LIMA
Seperti biasa pagi ini aku berdiri di depan halte bus menunggu
bus yang menuju sekolahku. Saat aku menoleh ke kanan dan kekiri aku melihat kak
Satrio dengan motornya berjalan menghampiriku.
“ ayo bareng
lagi! “ serunya
Dengan senang hati aku menerima ajakannya. Di perjalanan mulai
timbul pertanyaan di benakku, ‘ kenapa ya akhir – akhir ini kak sat baik
kepadaku? Kenapa dia dengan senang hati menawarkan tumpangan kepadaku? Apakah
dia tidak punya pacar sehingga dia dengan senang hati pergi ke sekolah
bersamaku?’ pertanyaan – pertanyaan ini terus muncu di benakku sampai aku ingin
mengeluarkannya. Dengan berani aku mengungkapkan rasa penasaranku,
“ kak, kalau
aku di boncengin sama kakak, nggak ada yang marah apa? “
“ marah? Siapa
yang marah? “
“ ya pacar
kakaklah... “
“ gue nggak
punya pacar. “
“ oh. Kok kakak
jadi baik sih sama aku? Tumben banget? “
“ emangnya
nggak boleh kalau gue baik sama lo? “
“ ya nggak gitu
juga sih, tapi kan aneh aja gitu, kenapa baru sekarang baiknya... “
“ suka – suka
gue dong. “ jawabnya cuek.
‘ aduh kak satrio ini terkadang baik banget tapi terkadang
bisa sangat menyebalkan seperti Rafka ‘ keluhku dalam hati. Aku berpikir kalau
kak Satrio sensi sekali saat aku berbicara tentang ‘pacaran’, mungkin kak
Satrio mempunyai pengalaman yang buruk tentang masa lalunya. Buktinya setelah
aku bertanya tentang pacarnya, dia langsung diam tidak seperti biasanya.
Sesampainya di sekolahpun dia tidak berkata apa – apa kepadaku, saat aku
mengucapkan terimakasih dia hanya membalasnya dengan anggukan kepala, wajahnya
pun jadi berubah suram saat aku menatap wajahnyam aku jadi pensaran sebenarnya
apa yang terjadi dengan kak Satrio?...
Setelah bel pulang berbunyi aku
berniat untuk mencari kak Satrio, aku ingin bertanya sebenarnya apa yang
terjadi dengannya. Aku berjalan menuju kelasnya, dan aku menemukan kak Satrio
sedang duduk di bangku yang letaknya persis di depan kelasnya. Aku perhatikan
kak Satrio tertunduk lemas, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat
membebani hatinya. Aku pun berjalan mendekatinya, mencoba menenangkan hatinya
yang mungkin sedang galau.
“ kak Sat baik
– baik aja kan? “
Kak Satrio tetap tertunduk, dia tidak menjawab pertanyaanku,
tatapannya kosong saat menunduk. Aku berusaha menanyakan lagi tentang
kondisinya saat ini,
“ kak, kakak
nggak apa – apa kan? “ tanyaku sambil memegang bahunya. Seketika itu juga tubuh
kak Satrio rebah ke pundakku, kak Satrio tidak sadarkan diri. Aku panik dan
segera memanggil teman – temannya untuk membawa kak Satrio ke ruang UKS.
Tampak
sekali wajah kak Satrio pucat, tangannya dingin. Melihat kak Satrio tidak
sadarkan diri, aku jadi sangat khawatir padanya. Saat kak Satrio dibaringkan di
tempat tidur, Rafka muncul di depan pintu UKS dengan wajah yang sangat
khawatir, dia buru – buru masuk dan menanyakan apa yang terjadi terhadap kak
Satrio,
“ ruby,
sebenarnya apa yang barusan terjadi? Kenapa Satrio bisa tiba – tiba pingsan? “
“ aku nggak tau
kak. Tadi aku nyamperin kak Satrio, dan aku udah lihat dia sudah lemas, saat
aku tanya dia kenapa, dia nggak menjawab apa – apa, aku tanya sampai dua kali
tapi nggak ada jawaban, malah kak Satrio langsung tumbang. Kak Rafka tahu kalau
kak Satrio punya penyakit apa? “
“ setahu gue
dia nggak punya penyakit apa – apa. Dulu pas dia masih smp dia juga pernah
pingsan. Biasanya dia pingsan karena kondisinya yang ngedrop banget dan banyak
beban yang dia pikirin. “
“ emang beban
apa yang sampai dia pikirin? “
“ saat smp
ayahnya meniggal dunia, karena dia adalah anak pertama jadi tanggung jawab
keluarganya dibebankan ke dia semua. Selama smp dia terus kerja keras untuk
membantu ekonomi keluarganya, sampai suatu hari kondisinya benar – benar drop
dan harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. “
Mendengar penjelasan dari Rafka membuatku sadar betapa baiknya
kak Satrio dan betapa tangguhnya kak Satrio dalam menjalani kehidupannya
bersama keluarga tanpa seorang kepala rumah tangga. Aku tidak bisa membayangkan
saat seorang anak yang biasa bergantung kepada sang ayah, dan saat sang ayah
pergi untuk selamanya dia harus bisa menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi
tulang punggung keluarga. Beban yang kak Satrio pikul memang sangat berat,
tetapi semua beban itu seperti tidak ada karena keceriaan yang kak Satrio bawa
setiap harinya. Pantas saja Rafka sangat panik saat mengetahui sahabatnya itu
pingsan, saat itu Rafka sangat berbeda sekali. Aku bertanya kepadanya dan ia
menjawabnya dengan sangat lugas, sifat yang selama ini ia tunjukkan tidak
kelihatan sama sekali sekarang.
Walaupun aku telah mendengar penjelasan tentang kak Satrio,
ada satu pertanyaan besar, kenapa saat aku bertanya tentang pacarnya kak Satrio
langsung diam seribu bahasa, apakah faktor lain ia pingsan karena ia memikirkan
mantan pacarnya?
“ kak, aku
boleh nanya sesuatu nggak? “ tanyaku pada Rafka
“ mau tanya
apa? “
“ tadi aku
tanya tentang pacarnya, tapi dia langsung jawab dengan jutek. Memangnya ada apa
sih dengan mantan pacarnya kak? “
“ sebenarnya
ini privasinya dia, tapi gue rasa lo cukup aman kalau gue cerita tentang
masalah ini. “
“ tenang kak,
aku nggak bakalan ngebocorin cerita ini. “
“ jadi
sebenarnya saat Satrio kelas tiga smp, dia punya pacar namanya Delia. Delia itu
adalah anak dari teman bisnis ayahnya Satrio. Saat bisnis ayahnya Satrio
berkembang Delia sangat perhatian kepada Satrio, tetapi saat bisnis ayahnya
mulai bangkrut Delia mulai meninggalkannya. Setelah di usut, ayahnya Delialah
yang menyebabkan perusahaan ayah Satrio bangkrut, dan ternyata Delia yang
selama ini sangat dicintai oleh Satrio hanya memanfaatkan keadaan Satrio yang
kaya, dan penyebab ayahnya meninggal adalah frustasi karena telah dikhianati
oleh rekan bisnisnya selama ini. Karena hal itulah Satrio jadi seperti ini,
setiap ditanya tentang pacar, pasti dia lanngsung teringat dengan kejadian satu
tahun yang silam.”
Aku hanya bisa terdiam saat mendengar cerita tentang masa lalu
kak Satrio. ‘ kenapa ya ada orang yang sekejam itu? Kenapa dia harus memanfaatkan
kekayaan keluarga Satrio? Padahal ayahnya juga seorang pebisnis? Aku tidak
habis pikir dengan mantannya itu. ‘ pikirku dalam hati.
Setelah menunggu kira – kira selama lima belas menit, akhirnya
kak Satrio sadar dari pingsannya. Aku bisa melihat rawut wajahnya yang sangat
lelah dan banyak pikiran. Perlahan – lahan ia bangun dari tempat tidurnya,
menatap kami – aku dan Rafka – dengan penuh arti, aku bisa mengartikan
tatapannya kalau dia ingin berkata kalau kondisinya baik – baik saja dan jangan
khawatir dengan kondisinya saat ini. Rafka langsung mendekatinya dan sambil
memegang pundak sahabatnya ia berkata,
“ sat, lo baik
– baik aja kan? lokenapa lagi sih? “
“ gue baik –
baik aja kok raf. Gue cuma kecapean aja. Nggak usah dipikirin. “ katanya sambil
tersenyum kepada Rafka
“ oya bi, nanti gue nggak bisa ngaterin lo pulang. Gue takut
nanti lo kenapa – kenapa lagi. Nanti lo dianter Rafka aja ya...” sambung kak
Satrio
“ sudahlah kak.
Nggak usah repot – repot aku bisa ko pulang sendiri. “ jawabku
“ ia tuh bener...
“ sahut Rafka
Kak Satrio pun langsung memegang tangan Rafka dengan sangat
kuat, dan tampaknya kak Satrio ingin membisikkan sesuatu kepada Rafka tetapi
suaranya terlalu keras untuk membisikkan sesuatu jadi aku dapat mendengar
semuanya,
“ ayolah raf,
ini demi gue okey? Lo sahabat gue kan? Please raf, lo nggak mau terjadi apa –
apa kan sama lo nanti? “
“ iya deh iya
sat... “ jawab Rafka terpaksa
“ udah buruan
pergi... “ sahut kak Satrio sambil mendorong Rafka
“ iya sat iya.
“
Rafka langsung pergi meninggalkan kak Satrio tanpa mengajakku
pergi, sesaat aku hanya bisa terdiam,
“ eh, jadi gue
anterin nggak nih?! “ sahutnya dari parkiran motor
Aku terkaget dan langsung berpamitan kepada kak Satrio. Aku
setengah berlari mendekati Rafka, dan aku pun langsung naik ke atas motornya.
Perasaan yang kurasakan sungguh tidak keruan, ada perasaan senang, tidak
menyangka, ini semua seperti mimpi. Bagaimana tidak, akhirnya aku diboncengi
oleh Rafka, dibelakang aku hanya bisa tersenyum – senyum sendiri. Di tengah perjalanan
Rafka bertanya kepadaku,
“ eh rumah lo
dimana sih? “
“ aku tinggal
di jalan mawar no 96 kak. “
Setelah tahu alamat rumahku, Rafka langsung memacu motornya
dan mengantarkanku sampai ke depan rumahku. Aku tidak lupa mengucapka terima
kasih karena telah diantar pulang, walaupun aku tahu Rafka melakukannya
terpaksa karena paksaan dari kak Satrio, ‘tetapi tidak apalah yang penting aku
sudah pernah dibonceng oleh Rafka hehehe’ pikirku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar