Bel pergantian pelajaran berbunyi
semua murid – murid segera menuju ruang ganti untuk mengganti seragam mereka
dengan pakaian olahraga. Awalnya semua terasa biasa saja di dalam kamar ganti, namun tiba – tiba saja gempa
yang cukup dahsyat melanda sekolah itu. Semua murid – murid panik dan segera
berlari keluar namun seorang gadis bernama Melodi terperangkap di dalam salah
satu kamar ganti. Karena gempa tersebut kepala Melodi terbentur dan membuat
Melodi pingsan dalam beberapa waktu. Saat Melodi sadar, ia segera mencoba lagi
untuk membuka pintu kamar ganti dan alhasil ia bisa membukanya namun betapa
kagetnya ia saat mengetahui bahwa ia berada di sebuah kamar mandi. Melodi
sangat kaget saat melihat banyak orang asing disana, dan satupun tidak ada yang
ia kenal. Gadis – gadis yang ada di sana langsung melirik ke arah Melodi saat
ia baru saja keluar dengan pakaian olahraganya. Sekarang Melodi benar – benar
bingung apa yang harus ia lakukan, ia tidak tahu dimana ia berada sekarang.
Disaat Melodi terus terdiam dalam
kebingungannya tiba – tiba seorang gadis menghampirinya dan bertanya kepadanya
“hai,
lo kenapa?”
Melodi hanya bisa mengelengkan
kepalanya, ia bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu
sebenarnya apa yang terjadi terhadapa dirinya.
“boleh
kita kenalan?” sahut gadis itu lagi sambil menyodorkan tangannya ke arah
melodi. Pelan – pelan Melodi mengangkat wajahnya dan menatap gadis yang sedari
tadi berbicara kepadanya, disaat Melodi melihat mata gadis itu ia merasa kalau ia
pernah kenal dengan gadis itu
“nama
gue Rani, kalo nama lo siapa?” sahut gadis itu ramah
“nama
gue Melodi....” jawab Melodi dengan mengembangkan sedikit senyuman
“nama
panjang lo siapa ya?” tanya Rani
“Melodi
Agustin...”
“Melodi
Agustin?!” sahut Rani kaget
“iya,
memangnya kenapa?”
“Melodi
Agustin itu temen SMA gue dulu...”
“apa
lo Rani yang dulu sering gue bully itu?”
“iya...”
“maafin
gue ya Ran....”
“gue
udah maafin lo kok...” sahut Rani sambil tersnyum kecil kepada Melodi
Melodi langsung tersentak kaget
saat mengetahui gadis yang berdiri di depannya sekarang adalah gadis yang dulu
sering ia kerjai. Melodi tidak menyangka walaupun sering mendapat perlakuan
kasar darinya namun Rani tetap baik kepadanya. Dari seorang gadis SMA biasa,
cupu, dan kuper sekarang Rani telah berubah menjadi seorang gadis yang sangat
cantik dan menawan.
“hhhmmm
jadi sekarang lo mau kemana?” tanya Rani sambil terus berjalan menyusuri lorong
kampus yang dipenuhi oleh para mahasiswa yang sedang asyik bersenda gurau
“gue
nggak tahu Ran....”
“gimana
kalo lo ke ke kosan gue aja?” ajak Rani semangat. Melodi pun tidak menolak
ajakan Rani dan mereka berdua segera pergi ke tempat kos Rani yang tidak jauh
dari area kampus. Sesampainya mereka di tempat kos Rani, Melodi segera menceritakan
kejadian yang menimpa dirinya sehingga ia sampai di jogja di tahun 2014.
“Jadi
karena gempa dua tahun yang lalu itu membuat lo terbawa ke tahun 2014?” tanya
Rani agak kaget sesaat setelah Melodi menceritakan kejadian
“mungkin...
tapi sebenarnya apa yang terjadi saat gempa dua tahun yang lalu?”
“jadi
saat gempa dua tahun yang lalu itu banyak menimbulkan korban, salah satu
korbannya adalah lo mel, saat gempa berhenti kita semua langsung nyariin lo dan
ternyata lo udah nggak sadarkan diri. Dan saat kita bawa lo ke dokter ternyata
lo mengalami gegar otak yang cukup parah yang menyebabkan lo lupa ingatan dan
juga kelumpahan pada beberapa anggota tubuh lo. Gue sedih sekaligus prihatin
saat melihat kondisi lo yang harus terus duduk di kursi roda dan terus
bergantung dengan orang lain saat mau melakukan sesuatu. Temen – temen lo yang
dulu selalu deket sama lo malah jadi menghindar dan akhirnya meninggalkan lo.
Gue salut banget sama kegigihan orang tua lo saat merawat lo. Tapi setelah gue
lulus SMA, gue nggak tahu kondisi lo sekarang. Jujur gue kaget banget saat lo
bilang kalo lo itu adalah Melodi, karena yang gue tahu Melodi itu lupa ingatan
dan juga lumpuh.”
Air mata mulai menetes dari kedua
ujung mata Melodi. Hatinya terasa tertusuk, wajahnya langsung berubah kelam
saat mendengar cerita dari Rani yang menyebutkan kalau dirinya hilang ingatan
dan lumpuh sebagian. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau hal ini bisa
menimpa dirinya. Sekejap tangisan Melodi pun pecah, Melodi terus meneriakkan
mengapa dirinya harus hilang ingatan dan juga lumpuh, mengapa dirinya bisa
berada di masa depan.
“kenapa
gue harus ada di masa ini? Nggak ada gunanya gue berada disini! Semuanya ini
nggak akan merubah keadaan gue yang hilang ingatan dan lumpuh!!” teriak Melodi sambil
terus menangis.
Rani yang
berada disamping Melodi terus mencoba untuk menenangkan hatinya. Rani mencoba
menghibur Melodi dengan menjelaskan mungkin ada suatu makna dibalik datangnya
Melodi ke masa depan. Setelah cukup lama menenangkan Melodi, akhirnya tangisan
Melodi pun mereda. Untuk lebih menenangkan hati Melodi, Rani mengajak Melodi
untuk berjalan sore ke taman kota.
Suasana
taman yang dihiasi pohon – pohon yang rindang sedikit demi sedikit dapat menenangkan
hati dan pikiran Melodi. Tetapi saat Melodi sedang asyik menikmati suasana
taman kota tiba – tiba saja ada seseorang pria yang berjalan dari arah yang
berlawanan menabrak dirinya.
“Aww!!...”
seru Melodi saat seorang pria menabrak bahunya
“aduuh...
maaf ya saya ndak ngeliat, mbak ada yang sakit?” tanya pria itu dengan sopan
“ah...
ng... nggak kok nggak ada mas, saya juga minta maaf ya karena jalannya nggak
hati – hati.” Sahut Melodi sambil memegang bahunya yang masih terasa sakit
“oh, saya
yang seharusnya minta maaf ke mbak kalau mbak masih sakit hubungin saya saja,
ini kartu nama saya, tapi saya minta maaf ya mbak saya harus pergi sekarang,
saya lagi buru – buru, permisi...”
Di dalam
benak Melodi tersirat rasa kagum kepada pria tampan bertubuh tinggi, berkulit
sawo matang, berkacamata, berambut hitam dengan tatanan rambut yang sedikit
berantakan, serta berjaket kulit hitam yang tadi menabraknya. Tidak pernah
sebelumnya Melodi bertemu denga seorang pria yang begitu sopan kepada seorang
perempuan dan juga begitu tulus meminta maaf walaupun sebenarnya bukan hanya
dia yang bersalah. Di dalam hati kecilnya Melodi berharap dapat bertemu dengan
pria tersebut lagi.
Melodi
tidak pernah tahu sampai kapan ia akan ada di masa ini. Hari berganti hari ia
habiskan dengan membaca buku di perpustakaan kampus, berkeliling kota
Jogjakarta bersama Rani ataupun menghabiskan sore hari di taman bersama Banyu –
pria yang beberapa hari yang lalu tanpa sengaja bertabrakan dengan Melodi.
Kejadian di taman waktu itu membuat Melodi menjadi sering pergi ke taman kota,
berharap dapat kembali bertemu dengan Banyu. Banyak hal yang Melodi dapat
pelajari dari seorang Banyu – seorang mahasiswa berprestasi dengan latar
belakang keluarga yang kurang mampu, dan juga kondisi tubuhnya yang tidak lagi
sempurna karena sebuah kecelakaan – berbagai pengalaman telah Banyu alami,
kondisinya yang sekarang tidak membuat Banyu putus asa, ia terus berjuang untuk
menafkahi dirinya dan juga keluarganya. Semangat yang dimiliki Banyu untuk
tetap melanjutkan hidup membuat hati Melodi tersentuh. Melodi mulai mengubah sudut
pandangnya terhadap seseorang, kini ia tidak pernah lagi melihat orang hanya
dari penampilan luarnya saja namun Melodi belajar untuk melihat seseorang
melalui ketulusan hatinya. Pelajaran berharga yang sangat diingat oleh Melodi
adalah menerima segala sesuatu yang terjadi kepada dirinya apapun itu, baik
maupun buruk semuanya menyimpan sebuah makna yang sangat berharga. Kekaguman
yang dirasakan oleh Melodi pada saat pertama kali bertemu dengan Banyu kemudian
terus bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah rasa cinta yang sangat dalam.
“mas
Banyu.....” sahut Melodi saat ia dan Banyu sedang berjalan – jalan di taman
“iya
kenapa mel?”
“Aku rasa
kita sudah lama dekat ya mas?”
“iya,
sudah hampir satu tahun... ndak terasa ya?”
“iya. Mas
Aku boleh ngomong sesuatu?”
“boleh,
kamu mau ngomong apa?”
“pertama
kali Aku ketemu mas, Aku sudah kagum sama mas Banyu karena sikap mas Banyu yang
sangat sopan, dan lebih dari itu semangat dan kerja keras mas Banyu membuat
hatiku tersentuh...”
“Aku juga
mel, Aku kagum dengan sikapmu yang terbuka dan mau berubah. Ndak semua orang
lho yang dengan senang hati mau menerima segala kritikan dan mau merubah sikap
lamanya.”
“iya mas.
Sebenarnya dari kedekatan kita ini membuat Aku.... membuat Aku.... jadi....
jadi...... jadi sayang sama mas....”
Tiba –
tiba saja Banyu memberhentikan langkahnya dan segera memalingkan wajahnya dan
langsung menatap wajah Melodi
“apa kamu
tulus?” tanya Banyu sambil terus menatap mata Melodi
“iya mas...”
sahut Melodi.
Saat
Banyu ingin menungkapkan perasaannya tiba – tiba saja suara gemuruh melanda dan
akhirnya hujan turun dengan derasnya. Melodi dan Banyu pun akhirnya meneduh di
sebuah halte, karena terlalu lelah Melodi pun tertidur di atas pundak Banyu.
Melodi
berusaha untuk membuka matanya, kepalanya terasa berat dan sakit sekali.
Ekspresi Melodi langsung berubah kaget saat melihat sudah banyak orang berdiri
di sekelilingnya
“akhirnya
kamu sadar juga nak...” sahut Ibu Melodi seraya memeluk anak perempuan satu –
satunya itu. Ibu Melodi tidak bisa manahan haru saat melihat anaknya sadar dari
pingsannya yang cukup lama. Melodi kaget, dan gembira saat akhirnya ia dapat
kembali lagi ke masanya namun Melodi juga sedih karena ia tidak dapat lagi
bertemu dengan Banyu.
“ma,
siapa yang udah nolongin Aku?” tanya Melodi
“temen
kamu, kayaknya dia orang jawa deh soalnya logat dia ngomong itu jawa
banget....”
“namanya
siapa ma?”
“kalau
tidak salah namanya Banyu...”
Melodi
langsung tersentak kaget saat mendengar kalau yang menolongnya adalah Banyu.
Dengan tubuh yang masih lemah Melodi segera berjalan menghampiri Banyu yang
berada di bilik lain di UGD rumah sakit. Terlihat Banyu sedang mendapat
pertolongan dari tim medis, tangan Banyu hampir patah saat hendak menolong
Melodi yang terjebak di kamar ganti.
“Banyu?...”
Banyu
langsung menoleh ke arah Melodi, Banyu tampak bingung saat melihat Melodi yang
sudah berlinang air mata. Melodi merasa terharu saat mengetahui kebaikan Banyu
dimasa sekarang dan di masa depan. Walaupun di masa sekarang Melodi dan Banyu
belum menjalin kedekatan, namun perasaan yang dimiliki Melodi terhadap Banyu di
masa depan tetap ada dan akan selalu ada untuk Banyu sampai akhirnya Banyu
menyadari dan mempunyai rasa yang sama dengan Melodi.
Semenjak
Melodi sadar dari pingsannya, sikap Melodi terhadap Rani – perempuan yang
sebelumnya sering di jahili oleh Melodi dan teman – temannya – menjadi lebih
baik, apalagi terhadap Banyu. Sekarang Melodi sangat perhatian terhadap Banyu,
dan juga mulai membangun hubungan yang lebih dekat lagi dengan Banyu. Walaupun
Melodi tidak pernah tahu sebenarnya apa yang ia alami selama pingsan adalah
sebuah kenyataan atau hanya sebuah mimpi tetapi Melodi tetap meyakini bahwa
semuanya itu mempunyai sebuah pelajaran yang berharga untuknya yaitu dapat
menghargai setiap orang tanpa melihat status, penampilan, ataupun fisik dan
juga dapat mensyukuri setiap kejadian yang ada di dalam hidupnya.
TAMAT...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar