about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Senin, 21 Mei 2012

Satu


Sekarang aku sedang berada di tengah – tengah panggung bersama dengan Rafka, kak Satrio, kak Fakran, dan kak Damar. Aku benar – benar merasa tegang berdiri di panggung ini ditonton oleh banyak orang. Sambil memegang mike yang ada di depanku, aku pun mulai bersuara
    “ hai semuanya... kami dari extraordinary ingin mebawakan sebuah lagu yang berjudul ‘kembalilah’, yang tahu lagunya boleh ikut nyanyi yaa... “ seruku mencoba ramah.
Lirik lagu yang aku nyanyikan bisa aku tulis seperti ini:
    Oh pujaan hatiku...
     Dimanakah engkau? Aku disini merindukanmu
    Telah lama kau pergi meninggalkan aku sendiri
    Janjimu, engkau kembali. Menemani aku...
    Katamu, kau mencintaiku dan tak akan pernah meninggalkan aku...
    Sedih rasanya, kau jauh dariku, separuh jiwaku pergi...
    Kembalilah kasih, kurindu padamu...
    Jangan pergi tinggalkan diriku...
    Ku tak mau jauh darimu, karena hatiku hanyalah untukmu
    Oohh Kembalilah kasih, kembali padaku...
    Jangan tinggalkan aku sendiri...
    Ku tak bisa hidup tanpamu, ku tak bisa hidup tanpamu...
    Aku berjanji tak akan menyia – nyiakanmu lagi
    Karena saat engkau pergi, barulah aku tahu betapa ku mencintaimu...
Lagu ini ditulis sendiri oleh Rafka. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya, dan saat orang tersebut pergi barulah ia sadar bahwa ia sangat mencintainya dan ia ingin membujuk agar orang yang ia cintai dapat kembali lagi kepadanya. 
Aku berpikir kalau lagu yang diciptakan oleh Rafka adalah sebuah curahan hatinya sendiri saat dia putus dari pacarnya. Di dalam hatiku tersimpan rasa cemburu, sedih, saat menyanyikan lagu ini karena aku sangat menyukai Rafka, tetapi aku rasa dia masih menyimpan rasa untuk mantan pacarnya.
Saat aku sedang bernyanyi di atas panggung tiba – tiba ibuku naik ke atas panggung dan mengomeliku,
    “ Ruby, ayo cepat bangun! Sudah jam setengah enam! Ayo cepat bangun! “
Mendengar omelan ibuku, akupun tersadar bahwa semua yang aku lakukan tadi hanyalah mimpi belaka. Kesal rasanya saat aku tahu semua itu hanyalah mimpi, aku berharap mimpiku tadi menjadi kenyataan. Bisa satu panggung bersama Rafka adalah keinginanku, dan aku berharap semoga keinginanku itu bisa menjadi kenyataan.
Sambil menguap lebar – lebar dan menggosok – gosok mata, aku mulai beranjak dari tempat tidurku, dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya persis di pojok kamar. Aku membuka keran washtafel, mengambil sedikit  air di tanganku, dan menaruhnya di wajahku, sungguh terasa sangat segar. Setelah selesai mencuci muka, dan menggosok gigi, aku langsung membuka keran shower dan mulai mandi. Semua terasa lebih segar saat aku selasai mandi dan berpakain rapih seragam sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan aku masih berada di depan halte yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sedari tadi aku menunggu bis yang menuju sekolahku tetapi tidak ada yang datang. Aku mencoba menahan rasa kesalku dengan mendengarkan lagu di hpku. Saat aku sedang asyik mendengarkan lagu, tiba – tiba saja kak Satrio muncul dan berdiri di depanku. Aku pun langsung tersentak kaget saat melihatnya beridiri tepat di depanku.
    “ Oooi! Jangan bengong dong. Dari tadi dipanggil – panggil nggak nyaut – nyaut. Lepasin dong earphonenya!!” serunya dengan kesal.
    “ Eh maaf kak sat, aku lagi asyik dengerin lagu tadi. Soalnya dari tadi nggak ada bis yang ke sekolah, makanya aku dengerin lagu aja deh hehehe, maaf ya.” Kataku sambil membuka earphone yang ada di telingaku dan menaruhnya kedalam tas.
    “ Dari pada nunggu bis kelamaan, mending bareng gue aja... ayo cepet naik!” serunya sambil naik ke atas motornya.
    “ tapi kak...”
    “ ah udahlah, ayo cepet naik, nanti telat loh” sanggahnya cepat
Aku pun tidak punya pilihan lain, lumayan lah bisa mengirit ongkos pikirku.  Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit dan aku sudah tiba di sekolah, aku bersyukur karena tidak telat sampai ke sekolah, semua ini berkat kak Satrio.
    “ kak sat, makasih banyak ya udah mau ajak aku berangkat bareng, untung aja ada kak sat, kalo nggak mungkin aku udah telat sampai di sekolah.” Kataku sesaat setelah tiba di sekolah.
    “ iya – iya, biasa aja kali. Lain kali kita berangkat bareng aja terus, lumayan kan gue ada temennya, dan lo juga bisa hemat ongkos, iya kan? “
    “ hehe kakak tahu aja nih. Oke deh kalo kakak nggak merasa keberatan sih aku oke oke aja...”
Setelah beberapa saat mengobrol dengan kak Satrio, aku langsung pamit pergi ke kelasku. Aku tak sabar menceritakan semua kejadian yang aku alami dari tadi malam sampai pagi ini kepada Selin – sahabatku dan teman sebangkuku.
Sesampainya aku di kelas, guruku langsung masuk ke dalam kelas dan mulai mengajar. Selama tiga jam belajar, aku tidak punya kesempatan untuk menceritakan semua ceritaku kepada Selin. Tetapi akhirnya bel istirahat pun berbunyi, dan waktu isitirahat ini aku pakai dengan semaksimal mungkin untuk menceritakan semuanya kepada Selin.
    “ Selin, you must now about it!! “
    “ kenapa bi? “
    “ gue mimpi jadi vokalis the extraordinary!! “
    “ waaaw.. kok bisa? “
    “ i don’t know, but I’m very happy... terus tadi gue berangkat bareng kak satrio loh... “
    “ I think today is your lucky day... “
    “ yeah, i think so hahaha....”
Kami – aku dan selin – terus mengobrol sambil berjalan menuju kantin. Ketika  aku sedang memesan sepiring batagor di mbak sulis, aku meihat Rafka sedang berjalan menuju kantin. Aku kaget melihat Rafka jajan di kantin, karena setahuku Rafka selalu membawa bekal ke sekolah. Saat melihatnya aku pun jadi salah tingkah, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan saat dia sedang membeli strawberry milkshake di mas jo. Karena aku terus menatapnya, Rafka akhirnya mengetahui kalau aku melihatnya, dia pun langsung menatapku dengan sinis. Aku merasa kesal sekali saat dia membalas tatapanku dengan begitu sinis, ‘kenapa ya dia tidak pernah menghargai seorang perempuan, apalagi perempuan yang menyukainya. Ya aku tahu dia tidak mengetahuinya, tapi paling tidak dia bisa kan membalas tatapan seseorang dengan lebih manusiawi.’
    “ hei ruby! “ sahut seseorang sambil menepuk pundakku. Aku pun langsung tersentak kaget saat aku tahu yang mengagetkanku – lagi -  adalah kak Satrio.
    “ Aduh kak sat, kenapa sih selalu ngagetin aku?! “ sahutku kesal
    “ ya maaf deh, gue kan nggak tahu kalo lo lagi ngelamun... “
Aku hanya bisa menunjukkan rasa kesal ku dengan wajah cemberut. Aku bisa melihat dari kejauhan Rafka menatap kami – aku, dan kak sat – lagi – dengan tatapan yang sinis. Rasa kesalku semakin bertambah saat melihat Rafka.
    “ oya nanti kita ada latihan rampak gendang sehabis pulang sekolah di tempat biasa ya. Jangan lupa okey? “
Aku hanya menjawab pertanyaan kak sat dengan anggukan sambil tetap cemberut. Melihat aku masih kesal, kak sat langsung memegang kepalaku dan mengacak – acak rambutku, dan berkata
    “ aduh jangan ngambek terus dong, gue pergi dulu ya, sampai ketemu nanti siang yaaa... “
Kak sat langsung berjalan berlalu di depanku. Entah kenapa aku merasa kak sat sangat baik kepadaku berbeda sekali dengan Rafka – si cowok lemari es – itu. Coba saja Rafka bisa sebaik dan seperhatian kak sat.
Aku mencoba memahami sifat Rafka yang memang sangat cuek dan dingin kepada orang – orang yang tidak dekat dengannya. Tetapi aku tetap berusaha menjadi cewek yang baik dimatanya, seperti menyapanya, tersenyum padanya, atau mencoba bertanya sesuatu kepadanya, tapi semua itu seperti pekerjaan yang sia – sia karena hatinya yang keras dan dingin tidak akan pernah berubah oleh apapun mungkin jika cupid menghampirinya dan menembakkan panah asmaranya barulah hati dan matanya terbuka untuk seorang perempuan. Walaupun dengan sifat Rafka yang seperti itu, tetap saja cinta ya cinta tidak akan berubah oleh apapun. Yap itulah salah satu sifatku dari sekian banyak sifat yang aku miliki, sedikit pemberitahuan kalau hatiku ini jika sudah terikat oleh satu cinta sulit sekali untuk dihilangkan, sebagai contoh yang nyata saat aku pertama kali menyukai seorang cowok saat aku duduk di kelas enam SD, dan saat aku duduk di kelas tiga SMP aku baru menyukai seorang cowok lagi walaupun tetap saja pikiranku belum sepenuhnya beralih dari ‘my first love’ di kelas enam SD. Terbukti bukan kalau aku ini terbilang cewek yang susah untuk jatuh cinta, tapi entah kenapa aku menyukai seorang cowok saat aku kelas satu SMA? Pikirku mungkin aku sudah bisa melupakan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Ya sudahlah, apapun yang terjadi cinta tetap cinta. Hidup cinta!!...









Tidak ada komentar:

Posting Komentar