “ sebenarnya ini privasinya dia, tapi gue rasa lo cukup aman kalau gue cerita tentang masalah ini. “
    “ tenang kak, aku nggak bakalan ngebocorin cerita ini. “
    “ jadi sebenarnya saat Satrio kelas tiga smp, dia punya pacar namanya Delia. Delia itu adalah anak dari teman bisnis ayahnya Satrio. Saat bisnis ayahnya Satrio berkembang Delia sangat perhatian kepada Satrio, tetapi saat bisnis ayahnya mulai bangkrut Delia mulai meninggalkannya. Setelah di usut, ayahnya Delialah yang menyebabkan perusahaan ayah Satrio bangkrut, dan ternyata Delia yang selama ini sangat dicintai oleh Satrio hanya memanfaatkan keadaan Satrio yang kaya, dan penyebab ayahnya meninggal adalah frustasi karena telah dikhianati oleh rekan bisnisnya selama ini. Karena hal itulah Satrio jadi seperti ini, setiap ditanya tentang pacar, pasti dia lanngsung teringat dengan kejadian satu tahun yang silam.”
Aku hanya bisa terdiam saat mendengar cerita tentang masa lalu kak Satrio. ‘ kenapa ya ada orang yang sekejam itu? Kenapa dia harus memanfaatkan kekayaan keluarga Satrio? Padahal ayahnya juga seorang pebisnis? Aku tidak habis pikir dengan mantannya itu. ‘ pikirku dalam hati.
Setelah menunggu kira – kira selama lima belas menit, akhirnya kak Satrio sadar dari pingsannya. Aku bisa melihat rawut wajahnya yang sangat lelah dan banyak pikiran. Perlahan – lahan ia bangun dari tempat tidurnya, menatap kami – aku dan Rafka – dengan penuh arti, aku bisa mengartikan tatapannya kalau dia ingin berkata kalau kondisinya baik – baik saja dan jangan khawatir dengan kondisinya saat ini. Rafka langsung mendekatinya dan sambil memegang pundak sahabatnya ia berkata,
    “ sat, lo baik – baik aja kan? lokenapa lagi sih? “
    “ gue baik – baik aja kok raf. Gue cuma kecapean aja. Nggak usah dipikirin. “ katanya sambil tersenyum kepada Rafka
“ oya bi, nanti gue nggak bisa ngaterin lo pulang. Gue takut nanti lo kenapa – kenapa lagi. Nanti lo dianter Rafka aja ya...” sambung kak Satrio
    “ sudahlah kak. Nggak usah repot – repot aku bisa ko pulang sendiri. “ jawabku
    “ ia tuh bener... “ sahut Rafka
Kak Satrio pun langsung memegang tangan Rafka dengan sangat kuat, dan tampaknya kak Satrio ingin membisikkan sesuatu kepada Rafka tetapi suaranya terlalu keras untuk membisikkan sesuatu jadi aku dapat mendengar semuanya,
    “ ayolah raf, ini demi gue okey? Lo sahabat gue kan? Please raf, lo nggak mau terjadi apa – apa kan sama lo nanti? “
    “ iya deh iya sat... “ jawab Rafka terpaksa
    “ udah buruan pergi... “ sahut kak Satrio sambil mendorong Rafka
    “ iya sat iya. “
Rafka langsung pergi meninggalkan kak Satrio tanpa mengajakku pergi, sesaat aku hanya bisa terdiam,
    “ eh, jadi gue anterin nggak nih?! “ sahutnya dari parkiran motor
Aku terkaget dan langsung berpamitan kepada kak Satrio. Aku setengah berlari mendekati Rafka, dan aku pun langsung naik ke atas motornya. Perasaan yang kurasakan sungguh tidak keruan, ada perasaan senang, tidak menyangka, ini semua seperti mimpi. Bagaimana tidak, akhirnya aku diboncengi oleh Rafka, dibelakang aku hanya bisa tersenyum – senyum sendiri. Di tengah perjalanan Rafka bertanya kepadaku,
    “ eh rumah lo dimana sih? “
    “ aku tinggal di jalan mawar no 96 kak. “
Setelah tahu alamat rumahku, Rafka langsung memacu motornya dan mengantarkanku sampai ke depan rumahku. Aku tidak lupa mengucapka terima kasih karena telah diantar pulang, walaupun aku tahu Rafka melakukannya terpaksa karena paksaan dari kak Satrio, ‘tetapi tidak apalah yang penting aku sudah pernah dibonceng oleh Rafka hehehe’ pikirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar