about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Kamis, 31 Mei 2012

Dua



Bel pulang berbunyi itu tandanya pelajaran hari ini telah selesai, aku mulai membereskan buku – buku ku yang berserakkan di meja. Hari ini aku sangat beruntung mulai dari bermimpi menjadi vokalis the extraordinary, dapat tumpangan dari kak Satrio, mendapat nilai ulangan biologi dan bahasa inggris tertinggi di kelas, dan satu lagi aku mendapat traktiran dari teman sekelasku yang sedang berulang tahun hari ini. Sungguh lengkap kebahagiaanku hari ini, aku berharap semoga besok dan seterusnya menjadi hari keberuntungan untukku.
Setelah semuanya beres aku bergegas berpamitan dengan Selin karena aku sudah di tunggu oleh teman – teman anggota rampak gendang di ruang musik. Sesampainya di ruang musik aku melihat kak Satrio dan Rafka sedang asyik memainkan gendang, tampaknya mereka sedang beradu kemampuan. Terlihat Rafka sangat serius saat memukul gendang – gendang yang ada di depannya, berbeda dengan kak Satrio yang sangat menikmati permainan gendangnya dengan menggoyangkan badannya. Watak mereka berdua sangatlah berbeda yang satu – Rafka – sangat cuek, dingin, sombong, dan sedikit aneh, yang satu lagi – kak Satrio – sangat ramah, baik, pintar, dan lucu, walaupun mereka mempunyai karakter yang hampir bertolak belakang tetapi mereka adalah pasangan sahabat yang awet.
Sedikit cerita tentang mereka. Rafka dan kak Satrio adalah sepasang sahabat, mereka mulai bersahabat sejak mereka SD karena rumah mereka yang saling berdekatan. Mulai dari SMP sampai SMA mereka satu sekolah dan sama – sama ikut ekstrakulikuler yang sama yaitu rampak gendang, dan mereka tergabung dalam sebuah group band yang bernama the extraordinary, Rafka sebagai bassis dan kak Satrio sebagai gitaris.
Sedari tadi aku berdiri di depan pintu masuk ruang musik sambil terus memerhatikan Rafka dan kak Satrio yang sedang asyik duel bermain gendang. Mendengar suara pukulan gendang yang sangat indah membuatku tidak sadar kalau sedari tadi pak Anton berdiri di sampingku.
          “ sudah puas lihat duelnya Ruby? “ sahut pak Anton membuyarkan lamunanku.
          “ eh iya pak. Hehehe maaf ya pak. “ jawabku terbata – bata.
Teman – teman ku yang sudah ada di dalam hanya bisa memandangi ku dengan ekspresi menahan tawa karena tingkah lakuku. Aku merasa sangat malu karena sedari tadi aku terus melamun memerhatikan Rafka dan kak Satrio bermain gendang dan tidak sadar pak Anton – pembina ekstrakulikuler rampak gendang – berdiri di sampingku sambil meniru ekspresi wajahku saat melihat Rafka dan kak Satrio. Wajahku mulai memerah saat Rafka dan kak Satrio melihat ke arahku. ‘ aduh apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengoperasi wajahku sehingga tidak ada yang bisa mengenaliku lagi? Oh my....’ keluhku dalam hati.
          “ ayo anak – anak jangan ngeliatin Ruby lagi, kalian tidak lihat wajahnya mulai memerah? “ seru pak Anton meledekku.
Aku hanya bisa tertunduk malu dan berjalan masuk kedalam ruang musik. Setelah mengehela nafas dalam – dalam, aku baru bisa mendongakkan kepalaku, aku harus bisa menahan rasa malu ini ya aku harus.
Selama latihan rampak gendang, pak Anton terus menjadikanku sasaran keisengannya. Apa – apa pasti aku, mulai dari yang baik – baik sampai yang jelek – jelek yang dibawa adalah namaku. Itulah pak Anton, walaupun wajahnya terlihat galak dan seram tetapi sifatnya sangat baik, dan tentu saja sangat iseng kepada murid – muridnya, contohnya saja sekarang
          “ ayo nak, coba lihat teman kamu Ruby. lihat dia sangat bersemangat memukul gendangnya, kalian harus mencontohnya ya... “
Kata – kata pak Anton sangat meledekku, sudah tahu aku bermain gendangnya sangat jelek, dan tidak bersemangat, bagaimana tidak sedari tadi beliau mengungkit – ungkit namaku terus ya jadilah moodku langsung mendadak buruk, buruk sekali. Aku berharap agar latihan hari ini cepat berakhir, dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan itu tandanya bahwa latihan hari ini telah berakhir. Hatiku sangat lega saat pak Anton membubarkan latihan hari ini, aku pun tersenyum lega saat pak Anton keluar ruangan.
Saat aku sedang merayakan kesenanganku karena pak Anton telah keluar ruangan lagi – lagi kak Satrio mengejutkanku dengan muncul tiba – tiba di depanku dengan memasang ekspresi yang sangat lucu. Aku pun tersentak kaget dan dengan tidak sengaja melayangkan tanganku ke pipi kak Satrio. Karena tamparan yang aku berikan sepertinya kak Satrio merasa sangat kesakitan, mau apa lagi karena sudah mengagetkanku aku pun bertindak dengan spontan menamparnya.
          “ aduh maaf kak sat, aku nggak sengaja. Kak sat sih ngagetin aku, makanya kak jangan suka ngagetin orang, itu balesannya... “ sahutku sambil memegang tangannya yang menempel di pipinya.
          “ huh... lo gitu aja udah nampar orang, apalagi kalo lo dikerjain sama orang pasti lo udah ngebunuh tuh orang... sadis nih.” Jawabnya sewot sambil terus memegang pipinya.
          “ ya ampun kak sat lebay deh, nggak gitu juga kali... udah ah kayak anak kecil aja nih “
Aku pun langsung berlalu keluar dari ruang musik. Aku membiarkan kak Satrio yang masih kesakitan dengan tamparanku tadi. Walaupun aku merasa sedikit tidak enak padanya, tetapi sekarang sudah sore dan aku harus cepar – cepat pulang. Ketika aku berjalan menuruni tangga, terdengar kak Satrio memanggilku
          “ Ruby tunggu!!... “
Aku langsung berhenti dan menoleh kebelakang. Kak satrio dengan tergesa – gesa menghampiriku,
          “ heh, lo mau pulang bareng gue lagi nggak? “ tanyanya
Aku merasa aneh dengan kak Satrio, tadi di ruang musik dia ngambek kepadaku tetapi sekarang dia berubah jadi baik lagi. Sebenarnya apa maunya dia? Dengan memasang ekspresi bingung aku bertanya kepada kak Satrio,
          “ Kak sat baik – baik aja kan? Apa karena tamparan aku tadi kak sat jadi hilang ingatan ya? Aduh maaf ya kak sat aku nggak bermaksud apa – apa kok, bener deh... “
Sekarang kak Satrio yang memasang ekspresi bingung, dia melihat wajahku sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti orang kebingungan
          “ hey, seharusnya gue yang nanya ke lo, lo baik – baik aja kan? Gue nggak segitu  rapuhnya sampai tamparan aja bisa buat gue hilang ingatan. Jadi lo mau nggak pulang bareng gue? “ sahutnya
          “ hmmm... okey – okey. Kalau kakak nggak repot sih aku mau – mau aja hehe. “ jawabku sambil tersenyum
Akhirnya aku pulang diantar oleh kak Satrio, lumayan aku bisa menghemat ongkos hehe. Saat di perjalanan pulang aku teringat dengan Rafka, aku berpikir kenapa aku tidak bertanya tentang Rafka kepada kak Satrio mungkin aku bisa mendapat banyak informasi penting tentang Rafka. Baru saja aku ingin berbicara kak Satrio sudah berbicara terlebih dahulu
          “ eh tadi lo kok seneng banget ngeliatin gue sama Rafka? Lo suka ya sama gue? “ tanya kak Satrio
Aku tersentak kaget saat mendengar pertanyaannya. Aku bertanya – tanya kenapa kak Satrio begitu percaya dirinya sampai menyebutkan kalau aku menyukainya, dengan spontan aku menjawab pertanyaannya
          “ ya bukanlah. Aku kan sukanya sama kak Rafka.... “
‘Ups aku salah menjawab, bagaimana ini? Pasti kak Satrio akan ngecengin aku habis – habisan. Ruby ruby kenapa sih kamu bisa keceplosan seperti itu’
          “ haah?! Apaan? Lo suka sama Rafka? Hahahaha “ sahutnya sambil tertawa geli
          “ haduh yang bener aja lo suka sama si Rafka. Kok bisa sih? “
          “ ah kak satrio mah... jangan gitu dong aku kan jadi malu!... “ sahutku
Saat itu langit terlihat mendung dan air hujan pun mulai menetes dari langit. Karena hujan semakin deras aku dan kak Satrio menepi di sebuah halte. Kembali lagi kak Satrio mempertanyakan tentang perasaanku kepada Rafka.
          “ eh tadi pertanyaan gue belum dijawab, lo kenapa bisa suka sama Rafka? “ dengan wajah menunduk aku mencoba menghela nafas dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan – lahan. Aku rasa menceritakan sebuah kejujuran sangat susah di banding dengan mengerjakan lima puluh soal bahasa inggris.
          “ huuufft... okey jadi aku suka sama Rafka karena dia jago bermain saxophone dan alat musik tradisional. Sebenarnya aku menyukai cowok yang bisa bermain alat musik, ya alat musik apa aja. Awalnya dan sampai sekarang aku juga belum ngerti banget kenapa aku bisa suka sama Rafka, padahal sikapnya dia ke aku dingin dan cuek banget. “
          “ hmmm... gitu ya. emang sih selama ini cewek – cewek yang suka sama Rafka pasti bilang hal yang sama kayak lo. Sebenernya gue udah seperti mak comblang bagi Rafka karena setiap cewek yang naksir Rafka pasti curhat ke gue, dan hampir semua cewek patah hati karena sikapnya yang dingin sama cewek terkecuali sama Icha... “
          “ icha itu siapa kak? “
          “ icha itu mantannya Rafka. Awalnya icha yang duluan suka sama Rafka, tapi karena sifatnya Rafka yang cuek dan dingin icha jadi mundur perlahan – lahan untuk ngedeketin Rafka. Karena kepasrahan icha, dan karena sifat icha yang nggak banyak nuntut kayak cewek – cewek lain yang suka sama Rafka, membuat Rafka jadi luluh. Dia mulai ngedeketin icha, dan bener aja akhrinya hatinya takluk karena kebaikan icha. Jadilah mereka pacaran hampir satu tahun dan putus di tengah jalan karena icha harus ikut orang tuanya pindah ke kalimantan. Mereka putus saat akhir semester kelas satu. Mereka termasuk best couple di sekolah, karena kekompakan mereka banyak teman – temannya iri. Dan gue rasa Rafka belum bisa sepenuhnya move on dari icha. “ jelas kak Satrio
Mendengar penjelasan dari kak Satrio, hatiku tersentuh. Sekarang aku tahu Rafka adalah orang yang setia, dan susah untuk jatuh cinta sepertiku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menaklukan hati Rafka. ‘Apa yang harus aku lakukan untuk menarik Rafka dari bayang – bayang masa lalunya?’ pikirku dalam hati.
          “ apa yang bisa aku lakuin untuk menarik Rafka dari masa lalunya kak? Untuk bisa move on dari icha? “
          “ gue nggak tahu bi. Masalahnya perasaan dia susah banget untuk di tebak. Dia bisa aja kelihatan cuek padahal dia lagi menyimpan rasa sama seseorang. “
Pernyataan kak Satrio semakin membuatku bingung harus berbuat apa. Seandainya perasaan Rafka tetap tidak berubah, aku akan berhenti berusaha mendapatkan hatinya. Aku sudah cukup lelah dengan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti ini.
          “ apa aku coba aja ya buat bekal untuk Rafka, mungkin aja dengan cara itu Rafka bisa luluh? Tapi kak sat jangan kasih tahu kalau aku yang kasih, okey? “
          “ ya itu terserah lo aja. Gue ikut aja apa mau lo... “
Setelah cukup lama kami – aku dan kak Satrio – bercerita akhirnya hujan pun reda. Tampak matahari kembali bersinar, menerangi jalanan yang digenangi oleh air hujan. Kak Satrio mengantarkanku pulang sampai ke rumah. Aku merasa banyak berhutang budi kepada kak Satrio, dia sangat baik kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar