Zaman
sekarang melihat seorang cowok yang bisa memainkan alat musik tradisional itu
adalah sebuah keajaiban. Bagaimana tidak, hampir semua anak muda di Indonesia
rata – rata lebih tertarik memainkan alat musik modern nan canggih ketimbang
harus memainkan alat musik tradisional yang mereka anggap kuno itu. Jadi bisa
dipastikan kalau ada seorang anak muda yang bisa memainkan alat musik
tradisional sekaligus bisa memainkan alat musik modern itu keren dan ajaib.
Karena alasan diatas, seorang cewek SMA kelas sepuluh semester dua yang bernama
Renaya Sabila, sangat mengagumi dan menyukai kakak kelasnya yang bernama
Radhitya Hermawan.
Menurut
Naya, nama panggilan Renaya, sosok Radhit itu sangat unik dan istimewa.
Bagaimana tidak, perawakan Radhit yang tinggi, berkulit kuning langsat,
berwajah tampan, dan sangat mahir bermain piano sekaligus alat – alat musik
tradisional seperti gendang, angklung, dan bonang itu bisa membuat hampir murid
perempuan di SMA Bhineka jatuh cinta kepadanya. Di tengah banyaknya pesaing
untuk bisa mendapatkan hati Radhit, dan juga sikap Radhit yang begitu dingin
dan cuek kepada setiap cewek yang mendekatinya, Naya tetap optimis untuk bisa
mendapatkan hati Radhit.
Berbagai
usaha Naya lakukan agar dapat memikat hati Radhit. Mulai dari sekedar
memberikan senyuman termanis, hingga memberikan bekal terenak kepada Radhit -
yang setiap hari pasti membawa bekal ke sekolah. Hari demi hari berlalu begitu
saja, tanpa ada perkembangan yang signifikan dari sikap Radhit kepada Naya.
Naya tahu kalau Radhit sangat susah untuk dekat dengan seorang cewek, karena
sampai sekarang yang ada di hati Radhit hanya ada mantan pacarnya – yang sudah
mengubah sosok Radhit yang kasar menjadi sosok Radhit yang lembut dan ramah
kepada setiap orang. Namun karena kepergian mantan pacarnya yang tiba – tiba,
membuat Radhit kembali lagi menjadi sosok Radhit yang dahulu, yang sangat
kasar, dingin, dan cuek terutama kepada seorang cewek. Walaupun begitu Naya
tetap saja optimis mendekati Radhit, yang sudah jelas – jelas selalu menghindar
dan cuek kepadanya.
“kak..
kira – kira gue harus gimana lagi ya biar kak Radhit suka sama gue?” tanya Naya
kepada sahabatnya Radhit yang bernama Banyu
“aduuh..
lo masih aja ya ngedeketin Radhit? Padahal jelas – jelas dia selalu nyuekin lo”
cetus Banyu sedikit kesal.
Semenjak
awal Naya menyukai Radhit, Naya langsung menceritakannya kepada Banyu yang
merupakan sahabatnya Radhit. Naya selalu menanyakan apa yang harus ia lakukan
agar Radhit dapat menyukai dirinya. Pada awalnya Banyu dengan senang hati
membantu Naya, namun lama kelamaan Banyu mulai bosan membantu Naya karena sikap
Radhit yang selalu cuek terhadap perhatian yang diberikan Naya kepadanya.
“gue
cuma mau kasih tau ke lo, kalau setiap usaha lo itu bakalan sia – sia.. karena
Radhit masih sayang banget sama mantannya...” kalimat yang sebenarnya sangat
menusuk itu sudah berkali – kali disampaikan oleh Banyu kepada Naya, namun
karena dasarnya Naya adalah orang yang keras kepala, jadi apapun yang dikatakan
Banyu kepadanya, Naya tidak mau perduli. Terkadang karena sifat Naya yang keras
kepala membuat Banyu kesal.
“tapi
kak... gue suka banget sama kak Radhit... apapun yang terjadi, gue harus bisa
memperjuangkan perasaan gue kak!...” seru Naya optimis
‘seandainya
aja lo tau... kalo ada cowok yang bener – bener tulus suka sama lo.. dan itu
gue nay..’ keluh Banyu dalam hatinya.
Setiap
kali Naya bercerita tentang Radhit kepada Banyu, hati Banyu terasa sakit karena
mengetahui kalau cewek yang ia sayangi malah menyayangi sahabatnya sendiri, dan
jelas – jelas sahabatnya tidak pernah menyukai Naya. Banyu sebenarnya kasihan
setiap melihat perlakuan Radhit kepada Naya, sampai suatu hari Banyu benar –
benar tidak bisa memendung perasaan kasihannya kepada Naya
“Dhit..
gue minta tolong sama lo..”
“minta
tolong apaan?”
“gue
minta tolong lo buka hati buat Naya..” berat rasanya Banyu mengatakan hal ini,
tapi dia harus. Banyu tidak tahan lagi melihat Naya menangis karena sikap
dingin Radhit. Walaupun Banyu sangat ingin memiliki Naya, tetapi yang lebih
Banyu inginkan adalah bisa melihat Naya
bahagia bersama cowok yang ia sayangi. Memang terkadang Naya terlihat
optimis dengan setiap perjuangannya, namun Naya juga seorang perempuan yang
bisa meraskan kelelahan saat harus terus berjuang tanpa hasil.
“gue
nggak bisa. Kenapa harus gue yang buka hati? Kenapa nggak dia aja yang buka
hati buat lo?”
“nggak
mungkin Dhit! Dia cuma suka sama lo. Dan gue tau, susah buat dia untuk buka
hati buat orang lain.. jadi please Dhit, buka hati lo buat Naya..”
“demi
lo, gue akan coba..”
Karena
permintaan sahabatnya, Radhit akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Naya.
Sekarang setiap perhatian Naya mulai ditanggapi oleh Radhit. Hari demi hari,
minggu demi minggu, akhirnya Radhit mulai merasa nyaman dengan setiap perhatian
yang diberikan Naya untuknya. Sampai
suatu hari, perjuangan Naya untuk mendapatkan Radhit tidak sia – sia.
Di
suatu malam, Radhit mengajak Naya jalan – jalan ke sebuah pasar malam yang
letaknya tidak jauh dari rumah Naya
“Nay..
kita naik bianglala itu yuk..” ajak Radhit setelah cukup lama mereka
mengelilingi pasar malam yang ramai itu
“sekarang
gue mau ngomong jujur sama lo...” ucap Radhit saat ia dan Naya sedang berada di
atas bianglala
“jujur
soal apa?”
“jujur
awalnya emang gue nutup diri dari lo, tapi gue berusaha membuka hati gue buat
lo. Dan ternyata lo itu baik banget, jauh banget dari yang gue kira... sekarang
gue sadar kalo lo itu adalah anugrah yang paling indah di hidup gue.. so would
you be mine?”
Penjelasan
yang begitu jujur dari Radhit membuat Naya tersontak kaget. Naya tidak
menyangka kalau perjuangannya selama ini tidak sia – sia. Pada akhirnya saat –
saat yang diimpikan Naya tiba. Dengan senang hati Naya mengiyakan pertanyaan
Radhit
“makasih
ya... tambah sayang deh sama kamu hehehe” seru Radhit bahagia
Malam
itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Radhit dan Naya, kecuali Banyu.
Pagi – pagi saat Banyu baru saja tiba di sekolah, ia melihat Radhit
berboncengan dengan Naya. Hati Banyu begitu miris melihat cewek yang ia suka
akhirnya menjadi pacar sahabatnya.
‘selamat
ya Nay.. selamat juga buat lo Dhit, lo beruntung banget bisa dapetin Naya, gue
iri sama lo, tapi gue doain yang terbaik buat kalian berdua...’ ucap Banyu
dalam hati. Walaupun sakit namun Banyu harus merelakan Naya demi kebahagiaan
Naya.
“hai
kak Banyu...” sapa Naya dengan wajah gembiranya yang jelas – jelas terlihat
dari pancaran sinar matanya
“eh
Banyu...liat dong gue gandeng siapa?... hahahaha...”
“eh
hehe.. cie selamet ya yang udah jadian.. PJ bisa kali.. hahaha..” Banyu berusaha
menutupi rasa sedihnya dengan mengembangkan senyuman yang sangat dipaksa
“oke
deh sip! Tunggu aja pas istirahat hahaha...” sahut Radhit tidak kalah gembira
dengan Naya
‘miris
melihat mereka bahagia... tapi ini udah jadi keputusan gue, dan gue harus bisa
terima kenyataan..’ gumam Banyu dalam hati.
***
Seiring
berjalannya waktu, sifat – sifat asli Radhit mulai terlihat. Setelah sembilan
bulan berpacaran, Naya baru tahu kalau sebenarnya Radhit adalah seorang
perokok. Karena Naya tidak suka dengan cowok perokok, Naya ingin mengingatkan
Radhit untuk tidak merokok lagi, namun Radhit tetap tidak mau berubah. Setelah
sembilan bulan juga, Naya baru tahu kalau Radhit sudah salah bergaul, ternyata
Radhit selama ini berteman dengan orang – orang yang memakai obat – obatan
terlarang dan juga yang suka minum minuman keras. Saat Naya tahu hal seperti
itu, Naya langsung tidak mengijinkan Radhit untuk berteman dengan mereka, namun
lagi – lagi Radhit tetap tidak mau berubah. Naya sempat putus asa menghadapi
Radhit yang begitu keras kepala. Sampai suatu ketika Radhit dan Naya mengalami
pertengkaran yang cukup hebat
“Dhit
Aku mau kamu berubah.. “
“Aku
nggak bisa... bisa nggak sih kamu terima Aku apa adanya?”
“Aku
mau terima kamu apa adanya, tapi Aku mohon kamu untuk berubah, semua ini juga
demi kebaikan kamu...”
“kenapa
sih kamu selalu ngatur – ngatur hidup Aku? Awalnya Aku terima, tapi kesini –
sini kamu jadi lebay! Aku udah males hadepin kamu!..”
“tapi
ini semua karena Aku sa..”
“alah!
Jangan pake alesan sayang – sayang deh! Males gue!” Bentak Radhit lalu langsung
pergi meninggalkan Naya yang sudah berlinang air mata
Di
tengah kejadian itu, Banyu melihat semuanya. sorot mata penuh dengan emosi
ditujukannya pada Radhit. Banyu tidak terima kalau Naya diperlakukan seperti
itu. Melihat cewek yang ia sayangi mulai menangis, dengan segera Banyu datang
menghampiri Naya dan memberikannya sebuah sapu tangan
“ini
buat lo... please jangan nangis, gue nggak tega kalau ngeliat lo nangis Nay..”
sahut Banyu sambil memberikan sapu tangannya kepada Naya
“gue
udah nggak kuat kak... kenapa sih dia nggak mau berubah? Itu semua kan demi
kebaikannya..” seru Naya sambil terus menangis
“iya
gue tau kok maksud baik lo ke dia... udah ya nggak usah nangis lagi.. kemana
nih Naya yang kuat? Ayo jangan nangis lagi ya please...”
Naya
mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak menetes lebih banyak lagi. Entah
apa yang terjadi, namun Naya merasakan kenyamanan saat berada di dekat Banyu,
tidak seperti saat Naya bersama dengan Radhit. Setelah melihat kondisi Naya
yang lebih tenang, Banyu mengajak Naya pergi ke sebuah danau yang ada di hutan
kota. Sesampainya di hutan kota, Banyu mengajak Naya berjalan kaki menyusuri
jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan tinggi. Suasana yang
begitu menenangkan membuat hati Naya juga ikut tenang.
“udah
tenang?” tanya Banyu sambil menoleh sebentar ke araha Naya
“udah..
makasih ya kak..”
“sip..
kalau lo udah bener – bener nggak kuat hadapin dia mending lo putus aja,
daripada lo tersiksa terus..” dengan entengnya Banyu mengungkapkan isi hatinya.
Mendengar perkataan Banyu, Naya yang sedari tadi menikmati suasana hutan kota
tiba – tiba saja terusik. Naya memberhentikan langkahnya kemudian menoleh ke
arah Banyu
“maksud
lo apaan kak?” tanya Naya bingung
“ah?
Ng.. ya iya kalo lo udah nyerah sama Radhit ya putusin aja, emang ada yang
salah?”
“salah
lah.. dulu lo dukung gue banget, tapi kenapa tiba – tiba lo langsung saranin
gue buat putus sama Radhit?”
“aduh
lo nggak tau apa? gue tuh capek ngeliatin lo disakitin terus sama Radhit..
karena gue tuh sa..” hampir saja Banyu mengatakan perasaan yang sesungguhnya
kepada Naya
“sa
apa kak?”
“eh
nggak apa – apa.. udah nggak usah dibahas lagi ya..”
Walau
Naya melihat ada yang aneh dari Banyu, namun Naya tidak mau memikirkannya.
Sekarang yang hanya Naya pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membua Radhit
kembali seperti dulu. Satu bulan berlalu dan selama satu bulan itu, Naya
sengaja tidak pernah menghubungi Radhit, agar Radhit bisa sadar atas setiap
kesalahannya. Satu bulan lamanya Naya acuh kepada Radhit, namun Radhit belum
sadar juga. Hingga tepat seminggu sebelum Naya dan Radhit merayakan tahun
pertama mereka berpacaran, barulah Radhit sadar kalau dia membutuhkan Naya
untuk mengontrolnya.
Saat
malam hari tiba, Radhit mengajak Naya pergi ke sebuah pantai. Radhit mengajak
Naya untuk melihat matahari terbenam di ufuk barat. Awal pertemuan mereka
kembali terasa begitu kaku, karena hampir dua bulan mereka tidak bertegur sapa.
Ditemani matahari yang mulai beranjak turun dari peraduannya, Naya dan Radhit
duduk di tepi pantai, sambil memandangi langit biru yang mulai berubah oranye.
“Nay...
sebelumnya Aku minta maaf banget sama kamu...” sepenggal kalimat itu akhirnya
terucap dari mulut Radhit. Naya sejenak menoleh dan menatap mata Radhit dalam –
dalam, namun Naya tidak mau menjawab
“maafin
Aku karena Aku selama ini udah sia – siain kamu. Maafin Aku karena selama ini
Aku nggak mau denger nasehat kamu. Maafin Aku Nay.... sekarang Aku sadar kalau
setiap perkataan kamu itu benar. Sekarang Aku udah ninggalin semua temen –
temen Aku, sekarang Aku hanya perlu kamu di hidup Aku. Aku butuh kamu lagi...
apa kamu mau balikan sama Aku?” Pinta
Radhit sambil menatap mata Naya dalam – dalam
“dari
awal Aku udah maafin kamu kok... kita kan nggak pernah putus, jadi kenapa harus
balikan?” pertanyaan Naya itu hanya dibalas dengan pelukan lembut dari Radhit
“makasih
banyak Nay.. kamu memang anugrah terindah dan teristimewa di hidup Aku.. Aku
sayang kamu lebih dari apapun..” bisik Radhit halus
“makasih
juga kamu udah mau berubah.. Aku juga sayang sama kamu lebiiih lagi...”
Ketegangan
dan kedinginan yang sempat terjadi diantara Naya dan Radhit kini telah hilang.
Semua amarah dan benci kini hilang lenyap dan digantikan oleh cinta yang
kembali berbunga – bunga. Namun kesenangan itu harus berhenti saat takdir
memaksakan mereka untuk berpisah.
Suatu
malam, Radhit ingin mengajak Naya merayakan tahun pertama mereka berpacaran di
sebuah cafe
“ayo
kita berangkat!..” sahut Radhit sambil memberikan helmnya kepada Naya
“loh
helm kamu kemana Dhit?” tanya Naya bingung. Biasanya Radhit selalu membawa dua
helm, untuk dirinya dan juga Naya, namun kali ini Radhit lupa untuk membawa
satu helm lagi.
“oh
iya? Aku lupa. Di rumah nggak ada helm?”
“nggak
ada.. helmnya lagi dipake sama Papa... terus gimana dong?”
“udah
kamu aja ya yang pake.. biar kamunya nggak apa – apa..”
Dari
awal Radhit menjemput Naya, tiba – tiba saja Naya merasakan hal yang aneh. Saat
dalam perjalanan perasaan yang sangat mengganjal itu semakin menjadi – jadi.
Ketika jalanan kota sedang begitu macet, Radhit dengan gesitnya meliuk – liukan
motornya ke kanan dan ke kiri untuk menyalip kendaraan yang begitu padat. Namun
setelah keluar dari kepadatan kendaraan itu, tiba – tiba saja ada sebuah truk
yang berjalan dengan tidak terkendali dan akhirnya menabrak Radhit. Hantaman
yang begitu keras membuat kepala Radhit pecah, dan nyawa Radhit tidak sempat
untuk diselamatkan, sedangkan Naya yang memakai helm juga mengalami luka yang
cukup parah namun nyawa Naya masih sempat untuk diselamatkan. Sejak tabrakan
itu sampai satu minggu kemudian Naya tidak sadarkan diri. Setelah satu minggu
tidak sadarkan diri, akhirnya Naya kembali siuman
“Radhit...
Radhit mana?....” sahut Naya lemah sesaat setelah ia baru sadarkan diri.
“Radhit
sudah pergi nak...” jawab Ibunda Naya dengan suara lirih
“Radhit
pergi kemana ma?..” wajah Naya kini berubah cemas dan air mata pun mulai
menggenang di matanya
“Radhit
sudah meninggal ...”
Air
mata itu akhirnya menetes membasahi wajah pucat Naya. Jantungnya terasa begitu
sesak. Naya masih tidak menyangka kalau Radhit telah meninggal. Baru saja Naya
dan Radhit berbaikkan, dan saat hubungan mereka menginjak satu tahun semuanya
harus diakhiri. Semakin lama air mata itu bertambah deras.
“ma...
mama bohong kan kalau Radhit udah meninggal? Mama disuruh Radhit buat bohong
kan? Iya kan ma?” dalam benak Naya, baru saja dirinya dan Radhit ingin pergi
untuk merayakan satu tahun hubungan mereka.
Ibunda
Naya hanya bisa menangis melihat anaknya begitu terpukul karena ditinggalkan
oleh sosok yang ia sayangi selain keluarganya. Dengan penuh kesabaran Ibunda
Naya berusaha meyakinkan Naya kalau Radhit benar – benar meninggal.
“kalo
Radhit benar – benar meninggal, Aku mau lihat makamnya Radhit sekarang!...”
seru Naya sambil terus terisak
“nggak
bisa nak.. kamu masih sangat lemah, kamu belum boleh pergi kemanapun..”
Untuk
pertama kalinya Naya kehilangan salah satu orang yang ia sayangi. Kejadian yang
begitu cepat membuat Naya masih belum mempercayai kalau Radhit telah meninggal.
Selama beberapa hari Naya harus memendam keinginannya untuk melihat makam
Radhit. Melihat kondisi Naya yang sudah mulai kuat, akhirnya Naya boleh pulang
ke rumah. Baru saja Naya pulang dari rumah sakit, ia langsung memaksa kakak
laki – lakinya untuk mengantarkannya ke tempat dimana Radhit dimakamkan.
“Radhit....
kamu kok cepet banget perginya? Kita kan belum sempet ngerayain anniv kita...
Radhit bangun dong... Aku kangen sama kamu.... Radhiiitt....” sambil memegang
batu nisan Radhit, Naya menangis begitu keras. kakak lelaki Naya hanya bisa
memegang pundak adik perempuannya itu dan berusaha menenangkan Naya yang begitu
tidak terima kalau Radhit telah meninggal. Di kejauhan sosok Banyu yang begitu
lemah sedang berdiri melihat cewek yang ia sayangi begitu sedih.
‘Nay...
gue juga sedih kehilangan Radhit... tapi gue lebih sedih lagi ngeliat lo nangis
kayak sekarang...’ hati Banyu terasa sesak melihat Naya yang begitu kehilangan
Radhit.
Melihat
Naya yang tidak berhenti menangis, kakak lelaki Naya pun langsung mengajak Naya
untuk segera pulang, ia tidak mau Naya semakin larut dengan kesedihannya.
Awalnya Naya terus memberontak, namun kondisi Naya yang belum begitu pulih
membuat Naya kehilangan daya, dan akhirnya menuruti kakak lelakinya untuk
segera pulang. Sesaat setelah Naya meninggalkan tempat pemakaman, segera Banyu
menghampiri makam Radhit. Sambil menaruh sebuah karangan bunga diatas makam
Radhit, Banyu pun mengutarakan perasaannya,
“Dhit...
lo tau kan kalau gue dari dulu gue sayang banget sama Naya? Sampai sekarang gue
masih sayang banget sama Naya.. lo tau kan Naya sedih banget kehilangan lo,
tapi gue nggak tahan ngeliat dia nangis terus.. Dhit gue minta ijin sama lo
untuk ngedeketin Naya, gue mau buat dia bahagia, sama kayak lo yang mau
bahagiain dia. Kita sama – sama sayang Naya, jadi gue mohon lo ijinin gue untuk
sayang sama Naya, dan untuk bahagiain Naya.. bantuin gue ya Dhit, gue mohon...”
***
Berbulan
– bulan membiarkan cewek yang ia sayangi terus berduka sebenarnya sangat
menyiksa batin Banyu. Namun hal itu harus ia lakukan karena Banyu tidak mau terlalu
cepat datang kembali ke kehidupan Naya. Setelah Banyu benar – benar menyadari
kalau Radhit sudah mengijinkannya untuk mendekati Naya, barulah Banyu mulai
mendekati Naya kembali. Perhatian yang dulu sering ditujukan kepada Naya secara
diam – diam kini jelas terlihat. Banyu tidak mau menyia – nyiakan kesempatan
untuk bersama Naya lagi. Sudah cukup Banyu mengalah untuk Radhit. Dengan setiap
perhatian tulus Banyu, lama kelamaan membuat hati Naya luluh dan kembali
terbuka.
Sudah
berbulan – bulan pendekatan itu dimulai. Banyu tahu tidak mudah bagi Naya untuk
begitu saja melupakan Radhit didalam hati dan pikirannya karena itu Banyu
dengan sabar menunggu Naya sampai pada akhirnya Naya dapat menerima Banyu apa
adanya tanpa membawa kenangan masa lalunya saat masih bersama Radhit.
Saat
mental benar – benar telah siap, Banyu akhirnya memutuskan untuk menyatakan
perasaannya yang selama ini ia pendam kepada Naya. Di sebuah hutan kota yang
begitu teduh, Banyu mengajak Naya sejenak berjalan kaki mengelilingi hutan kota
yang cukup luas itu. Dikerindangan pohon – pohon itu, Banyu menghentikan
langkahnya dan kemudian berlutut dihadapan Naya. Melihat kejadian itu Naya
tersentak kaget
“Naya...
sekarang gue mau jujur sama lo. Dari dulu, sebelum lo suka sama Radhit, gue
udah sayang banget sama lo. Tapi karena gue tahu kalau lo suka sama Radhit,
jadi gue mencoba berhenti ngedeketin lo, dan membiarkan Radhit yang ngedeketin
lo. Sakit sebenernya, tapi gue harus ikhlas. Dan sekarang, gue nggak mau menyia
– nyiakan kesempatan untuk mendapatkan lo. Gue mau membahagiakan lo dengan
sepenuh hati gue, gue mau jagain lo, gue mau perhatian sama lo.. so would you
be my girlfriend?”
Terkejut
bercampur senang saat mendengar pernyataan dari Banyu. Naya tidak menyangka
kalau dari dulu Banyu sudah menyukainya.
“i
would...” jawab Naya sambil mengembangkan senyumannya. Mendengar jawaban dari
Naya, Banyu langsung mengeluarkan bunga mawar putih dan juga sebuah boneka
teddy bear dari dalam tas ranselnya dan segera memberikannya kepada Naya. Naya
pun menerimanya dengan senang hati.
‘akhirnya
kamu tahu... kalau bukan dia yang ditakdirkan untukmu, melainkan Aku...’ gumam
Banyu dalam hati.
TAMAT....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar