Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas
menit dan mas Adrian sudah sampai mengantarkanku tiba di sekolah. Segera aku
turun dari motor ninjanya, mengembalikan helmnya, dan segera pamit kepada mas
Adrian. Mas Adrian tidak lupa memberiku nasihat untuk rajin belajar dan hati –
hati. Setelah itu mas Adrian langsung memacu motornya dan berlalu dari depan
sekolahku.
Setibanya di sekolah aku bergegas mencari kak Satrio untuk
menitipkan bekalku kepada Rafka. Aku mencari – cari ke kelasnya tetapi tidak
kelihatan, saat aku berniat untuk kembali ke kelasku tiba – tiba kak Satrio
memanggilku dari belakang, akupun menoleh dan segera aku menghampirinya dan
menitipkan bekalku kepada Rafka.
Kak Satrio hanya bisa tertunduk lemas dan langsung berbalik
dan hanya melambaikan tangan padaku, saat dia tahu kalau bekal yang aku buat
hanya untuk Rafka. Aku terus memperhatikannya berjalan menuju kelasnya. Aku
tahu kalau kak Satrio hanya bercanda saat memasang ekspresi wajah seperti itu,
aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat tingkah laku kak Satrio yang sungguh
menggemaskan.
Hati dan pikiranku langsung gelisah saat mendengar bel
istirahat berbunyi. Aku terus bertanya – tanya apakah Rafka mau menerima
bekalku? Apakah Rafka akan menyukai makananku? Apakah Rafka akan memakan habis
makanan buatanku? Apakah reaksi Rafka saat dia memakan makananku? Aduh terlalu
banyak pikiran di benakku sampai aku pusing memikirkannya.
Saat bel pulang berbunyi aku langsung bertemu dengan kak
Satrio untuk menanyakan apa reaksi Rafka saat diberikan bekal makan siang. Kak
Satrio hanya mau mengembalikkan kotak bekalku tanpa mau memberitahu apa yang
terjadi saat jam istirahat.
Saat aku ingin
mencuci kotak bekalku ternyata di dalamnya terdapat secarik kertas yang isinya:
‘ makasih ya buat makanannya, gue suka banget sama omeletnya.
Tapi jangan lupa kasih sendok ya, untung aja gue bawa bekal jadi bisa pake
sendok gue. Kalau di kasih bekal setiap hari gue nggak usah repot – repot nih
buat bawa bekal ke sekolah hehehe. Salam Rafka Aditya XI IPA 1. ‘
‘ ya ampun Rafka ngirim gue surat, so sweet... ‘ kataku dalam
hati. Aku sungguh senang membaca surat dari Rafka, mungkin sekarang Rafka sudah
bisa move on dari Icha. Karena bekalku di balas dengan surat aku pun membalas
suratnya dengan menyelipkannya di kotak bekalku.
Hari kedua aku
membuatkannya salad. Aku menggoreng beberapa nugget, lalu menaruhnya pada kotak
bekalku dan tidak lupa menambah sedikit salad agar lebih segar. Tidak lupa aku
membuat sebuah surat yang berisi seperti ini:
‘ hari ini aku buatin nuget sama salad. Dimakan ya semoga
bekal kali ini kamu suka juga J oya aku
mau tanya boleh nggak? Aku mau tanya tipe cewek yang kamu suka itu seperti apa
sih? Mungkin aku bisa koreksi diri aku supaya bisa jadi apa yang kamu mau.... J. Salam RC X1 ‘
Mungkin isi suratku terlalu berlebihan tetapi aku harus
melakukannya karena aku ingin mengetahui cewek seperti apa yang dia sukai.
Seperti biasa bekal ini aku titipkan kepada kak Satrio, dan
seperti biasa pula kak Satrio hanya memberikan kotak bekalku yang telah kosong
tanpa berkata apapun. Aku merasa ada yang aneh dari kak Satrio semenjak aku
membawa bekal untuk Rafka, karena setiap aku menyapanya dia hanya membalasnya
dengan senyuman atau lambaian tangan, kak Satrio juga sudah tidak pernah
mengajakku untuk berangkat atau pulang bersama lagi. Entah kenapa aku merasa
kak Satrio mencoba menghindar dariku.
Setibanya di rumah aku langsung membuka kotak bekalku dan
mulai membaca surat yang Rafka tulis seperti ini:
‘ wah saladnya enak banget, lo tahu aja kalau gue suka salad.
Sebenarnya gue suka sama cewek yang apa adanya. Jujur gue tertarik banget sama
cewek yang cantik, putih, tinggi, senyumannya manis, rambutnya hitam dan
panjang, suka masak, suka musik, dan nggak banyak omong. Tapi hati manusia
siapa yang tahu, kalau cupid udah menancapkan panah asmaranya ke gue untuk
seorang cewek yang nggak sama kayak kriteria yang gue suka, ya gue mau buat apa
lagi? Yang jelas gue suka cewek yang nggak terlalu banyak omong, nggak suka
mengeluh, dan perhatian sama gue. Kalau kriteria cowok yang lo suka itu seperti
apa? ‘
Saat aku membacanya aku tidak bisa membayangkan kalau Rafka
yang menulis surat ini, karena setiap saat aku melihatnya matanya seperti ingin
menelanku sungguh kejam, tetapi saat aku membaca suratnya benar – benar tidak
terbayang kalau Rafka yang menulisnya. Setelah membacanya aku kembali menulis
surat balasan yang isinya seperti ini:
‘ makasih ya
ternyata kamu suka salad juga. Kalau aku melihat kriteria cewek yang kamu suka,
kayaknya aku nggak termasuk cewek yang kamu suka. Aku kan nggak cantik, nggak
putih, dan nggak terlalu tinggi hehehe. Sama kayak kamu aku suka cowok yang apa
adanya, memang pada awalnya aku melihat seorang cowok dari fisiknya tapi nggak
jarang aku melihat seorang cowok karena kebaikannya dia walaupun fisiknya nggak
terlalu bagus – menurutku. Aku lebih suka cowok yang setia, jujur, perhatian,
dan bertanggung jawab. Aku paling nggak suka melihat cowok ngerokok, suka ngomong
kasar atau jorok, dan hanya bisa merendahkan orang lain mentang – mentang dia
lebih hebat daripada orang lain. Aku punya prinsip kalau cowok itu baik dari
dalam hatinya pasti kebaikannya dia akan terpancar lewat aura yang dia
keluarkan saat dia berhadapan dengan orang – orang, jadi aku nggak perlu wajah
ganteng, jago main alat musik tapi nggak punya hati... ‘
Tidak terasa aku sudah membuatkan bekal untuk Rafka selama
kurang lebih tiga bulan, selama itu aku terus surat menyurat dengan Rafka.
Sungguh sengan rasanya saat membaca suratnya, tetapi aku jadi teringat dengan
perkataan teman – temanku yang menyebutkan kalau Rafka suka berkata kasar
kepada teman – temannya, dia juga suka menyindir orang – orang dengan kata –
katanya yang kasar, dan buktinya temanku sudah dua kali dibuat nangis oleh kata
– kata Rafka yang kasar dan tajam yang menyakitkan hati. Sampai suatu saat aku
membalas suratnya seperti ini:
‘ Raf, aku mau tanya sesuatu, kenapa ya banyak orang – orang
yang nggak suka sama kamu karena setiap melihat orang pasti tatapan kamu itu
sangat kejam, atau yang sering aku dengar kamu itu suka ngomong kasar atau suka
nyindir seseorang dengan kata – kata kamu yang tajam? Memangnya kenapa sih kamu
harus mengucapkan kata – kata kasar sama teman – teman kamu? Maaf sebelumnya
kalau aku bertanya seperti ini, tetapi aku mau tahu sebenarnya tentang diri
kamu... ‘
Setelah membaca kembali surat yang aku tulis, aku merasa
sedikit tidak enak, tetapi aku ingin tahu watak Rafka yang sebenarnya. Sudah
lebih dari satu minggu Rafka tidak pernah membalas suratku ini. Aku bingung
apakah Rafka tersinggung dengan pernyataan dan pertanyaan di suratku itu? Aku
mencoba mencari tahunya dari kak Satrio.
Setelah pulang sekolah,
aku segera menghampiri kak Satrio yang sedang duduk santai di depan kelasnya,
“ kak Sat, aku
mau tanya sesuatu deh... “
“ tanya apa? “
“ kakak tahu
nggak kalau selama aku kasih bekal buat Rafka selama itu pula aku dan Rafka
saling surat – suratan? “
“ iya, gue tahu
kok, emangnya kenapa? “
“ jadi kurang lebih
dua minggu yang lalu aku bales suratnya dia, dan disitu aku tanya tentang... “
“ tentang sikap
dia sama orang – orang kan? Tentang kenapa dia selalu ngeliat orang dengan
tatapan kejam? Tentang kenapa dia suka ngomong kasar ke teman – temannya? Iya kan?
“ kak Satrio langsung memotong ucapanku
“ iya kok kak
Sat bisa tahu ? “
“ dari awal lo
kasih bekal ke dia, gue yang suruh dia untuk buat surat ke lo. Dia selalu minta
saran apa yang harus dia tulis di surat, dan dia pasti selalu kasih tahu gue
tentang isi dari surat balesan yang lo kasih. Pas dia baca surat balesan lo,
dia cuma bisa diam, dulu gue juga pernah nanya persis yang kayak lo tanyain ke
dia, tapi reaksinya sama aja cuma diam.
Kalau gue pikir kata – kata kasar itu emang udah jadi kebiasaannya, gue udah
sering kasih tahu dia untuk nggak ngomong kata – kata kasar tapi dia cuma jawab
‘iya’ tapi besoknya tetap aja diulang lagi. Banyak kok teman – teman gue sakit
hati karena omongannya yang kasar, mungkin menurut dia itu biasa tapi buat
orang lain kan belum tentu. Tapi asal lo tahu kalau sifat kasarnya itu nggak
pernah kebawa saat dia suka sama seorang cewek. “ jelas kak Satrio
Aku mencoba menghela nafas panjang – panjang dan
menghembuskannya perlahan – lahan. Aku ingin menyadarkan diriku bahwa semua
penjelasan kak Satrio adalah nyata.
“ gue mau kasih
saran ke lo. Seandainya nanti lo jadian sama Rafka, tolong ingetin dia untuk
bisa ngendaliin emosi saat dia ngomong ke seseorang, gue tahu Rafka pasti akan
denger semua apa yang lo suruh dan Rafka pasti akan berusaha untuk
melakukannya. “ sambung kak Satrio
“ kak, apa
kakak kasih tahu kalau aku yang selama ini kasih bekal ke Rafka? “
“ iya. Awalnya dia kaget saat gue kasih tahu kalau lo suka
sama dia, tapi kayaknya dia tertarik sama lo, buktinya dia mau gue suruh untuk
nulis surat ke lo. “
“ tapi kenapa dia tetap cuek sama aku, walaupun tatapannya
sudah nggak seperti dulu... “
“ itulah Rafka, walaupun kelihatannya cuek tapi sebenarnya dia
nyimpan perasaan ke lo... “ tandas kak Satrio
Cukup lama aku mengobrol dengan kak Satrio, sampai – sampai
aku tidak sadar kalau sekarang sudah jam tiga sore. Aku langsung pamit kepada
kak Satrio karena aku sudah di jemput oleh mas Adrian. Kali ini mas Adrian tiba
– tiba saja meneloponku dan mencariku, karena itulah aku baru tersadar kalau
sekarang sudah sore. Aku bergegas menuruni tangga, dan langsung berlari menuju
depan sekolah untuk menemui mas Adrian.
Sesampainya di depan sekolah aku
langsung bertanya kenapa dia tiba – tiba meneleponku dan mencariku, dan
ternyata ayah dan ibu ingin mengajak kami untuk berjalan – jalan ke mall sambil
makan dan belanja, aku baru tersadar kalau hari ini adalah hari sabtu, hari
untuk berkumpul bersama keluarga. Dengan segera aku naik ke atas motor ninja
mas Adrian, memakai helm, dan langsung memberi komando kepada mas Adrian untuk
segera memacu motornya. Aku tidak sabar untuk berkumpul bersama keluarga
kecilku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar