about me

Foto saya
Just an ordinary girl who loves cooking, music, writing, and fashion. Dream, dream, dream!!

Senin, 30 Juli 2012

Delapan



Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit dan mas Adrian sudah sampai mengantarkanku tiba di sekolah. Segera aku turun dari motor ninjanya, mengembalikan helmnya, dan segera pamit kepada mas Adrian. Mas Adrian tidak lupa memberiku nasihat untuk rajin belajar dan hati – hati. Setelah itu mas Adrian langsung memacu motornya dan berlalu dari depan sekolahku.

Setibanya di sekolah aku bergegas mencari kak Satrio untuk menitipkan bekalku kepada Rafka. Aku mencari – cari ke kelasnya tetapi tidak kelihatan, saat aku berniat untuk kembali ke kelasku tiba – tiba kak Satrio memanggilku dari belakang, akupun menoleh dan segera aku menghampirinya dan menitipkan bekalku kepada Rafka.

Kak Satrio hanya bisa tertunduk lemas dan langsung berbalik dan hanya melambaikan tangan padaku, saat dia tahu kalau bekal yang aku buat hanya untuk Rafka. Aku terus memperhatikannya berjalan menuju kelasnya. Aku tahu kalau kak Satrio hanya bercanda saat memasang ekspresi wajah seperti itu, aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat tingkah laku kak Satrio yang sungguh menggemaskan.

Hati dan pikiranku langsung gelisah saat mendengar bel istirahat berbunyi. Aku terus bertanya – tanya apakah Rafka mau menerima bekalku? Apakah Rafka akan menyukai makananku? Apakah Rafka akan memakan habis makanan buatanku? Apakah reaksi Rafka saat dia memakan makananku? Aduh terlalu banyak pikiran di benakku sampai aku pusing memikirkannya.

Saat bel pulang berbunyi aku langsung bertemu dengan kak Satrio untuk menanyakan apa reaksi Rafka saat diberikan bekal makan siang. Kak Satrio hanya mau mengembalikkan kotak bekalku tanpa mau memberitahu apa yang terjadi saat jam istirahat.

          Saat aku ingin mencuci kotak bekalku ternyata di dalamnya terdapat secarik kertas yang isinya:

‘ makasih ya buat makanannya, gue suka banget sama omeletnya. Tapi jangan lupa kasih sendok ya, untung aja gue bawa bekal jadi bisa pake sendok gue. Kalau di kasih bekal setiap hari gue nggak usah repot – repot nih buat bawa bekal ke sekolah hehehe. Salam Rafka Aditya XI IPA 1. ‘

‘ ya ampun Rafka ngirim gue surat, so sweet... ‘ kataku dalam hati. Aku sungguh senang membaca surat dari Rafka, mungkin sekarang Rafka sudah bisa move on dari Icha. Karena bekalku di balas dengan surat aku pun membalas suratnya dengan menyelipkannya di kotak bekalku.

          Hari kedua aku membuatkannya salad. Aku menggoreng beberapa nugget, lalu menaruhnya pada kotak bekalku dan tidak lupa menambah sedikit salad agar lebih segar. Tidak lupa aku membuat sebuah surat yang berisi seperti ini:

‘ hari ini aku buatin nuget sama salad. Dimakan ya semoga bekal kali ini kamu suka juga J oya aku mau tanya boleh nggak? Aku mau tanya tipe cewek yang kamu suka itu seperti apa sih? Mungkin aku bisa koreksi diri aku supaya bisa jadi apa yang kamu mau.... J. Salam RC X1 ‘

Mungkin isi suratku terlalu berlebihan tetapi aku harus melakukannya karena aku ingin mengetahui cewek seperti apa yang dia sukai.

Seperti biasa bekal ini aku titipkan kepada kak Satrio, dan seperti biasa pula kak Satrio hanya memberikan kotak bekalku yang telah kosong tanpa berkata apapun. Aku merasa ada yang aneh dari kak Satrio semenjak aku membawa bekal untuk Rafka, karena setiap aku menyapanya dia hanya membalasnya dengan senyuman atau lambaian tangan, kak Satrio juga sudah tidak pernah mengajakku untuk berangkat atau pulang bersama lagi. Entah kenapa aku merasa kak Satrio mencoba menghindar dariku.

Setibanya di rumah aku langsung membuka kotak bekalku dan mulai membaca surat yang Rafka tulis seperti ini: 

‘ wah saladnya enak banget, lo tahu aja kalau gue suka salad. Sebenarnya gue suka sama cewek yang apa adanya. Jujur gue tertarik banget sama cewek yang cantik, putih, tinggi, senyumannya manis, rambutnya hitam dan panjang, suka masak, suka musik, dan nggak banyak omong. Tapi hati manusia siapa yang tahu, kalau cupid udah menancapkan panah asmaranya ke gue untuk seorang cewek yang nggak sama kayak kriteria yang gue suka, ya gue mau buat apa lagi? Yang jelas gue suka cewek yang nggak terlalu banyak omong, nggak suka mengeluh, dan perhatian sama gue. Kalau kriteria cowok yang lo suka itu seperti apa? ‘

Saat aku membacanya aku tidak bisa membayangkan kalau Rafka yang menulis surat ini, karena setiap saat aku melihatnya matanya seperti ingin menelanku sungguh kejam, tetapi saat aku membaca suratnya benar – benar tidak terbayang kalau Rafka yang menulisnya. Setelah membacanya aku kembali menulis surat balasan yang isinya seperti ini:

          ‘ makasih ya ternyata kamu suka salad juga. Kalau aku melihat kriteria cewek yang kamu suka, kayaknya aku nggak termasuk cewek yang kamu suka. Aku kan nggak cantik, nggak putih, dan nggak terlalu tinggi hehehe. Sama kayak kamu aku suka cowok yang apa adanya, memang pada awalnya aku melihat seorang cowok dari fisiknya tapi nggak jarang aku melihat seorang cowok karena kebaikannya dia walaupun fisiknya nggak terlalu bagus – menurutku. Aku lebih suka cowok yang setia, jujur, perhatian, dan bertanggung jawab. Aku paling nggak suka melihat cowok ngerokok, suka ngomong kasar atau jorok, dan hanya bisa merendahkan orang lain mentang – mentang dia lebih hebat daripada orang lain. Aku punya prinsip kalau cowok itu baik dari dalam hatinya pasti kebaikannya dia akan terpancar lewat aura yang dia keluarkan saat dia berhadapan dengan orang – orang, jadi aku nggak perlu wajah ganteng, jago main alat musik tapi nggak punya hati... ‘

Tidak terasa aku sudah membuatkan bekal untuk Rafka selama kurang lebih tiga bulan, selama itu aku terus surat menyurat dengan Rafka. Sungguh sengan rasanya saat membaca suratnya, tetapi aku jadi teringat dengan perkataan teman – temanku yang menyebutkan kalau Rafka suka berkata kasar kepada teman – temannya, dia juga suka menyindir orang – orang dengan kata – katanya yang kasar, dan buktinya temanku sudah dua kali dibuat nangis oleh kata – kata Rafka yang kasar dan tajam yang menyakitkan hati. Sampai suatu saat aku membalas suratnya seperti ini: 

‘ Raf, aku mau tanya sesuatu, kenapa ya banyak orang – orang yang nggak suka sama kamu karena setiap melihat orang pasti tatapan kamu itu sangat kejam, atau yang sering aku dengar kamu itu suka ngomong kasar atau suka nyindir seseorang dengan kata – kata kamu yang tajam? Memangnya kenapa sih kamu harus mengucapkan kata – kata kasar sama teman – teman kamu? Maaf sebelumnya kalau aku bertanya seperti ini, tetapi aku mau tahu sebenarnya tentang diri kamu... ‘

Setelah membaca kembali surat yang aku tulis, aku merasa sedikit tidak enak, tetapi aku ingin tahu watak Rafka yang sebenarnya. Sudah lebih dari satu minggu Rafka tidak pernah membalas suratku ini. Aku bingung apakah Rafka tersinggung dengan pernyataan dan pertanyaan di suratku itu? Aku mencoba mencari tahunya dari kak Satrio.

 Setelah pulang sekolah, aku segera menghampiri kak Satrio yang sedang duduk santai di depan kelasnya,

          “ kak Sat, aku mau tanya sesuatu deh... “

          “ tanya apa? “

          “ kakak tahu nggak kalau selama aku kasih bekal buat Rafka selama itu pula aku dan Rafka saling surat – suratan? “

          “ iya, gue tahu kok, emangnya kenapa? “

          “ jadi kurang lebih dua minggu yang lalu aku bales suratnya dia, dan disitu aku tanya tentang... “

          “ tentang sikap dia sama orang – orang kan? Tentang kenapa dia selalu ngeliat orang dengan tatapan kejam? Tentang kenapa dia suka ngomong kasar ke teman – temannya? Iya kan? “ kak Satrio langsung memotong ucapanku

          “ iya kok kak Sat bisa tahu ? “

          “ dari awal lo kasih bekal ke dia, gue yang suruh dia untuk buat surat ke lo. Dia selalu minta saran apa yang harus dia tulis di surat, dan dia pasti selalu kasih tahu gue tentang isi dari surat balesan yang lo kasih. Pas dia baca surat balesan lo, dia cuma bisa diam, dulu gue juga pernah nanya persis yang kayak lo tanyain ke dia, tapi reaksinya sama aja cuma  diam. Kalau gue pikir kata – kata kasar itu emang udah jadi kebiasaannya, gue udah sering kasih tahu dia untuk nggak ngomong kata – kata kasar tapi dia cuma jawab ‘iya’ tapi besoknya tetap aja diulang lagi. Banyak kok teman – teman gue sakit hati karena omongannya yang kasar, mungkin menurut dia itu biasa tapi buat orang lain kan belum tentu. Tapi asal lo tahu kalau sifat kasarnya itu nggak pernah kebawa saat dia suka sama seorang cewek. “ jelas kak Satrio

Aku mencoba menghela nafas panjang – panjang dan menghembuskannya perlahan – lahan. Aku ingin menyadarkan diriku bahwa semua penjelasan kak Satrio adalah nyata. 

          “ gue mau kasih saran ke lo. Seandainya nanti lo jadian sama Rafka, tolong ingetin dia untuk bisa ngendaliin emosi saat dia ngomong ke seseorang, gue tahu Rafka pasti akan denger semua apa yang lo suruh dan Rafka pasti akan berusaha untuk melakukannya. “ sambung kak Satrio

          “ kak, apa kakak kasih tahu kalau aku yang selama ini kasih bekal ke Rafka? “

“ iya. Awalnya dia kaget saat gue kasih tahu kalau lo suka sama dia, tapi kayaknya dia tertarik sama lo, buktinya dia mau gue suruh untuk nulis surat ke lo. “

“ tapi kenapa dia tetap cuek sama aku, walaupun tatapannya sudah nggak seperti dulu... “

“ itulah Rafka, walaupun kelihatannya cuek tapi sebenarnya dia nyimpan perasaan ke lo... “ tandas kak Satrio

Cukup lama aku mengobrol dengan kak Satrio, sampai – sampai aku tidak sadar kalau sekarang sudah jam tiga sore. Aku langsung pamit kepada kak Satrio karena aku sudah di jemput oleh mas Adrian. Kali ini mas Adrian tiba – tiba saja meneloponku dan mencariku, karena itulah aku baru tersadar kalau sekarang sudah sore. Aku bergegas menuruni tangga, dan langsung berlari menuju depan sekolah untuk menemui mas Adrian. 

Sesampainya di depan sekolah aku langsung bertanya kenapa dia tiba – tiba meneleponku dan mencariku, dan ternyata ayah dan ibu ingin mengajak kami untuk berjalan – jalan ke mall sambil makan dan belanja, aku baru tersadar kalau hari ini adalah hari sabtu, hari untuk berkumpul bersama keluarga. Dengan segera aku naik ke atas motor ninja mas Adrian, memakai helm, dan langsung memberi komando kepada mas Adrian untuk segera memacu motornya. Aku tidak sabar untuk berkumpul bersama keluarga kecilku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar